Possessive Love

Possessive Love
Menunggu



Aretha masih berdiri di sana sembari menatap David. Seketika, ia mengernyitkan dahi, seolah merasa ada yang aneh dengan atasannya itu.


"Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sekali lagi, setelah beberapa menit ia menyadari bahwa David hanya berdiam diri tanpa sepatah kata pun yang lolos dari tenggorokkannya.


Pria itu terkesiap saat mendengar pertanyaan Aretha untuk yang kedua kalinya. Ia sedikit mengerjap dan menatap gadis itu sejenak. "Oh ... itu, jangan lupa tutup kembali pintunya!" lanjutnya berbohong dengan nada yang sedikit gugup, lalu memalingkan pandangan ke sembarang arah.


Sial! Bisa-bisanya aku memikirkan hal yang tidak-tidak, bisik pria itu dalam hati, ketika menyadari bahwa ucapannya hanyalah sebuah khayalan.


Tentu saja Aretha akan menutup kembali pintu ruangan itu tanpa menunggu disuruh oleh atasannya. Bahkan, itu adalah hal yang biasa ia lakukan. Jadi, terkesan sangat aneh jika tiba-tiba David menyuruh sesuatu yang jelas-jelas sudah sering ia lakukan.


"Baiklah, saya permisi!" pamit Aretha, lalu membalikkan badan dan berjalan menuju pintu.


Tidak bisa dipungkiri bahwa gadis itu masih terlihat sangat heran dengan sikap David yang menurutnya aneh. Namun, itu bukanlah sesuatu hal yang penting baginya sehingga ia tidak terlalu memikirkan hal tersebut.


Aretha menutup kembali pintu itu sesuai yang diperintahkan oleh sang atasan, setelah ia berhasil keluar dari ruangan itu.


Sementara di dalam ruangan, David masih menggerutu atas apa yang telah ia pikirkan mengenai gadis itu. Pria itu tidak menyangka bahwa ia akan berpikir sejauh itu terhadap Aretha.


Pada awalnya, ia memang tidak mempunyai niat untuk mendekati sekretarisnya itu. Ia hanya berpikir untuk mengerjai Aretha. Namun, entah mengapa sesuatu hal terjadi di luar dugaannya. tiba-tiba membayangkan bahwa ia meminta Aretha untuk menikah dengannya, bukankah itu sesuatu hal yang aneh?


"Ah, apa sih istimewanya dia sehingga aku memikirkan hal yang sejauh itu?" gerutunya.


Pria itu tampak berpikir sejenak. "Apa mungkin—" ucapnya sembari memegang dagu.


"Arrgh ... STOP DAVID!" pekik pria itu frustasi seraya mengacak rambutnya sendiri.


Wajah pria itu tampak kusut seperti rambutnya. Namun, ia segera menetralkan kembali pikirannya. Sebisa mungkin ia menghapus bayangan akan gadis itu. Ia menyibukkan diri dengan memeriksa beberapa laporan yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya.


***


Sore itu, Aretha tampak berdiri di depan lobi, menunggu jemputan pulang. Nampaknya kantor sudah sepi, hanya beberapa orang tersisa di sana. Sesekali ia melihat arloji yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Namun, sopir pribadinya masih belum muncul di tempat itu.


"Re, mau pulang bareng, gak?"


Suara bariton seketika membuat gadis itu terlonjak. Ia mengalihkan pandangan ke arah depan. Tampak Rangga yang sudah nangkring di atas motor gede berwarna hitam.


Aretha tampak melebarkan senyumnya kepada pria itu. "Tidak perlu, Kak, aku dijemput, kok!" jawabnya.


"Yakin?" tanya Rangga memastikan.


"Iya, Kak, terima kasih atas tawarannya!"


"Baiklah, aku duluan ya, Re!" pamit Rangga. Aretha pun mengiyakan dengan anggukkan kepala.


"Take care, ya!" ucap gadis itu seraya melambaikan tangannya. Rangga pun membalasnya, kemudian berlalu dari tempat itu.


Aretha masih berdiri di sana, menunggu sopir pribadinya datang menjemput. Namun, Iman tak kunjung datang, setelah ia menunggu cukup lama. Entah apa yang telah terjadi sehingga Iman terlambat menjemputnya.


Gadis itu merogoh tas berwarna hitam, tampak sebuah benda pipih ia keluarkan dari tas itu, lalu ia menekan benda tersebut, tanda akan melakukan panggilan ke nomor Iman, sopir pribadinya.


The number you are calling is busy. Please, try again later ....


Gadis itu segera mematikan panggilannya, setelah mendengar suara operator yang menyatakan bahwa nomor yang ia hubungi sedang berada di luar jangkauan.


"Ah, pak Iman kemana, sih?" gerutunya.


Tap ... tap ... tap ....


Ketukan sepatu di belakangnya, sontak mengalihkan perhatian gadis itu. Ia memutar badannya ke belakang. Tampak David yang baru saja keluar dari kantor. Pria itu menghentikan langkahnya, ketika menyadari Aretha tengah berdiri di sana.


Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia kenakan. Ia menatap Aretha, pun sebaliknya. Mereka tampak beradu pandang sejenak.


"Belum pulang?" tanya David sekadar berbasa-basi.


Pria itu terdiam sejenak, melihat sikap gadis di depannya yang terlihat dingin. "Mari, saya antar!" ajaknya.


"Terima kasih, Pak, saya dijemput, kok," balas Aretha menolak dengan sikap yang masih dingin terhadap atasannya.


"Jam berapa orang yang menjemputmu datang?" tanya David penasaran.


"Mungkin sebentar lagi," ujar Aretha menduga-duga.


"Baiklah, saya akan tunggu sampai jemputan kamu datang!"


"Eh, tidak perlu, Pak!" ucap Aretha menolak. "Bapak kalau mau pulang duluan, silakan!" lanjutnya, merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, saya tungguin, kantor sudah sepi pula," ujar pria itu kekeh.


"Ya sudahlah, terserah Bapak." Gadis itu tampak tidak begitu peduli dengan apa yang dilakukan atasannya. Ia membalikkan badannya kembali ke depan, sementara David masih berdiri di belakangnya.


Sesekali pria itu memerhatikan gadis di depannya yang tampak celingukkan, menatap ke arah pintu gerbang, seolah memastikan kemunculan mobil yang biasa digunakan untuk mengantar jemputnya.


Sepuluh menit berlalu, mobil yang di tunggu tak kunjung datang. Ia kembali melakukan panggilan ke nomor Iman, tetapi hasilnya nihil. Gadis itu terlihat berdecak kesal karena tidak mendapat kabar dari sopirnya, padahal sebelumnya Iman sudah menyatakan bahwa akan menjemputnya.


"Masih lama?" tanya David, sontak membuat gadis itu terkesiap. Ia membalikkan kembali tubuhnya ke belakang.


"Bapak duluan saja, tidak perlu menunggu saya!" titah Aretha. Ia sedikit kesal juga karena David yang ikut-ikutan menunggu sopirnya datang. Selain merasa tidak enak hati, ia juga merasa canggung karena seperti ada yang sedang mengawasinya dari belakang.


"Saya akan mengantarmu pulang!" cetus David. "Tunggu di sini!" titahnya kemudian.


"Tidak perlu, Pak! Mungkin sebentar lagi jemputan saya akan datang," tolak Aretha.


"Saya paling tidak suka dengan orang yang suka membantah!" sergah David seraya berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di depan kantor.


Aretha hanya berdiam termangu, menatap sang atasan yang berjalan di hadapannya. Ia tidak menyangka di balik sikapnya yang dingin, ternyata pria itu mempunyai sisi yang baik pula. Bahkan, pria itu rela menemaninya untuk menunggu kedatangan Iman, sang sopir pribadi.


David menghentikan mobilnya tepat di depan gadis itu. Namun, gadis itu masih berdiri di sana. Ada rasa ragu di benaknya. Entah harus ikut pulang dengan sang atasan atau tidak. Ia masih berpikir akan hal itu. Namun, seketika pikirannya ambyar, ketika David membuka kaca mobil itu dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil tersebut.


"Ayo!" ajak David yang telah duduk di jok kemudi seraya membukakan pintu mobil untuk Aretha.


Tidak ada pilihan lain. Hari sudah semakin sore, tidak mungkin jika ia harus menunggu Iman hingga datang, sedangkan tidak ada kabar sama sekali darinya.


Dengan perasaan ragu, gadis itu melangkahkan kaki, lalu menaiki mobil itu dan duduk di jok samping kemudi. David melajukan mobilnya setelah gadis itu melekatkan seatbelt pada tubuhnya.


"Maaf, saya sudah merepotkan Bapak," lirih Aretha.


_________________


Hai, Readers yang budiman!🤗


Masih setiakah menunggu kelanjutan ceritanya Aretha dan David?


Semoga tetap setia ya ... meski karyaku ini sempat dihiatuskan. Bahkan, saking lamanya, aku sampai lupa berapa lama novel ini hiatus😂😂


Semoga tidak mengurangi rasa penasaran kalian untuk terus membaca dan membaca karyaku yang recehan ini. Aku harap apa yang kutulis di chapter ini tidak melenceng dari alur sebelumnya dan kalian tetap suka☺️


Mohon maaf sudah lama menunggu🙏


Semoga ke depannya aku bisa up lebih rutin dan lebih banyak lagi. So, pantengi terus ya jangan lupa favoritkan dan tunggu kelanjutan ceritanya.


Jika berkenan silakan follow ig author @batik.tik03 untuk mengetahui karya yang lainnya.


Aku ucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah mampir dan selalu menunggu kelanjutan ceritanya. Tanpa kalian aku hanyalan remahan biskuit yang terabaikan🙄🥺😂


Happy reading!!!