Possessive Love

Possessive Love
Perempuan Penggoda



Sikap Alivia cukup membuat David terkesima. Ia masih tidak percaya jika sang sekretaris yang baru beberapa hari ia kenal, berani melakukan hal sejauh itu terhadapnya. Apa ia tidak takut karirnya akan hancur karena ulahnya sendiri, pikirnya.


David masih diam menatap lekat gadis di hadapannya. Sebagai pria normal, tidak bisa dipungkiri bahwa Alivia memang cantik dan itu cukup dapat menghipnotis setiap pria yang melihatnya. Namun, tidak dengannya.


Ternyata pria itu masih cukup sadar akan apa yang tengah ia hadapi saat itu. Sejauh mata memandang, hanya Arethalah yang kala itu mampu mengganggu pikirannya, meski di depannya ada gadis cantik yang lain. Namun, itu tak lantas membuatnya berpaling dari bayangan sang kekasih.


Sementara Alivia mengangkat kembali satu tangannya, lalu memegang sebelah bahu David. Nampaknya gadis itu mulai tidak sadar siapa yang tengah ia goda saat itu.


Sejenak, David menatap acuh gadis itu. Namun, setelah beberapa saat ia merasa risih dengan tingkah Alivia yang sama saja dengan menjatuhkan harga diri pria itu, sebagai seorang atasan. Mungkin gadis itu berpikir bahwa David akan mudah tergoda olehnya. Namun, nyatanya ia salah.


"Tolong singkirkan tanganmu!" geram David seraya menatapnya sinis. Namun, Alivia hanya membalasnya dengan senyuman seolah merasa tidak peduli.


"Ayolah, Pak ...," goda Alivia seraya mengelus lembut bahu David, lalu turun ke bagian dadanya yang bidang, sontak membuat David seketika meremang seakan ada sengatan listrik pada tubuhnya. Namun, beruntung ia masih diberikan kesadaran saat itu.


Secepat kilat pria itu menyingkirkan kedua tangan Alivia dengan kasar, lalu memundurkan tubuhnya dua langkah. "Jangan berani macam-macam kamu!" tegasnya.


Alivia masih tak menggubris emosi sang atasan. Lagi-lagi ia menyunggingkan senyumnya, sedikit menatap sinis pria di hadapannya. Ada rasa kecewa akan penolakan dari sang atasan yang selama ini sangat ia harapkan. Bahkan, sebelum ia menjadi sekretaris pribadinya.


Meskipun mereka baru beberapa hari saling kenal. Namun, ternyata Alivia telah lebih dulu mengetahui David, ketika pria itu berkunjung ke kantor cabang, dimana sebelumnya Alivia bekerja di sana. Tepatnya satu bulan, sebelum David menjadi CEO di kantor pusat.


Namun, David sama sekali tidak menyadari akan hal itu. Ia benar-benar mengetahui Alivia, setelah sang papa menugaskan gadis itu sebagai pengganti Aretha, selama menunggu Lisa kembali dari cutinya.


Kejadian malam itu tak lain karena sudah direncanakan sebelumnya oleh Alivia. Setelah ia mengetahui bahwa ia akan pergi ke luar kota dengan David, dimana yang mengurus segalanya adalah dirinya. Ia berencana untuk melakukan reservasi kamar hotel dengan jarak yang berdekatan agar bisa memperlancar rencana busuknya itu. Namun, nyatanya ia salah. David bukanlah pria yang mudah tergoda oleh seorang wanita.


Tidak mau menyerah, Alivia semakin mendekati David, lalu memperlancar aksinya dengan semakin liar. Ia mulai akan membuka salah satu kancing piyama bagian atas seolah ingin memperlihatkan yang lebih kepada David.


"Kamu yakin tidak mau?" tanyanya. Dengan sedikit tergesa-gesa, Alivia mulai akan membuka kancing bajunya. Namun, kecepatan tangannya justru malah membuat gadis itu semakin kesulitan membuka kancing itu sehingga David telah lebih dulu menghentikannya, sebelum ia berhasil dengan aktivitasnya.


"STOP ALIVIA!" bentak David yang sontak membuat Alivia seketika menghentikannya. Gadis itu tampak termangu melihat emosi David yang sudah berada di ubun-ubun dan siap meledak.


Aku yakin dia tidak sedang di bawah pengaruh obat, tetapi kenapa dia menjadi sangat liar seperti ini? Sungguh menjijikan!


Drt ... drt ... drt ....


Getar ponsel tampak mengalihkan perhatian keduanya. David mengecek layar ponsel yang kala itu masih berada dalam genggamannya, sementara Alivia tampak memerhatikannya dengan senyuman getir.


Arethaku is calling ....


Satu panggilan dari Aretha seketika membuat pria itu membeliak. Entah apa yang harus ia lakukan dalam situasi seperti itu, apakah harus menerima panggilan itu atau menolaknya?


Jujur ia khawatir Alivia akan sengaja mengganggunya dengan berbuat macam-macam, jika ia menerima panggilan dari Aretha. Pria itu pun memutuskan untuk mencari posisi aman dengan membiarkan panggilan itu sementara waktu, lalu mati dengan sendirinya.


Kenapa Alivia membawa-bawa nama Aretha? Apakah dia mengetahui akan hubungan kami?


"Jangan biarkan mulut kotormu menyebut nama itu, aku tidak rela mendengarnya! Dia Arethaku, tidak sepantasnya perempuan murahan sepertimu menyebut namanya!" sergah David semakin naik pitam. Bahkan, pria itu tidak peduli jika perkataannya menyakiti hati Alivia.


Tanpa disadari air mata gadis itu telah luruh membasahi pipinya mendengar perkataan David yang menyebutnya sebagai perempuan murahan, sementara ia melakukan itu semua hanya karena ingin memiliki David seutuhnya, setelah beberapa hari pria itu selalu bersikap dingin terhadapnya.


Bahkan, ketika berbincang pun yang mereka bahas hanyalah terkait pekerjaan, tidak lebih. Jangankan untuk bersenda gurau, menoleh ke arah Alivia pun sepertinya pria itu merasa enggan.


"Saya rasa anda sudah tidak waras, Nona!" cemooh David. "Dan perlu anda tahu satu hal. Saya tidak tertarik dengan perempuan penggoda seperti ANDA!" geramnya.


"Ttβ€”"


"Pintu masih terbuka lebar, silakan keluar SEKARANG JUGA!" usir David seraya melebarkan sebelah lengannya mengaral ke arah pintu seakan mempertegas ucapannya. "Jangan biarkan tangan saya menyeret tubuh anda, karena saya tidak akan sudi!" imbuhnya murka.


"Pak, ma-maβ€”"


"ALIVIA, KELUAR!" teriak David yang sontak membuat Alivia terlonjak. Dengan perasaan sedih dan sedikit menyesal, gadis itu terpaksa keluar dari kamar David dengan tergesa-gesa. Tak henti-hentinya ia menangis, menyesali perbuatannya. Hanya karena David ia rela berbuat serendah itu. Sungguh memalukan!


Cinta memang telah membutakan gadis itu sehingga ia rela menghalalkan segala cara demi mendapat pengakuan dari seorang David Wijaya.


Untuk apa aku melakukan semua itu kalau tahu akhirnya akan seperti ini. Aku sakit hati. Aku menyesal. Aku tidak rela jika dibilang perempuan murahan. Meski aku tahu aku salah, tetapi itu semata-mata kulakukan hanya untuk mendapatkan hatinya. Andai saja pak David tidak selalu bersikap dingin terhadapku, mungkin aku tidak akan melakukan perbuatan serendah ini, hiks.


BRUK!


David menutup pintu kamar hotelnya dengan geram. Bisa-bisanya ada perempuan yang berani menggodanya dan sialnya itu adalah sekretarisnya sendiri.


"Arrgh!! Sepertinya aku harus segera pulang malam ini juga!" erangnya frustasi.


Pria itu pun segera memutuskan untuk pulang malam itu. Namun, sebelum terbang ke kota kelahirannya, David telah lebih dulu menghubungi Mario, asisten pribadi sang papa untuk segera menyiapkan jet pribadi yang akan ia gunakan malam itu.


________________________


Readers yang baik hati dan budiman,πŸ™‹β€β™€οΈπŸ™‹β€β™€οΈπŸ™‹β€β™€οΈ


Makasih yang udah komen di chapter sebelumnya, jangan lupa kasih komentar juga ya di chapter ini🀭🀭


HAPPY READING!