Possessive Love

Possessive Love
Tidak Membeda-Bedakan



Tiga tahun kemudian ....


Hari-hari Aretha terlihat semakin sibuk, setelah ia memliki Arkana dan Aruna. Kesibukannya semakin bertambah, setelah ia berhasil menyelesaikan pendidikan S2-nya.


Meski kepergian sang papi meninggalkan luka yang teramat dalam. Namun, tidak menyurutkan semangat wanita itu untuk mewujudkan keinginan terakhir papinya, yaitu mengelola perusahaan keluarganya. Sebab, hanya itu yang bisa ia lakukan, selain mendoakan almarhum papinya yang sudah berbeda alam.


Saat itu Aretha telah disibukkan dengan pekerjaan mengelola perusahaan yang bergerak di bidang industri perdagangan ekspor-impor. Di perusahaan tersebut, namanya berhasil mengambil alih kedudukan sebagai direktur utama, sebagaimana yang diwariskan oleh almarhum papinya. Dan memang sudah sewajarnya seperti itu, karena ia adalah pemilik dari perusahaan tersebut.


Selama Aretha menyelesaikan pendidikannya, perusahaan itu sempat berada di bawah kendali sang suami, sesuai permintaan wanita itu yang memercayakan sepenuhnya kepada suaminya. Namun, setelah Aretha berhasil menyelesaikan pendidikannya, David memberikan kembali sepenuhnya jabatan itu kepadanya yang memang berhak, meski sesekali David masih memberikan bantuan, ketika ia butuhkan.


Sebenarnya Aretha tidak butuh semua itu, baik harta ataupun jabatan, karena ia sudah memilikinya dari sang suami. Ia memiliki suami yang sudah memiliki semuanya, apapun yang ia inginkan, pasti akan terkabulkan hanya dalam hitungan detik, tanpa ia harus bersusah payah mencari uang terlebih dahulu, demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Itu semata-mata ia lakukan karena almarhum papinya dan juga maminya yang saat itu tentu membutuhkan biaya hidup. Dan perusahaan itulah yang menjadi satu-satunya harapan.


Pagi itu, Aretha beserta suami dan anak-anakya sudah berada di ruang makan. Mereka tampak sudah siap untuk melakukan sarapan. David duduk di kursi yang berada di ujung meja makan, sedangkan Aretha di sebelahnya, duduk berhadapan dengan putri kecilnya—Aruna, sementara di samping Aruna ada Arkana yang sudah menunggu piringnya diisi nasi goreng.


"Sayang, kalian makan yang banyak ya, biar belajarnya semangat," ucap Aretha seraya menuangkan nasi goreng ke dalam piring kedua buah hatinya secara bergantian.


Meski di rumahnya Aretha memiliki perawat dan asisten rumah tangga yang bisa membantunya mengurusi kedua anak-anaknya, tetapi ia tetap ingin melakukannya sendiri, mulai dari menyiapkan keperluan sekolah hingga sarapan mereka, dan itu sangatlah menyenangkan. Meskipun ia sedikit kerepotan di tengah-tengah kesibukkannya mengurusi kebutuhan suami dan dirinya sendiri, ia juga harus mengurusi kebutuhan anak-anak yang kala itu sudah duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar.


Setelah itu ia juga tampak menuangkan nasi goreng ke dalam piring sang suami. "Kamu juga makan yang banyak, biar kuat melawan godaan wanita di luar sana," imbuhnya berbisik, entah ia memang sengaja menggoda sang suami atau malah menyindirnya, sontak membuat David seketika mengulum senyumnya.


"Kamu takut sekali aku tergoda wanita lain, Sayang," goda David seraya mengambil sendok yang terletak di samping piring makannya.


Ya, mungkin benar apa yang dikatakan David bahwa Aretha memang merasa memiliki ketakutan jika David akan berhasil tergoda oleh wanita lain. Terlebih lagi setelah ia memiliki anak. Ketakutan itu semakin membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Hanya pikiran negatif yang selalu mengganggu otaknya.


"Mama, Aruna tidak mau makan nasi goreng," rengek gadis kecil bernama Aruna yang baru saja mencicipi satu sendok nasi goreng, tetapi tiba-tiba gadis kecil itu merasa tidak berselera. Entah kenapa.


"Lho, kenapa, Sayang?" Aretha menoleh, lalu menatap putrinya yang kala itu tampak memberengutkan wajahnya.


"Nasi gorengnya keasinan, Aruna tidak suka!" ketus Aruna dengan gemas.


"Masa sih, Sayang? Sebentar mama mau cobain dulu." Aretha segera meraih sendok, lalu mencicipi sedikit nasi goreng itu.


"Tidak asin, Sayang," ujar Aretha kemudian, setelah ia berhasil mencicipi sedikit nasi goreng itu.


"Asin, Ma ...." Aruna kekeh dengan pernyataannya, sedangkan Arkana sudah lahap sekali memakan sarapannya, tanpa berkomentar atau protes apapun.


"Pa, kamu cobain, deh," pinta Aretha kepada sang suami.


"Papa cobain ya, Sayang," ucap David seraya memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. "Ini sama sekali tidak asin, Sayang," imbuhnya memberi tahu.


Bagaimana mungkin nasi goreng dengan rasa yang sama seperti biasanya, tiba-tiba dikatakan asin oleh gadis kecil seperti Aruna. Ya, itulah Aruna. Selalu saja ada alasan, ketika ia tidak ingin memakan makanan yang disuguhkan.


"Tapi menurut Aruna itu asin, Pa. Aruna tidak tahu, mungkin lidah Aruna sedang bermasalah," jawab Aruna sekenanya. Perihal mencari alasan memang gadis kecil itu jagonya.


Entah kenapa gadis sekecil Aruna sudah banyak sekali ide yang kadang membuat kedua orang tuanya terpaksa harus luluh.


Karakter gadis itu yang sedikit manja selalu saja membuat mereka tidak tega jika tidak mengikuti keinginannya. Berbeda dengan Arkana yang terkesan lebih cuek dan tidak terlalu peduli dengan hal-hal kecil, persis seperti papanya.


Aretha menyimpulkan senyuman di wajahnya, lalu mencondongkan tubuhnya seraya membujuk putrinya. "Lalu, putri kesayangan mama maunya sarapan apa?" tanya Aretha dengan nada yang sangat lembut. Mengingat Aruna yang sudah semakin memberengut.


"Aruna mau sarapan roti saja," jawab gadis kecil itu masih dengan ekspresi yang sama.


Melihat kembarannya yang memiliki banyak kemauan membuat Arkana sedikit mendelik sinis kepada adiknya. Namun, rupanya Aruna menyadari hal itu, sehingga membuat mood gadis kecil itu sedikit terganggu.


"Papa, Arka jahat," rengek Aruna mengadu kepada sang papa, sontak membuat Arkana seketika menatap sinis kembarannya.


David menghentikan kegiatan sarapannya sejenak. "Arka, jangan ganggu adikmu," ucapnya menasihati sang putra.


"Apa sih, Pa? Arka tidak melakukan apapun," bantah Arkana merasa kesal, karena ia merasa selalu saja adiknya yang dibela, padahal ia tidak melakukan apapun kepada Aruna.


"Tapi kamu lihatin aku kayak gitu, Arka," sela Aruna. "Nih, begini nih," imbuhnya seraya memperagakan bagaimana cara Arka menatapnya, sehingga membuat Aretha dan David sedikit menahan senyum. Namun, tidak dengan Arka yang terlihat sangat jengkel dibuatnya.


"Cuma lihatin saja, apa salahnya? Manja sekali, bisanya cuma ngadu!" ketus Arkana seraya menatap adiknya tidak suka.


"Sudah, sudah, jangan bertengkar! Kalian lanjutkan lagi sarapannya." Sang mama berusaha menengahi. "Nih, roti punyamu, makanlah yang banyak," imbuhnya seraya memberikan roti yang sudah diisi selai cokelat kepada putrinya.


"Arka sudah tidak nafsu makan!" Arkana meletakkan sendok makannya, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan kedua tangan yang disilangkan di atas dadanya, ditambah ekspresi kesal yang sontak membuat perhatian papanya seketika teralihkan kembali.


"Arka, kamu ini anak laki-laki, Sayang. Mengalahlah sedikit sama adikmu," pinta David dengan nada yang sangat lembut. Namun, tak ayal membuat putranya salah paham.


"Papa itu selalu saja belain Aruna," protes Arka yang seketika membuat David seakan ada yang menghujam jantunganya. Seketika ia terdiam. Sebelumnya Arkanan tidak pernah bertingkah seperti itu, apalagi membantahnya. Namun kala itu. Itu benar-benar mengejutkan baginya.


David merasa berdosa sekali sudah membuat putranya merasa seperti itu. Padahal, David sama sekali tidak memiliki niat untuk membeda-bedakan mereka. Hanya saja, ia tidak ingin memanjakan Arkana yang memang terlahir menjadi seorang anak laki-laki. Dan menurutnya anak laki-laki itu harus kuat, tidak boleh cengeng dan harus bisa menjaga adiknya, bukan malah sebaliknya. Itulah mengapa David selalu memperlakukan Aruna dengan lebih lembut dibandingkan dengan memperlakukan Arkana, karena sejatinya perempuan memang harus diperlakukan seperti itu. Itulah yang ia pahami selama ini.


"Papa tidak mem ...." David tampak menggantungkan ucapannya, ketika sang istri memberikan kontak mata sebagai isyarat agar David tidak menanggapinya.


Aretha segera menghampiri putranya, berniat ingin menenangkan Arkana yang sedikit meradang. "Arka, Sayang ... ayo sarapan lagi, Nak. Kalau tidak sarapan, nanti belajarnya tidak fokus, lalu nilaimu kalah tinggi sama ... siapa teman sekelasmu itu namanya?" ucap Aretha seolah mengingat nama gadis kecil yang selalu menjadi rival putranya di kelas.


"Ellena, Mama," sahut manja Aruna, lalu mulai menggigit sedikit roti di tangannya.


Nampaknya gadis kecil itu tidak merasa berdosa sama sekali sudah membuat mood sang kakak berantakan.


"Nah iya, Ellena. Kamu mau nilaimu kalah sama dia?" tanya Aretha yang selalu menjadikan gadis kecil itu sebagai senjata, ketika sang putra sudah kumat seperti itu. Sebab, ia tahu betul bahwa Arkana sangat tidak ingin jika Ellena mengalahkan prestasinya di sekolah.


"Biarkan saja Ellena mengalahkan dia," celetuk Aruna di tengah-tengah kegiatannya.


Entah kenapa sepasang anak kembar itu sering sekali bedebat untuk hal-hal sepele yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan.


"Aruna ...," panggil sang papa memberinya kode agar tetap diam.


Tanpa menanggapi papanya, Aruna kembali melanjutkan sarapannya dengan tidak memedulikan kembarannya sama sekali.


"Aruna selalu saja membuat Arka kesal, Ma," ujar Arkana memberi tahu.


Aretha sedikit menyunggingkan senyumnya, ia sendiri merasa bingung harus bagaimana menanggapi putranya itu. Di satu sisi ia ingin membuatnya tenang kembali dengan mengindahkan perkataan putranya, lalu meminta Aruna untuk meminta maaf kepada putranya. Namun di sisi lain, ia juga tidak ingin jika dirinya terkesan pilih kasih kepada salah satu di antara mereka.


Aretha hanya menoleh ke arah Aruna, sebelum ia menanggapi perkataan putranya. Aruna yang menyadarinya segera menghentikan kegiatan memakan rotinya sejenak.


"Iya, iya, aku minta maaf, Arka," ucap Aruna sedikit menyesal karena sudah membuat sang kakak kesal.


Senyum bahagia pun terbit di wajah Aretha dan David. Seketika David sedikit menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anak kembarnya itu.