Possessive Love

Possessive Love
Merasa Bersalah



rtepatan dengan Anton yang baru saja keluar dari ruangan ICU, Richard dan Rendy juga datang di tengah-tengah mereka.


"Selamat malam, Om, Tante," sapa Rendy kepada Kris, Anton, dan Maria. Ia tampak menatap mereka secara bergantian. "Maaf saya baru saja dapat kabar dari Richard, jadi baru bisa jenguk Dave sekarang," imbuhnya.


"Selamat malam, Nak Rendy. Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk Dave," jawa Kris.


"Om, Tante, bagaimana dengan kondisi Dave sekarang?" tanya Richard penasaran.


"Kami baru saja melihat kondisi David di dalam. Kalau kamu mau masuk, silakan. Tetapi, jangan lama-lama," ujar Kris.


Tanpa berpikir panjang, Richard pun memilih untuk melihat kondisi David secara langsung. Ia langsung masuk ke dalam ruangan itu.


Baru saja ia memasuki ruangan tersebut, suasana ruangan sudah terasa sedikit mencekam. Dari kejauhan hanya terdengar suara monitor perekam alat vital pasien. Tak ada suara lain, selain itu. Sungguh itu terkesan sangat menegangkan.


Tampak David yang tengah terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang, dengan berbagai kabel yang menempel di bagian tubuhnya, jarum infus yang menusuk di tangan kirinya, dan juga selang oksigen yang dipasang di hidungnya. Sementara bagian kepalanya tampak diperban.


Seketika Richard melemah menatap itu semua dari kejauhan. Bagaimana tidak? Siapapun akan meraskan hal yang sama, ketika berada di posisi Richard saat itu. Melihat sahabatnya terbaring tak berdaya. Terlebih lagi, sampai detik itu Richard masih saja merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa David.


Dengan langkah yang sedikit gontai, Richard semakin berusaha mendekati David hingga ia berdiri tepat di samping ranjang, di mana David terbaring kaku dengan wajah yang pucat pasi. Sungguh itu membuat Richard semakin tidak berdaya melihatnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Aretha melihat itu semua. Pasti wanita itu akan sangat terpukul dan tentu Richard akan sangat merasa bersalah akan hal itu.


"Dave, gue tahu lo orang yang kuat. Lo tidak mungkin kan menyerah begitu saja? Ada rere dan kedua bayi kembar yang selama ini lo nantikan kehadirannya. Bangunlah, Dave!" lirih Richard.


Seketika pria itu teringat kembali akan David yang pernah bercerita kepadanya dan juga Rendy bahwa David sangat bahagia sekali, ketika ia mengetahui Aretha yang hamil. Betapa bahagianya David saat itu. Wajahnya terlihat sangat semringah. Bahkan, semua beban yang tengah ia hadapi pun, seolah musnah begitu saja, karena tergantikan oleh rasa bahagia itu.


Tak hanya itu, David juga pernah bercerita tentang Aretha yang tiba-tiba berubah menyebalkan, setelah hamil. Namun, di balik itu semua David sangat merasa bahagia dan menikmati setiap hal yang berkaitan dengan Aretha, meski itu terkesan menyebalkan.


Tidak bisa dipungkiri, Richard juga sangat merasa bahagia, ketika melihat kebahagiaan David saat itu. Bahkan, ia juga membayangkan betapa Aretha sangat bahagia memiliki suami seperti David yang selalu berusaha memberikan kebahagiaan untuknya. Bahkan, demi tidak ingin mengecewakan Aretha, David rela mengikuti keinginan wanita itu, meski itu terkesan konyol sekali.


"Dave, bangunlah. Ada istri dan anak-anak yang menunggu lo, kedua orang tua lo juga. Termasuk gue juga sama, sangat menunggu lo pulih kembali," ucap Richard dengan nada yang sedikit berat tanpa mengalihkan fokusnya ke lain arah walau barang sedetik pun.


***


Keesokan paginya, Aretha tampak sudah bangun dari tidurnya. Rasa lelah membuat tidurnya tadi malam terlihat sangat nyenyak, sehingga ia bisa bangun lebih pagi.


Di ruangan itu hanya ada Aretha dan sang mami, sedangkan yang lain sedang keluar, termasuk papi dari wanita itu. Entah mereka akan mengecek kondisi David atau tengah mencari sarapan di luar.


Aretha baru saja selesai sarapan bubur yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit dengan disuapi oleh sang mami.


Efek dari operasi itu membuat Aretha masih belum bisa bangun. Bahkan, tidur dalam posisi miring pun belum bisa ia lakukan, karena masih terasa kaku dan sakit sekali pada bagian bekas luka operasi itu, sehingga mau melakukan apapun masih harus dibantu orang tuanya.


Carmila yang kala itu baru saja meletakkan mangkuk bekas bubur di atas meja nakas segera menghentikan kegiatannya, ketika mendapat pertanyaan itu dari putrinya. Ia bingung harus menjawab apa.


Carmila berpikir beberapa saat untuk mendapatkan jawaban yang paling tepat. Namun, belum berhasil ia menjawab atau bahkan menemukan jawaban itu, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu, sehingga mengalihkan perhatian mereka berdua.


"Siapa yang datang, Mi?" tanya Aretha heran.


Dalam hati, wanita itu berharap sekali bahwa yang datang adalah David—sosok yang tengah ia tunggu kehadirannya saat itu. Namun, seketika harapannya musnah, ketika yang datang ternyata bukanlah sosok yang ia tunggu, melainkan ketiga sahabatnya, entah dari mana mereka tahu bahwa dirinya tengah berada di rumah sakit.


"Re ...," teriak ketiga sahabatnya itu kompak, setelah mereka menyalami mami Aretha satu persatu.


"Kalian?" Aretha sedikit memasang ekspresi heran.


Belum sempat Aretha melanjutkan perkataannya, ketiga sahabatnya telah lebih dulu memeluk tubuhnya secara bergantian. Mereka tampak memberikan ucapan selamat kepadanya, disertai wajah yang semringah, seolah ikut merasakan bahagia.


Seketika Aretha dibuat bungkam tak bisa berbicara apapun, karena merasa terharu akan sikap sahabatnya itu yang selalu saja menunjukkan bahwa mereka peduli terhadapnya. Mereka sangat berarti sekali, karena selalu ada untuknya baik suka maupun duka.


"Kalian tahu dari mana kalau gue baru saja melahirkan?" tanya Aretha masih dengan ekspresi heran. Ia tampak melirik ke kanan dan kiri—menatap ketiga sahabatnya secara bergantian.


"Semalam gue yang telepon lo, tetapi tiba-tiba gue kaget karena yang terima telepon gue bukan lo, melainkan tante mami," jelas Diandra seraya melirik ke arah Carmila yang biasa ia panggil dengan sebutan tante mami itu.


"Semalam Rere sudah tidur, jadi tante tidak tega kalau harus membangunkannya," timpal Carmila seraya menerbitkan senyumannya.


"Tidak apa-apa Tante Mami ...," jawab Diandra tidak terlalu mempedulikan siapa pun yang menganggapnya. Baginya, medengar kabar tentang Aretha saja, itu jauh dari sekadar cukup.


"Baiklah, apa tante boleh minta bantuan kalian?" tanya Carmila sedikit ragu.


"Boleh tante, bantuan apa?" Tania tampak antusias menanggapi pertanyaan Diadra.


"Tolong bantu jagain Aretha sebentar ya, tante mau keluar dulu, ada keperluan," jawab Carmila.


"Siap, Tante Mami ...," ucap ketiga sahabat Aretha serempak.


Carmila langsung bergegas keluar dari ruangan itu, meski ia sangat mengkhawatirkan putrinya itu. Namun, ia juga merasa khawatir dengan kondisi sang menantu yang belum sempat ia jenguk di ruang ICU.


"Re, gue senang sekali punya keponakan kembar. Nanti gue bantu kuncirin rambutnya ya, terus gue bantu ajak main di taman kalau misalkan lo lagi repot," ujar Diandra girang sembari membayangkan betapa lucunya bayi kembar sahabatnya itu, ketika mereka sudah bisa jalan nanti.