Possessive Love

Possessive Love
Pulang



Mereka semua langsung naik mobil masing-masing dan segera berlalu dari tempat itu, meluncur membelah jalan raya yang cukup lengang, tanpa terlalu banyak hambatan kemacetan.


Aretha mengedarkan pandangan ke luar jendela mobil, memfokuskan pandangan ke beberapa pejalan kaki yang terlihat sedikit tergesa-gesa dengan langkah mereka, seolah sedang terburu-buru, entah apa yang membuat mereka seperti itu.


Suasana hari itu begitu cerah, dan sudah dapat dipastikan, siapapun yang ada di luar sana akan merasakan tubuhnya kegerahan akibat terbakar langsung oleh panasnya sinar matahari. Beruntung Aretha dan suaminya berada di dalam mobil, pun dengan yang lainnya. Setidaknya mereka masih bisa merasakan sejuknya AC mobil di bawah teriknya matahari.


Seketika suasanya berubah menjadi teduh, ketika kendaraan yang ia tumpangi memasuki jalanan yang dipenuhi dengan tanaman pepohonan besar di setiap pinggirnya. Terlihat sejuk dan menenangkan. Nampak beberapa daun yang bertebaran di badan jalan, seketika berterbangan bebas, ketika mobil mereka melaluinya. Ah, sesederhana itukah keindahan?


Hal-hal yang jarang sekali ia temui di kota tempat tinggalnya yang terlalu bising dengan kendaraan dan polusi yang berterbangan bebas di udara, meski tak sedikit orang-orang yang memuja kota tersebut karena beberapa hal yang menjadi ikonnya. Sejatinya, semua hal memang selalu memiliki plus minusnya.


"Mas, pelan-pelan saja," protes Aretha ketika sang suami mulai mempercepat laju kemudinya.


"Kenapa, Sayang? Bukankah itu lebih baik, agar cepat sampai rumah?" David menoleh sejenak.


"Aku takut, Mas," terang Aretha.


Ya, benar. Setelah kejadian kecelakaan yang menimpanya dulu, ia memang selalu takut jika menumpangi kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Peristiwa itu seolah membuatnya sedikit trauma.


David hanya tersenyum, lalu mulai menurunkan kecepatan dari laju kemudinya.


Seketika suara getar ponsel membuat Aretha tersentak. Ia langsung meraihnya dan tertera jelas nama kontak sang mami di layar ponsel itu. Aretha tersenyum merekah, lalu langsung menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel itu.


"Iya, Mi?" sapa Aretha seraya menempelkan benda pipih itu pada telinganya.


"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya sang mami di seberang sana.


"Sudah, Mi. Ini aku masih di perjalanan, mungkin sekitar dua jam lagi sampai di rumah," jelas Aretha memberi tahu.


"Syukurlah ... baiklah kalau begitu, nanti mami ke rumah kamu, ya. Hati-hati di jalan, sampaikan sama masmu, jangan ngebut-ngebut!" ucap mami Aretha mengingatkan.


"Iya, Mi."


Aretha memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, setelah ia mengakhiri obrolannya dengan sang mami.


"Mami bilang apa?" tanya David ingin tahu.


"Cuma bilang jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Aretha menoleh kepadanya seraya memberi tahu apa yang disampaikan sang mami.


Lagi-lagi David hanya tersenyum menanggapinya, tetapi kali ini sembari menggelengkan kepalanya. Tak mertua, tak istri, keduannya memiliki kesamaan persis, pikirnya.


Di dalam kendaraan lain, Samuel tengah sibuk mengendarai mobilnya dengan perasaan penuh sukacita. Paling tidak, ia masih bisa menghabiskan waktu berdua dengan Diandra, meski dalam keadaan yang sangat hening tanpa suara.


Ya, sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun yang berinisiatif untuk membuka suara lebih dulu, baik Samuel maupun Diandra. Pada akhirnya, Diandra memutuskan untuk mengisi kejenuhan dengan memainkan gawainya. Sementara, Samuel sibuk dengan kegiatan mengemudinya.


Namun, betapapun Diandra mengalihkan kejenuhannya pada gawai itu dengan tatapan yang serius, tetap saja hati dan pikirannya tidak fokus ke sana. Bahkan, tatapannya sesekali ia alihkan ke samping, memandangi sang pengendara mobil secara diam-diam, meski hanya sejenak.


Di tengah kesibukannya mengendalikan laju kendaraan, sesekali Samuel juga melirik ke arah Diandra yang sedari tadi hanya fokus ke layar ponselnya, sembari menggulir layar ponsel itu ke atas dan ke bawah, entah apa yang tengah ia cari di sana.


Kejenuhan diantara keduanya mulai melanda. Setelah dua jam lebih perjalanan, tak ada satu pun topik yang mereka bahas. Atau bahkan, satu kata pun yang terucap dari mulut keduanya.


Lagi-lagi Samuel melirikkan matanya ke samping. Rupanya Diandra masih sibuk dengan gawainya. Ia menghela napas sejenak, lalu memutuskan untuk membuka suara.


"Apa sih yang menarik dari handphone itu?"


Pertanyaan Samuel membuat Diandra tersentak, lalu menoleh ke arahnya. Wanitu itu menghentikan kegiatannya sejenak.


"Bukan urusan lo!" ketusnya masih merasa kesal.


Samuel melengos sejenak. Ia tampak sangat kesal mendapat jawaban yang sedikit ketus dari Diandra.


"Memangnya siapa yang meminta lo untuk bertanya?" Diandra malah membalikkan perkataan Samuel.


Setelah berjam-jam lo hanya diam tak bersuara, lalu tiba-tiba bertanya soal itu? Nggak penting banget!


"TERSERAH!"


Samuel kembali bungkam, lalu fokus ke arah kemudinya. Ia sengaja menambah kecepatan laju kemudinya, karena merasa kesal dengan sikap Diandra yang selalu saja menunjukkan sikap seolah tidak suka terhadapnya.


Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya mereka telah tiba di depan rumah Diandra. Diandra terdiam sejenak, sebelum ia turun dari mobil Samuel. Bahkan, sekadar mengatakan terima kasih saja, ia merasa sangat ragu dan canggung. Sungguh ia benci dengan situasi seperti itu.


Disaat sebelumnya ia tidak pernah malu, ragu, atau canggung berbicara dengan pria di sampingnya. Namun, setelah kejadian yang mereka lewati di pantai, itu membuat semuanya berubah. Ia merasa tidak lagi biasa dengan Samuel, seolah ia belum lama mengenal pria itu.


Diandra menghela napas sejenak. "Thanks untuk tumpangannya," ucap Diandra tanpa menoleh ke samping.


Ia langsung berbalik badan, menghadap pintu, seraya ingin segera turun dari mobil Samuel.


"Ra, tunggu!" Secepat kilat Samuel meraih tangan Diandra, sehingga membuat kegiatan wanita itu sedikit tertahan.


Diandra langsung menoleh dan sedikit termangu atas perlakuan Samuel terhadapnya. Seketika jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Bahkan, ia dapat mendengar dengan jelas detak jantungnya di dalam sana. Sungguh itu membuatnya tidak bisa berkata apa-apa Bahkan, sekadar untuk bertanya 'kenapa' saja, mulutnya terasa kelu.


Sama halnya dengan Diandra, Samuel juga menatap wanita yang duduk di sampingnya, sehingga tatapan mereka terkunci beberapa saat.


***


Malam harinya, Aretha dan David nampak tengah bersiap-siap untuk berkunjung ke rumah orangtua David, karena kedua orangtuanya baru saja menelepon agar mereka datang ke sana, entah mau apa. Namun, baru saja Aretha selesai memakai pakaiannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia langsung meraih ponselnya yang berada di atas nakas.


"Samuel?" ucapnya, sehingga membuat David yang kala itu tengah memakai jaket hitamnya, seketika menoleh ke arah sang istri.


"Siapa, Sayang?" tanyanya memastikan.


"Samuel, Mas," jawab Aretha seraya menunjukkan layar ponselnya. "Boleh aku angkat?" tanyanya meminta ijin.


David terdiam sejenak. Sungguh ia tidak suka jika ada pria lain yang menghubungi istrinya. Namun, apa boleh buat, ia juga tidak ingin terlalu menunjukkan sikap posesif terhadap sang istri.


"Jangan lama-lama!" tegas David memberi ijin.


"Oke," jawab Aretha.


Tanpa menunggu lama lagi, Aretha segera menerima panggilan telepon dari Samuel.


"Iya, Sam?" sapa Aretha.


"Apa, Sam? Besok?"


"Kok, mendadak sekali?"


Aretha terdiam beberapa saat, setelah ia dikejutkan dengan kabar dari Samuel yang entah itu kabar apa. Selanjutnya, ia mendengarkan dan tampak mencerna apa yang diucapkan oleh Samuel di seberang sana.


"Sam, apa tidak sebaiknya ...." Aretha tampak menggantung ucapannya. Rupanya Samuel memotong pembicaraannya, ia pun memutuskan untuk mencerna kembali ucapan teman prianya itu.


"Baik, Sam. Good luck, ya!"


"Bye, Sam!"


Aretha melepaskan ponsel itu dari telinganya, setelah Samuel menutup sambungan telepon itu. Ia tertegun sejenak, sehingga membuat David merasakan ada hal aneh.


"Kenapa, Sayang?"