Possessive Love

Possessive Love
Sekretaris Cantik



Hari itu adalah hari terakhir Aretha menginjakkan kaki di perusahaan David sebagai mahasiswa magang. Kala itu ia berangkat ke kantor diantar oleh Iman, sopir pribadinya.


Gadis itu tampak sudah menduduki kursi kerjanya. Setelah beberapa menit, ia melirik ke pintu ruangan David. Entah pria itu sudah berada di dalam atau belum.


Setelah hampir lima belas menit berlalu. Aretha yang sedari tadi tampak menunggu kedatangan David, mulai bertanya kenapa sampai detik itu ia belum melihat sosok tersebut, apa mungkin pria itu memang sudah berada di dalam ruangannya, sebelum ia datang?


Entah ada dorongan dari mana, gadis itu sangat berharap bisa bertemu dengan David secepatnya. Bukan karena kangen, tetapi karena ada beberapa berkas yang belum ia serahkan kepada pria yang menjadi atasannya itu. Sekalipun karena ia merasa kangen, mungkin itu akan menjadi alasan terakhir bagi gadis itu, mengingat tugas magangnya adalah lebih penting dari sekadar rasa kangen.


Aretha masih setia menunggu kedatangan David sembari mengerjakan beberapa tugasnya yang belum ia selesaikan.


Setengah jam sudah ia habiskan. Namun, pria itu masih belum menampakkan wujudnya sehingga Aretha memutuskan untuk mengecek ke ruangannya. Barangkali David memang benar-benar sudah berada di sana sedari tadi.


Dengan sedikti ragu, gadis itu melangkahkan kakinya menuju ruangan CEO, lalu mengetuk pintu itu berulang kali. Namun, tidak ada jawaban atau tanda-tanda bahwa ada orang di dalamnya.


Gadis itu mengulangi ketukan itu sekali lagi. Namun, masih tidak ada jawaban. Ia pun memutuskan untuk sedikit membuka pintu itu. Kebetulan sekali pintunya tidak dikunci. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Aretha membuka pintu itu. Namun, baru saja ia akan sedikit melebarkan celah pintu itu, tiba-tiba suara bariton mengagetkannya.


"Sedang apa kamu?" Aretha seketika dibuat terlonjak, sebelum ia berhasil melihat kondisi di dalam ruangan itu. Dengan sigap ia membalikkan badannya, lalu membulatkan matanya, tatkala mendapati David yang tengah berdiri di hadapannya.


Aretha tersenyum malu. Seketika wajahnya berubah bersemu merah. "Ba-Bapak baru datang?" tanyanya gugup.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya David seraya menatap tajam gadis itu.


"Sa ... saya hanya berniat mengecek saja, Pak. Saya sudah ketuk pintunya berulang kali, tetapi karena tidak ada jawaban, makanya saya berniat untuk mengecek ke dalam, barang kali Bapak ketiduran di dalam. Ternyata, Bapak memang baru datang," jelas Aretha sedikit gugup karena kepergok sedang mengintip.


"Alasan saja!" sindir David yang sontak membuat Aretha memberengut kesal. Seketika gadis itu menggeser tubuhnya, sedikit memberikan jalan pria itu untu masuk ke dalam ruangannya.


Pria itu segera berjalan masuk ke dalam ruangannya, sementara Aretha kembali ke meja kerjanya. Niat hati ingin sekali langsung menemui sang atasan. Namun, apalah daya, sudah terlanjur kepergok, ia menjadi tidak enak hati, lebih tepatnya sih merasa malu. Gadis itu pun kembali menunggu waktu yang tepat, setelah ia menunggu lama.


Nanti siang aja kali ya. Gak enak juga kalau harus menghadap pak David sekarang, malu banget aku.


***


Sebelum jam istirahat makan siang, Aretha berniat untuk menemui David di ruangannya. Namun, belum sempat ia melakukannya, tiba-tiba seorang perempuan sekitar 24 tahunan tampak menghampirinya.


"Selamat siang, saya Alivia, mau bertemu dengan pak David, ruangannya di sebelah mana, ya?" tanya perempuan cantik berambut panjang, lurus, dengan tinggi semampai bak model itu.


"Selamat siang. Apa Mbak sudah membuat janji sebelumnya?" tanya Aretha.


"Ya," jawabnya singkat dengan ekspresi yang sedikit judes.


"Baiklah, mari saya antar!" ajak Aretha.


Gadis itu segera mengajak Alivia ke ruangan David. Ia tampak mengetuk pintu itu, lalu masuk ke dalam, setelah David mempersilakan.


"Maaf, Pak, ada yang mau bertemu dengan Bapak namanya mbak Alivia," ucap Aretha memberi tahu.


David yang kala itu tengah seibuk dengan pekerjaanya tampak menoleh. "Suruh dia masuk!" perintah David.


"Baik, Pak." Aretha segera menghampiri Alivia, lalu memintanya masuk.


"Saya permisi," pamit Aretha, setelah berhasil mengajak Alivia ke dalam ruangan itu.


"Tunggu!" panggil David yang sontak membuat gadis itu mengurungkan niatnya.


"Iya, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Aretha.


David beranjak dari tempat duduknya, lalu mempersilakan Alivia duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Pun dengan Aretha. Mereka pun tampak duduk di sofa itu.


Meski Aretha sedikit bingung, tetapi ia tetap menuruti perintah David. Gadis itu tampak duduk di sebelah Alivia, di sofa panjang yang cukup untuk tiga orang.


"Oh, perkenalkan saya Aretha," ucap Aretha seraya mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.


"Alivia." Alivia tampak membalasnya dengan senyuman yang sungguh tidak enak dipandang oleh mata Aretha. Namun, tetap tidak mengurangi kecantikannya.


Tak berlangsung lama, mereka segera mengakhiri perkenalan mereka tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


Kenapa pak David memilih sekretaris yang cantik model begini, sih? Eh, tapi apa peduli aku, mau sekretarisnya cantik atau tidak, itu kan haknya.


"Nanti kamu bisa menginformasikan beberapa dokumen penting beserta schedule saya kepada beliau," ucap David memberi tahu.


"Baik, Pak," jawab Aretha.


"Bu Alivia, selamat datang di perusahaan ini, semoga kita bisa bekerjasama dengan baik." David tampak menerbitkan senyuman kepada Alivia yang langsung mendapat balasan dari gadis itu.


"Terima kasih, Pak, saya senang bisa bekerjasama dengan Bapak. Setelah dua tahun saya bekerja di kantor cabang, akhirnya kali ini saya bisa melanjutkan pekerjaan saya di sini. Sunggu suatu kebanggaan bagi saya," timpal Alivia seraya tersenyum senang.


Ya, Alivia memang jebolan dari kantor cabang yang berada di Bandung. David sengaja memilih Alivia sesuai berdasarkan yang direkomendasikan oleh ayahnya, Kris.


"Oh ya, panggil saya Alivia saja, Pak, mungkin akan lebih enak kedengarannya," imbuhnya.


David tampak tersenyum. "Baiklah Alivia," ucapnya yang sontak membuat Aretha menatapnya tidak suka. Entah karena apa yang jelas David yang menyadarinya merasa senang melihat pemandangan itu.


"Karena sebentar lagi jam istirahat, bagaimana kalau kita makan siang bareng?" tanya David kepada Alivia.


Seketika pria itu langsung melirik ke arah Aretha seolah sengaja ingin melihat ekspresi gadis itu. Dan benar saja, Aretha tampak sedikit mengerucutkan bibirnya. Itu cukup membuat David berusaha menahan tawa. Apa mungkin ia merasa cemburu?


"Dengan senang hati, Pak." Alivia tampak memasang wajah semringahnya.


Bahkan, aku belum hengkang dari tempat ini, tapi pak David sudah melupakanku sampai tidak mau mengajakku makan siang juga.


Aretha tampak menunjukkan beberapa dokumen penting kepada Alivia beserta jadwal kegiatan David. Mengenai tugas Alivia, sepertinya Aretha tidak perlu menjelaskan karena ia tahu betul bahwa Alivia jauh sudah lebih memahami akan tugasnya.


Setelah tugasnya selesai, Aretha tampak pergi ke kantin dengan Diandra, sementara Alivia melakukan kegiatan makan siang dengan David.


***


Sorenya, setelah Aretha selesai dengan kegiatannya di kantor dan sudah waktunya untuk pulang, ia berpamitan kepada beberapa karyawan di perusahaan tersebut, tak terkecuali kepada Rangga. Gadis itu tampak ditemani Diandra yang juga sama akan mengakhiri kegiatan magangnya di hari yang sama dengan Aretha.


"Kak, kita pamit ya. Terima kasih selama ini sudah banyak bantu aku dan Diandra," ucap Aretha.


"Iya, Kak, maaf ya aku sering banget ngerepotin," timpal Diandra.


"Enggak apa-apa, aku senang bisa bantu kalian. Kalau ada waktu jangan lupa telepon aku," balas Rangga.


"Pasti, Kak." Diandra tampak menarik kedua sudut bibirnya.


"Kamu sudah selesai, Re?"


__________________


HAPPY READING!


TETAP KOMENTAR YA ...😅


YANG SELAMA INI MASIH BUNGKAM, AYO DONK ... BUKA SUARA KALIAN, BIAR AKU TAU SEKETJEH APA READERS-KU INI 😉😉😉