Possessive Love

Possessive Love
Hunting Perlengkapan Bayi



"Bagaimana kondisi kehamilan Aretha?" tanya David kepada Dara.


Ya, pagi itu David tengah mengantar Aretha untuk memeriksa kondisi kandungannya, setelah usia kehamilannya dinyatakan sudah menginjak sembilan bulan.


Dara tampak menyunggingkan senyumnya. "Syukurlah, kondisi kandungan istri kamu sangat baik, ibunya sehat, bayinya pun sama. Hanya saja, tensinya sedikit rendah, tetapi kamu tidak perlu khawatir, lumrahnya memang begitu, kok," ucapnya menjelaskan, setelah ia melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap kandungan Aretha, termasuk melakukan USG.


"Syukurlah," komentar David merasa lega.


"Dok, apa yang harus saya lakukan agar proses persalinan nanti lancar?" tanya Aretha penasaran.


Sejujurnya, Aretha sangat takut dengan proses persalinan nanti. Seperti yang ia ketahui bahwa banyak kasus yang mengalami kesulitan dalam proses persalinan yang tentu taruhannya adalah nyawa. Sungguh itu sangat mengerikan baginya.


Mengingat kasus tersebut membuat Aretha sering kali menciut, ketika memikirkan hal itu, sehingga rasa takut yang memang sudah mendarah daging di dalam dirinya seketika dapat melonjak tinggi, ketika ia memikirkan hal itu.


Bagaiman jika nanti ia tidak bisa melakukannya dengan baik. Bagaimana pula jika ternyata melahirkan itu ternyata lebih sakit daripada apa yang ia bayangkan selama ini. Ah, sungguh itu membuatnya semakin paranoid.


Lagi-lagi Dara menyunggingkan senyumnya. "Banyak-banyaklah bersujud agar posisi kepalanya bagus," jawabnya memberi tahu.


"Begitukah?" tanya Aretha memastikan.


"Ya, tentu," singkat Dara seraya menatap serius wajah wanita di depannya. "Oh ya, ini 'kan sudah memasuki bulan ke sembilan, jadi tolong jaga diri kamu baik-baik, karena prediksi untuk proses persalinan kurang lebih sekitar dua pekan lagi," imbuhnya menjelaskan.


"Mas, kok aku deg-degan ya." Aretha reflect memegang lengan sang suami yang kala itu tengah duduk di sampingnya.


Mendapat kabar bahwa proses persalinannya yang sudah semakin mendekat, membuat Aretha semakin merasa gugup menghadapinya.


"Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja, Sayang." David berusaha menenangkan sang istri yang ia ketahui memang sangat penakut untuk perihal yang ekstrim dan mengerikan.


Melihat ekspresi Aretha saat itu, Dara tampak terkekeh. Memang untuk seorang wanita yang baru pertama kali akan menghadapi persalinan, rasa takut, gugup, dan gemetaran sudah menjadi satu kesatuan yang lumrah dirasakan oleh setiap ibu hamil perdana.


Sebagai dokter, Dara sangat memahami itu. Meski ia belum pernah merasakan bagaimana sakitnya proses persalinan, tetapi itu bukan pertama kalinya ia menghadapi calon ibu muda yang penakut seperti Aretha. Dan itu selalu membuatnya terkekeh, terlebih lagi ekspresi istri dari temannya itu terlihat sangat lucu.


"Jangan memikirkan bagaimana proses persalinan itu akan berjalan, tetapi pikirkanlah bayi yang akan lahir dari perut kamu itu. Bayangkan betapa lucunya bayi kamu nanti. Bayangkan pula bagaimana nanti kamu akan merawat bayi kamu itu hingga tumbuh menjadi dewasa. Betapa lucunya anak-anak ketika sudah satu tahun, dua tahun, dan seusia sekolah. Bayangkan semua itu," ucap Dara panjang lebar yang seolah tengah menghipnotis pikiran Aretha yang sempat terganggu karena terlalu larut memikirkan proses persalinan nanti.


Tanpa disadari, Aretha telah membayangkan apa yang sedang dikatakan oleh Dara satu-persatu. Seketika ia menerbitkan senyuman di wajahnya. Rasanya memang sangat membahagiakan, ketika ia membayangkan itu semua. Betapa ia dan David akan menjadi orangtua yang paling berbahagia, ketika anak mereka sudah lahir. Ah, rasanya ia sudah tidak sabar menanti kehadiran anggota keluarga baru di rumahnya.


"Saya jadi tidak sabar ingin segera menimang bayi, Dok," ucap Aretha menyeringai senang.


"Saya pun sama, sudah tidak sabar ingin melihat bayi kalian. Pasti anak kalian nanti lucu sekali," balas Dara.


Seketika mereka tertawa senang. Perkataan Dara benar-benar sudah menghipnotis Aretha, sehingga membuat ketakutannya seketika terlupakan begitu saja.


"Jagalah kesehatan, jangan terlalu memikirkan hal-hal yang bisa membuat stres, karena nantinya akan memperngaruhi psikologis bayi, sehingga bayi kamu ikut merasakan stres dan itu tidak baik." Dara tidak henti-hentinya mengingatkan kepada Aretha agar menjaga kandungannya dengan baik.


"Tentu saja, Dok. Saya pasti akan menjaganya dengan baik," jawab Aretha.


"Baiklah, kalau begitu kami pamit, terima kasih ya, Dar," ucap David berpamitan.


"Sama-sama, Dave," balas Dara.


Mereka tampak bangkit dari tempat duduknya, lalu saling berjabat tangan, sebelum akhirnya sepasang suami istri itu meninggalkan ruangan dokter tersebut.


Setelah semua selesai, mereka segera bergegas keluar dari ruangan Dara. Di luar ruangan, tampak beberapa pasien jalan yang tak lain adalah beberapa ibu hamil yang juga tengah mengantri untuk segera dipanggilke dalam ruangan.


Nampaknya, kegiatan mereka sudah terlalu lama di dalam, sehingga membuat pasien jalan yang lain menunggu lebih lama dari biasanya mungkin.


"Sayang, kamu mau pergi ke mana dulu? Mau kuantar ke sesuatu tempat?" tanya David di tengah perjalanan mereka menuju tempat parkir mobil di sekitar rumah sakit tersebut.


"Mau, Mas!" jawab Aretha antusias.


"Kemana?" tanya David yang sedikit merasa heran melihat sang istri yang begitu antusias menanggapi pertanyaannya.


"Bagaimana kalau kita berbelanja untuk kebutuhan bayi kita?" tanya Aretha meminta pendapat.


David menyeringai senang melihat ekspresi sang istri yang begitu terobsesi untuk segera menyiapkan kebutuhan calon bayi mereka.


"Boleh. Sepertinya ide bagus juga," jawab David menyetujui.


David membukakan pintu mobil untuk Aretha, lalu wanita itu segera naik masuk ke dalam tersebut. Setelah itu, David menutup kembali pintu mobil itu dengan rapat. Ia segera berjalan menuju pintu mobil yang lainnya, lalu mulai duduk di samping kemudi.


Tanpa menunggu lama, David segera menyalakan mesin mobilnya. Terdengar suara derungan lembut dari mobil mewah itu. Seketika David menekan pedal gas, setelah mobil itu menyala.


Mobil itu mulai melaju menuju keluar gerbang rumah sakit. David tampak menambah kecepatan, setelah mobil itu mulai membelah jalan raya yang nampak sudah sangat ramai dengan lalu lalang kendaraan, baik kendaraan umum, maupun kendaraan pribadi.


Tak berlangsung lama mereka berada di dalam mobil. Hanya dalam waktu seperempat jam David telah berhasil memarkirkan mobil tepat di tempat parkir sebuah departement store. Mereka segera turun dari mobil itu, lalu berjalan memasuki pintu utama departement store tersebut.


Tempat pertama yang mereka tuju adalah tempat yang menyediakan perlengkapan bayi. Aretha memasang ekspresi senang, ketika ia melihat berbagai kebutuhan bayi lengkap.


Dengan sangat antusias, Aretha segera menghampiri tempat khusus pakaian bayi.


Aretha tampak terperangah melihat model dan warna yang begitu lucu dan menarik. Sungguh ingin rasanya ia membeli semua pakaian-pakaian itu untuk bayinya kelak. Ia membayangkan pasti bayinya akan terlihat sangat lucu jika memakai pakaian-pakain mungil itu. Namun, rasanya ia tidak mungkin memborong satu toko pakaian bayi tersebut, meskipun David bisa saja membelikannya jika ia mau, tetapi untuk apa pakaian sebanyak itu?


Ah, melihat begitu banyak model yang berbeda, lucu, unik dan menarik, membuat Aretha semakin dilema harus membeli model dan warna apa untuk bayinya nanti, sementara ia tidak mengetahui jenis kelamin bayi yang ada di dalam kandungannya, karena memang ia dan suaminya sengaja tidak menanyakan perihal itu kepada dokter. Sebab, ingin menjadikan itu sebagai kejutan untuk mereka.


"Mas, aku bingung harus pilih yang mana," ucap Aretha dengan tidak mengalihkan fokusnya dari berbagai pakaian yang bergantung di toko tersebut.


"Sayang, lihat deh warna biru itu!" titah David seraya menunjuk salah satu pakaian bayi berwarna biru.


Aretha tampak mengalihkan fokusnya ke arah pakaian yang ditunjuk oleh David.


"Mas, itu 'kan pakaian bayi laki-laki, jangan yang itu dong," gerutu Aretha.


"Lho, lalu yang mana? Itu bagus lho, Sayang. Siapa tahu anak kita memang laki-laki," balas David kekeh.


"Enak saja! Lebih bagus juga yang itu, cantik sekali, sepertinya akan cocok jika dipakai bayi kita nanti, Mas," ucap Aretha tak mau kalah. Ia tampak menunjuk salah satu pakaian bayi model perempuan berwarna merah muda.


"Itu untuk bayi perempuan, Sayang," gerutu David.


"Ya ampun, Sayang ... anak pertama itu lebih baik laki-laki, jadi nanti dia bisa menjaga dan mengayomi adik-adiknya," jelas David mencari alasan.


"Apa salahnya kalau perempuan? Kamu jangan menyepelekan perempuan, Mas! Perempuan itu kuat, mereka bisa menjadi kakak yang baik dan bisa menjaga juga melindungi adik-adiknya."


Seketika terjadi perdebatan antara sepasang suami istri itu. Mereka tampak memperebutkan jenis kelamin calon bayi mereka yang mereka saja belum tahu jenis kelaminnya apa.


Aretha kekeh ingin membeli pakaian bayi model bayi perempuan, sementara David sebaliknya. Entah kenapa tidak ada satu pun yang mau mengalah dari keduanya. Padahal, sedari awal mereka telah sepakat bahwa jenis kelamin apapun yang Tuhan berikan untuk bayi mereka, mereka tidak akan protes. Akan tetapi, sekarang apa? Mereka malam meributkan hal tersebut di depan umum lagi.


"Pokoknya aku lebih setuju anak pertama kita laki-laki, titik!" tegas David.


"Lho, lho, lho, Mas ... tidak bisa begitu dong ... aku maunya perempuan," protes Aretha.


"Aku tidak mau jadi mertuanya Richard nanti, apa-apaan?" kesal David yang sontak membuat sang istri malah tertawa di tengah keramaian toko itu.


"Mas, kamu ini ada-ada saja! Mana mungkin kak Richard menikah dengan anak kita!" ucap Aretha sedikit terkekeh melihat tingkah sang suami.


"Siapa tahu saja dia memang serius, Sayang."


"Mana mungkin, Mas. Ah, sudahlah ... kenapa jadi bahas dia, mending sekarang kita pilih mana yang cocok buat bayi kita nanti," ucap Aretha mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, kalau begitu kita pilih model dan warna yang netral saja," ucap David memberi saran.


"Oke," singkat Aretha.


Aretha dan David pun segera melakukan aktivitas mereka mencari beberapa perlengkapan bayi, mulai dari pakaian, sepatu, selimut dan beberapa perlengkapan lainnya. Mereka sengaja memilih model dan warna yang netral agar tidak terjadi perdebatan lagi diantara mereka.


Setelah merasa cukup, mereka pun segera mengakhiri kegiatan mereka, lalu segera membayar barang-barang yang menjadi pilihan mereka berdua di meja kasir.


***


Satu minggu kemudian.


Malam itu Aretha dan David tengah asyik duduk berdua di ruang keluarga. David tampak fokus menonton siaran berita pada channel televisi, sedangkan Aretha yang duduk di sampingnya terlihat sibuk dengan kegiatan membaca novel. Hal yang sudah biasa ia lakukan dan tidak pernah merasa bosan untuk melakukan itu, meski sudah berulang kali.


Di tengah-tengah kegiatannya, seketika David merangkulkan tangannya di bahu Aretha, lalu sedikit menarik leher wanita itu mendekat ke tubuhnya.


"Sayang, serius sekali, sih?" tanya David berniat mengganggu fokus sang istri.


"Apa sih, Mas? Kamu lanjut saja nonton beritanya, aku lagi tanggung ini," gerutu Aretha tanpa menoleh ke arah suami.


David menghela napas pendek, lalu mengembuskannya perlahan. "Apa buku itu lebih menyenangkan daripada aku, ha?" protesnya yang merasa tidak jauh lebih menyenangkan dari sebuah buku novel.


Aretha menghela napas sejenak. "Kamu itu, kalau mau cemburu ya cemburu saja tidak apa-apa, tapi jangan cemburu sama buku juga kali, Mas," seloroh Aretha.


"Lho, memangnya kenapa? Salah kalau aku cemburu lihat kamu lebih asyik dengan bukumu itu, sementara aku duduk di sini sendirian?" tanya David.


"Hmmm ... terserah kamu saja, Mas," ujar Aretha tidak ingin terlalu menanggapi suaminya.


Mereka terdiam beberapa saat. David masih belum ingin melepaskan rangkulan tangannya dari sang istri. Seketika Aretha mendongakkan kepala, menatap wajah sang suami.


"Sayang, besok sore aku akan ke luar kota, kamu tidak apa-apa 'kan, sementara menginap di rumah mami?" tanya David tiba-tiba, sehingga membuat Aretha sedikit terkejut.


"Lho, kok baru bilang sekarang? Kamu itu kebiasaan, setiap kali mau pergi ke luar kota selalu saja bilangnya dadakan!" protes Aretha seraya mengatur posisi duduknya sedikit tegak, sontak membuat tangan David merenggang.


"Ya, maaf. Aku lupa. Lagi pula 'kan berangkatnya sore, Sayang," ujar David mengklarifikasi.


"Tetap saja, Mas," rengek Aretha.


"Maaf, aku tidak akan lama kok, Sayang." David tampak mengecup puncak kepala Aretha.


"Berapa lama?" tanya Aretha memastikan.


"Tiga hari," jawab David singkat.


"Lama, Mas," keluh Aretha.


"Cuma tiga hari, Sayang. Bukan tiga bulan," ujar David seraya menatap wajah sang istri yang kala iti berada tepat di bawah wajahnya. "Aku pulang cepat kalau urusanku sudah selesai," imbuhnya.


"Kamu ke luar kota sama siapa?" tanya Aretha ingin tahu.


"Rangga," singkat David.


"Ya sudah, tidak apa-apa," jawab Aretha sedikit memberengutkan wajahnya seolah merasa tidak rela untuk ditinggal dalam keadaan perut yang sudah membesar seperti itu.


David kembali mengecup puncak kepala sang istri cukup lama. "Kamu jaga diri kamu baik-baik ya, selama aku tidak ada di rumah," pesan David.


"Mas ...," lirih Aretha.


"Kenapa, Sayang?" David melepaskan kecupannya.


"Kok, aku merasa tidak enak hati ya," keluh Aretha mengungkapkan apa yang tengah dirasakannya saat itu.


"Tidak enak hati kenapa?" tanya David penasaran.


"Tidak tahu, Mas. Aku merasa sedikit cemas saja, tapi tidak tahu karena apa," terang Aretha.


"Mungkin karena kamu terlalu banyak memikirkan proses persalinan nanti," ucap David menduga.


"Mungkinkah seperti itu?" Aretha berpikir beberapa saat. "Tetapi ... kurasa bukan karena itu, Mas," imbuhnya.


"Lalu karena apa?"


"Entahlah, Mas. Aku pun tidak tahu apa yang membuatku seperti ini," jawab Aretha.