
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, mata David seakan masih enggan terpejam. Sekeras apapun ia mencoba untuk memejamkan matanya, berharap bisa berlari ke alam mimpi, tetap saja tidak membuatnya berhasil.
Kejadian tadi siang cukup membuatnya resah dan gelisah. Selain karena luka lama yang seakan kembali menyayat hatinya, ia juga terpikirkan akan nasib rumah tangganya. Ia khawatir jika kehadiran Freya malah akan menjadi bumerang untuk pernikahan yang baru saja akan dibinanya.
Pria itu masih tampak membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi ternyaman agar bisa tidur lebih cepat. Namun, itu justru membuat Aretha yang sudah terlelap lebih dulu akhirnya terbangun.
"Mas, kamu belum tidur?" Suara Aretha terdengar sedikit parau. Ia tampak mengucek matanya.
David yang kala itu tengah membelakanginya, segera menghadap sang istri.
"Aku mengganggumu?" tanya David seraya menatap wajah sang istri yang terlihat lebih cantik saat bangun tidur.
"Kenapa belum tidur?" tanya Aretha heran. "Ada yang mengganggu pikiranmu?" imbuhnya sedikit curiga.
David terdiam beberapa saat. Entah harus memulai dari mana, ia pun masih bingung. Antara memutuskan untuk menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi, atau malah memendam itu sendiri dan membiarkan Aretha tidak mengetahui apapun yang tengah mengganggu pikirannya itu.
Cerita atau jangan ya sama Aretha, kalau tadi aku bertemu Freya?
Dia istriku. Dia harus tahu apapun yang aku alami.
"Mas, kok malah bengong?" Suara Aretha sedikit membuyarkan lamunan David saat itu, sehingga membuatnya terkesiap.
"Kenapa, Sayang?" tanya David, seolah meminta Aretha mengulangi pertanyaannya.
"Kenapa belum tidur?"
"Kamu tahu? Ini semua gara-gara kamu!" jawab David.
"Aku salah apa?"
"Sayang, mana mungkin aku bisa tidur, kalau di bawah sana masih saja terbangun," jelas David seraya melihat ke bawah yang tampak menegang.
Aretha mengikuti kemana arah tatapan mata David sejenak, lalu kembali mendongak, setelah ia memahami kemana arah pembicaraan David.
"Apa benar sampai seperti itu, Mas?" tanya Aretha seolah tidak percaya. David hanya mengangguk membenarkan.
Aretha hanya memasang ekpresi iba. Ia tidak tahu kalau hal itu dapat membuat sang suami merasa tersiksa.
"Sakit, Sayang," rengek David seraya memegang benda di bawah sana.
"Lalu aku harus bagaimana, Mas?" tanya Aretha bingung.
"Kemarilah," titah David seraya menarik tubuh Aretha ke dalam pelukannya.
Pria itu mendekapnya dengan erat, lalu mendaratkan kecupan di puncak kepala Aretha. Posisi yang membuatnya nyaman, tetapi masih membuatnya enggan terpejam, karena semakin merasakan sesak di dalam celananya.
"Mas, kamu tidak akan macam-macam, kan?" tanya Aretha yang menaruh rasa curiga.
"Kamu pikir aku akan memperkosamu?" tanya David seraya menatap lekat wajah sang istri.
"Kamu membuatku khawatir, Mas," gumam Aretha.
"Diamlah! Aku hanya ingin memelukmu seperti ini," jawab David.
David semakin mempererat pelukannya, merasakan kehangatan yang timbul dari tubuh mungil itu.
"Shit! Ini sangat nyaman, sekaligus menyakitkan," gumam David dalam hati.
Lelaki normal sepertinya, mana mungkin tidak bereaksi, ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu. Itu benar-benar sangat menyiksanya, terlebih ia yang sudah terlalu lama menunggu dan bertahan, pada situasi yang membuatnya semakin tertekan, akibat hasrat yang belum sempat tersalurkan.
Sementara, Aretha pun menikmati situasi seperti itu. Ia tampak membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami yang mengeluarkan aroma khas dari dalam tubuhnya. Ia sedikit menghirup aroma itu, menenangkan dan membuatnya nyaman.
"Sayang."
Panggilan David seketika membuat Aretha tersadar dari euforia-nya saat itu.
"Hh?" Aretha sedikit terkesiap, lalu mendongak.
"Aku mau mengatakan sesuatu, tetapi kamu harus janji tidak akan marah," ujar David.
"Tadi siang, Freya datang ke kantor," terang David yang langsung membuat jantung Aretha berdegup.
Mendengar nama itu cukup membuat hati Aretha seakan tertusuk sembilu. Tentu saja karena ia tahu Freya itu siapa. Satu hari setelah pernikahannya, David bercerita banyak tentang sosok tersebut.
Cemburu sudah pasti. Namun, ia memutuskan untuk tidak menunjukkan itu kepada David. Walau bagaimanapun itu pasti akan merubah mood-nya dalam waktu seketika. Ia tahu apa yang akan terjadi, ketika bad mood melanda dirinya.
Entah bagaimana ia harus menanggapinya. Sebagai seorang istri, itu tentu membuatnya merasa tidak tenang. Jika Freya sudah berani menemui suaminya di tempat kerja, lantas apa yang akan wanita itu lakukan setelahnya? Batinnya bertanya-tanya.
Aretha sedikit menetralkan perasaannya. Ia memaksakan senyuman yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan, kalau bukan karena ingin menghargai kejujuran suaminya.
"Lalu?" tanyanya singkat. Namun, ia seolah meminta David bercerita lebih banyak lagi dari yang sudah ia ketahui.
"Kamu tidak marah?" tanya David seraya menatap penuh tanya wajah Aretha.
"Untuk apa aku marah? Memangnya kamu melakukan apa saja sama dia?" tanya Aretha sedikit kesal.
Tentu saja otaknya dipenuhi pikiran negatif saat itu, tetapi ia tidak ingin menyimpulkan lebih dulu, sebelum David menceritakannya sejelas mungkin.
"Aku tidak melakukan apapun sama dia, Sayang," jawab David.
"Ya sudah, kalau memang kalian tidak melakukan apa-apa, kenapa aku harus marah?"
David mulai menceritakan kepada Aretha maksud dari kedatangan Freya ke kantornya. Walau bagaimanapun Aretha adalah istrinya, dan Aretha harus tahu apapun yang terjadi pada dirinya. Bukankah keterbukaan itu penting dalam suatu hubungan? Paling tidak, Aretha akan bisa mengilustrasikan tentang bagaimana kemungkinan terburuk yang akan terjadi setelahnya.
"Kenalkan aku dengannya," pinta Aretha, setelah ia mendengar cerita David.
"Untuk apa? Kamu tidak perlu mengenalnya!" ucap David menolak.
"Lho, kenapa? Kamu takut rahasia kamu terbongkar?" Sikap David tentu membuat sang istri curiga. "Apa sih yang sudah kalian lakukan sewaktu pacaran dulu, sampai kamu ketakutan seperti itu?" imbuhnya menginterogasi.
"Haiish! Aku tidak pernah melakukan apapun!" bantah David.
"Bohong kamu, Mas!" Aretha tidak percaya melihat sorot mata David yang seakan tidak berkata jujur.
"Tidak!"
"Mas, feeling seorang istri itu kuat lho, tidak pernah salah!"
"Buktinya sekarang kamu salah?"
"Aku tahu kamu bohong, Mas! Sudahlah akui saja! Mau aku tanya langsung sama orangnya?" kesal Aretha.
Entah kenapa ia benar-benar merasa yakin dengan ucapannya. Terlebih lagi, ia tahu budaya luar itu seperti apa. Itu membuatnya khawatir.
"Aku tidak pernah melakukan apapun, Sayang! Cuma kissing saja, apa salahnya? Itu hal yang wajar, bukan?" jelas David yang sontak membuat Aretha geram.
"Maaasss!!!!!" teriak Aretha kesal. "Kamu bilang itu wajar? Aku tidak pernah melakukan itu sama siapapun lho, Mas!" imbuhnya seraya menghujani David dengan pukulannya.
"Aauuuw, Sayang ... sakit!" rintih David meringis kesakitan.
"Kamu menyebalkan!!" kesal Aretha langsung membalikkan badannya, memunggungi David. Akhirnya, David benar-benar membuatnya bad mood
Wanita mana yang tidak akan cemburu, ketika mengetahui bahwa sang suami pernah melakukan itu dengan wanita lain, meski itu terjadi sebelum mereka dipertemukan.
"Sayang, kamu marah?" David tampak memeluk Aretha dari belakang. Meski Aretha sempat menolak, ia tetap tidak mau kalah.
"Kalau kamu mau, aku bisa kok kasih yang lebih buat kamu, daripada apa yang kukasih ke dia," lirihnya menggoda.
"Mas, tolong singkirkan tanganmu!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT GAEEEEES, BIAR SEMANGATKU GAK SURUT😌
HAPPY READING!
TBC