Possessive Love

Possessive Love
Menyusul David



"APA??" Kris membeliak dengan mulut yang terperangah. Seketika ia mematung beberapa saat, sontak membuat yang lain pun merasa heran dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sudah terjadi?


Dengan ekspresi cemas, Maria langsung menghampiri suaminya yang kala itu masih saja bergeming. "Pa, ada apa?" tanyanya lirih.


Namun, Kris masih diam, sehingga membuat sang istri semakin curiga, pun dengan Anton dan Carmila, juga Richard.


"Pa, jawab mama ada apa?" Maria tampak memaksa dengan menggoyangkan lengan Kris.


Kris menoleh ke arah Maria, lalu menatapnya dengan tatapan sendu. "Dave, Ma. Dave kecelakaan dan sampai sekarang masih belum sadarkan diri," jawab Kris yang sontak membuat semuanya terkejut.


"Papa bohong 'kan, Pa?" Maria masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Dengan sigap, Kris merengkuh tubuh Maria. Detik itu juga Maria menagis histeris. Ia benar-benar tidak kuasa membayangkan kondisi putra semata wayangnya saat itu.


Tak hanya Maria, Carmila pun sama. Kedua perempuan paruh baya itu semakin menangis sejadi-jadinya, ketika mendengar kabar mengejutkan, sekaligus mengerikan seperti itu. Mereka benar-benar sudah tidak bisa lagi membendung air mata yang kian luruh membasahi pipinya.


Bak sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Mungkin itu yang dapat mewakili apa yang sudah menimpa kedua keluarga itu. Setelah Aretha yang mendapat masalah akan kehamilannya, tiba-tiba David sang suami justru mengalami kecelakaan, apakah itu bukan hal baru yang mengejutkan bagi mereka?


Tentu salah, jika mereka akan terlihat biasa-biasa saja, setelah mengetahui putri dan putra kesayangan mereka tengah berjuang mengahadapi kenyataan yang sebagaimana diketahui bahwa nyawalah sebagai taruhannya.


"Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Anton bingung, karena dihadapkan dengan dua situasa yang menegangkan dalam waktu bersamaan.


"Saya akan susul David sekarang juga," jawab Kris.


"Mama ikut!" timpal Maria.


Tidak bisa dipungkiri bahwa Maria juga merasa khawatir dengan kondisi Aretha saat itu. Akan tetapi, ia juga khawatir dengan putranya yang entah kondisi yang sebenarnya seperti apa. Ingin rasanya ia melihat David secara langsung dan berharap bahwa kabar itu tidaklah benar.


Sampai detik ini, perempuan paruh baya itu masih berusaha tidak mempercayai akan kebenaran kabar yang baru saja didengarnya, meski pada kenyataannya itu sulit. Sulit sekali untuk dilakukan. Buktinya, ia masih saja menangisi, karena takut akan kebenaran dari kabar tersebut.


"Mama tunggu saja di sini. Percaya sama papa, David akan baik-baik saja," ucap Kris menyarankan.


"Baiklah," lirih Maria dengan terpaksa.


"Saya ikut, Om!" ujar Richard yang sedari tadi memperhatikan mereka.


"Baiklah," singkat Kris menyetujui, lalu memfokuskan pandangan kepada Anton.


"Pa Anton, saya tinggal dulu, semoga nak Rere dan bayinya baik-baik saja, saya titip mereka," ucap Kris.


"Amin. Baik, Pak. Hati-hati di jalan, semoga nak David juga baik-baik saja," balas Anton.


Richard dan papanya David langsung beranjak dari tempat itu, tanpa menunggu waktu lama, sedangkan yang lainnya masih menunggu di depan ruang operasi dengan rasa panik.


Carmila tampak mondar-mandir tidak jelas di tengah kepanikannya. Tentu saja tak sedikit pun yang bisa ia lupakan dari kondidi Aretha, meski hanya sesaat.


"Mi, sudahlah ... tenang dulu," pinta Anton yang kala itu sudah nampak duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan operasi.


"Iya, papi tahu, tetapi dengan kita yang hanya panik dan khawatir saja, itu tidak akan bisa merubah papun, bukan?


"Iya, Jeng ... kita doakan saja mereka," timpal Maria menenangkan, meski sebenarnya ia juga masih sama paniknya.


Setelah beberapa saat, tampak lampu indikator yang berada di atas pintu ruangan operasi menyala, pertanda bahwa operasi itu akn dimulai. Seketika jantung mereka pun berdegup dengan kencang, karena kecemasan yang kian membuncah.


Tak banyak yang bisa mereka perbuat selain berdoa dan berpasrah diri, menyerahkan semuanya kepada Sang Mahakuasa.


***


Di perjalanan, tampak Richard yang tengah menyetir mobil mewah miliknya, sedikit dengan kecepatan tinggi. Namun, tetap berusaha hati-hati.


Sementara Kris yang duduk di sampingnya tampak tidak berkomentar apapun melihat Richard yang menyetir sengan laju kemudi yang sangat cepat.


Setelah mendapat titik lokasi yang dikirimkan oleh penerima telepon itu. Mereka segera mengikuti map yang terhubung pada jaringan selulernya.


Richard terus mengikuti arah yang ditunjukkan pada layar ponsel itu, meski ia juga sedikit samar-samar dengan tempat tersebut. Sepertinya tempat itu memang tidak terlalu jau, hanya saja ia sedikit lupa dengan tempat yang ditunjukkan pada peta tersebut.


Setelah beberapa lama, ternyata arah tersebut mengantarkan mereka ke sebuah rumah sakit yang berada di kawasan Puncak-Bogor.


Dengan sigap, Richard dan papanya David segera turun dari mobil itu, lalu segera masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah yang sangat tergesa-gesa.


Richard segera menanyakan ke pihak resepsionis rumah sakit tentang pasien kecelakaan. Benar saja, ternyata memang ada dua korban kasus kecelakaan yang ditangani di rumah sakit tersebut.


Richard dan laki-laki paruh baya itu segera beranjak dari sana, setelah petugas rumah sakit memberitahu keberadaan ,pasien korban kecelakaan itu.


Ternyata korban tersebut masih berada di ruang IGD, sehingga membuat keduanya tidak bisa langsung begitu saja menemui korban kecelakaan tersebut.


Tampak dua orang laki-laki paruh baya yang juga berada di depan ruangan itu, entah mereka siapa.


"Bapak dan Mas ini keluarga korban kecelakaan, bukan?" tanya salah satu diantara mereka.


"Iya, betul." Kris langsung membenarkan pertanyaan itu.


"Ini." laki-laki itu tampak menyodorkan ponsel milik David yang sedari tadi dipegangnya, sudah dapat dipastikan bahwa laki-laki itu yang menerima pangilan telepon dari Kris beberapa jam yang lalu.


Melihat benda yang diberikan oleh laki-laki paruh baya itu, Kris seketika melemas. Rasanya ia tidak bisa lagi menepis bahwa korban kecelakaan itu adalah David. Lagi-lagi ia harus tabah menerima kenyataan pahit itu.


Setelah mendapatkan informasi lebih lanjut dari kecelakaan tersebut, Kris dan Richard hanya bisa diam menunggu kabar dari dokter langsung.


Mereka masih setia menunggu kabar dari dokter. Entah kabar baik maupun buruk, yang jelas mereka berharap yang terbaik, meski itu kecil kemungkinan.


Setelah beberapa saat mereka menunggu, seorang dokter laki-laki bertubuh tinggi dan tegap ke luar dari ruangan tersebut. Dengan sigap dan antusias, Kris dan Richard menghampirinya, sekadar untuk menanyakan kondisi David dan Rangga yang sebenarnya.


"Dok, saya keluarga dari pasien kecelakaan itu," ucap Kris memberi tahu.