Possessive Love

Possessive Love
Villa



Setelah kurang lebih tiga jam setengah di perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Mobil David memasuki gerbang sebuah villa, dimana mereka akan menginap di sana. Villa itu tak lain adalah milik keluarga David.


Sementara mobil yang lainnya tampak mengikuti dari belakang. Mereka memarkirkan mobil mereka masing-masing di halaman villa yang terlihat sangat luas.


Beberapa dari mereka sudah turun dari mobil, lalu mengahampiri David. Tampak sepasang perempuan dan laki-laki paruh baya menyambut kedatangan mereka. Ya, mereka adalah Sri dan Karman, orang yang selama ini mengurus villa itu.


Disaat semuanya sudah berkumpul, Samuel dan Diandra masih tampak berada di dalam mobil. Nampaknya, Diandra masih belum bangun dari tidurnya, sehingga membuat Samuel memutuskan untuk tidak turun terlebih dahulu, sebelum Diandra bangung. Tidak mungkin juga ia meninggalkan Diandra di dalam mobilnya sendirian.


"Ra, kita sudah datang," ucap Samuel seraya membangunkan Diandra. Namun, wanita itu hanya bergeming.


Benar-benar nyusahin nih anak!


Sudah tiga kali Samuel memanggil nama Diandra. Namun, tetap saja hasilnya nihil.


Apa dia benar-benar pingsan? Atau jangan-jangan? pikir Samuel.


Samuel tampak mencondongkan tubuhnya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Diandra.


"DIANDRA ... BANGUN!!" teriak Samuel tepat di samping telinga wanita itu, sontak membuat Diandra terlonjak sekaligus, karena merasa kaget.


"Astaghfirullah! Ada apa?" Diandra tampak mengedarkan pandangan ke beberapa arah secara bergantian, memeriksa sesuatu yang mungkin telah terjadi. Namun, nyatanya ia salah, tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di sekitarnya.


Wanita itu tampak memegang telinganya yang terasa begitu pengang, karena ulah teriakan Samuel. Ia mengusap-usap kasar telinga itu.


"Ada apa, ada apa, lihat tuh orang-orang udah pada turun!" Samuel tampak menunjuk ke arah yang lain dari dalam mobil. "Lo itu tidur atau pingsan, sih? Heran, cewek kok tidurnya model begitu!" gerutu Samuel kesal.


"Kita sudah sampai?" tanya Diandra terlihat bodoh.


"Hh, pakai nanya lagi, turun lo!" titah Samuel dengan sinis. "Bisanya cuma bikin repot orang saja!" imbuhnya kesal.


Samuel segera turun dari mobil itu, pun dengan Diandra. Mereka berdua tampak berjalan berdampingan mengampiri yang lainnya, setelah mengambil barang-barang mereka dari bagasi.


"Cieee ... romantis banget!" seru Deasy dan Tania, sontak membuat keduanya tampak memerah.


Sementara yang lainnya ikut tersenyum, seolah membenarkan perkataan Deasy dan Tania, terlebih lagi Aretha.


"Apaan, sih?" sinis Diandra, seraya menatap kedua sahabatnya itu.


Diandra lalu menoleh, melihat Samuel yang berjalan di sampingnya. Ia berhenti sejenak. "Lo juga, ngapain dekat-dekat sama gue?" ketusnya.


"Enak saja! Bukannya, lo yang dari tadi mepet-mepet terus sama gue!" balas Samuel tak mau kalah.


Yang lainnya tampak memperhatikan mereka tidak percaya bahwa keduanya terlihat ibatat anjing dan kucing yang tidak pernah akur, terlebih bagi mereka yang baru mengetahui sosok mereka berdua.


"Sumpah demi apapun, sekalipun gue harus mepetin cowok, nggak mungkin lo juga orangnya! Kayak nggak ada cowok lain saja!" bantah Diandra.


"Samuel?" panggil Renata yang baru saja menghampiri mereka, setelah sebelumnya ia ijin menjauh untuk mengangkat telepon dari papanya.


Secepat kilat, Samuel menoleh ke sumber suara, pun dengan yang lainnya yang tampak begitu terkejut, ketika mereka tahu bahwa Renata mengenal Samuel.


"Re-Renata?" Samuel tampak membeliak, ketika menyadari Renata yang berdiri tepat di samping Richard, pria yang belum ia ketahui namanya. Namun, masih ingat dengan wajah itu, pria yang sempat bertemu dengannya di resepsi pernikahan Aretha dan David.


"Kamu kenal sama dia?" bisik Richard kepada sang adik.


Renata tampak melirikkan matanya kepada sang kakak. Namun, hanya sekilas. "Hmm ... di-dia teman aku waktu SMA," jawab Renata sedikit gugup.


Richard yang mengenal betul adiknya, tentu ia sedikit merasa heran dengan ekspresi Renata saat itu. Ia tampak mengerutkan dahinya, lalu mengangguk, seolah paham di tengah rasa kebingungannya. Richard memfokuskan kembali pandangannya kepada Samuel.


Rupanya, dalam waktu yang sama, Samuel juga tengah menatap Richard dari kejauhan, sehingga mereka tampak beradu pandang beberapa saat.


Oh, jadi pria itu kekasihnya Renata.


"Kamu ikut juga rupanya," ujar Renata yang seketika membuat lamunan Samuel ambyar.


Ah, sial! Kenapa harus bertemu dia di sini, sih?


"Ya," jawab Samuel singkat dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.


Diandra yang kala itu masih berada di samping Samuel, tampak memperhatikan ekspresi pria itu. Sesekali, ia juga memperhatikan Renata, wanita yang juga belum dikenalnya.


Siapa wanita itu? Apa mereka sempat memiliki hubungan lebih?


"Ya sudah, ayo kita masuk!" ajak David.


"Terima kasih, Bi," jawab David.


"Barang-barangnya, biarkan saya yang bawa," timpal Karman.


"Tidak perlu, Pak, Terima kasih, kami bisa membawanya sendiri," jawab Aretha merasa tidak enak hati, memperlakukan rendah bapak yang lebih tua darinya itu.


Richard yang kala itu berada di belakangnya tampak tersenyum melihat sikap ramah Aretha kepada Karman.


Rere kamu tidak berubah. Dari dulu selalu saja baik dan hormat kepada orang yang lebih tua.


"Baiklah," lirih Karman.


David dan Aretha tampak memimpin mereka untuk masuk ke dalam bangunan bergaya klasik modern yang begitu luas, dan cukup menampung orang banyak, karena kamar yang tersedia pun cukup banyak.


"Silakan kalian pilih kamar masing-masing! Untuk wanita bisa di lantai atas, dan untuk laki-laki, kalian bisa pilih kamar yang ada di lantai ini," ujar David memberi kebebasan kepada mereka.


Sementara, dirinya dan sang istri akan menempati kamar utama di villa itu, yang berada di lantai dasar, tepat di bawah tangga.


"Karena ini sudah sore, sebaiknya kita istirahat dulu," ucap David kemudian.


Tanpa menunggu lama, mereka langsung mengambil alih kamar-kamar itu sesuai pilihan mereka. Kelima wanita tampak menaiki anak tangga untuk segera beristirahat, setelah perjalan yang lumayan jauh.


***


Malam harinya, Sri tampak sudah siap menyiapkan hidangan makan malam di atas meja makan berwarna cokelat yang terbuat dari bahan kayu jati. Meja itu sangat panjang, dan memiliki kursi sebanyak enam belas. Masih ada sisa kursi kosong, jika David dan yang lainnya menempati kursi-kursi itu.


Setelah semua makana telah terhidang dengan rapi, Sri langsung menghampiri kamar Aretha dan David seraya mengetuk pintunya, memanggil untuk segera makan malam.


"Bi, tolong panggilkan teman-teman saya juga, ya," ucap Aretha meminta tolong.


"Baik, Mbak," jawab Sri dengan sangat ramah. Ia segera mengetuk pintu yang ada di lantai tersebut satu-persatu, lalu menaiki anak tangga untuk memanggil para wanita di atas sana.


Beberapa saat kemudian, mereka semua telah berkumpul di tempat makan, lalu menduduki kursi koso itu satu-persatu. Mereka tampak duduk berdekatan dengan pasangannya masing-masing.


Aretha tampak mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk sang suami.


"Ini, Mas." Aretha tampak memberikan piring itu kepada David.


"Terima kasih, Sayang," ucap David, lalu meraih sendok yang sudah tersedia di samping piring itu.


Sebagaimana Aretha, Renata juga mengambilkan makanan itu untuk kakak tercintanya.


"Mau makan sama apa?" tanya Renata seraya menoleh ke arah Richard.


"Daging," singkat Richard.


Samuel yang duduk tepat di depan Renata tampak memperhatikan kegiatan wanita itu sedari tadi. Ia memasang ekspresi kesal, ketika melihat Renata yang begitu perhatian terhadap Richard.


Perhatian sekali, dulu dia tidak pernah seperti itu.


Samuel menoleh ke samping yang kebetulan Diandralah yang duduk di samping kanannya. Wanita itu terliaht tengah sibuk menyendoki nasi ke dalam piringnya.


"Makanlah yang banyak, biar kamu tidak sakit!" ucap Samuel tiba-tiba dengan nada yang sedikit keras, sontak membuat Diandra terkejut dan heran bukan main. Ia sangat tidak ingin percaya, tetapi kenyataannya, tatapan Samuel fokus kepadanya.


"Ha?" kaget Diandra tanpa suara.


Renata yang kala itu mendengar jelas ucapan Samuel kepada Diandra tampak menghentikan kegiatannya sejenak, lalu menatap Samuel. Namun, tidak berlangsung lama, ia menurunkan kembali tatapannya, sebelum akhirnya yang lain menyadari.


"Aku tidak ingin lihat kamu sakit," ujar Samuel.


Diandra tampak tertegun mendengarnya.


Apa? Apa dia sedang tidak sehat?


Jangankan Diandra, yang lain pun terlihat sangat terkejut melihat sikap Samuel yang tiba-tiba perhatian kepada Diandra, terlebih lagi Aretha yang kala itu paling dekat dengannya.


"Waktunya makan, bukan pacaran!" protes Deasy terkekeh.


"Ck!" Samuel hanya menanggapinya dengan berdecak kesal.