Possessive Love

Possessive Love
Kamu?



"Mas?" Aretha tampak terperangah menatap wajah David. Matanya masih terpejam rapat. Namun, tanganya masih menggenggam tangan Aretha dengan erat.


Dengan perlahan wanita itu berusaha melepaskan tangannya, tetapi David malah menggenggamnya semakin erat seolah ia tidak rela ditinggalkan sendirian, seolah ia ingin wanita itu tetap berada di sana menemaninya. Namun, tak ada anggota tubuh lainnya yang bergerak, termasuk kedua matanya, sehingga membuat Aretha sedikit merasa kebingungan.


Aretha terdiam sejenak sembari menatap sang suami yang masih terlihat tenang dengan mata yang terpejam. Seketia ia terpikirkan sebuah ide. Dengan sigap wanita itu segera memencet tombol Nurse Call, pertanda memanggil perawat dari jarak jauh, sehingga ia tidak perlu berlari keluar kamar.


Ya, tentu saja ia ingin mengetahui apa yang tengah terjadi dengan suaminya saat itu, apakah itu akan menjadi kabar baik atau malah sebaliknya?


"Mas, apa itu artinya kamu sudah bisa merespon?" tanya Aretha di tengah kepanikannya, meski ia tahu itu tidak akan mendapat jawaban. Ya, tentu saja ia masih panik dengan keadaan David yang juga masih belum menandakan akan membuka matanya.


Dengan penuh keyakinan bahwa David memang sudah bisa menerima rangsangan, Aretha meenggenggam balik tangan David. Bahkan, ia juga menggunakan tangan satunya lagi untuk menggenggam tangan pria itu. Namun, ketika ia melakukannya, tiba-tiba tangan David terlepas dengan begitu lemahnya seolah kehabisan tenaga. Dalam waktu yang sama juga, seorang dokter dan perawat masuk ke ruangan itu, sehingga mengalihkan perhatian Aretha.


"Dok, suami saya ...." Aretha tampak menggantung ucapannya.


"Ada apa dengan pasien?" tanya dokter itu ingin tahu.


"Tadi tiba-tiba tangan suami saya memegang tangan saya erat sekali, tetapi tiba-tiba terlepas kembali dengan sendirinya, Dok?" jawab Aretha, tetapi nada bicaranya seolah ia menuntut penjelasan dari dokter tersebut.


Tanpa memberikan jawaban, dokter itu langsung memeriksa David, meski ia sudah tahu apa yang baru saja dialami oleh pasiennya.


Dalam waktu singkat, dokter itu telah selesai memeriksa pria itu dengan bantuan seorang perawat yang juga memantau layar monitor yang masih terhubung dengan tubuh pria itu.


Dokter itu tampak mendongak menatap Aretha yang berdiri di seberangnya sembari melepaskan pengait stetoskop dari telinganya.


"Ini awal yang sangat baik. Pasien memang masih dalam keadaan koma, tetapi beliau sudah dapat menerima rangsangan yang itu artinya beliau sudah mengalami perkembangan," jelasnya yang sontak membuat Aretha melebarkan senyumnya.


Betapa bahagianya Aretha mendengar kabar baik itu. Setidaknya, ia tahu bahwa ada tanda-tanda yang dapat memberikan harapan besar untuknya.


"Alhamdulillah ... terima kasih, Dok," ucap Aretha senang.


Dokter itu tampak tersenyum simpul. "Berterima kasihlah kepada sang Mahakuasa, karena sesungguhnya hanya Tuhan yang maha menyembuhkan, kami hanya bisa membantu semampu kami," balas dokter itu memberi sedikit jeda. "Tetap berdoa, semoga pasien bisa segera sadar dari komanya," imbunnya.


"Terima kasih, Dok," balas Aretha tidak panjang lebar.


***


Aretha tampak turun dari mobil yang dikendarai oleh supir pribadinya tepat di halaman rumahnya. Tak henti-hentinya ia mengulas senyumnya. Rasanya bahagia sekali mendengar kabar baik dari dokter dan ia sudah tidak sabar ingin segera menceritakan hal tersebut kepada kedua orang tua dan mertuanya.


Wanita itu berjalan masuk ke dalam rumah. Di ruangan tengah tampak Carmila yang tengah menggendong salah satu cucunya, tepat di dekat pintu kaca yang menghubungkan dengan halaman belakang rumah itu. Ia tampak meletakkan tas berwarna hitam di atas sofa.


Dengan ekspresi yang masih semringah, Aretha menghampiri sang mami yang kala itu belum menyadari keberadaan Aretha di sana.


"Mi, kok baby boy digendong, sih? Rewel ya?" tanya Aretha yang menyebut bayi laki-lakinya dengan sebutan 'Baby boy'. Tentu ia mengenalnya dari pakaian biru yang dikenakan bayinya.


Aretha memang masih belum memberi nama kedua anaknya itu. Ia ingin memberi nama anak-anaknya bersama dengan sang suami, maka dari itu ia memutuskan untuk menundanya terlebih dahulu sampai David sadar. Namun, jika ternyata David masih tidak sadar dalam waktu yang lama, ya apa boleh buat, ia sendiri yang harus memutuskan nama yang cocok untuk bayi kembarnya itu.


"Kamu sudah pulang, Nak?" Alih-alih memberi jawaban, Carmila malah berbalik tanya.


"Iya, Mi. Sini, biarkan aku yang menggendongnya," jawab Aretha seraya meraih bayinya dari pangkuan sang mami.


"Kamu rewel ya sama oma?" tanya Aretha kepada putranya. Ia tampak menatap gemas wajah bayi itu.


"Dia tidak rewel kok, Nak. Mami sengaja ingin membawanya keluar kamar, kasihan dari tadi tidak mau tidur," jawab Carmila.


"Baby girl ada di mana, Mi?" ucap Aretha menanyakan keberadaan putrinya. Ia tampak menatap sang mami penuh tanya.


"Baby girl ada di kamar sedang tidur," jawab Carmila.


Aretha tampak menganggukkan kepala sebagai tanggapan.


Wanita itu kembali fokus ke bayinya. Ia menatapnya sembari tersenyum senang, membayangkan jika sang suami sudah berkumpul kembali dan bisa menggendong anak-anak mereka seperti yang sedang dilakukannya sekarang.


Aretha masih setia menggendong bayi mungil itu. Ia tampak mengayunkan tangannya naik turun, menimang sang putra agar bisa segera tidur.


Carmila yang sedari tadi memperhatikannya tampak merasa heran seolah merasa ada yang aneh dengan putrinya. Ada hal yang tak biasa menurutnya. Selama satu minggu belakangan, Aretha selalu terlihat murung, ketika pulang dari rumah sakit. Namun, kala itu berbeda sekali. Aretha justru terlihat sangat semringah seolah ada yang membuatnya bahagia. Ada apa dengannya? Pikir Carmila saat itu.


"Nak, kamu kenapa?" tanya Carmila penasaran.


Aretha kembali mendongak kepada sang mami. "Maksud mami?" tanya Aretha heran.


"Mami lihat—"


"Sebentar, Mi. Sepertinya baby boy tidur," potong Aretha.


Baru beberapa menit ia menimang putranya, bayi itu sudah tertidur saja. Mungkin putranya memang ingin tidur ditimang olehnya.


"Sus!" Aretha tampak memanggil Ratna, seorang baby sitter yang baru lima hari bekerja membantunya merawat kedua bayi kembarnya itu.


Dengan sigap Ratna segera menghampiri sang majikan.


"Ini tolong pindahin baby boy ke kamar," pinta Aretha seraya memberikan putranya kepada Ratna.


Wanita berusia tidak jauh dengan Aretha itu tampak segera meraihnya, berniat segera membawa baby boy ke kamar bayi, di mana adiknya juga ada di sana.


"Baik, Bu," jawab Ratna.


"Terima kasih, Sus," balas Aretha.


Aretha kembali memfokuskan pandangan kepada sang mami, berniat untuk melanjutkan kembali perbincangan mereka yang sempat tertunda.


"Jadi bagaimana, Mi? Maaf tadi kepotong," tanya Aretha kepada sang mami.


Carmila membentuk senyuman di wajahnya sembari memerhatikan wajah putri semata wayangnya yang kini sudah memberinya dua cucu sekaligus.


"Mami lihat, hari ini kamu senang sekali, Nak. Apakah ada sesuatu yang membuatmu tersenyum bahagia?" tanya Carmila ingin tahu.


Lagi-lagi Aretha melebarkan senyumannya. "Tentu saja aku senang," jawabnya.


"Ada apa? Cerita dong sama mami," pinta sang mami seraya berjalan menuju sofa yang tidak jauh dari jangkauannya saat itu.


Aretha tampak menatap punggung maminya sejenak, lalu mengekori wanita paruh baya itu di belakangnya.


Mereka mulai mendaratkan tubuh mereka di sofa panjang berwarna abu-abu. Mereka tampak duduk bersebelahan. Namun, seketika Aretha menghadapkan tubuhnya ke arah sang mami.


"Mami tahu? Mas David sudah ada perkembangan!" seru Aretha sangat antusias memberi tahu kabar baik itu kepada sang mami


"Oh ya?" Carmila tampak membelalak seolah masib belum percaya. "Syukurlah, mami senang sekali mendengarnya, Sayang," imbuhnya seraya tersenyum lebar.


"Iya, Mi," jawab Aretha.


Wanita itu pun menceritakan apa yang sudah ia alami di rumah sakit kepada sang mami. Carmila sangat senang sekali mendengar hal itu. Setidaknya harapan mereka semakin meningkat bahwa David bisa sembuh kembali, meski mereka tetap yakin bahwa takdir Tuhan tidak bisa diganti gugat.


"Kita harus segera memberi tahu mertuamu, Nak. Mereka pasti sangat senang mendengarnya.


Tanpa menunggu lama lagi, Aretha pun langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas yang ia kenakan sebelumnya. Sesegera mungkin ia menghubungi sang mama mertua.


Aretha pun menceritakan kabar baik itu kepada mama mertuanya sedetail mungkin. Benar saja, Maria terdengar sangat bahagia sekali mendengar kabar baik itu. Berulang kali ia mengucap rasa syukur, sehingga menbuat Aretha juga ikut tersenyum bahagia. Ia paham betul kebahagiaan yang tengah dirasakan mama mertuanya itu.


"Terima kasih ya, Nak, kamu sudah sabar menunggu David," ucap Maria di seberang sana.


"Sudah kewajibanku, Ma," jawab Aretha.


"Mungkin sore ini mama sama papa akan ke rumah sakit." Maria tampak memberi tahu.


"Semoga perkembangan mas David semakin meningkat. Maaf aku tidak bisa ikut, kasihan si kembar jika harus ditinggal lagi. Tidak apa-apa 'kan, Ma?" terang Aretha.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu fokus saja dengan cucu kesayangan mama. Sebab, David akan marah jika tahu kalau kamu banyak mengabaikan mereka," balas Maria.


"Iya aku tahu, Ma. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya, salam buat papa ya, Ma,"


"Iya, Sayang. Nanti sepulang dari rumah sakit mama dan papa usahakan untuk mampir dan menginap di rumahmu, Nak," balas Mari.


"Aku tunggu, Ma," jawab Aretha.


Mereka pun segera mengakhiri percakapan mereka melalui sambungan telepon itu. Aretha memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu mendongak, menatap sang mami yang sedari tadi masih setia duduk di sampingnya.


"Mama senang sekali mendengarnya, Mi," ucap Aretha memberi tahu sang mami.


"Tentu saja. Orang tua mana yang tidak senang jika mendengar kabar baik mengenai anaknya sendiri," balas Carmila.


"Ya sudah, aku ke kamar dulu, mau mandi." Aretha tampak melebarkan senyuman, sebelum ia berpamitan kepada sang mami untuk pergi ke kamarnya.


Aretha pun segera beranjak pergi menuju kamarnya, setelah mendapat anggukkan kepala dari sang mami.


***


Pagi itu, Aretha baru saja selesai sarapan. Namun, hanya sedikit. Semenjak kondisi David dinyatakan mengalami perkembangan, membuat wanita itu kembali tidak memiliki nafsu makan.


Bagaimana tidak? Nyatanya setelah satu minggu lamanya dari kejadian itu, masih saja belum ada tanda-tanda bahwa David akan segera sadarkan diri, meski setiap hari ia selalu menjenguknya. Namun, tetap saja tidak ada perubahan lagi.


Andai saja ia tidak ingat bahwa harus memakan makanan yang bergizi demi kedua bayinya, mungkin ia tidak akan makan apapun selama terpikirkan dengan kondisi sang suami. Namun, ia tidak boleh egois. Ia juga harus memikirkan kedua buah hatinya.


Ia harus memberikan asupan yang bergizi pula untuk kedua anaknya itu. Bukankah sebaik-baiknya gizi untuk seorang bayi adalah ASI? Oleh karena itu, ia tetap memaksakan diri untuk memakan makanan yang bergizi, demi anak-anaknya.


"Mas, kapan kamu pulang ke rumah ini?" lirihnya bertanya kepada diri sendiri.


Aretha tampak menghela napas, lalu meneguk air putih yang tersisa hanya setengah gelas. Ia meletakan kembali gelas itu di atas meja makan yang berada di hadapannya tanpa melepaskan genggamannya dari gelas itu.


Wanita itu tampak menelan air yang baru saja masuk ke dalam mulutnya dengan pandangan yang terfokus ke sembarang arah. Tatapannya tampak kosong, tentu saja karena ia terlalu keras memikirkan kondisi sang suami.


Drt ... drt ... drt ....


Seketika perhatian wanita itu teralihkan ke sebuah ponsel yang ia letakkan tepat di samping gelas tadi. Wanita itu segera meraih ponselnya, lalu menggeser ikon berwarna hijau yang menandakan akan menerima panggilan dari seseorang.


"Baik, saya akan segera ke rumah sakit sekarang!"


Dengan sigap, Aretha segera berlari ke kamarnya mengambil sebuah tas, lalu menitipkan anaknya kepada Ratna dan Ratih. Entah kabar apa yang baru saja didengar olehnya dari pihak rumah sakit, yang jelas ia terlihat sangat terburu-buru.


wanita itu segera meminta Arman untuk segera mengantarnya ke rumah sakit di mana David berada.


Di sepanjang perjalanan, wanita itu tampak menelepon orang tua dan mertuanya satu-persatu. Ia memberi tahu mereka kabar yang baru saja ia dengar dari pihak rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Aretha segera berlari menuju kamar tempat David dirawat. Ia tampak berlari melewati koridor rumah sakit itu sendirian. Namun, seketika langkahnya terhenti, ketika ia mendapati seorang pria yang tengah duduk di kursi tunggu, tepat di depan ruangan yang dimaksud. Ia mulai berjalan dengan perlahan menghampiri pria itu.


"Mas Denis?" panggilnya, sehingga membuat pria yang tak lain adalah Denis seketika menoleh ke arahnya.


"Mbak Aretha?" Denis bangkit dari tempat duduknya, lalu menghadapkan tubuhnya kepada Aretha.


Aretha telah berdiri tepat satu meter di depan Denis. "Apa kabar? Sudah lama sekali tidak bertemu," sapa Aretha yang memang sudah lama tidak bertemu dengan sosok tersebut, semenjak pria itu mendapat tugas di luar negeri.


"Iya, saya baru saja pulang tadi malam. Kabar saya baik. Mohon maaf baru bisa menjenguk pak David hari ini," jawab Denis.


"Tidak apa-apa, Mas." Aretha tampak tersenyum, meski sebenarnya itu bukan waktunya untuk berbincang di tengah kepanikan yang tengah ia hadapi saat itu. "Mas, maaf saya tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan mas David. Maaf saya tinggal sebentar, nanti kita lanjut lagi perbincangan kita," sambunya merasa tidak enak hati.


"Silakan, Mbak. Selamat berbahagia kembali, ya," jawab Denis yang seketika membuat Aretha mengerutkan dahinya merasa heran. Namun, ia tidak mau peduli dengan ucapan pria itu, yang ia pikirkan saat itu adalah kondisi David.


"Re!"


Baru saja Aretha akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba seseorang memanggilnya, sehingga membuatnya menoleh kembali ke belakang. Pun dengan Denis yang juga ikut memfokuskan pandanga ke arah sumber suara.


"Mami? Papi?" lirih Aretha.


Tampak kedua orang tuanya yang tengah berlari menghampirinya, sedangkan di belakang Aretha tampak kedua mertuanya yang juga melakukan hal yang sama. Mereka tampak memasang wajah panik.


"Ada apa dengan suamimu, Nak?" tanya sang papi dengan napas yang masih tersengal-sengal.


"Nak, apa yang terjadi dengan Dave?" Sebagaimana Anton, Kris pun menanyakan hal yang sama.


"Aku belum tahu, sebaiknya kita segera masuk ke dalam," jawab Aretha.


Mereka pun segera masuk ke dalam ruangan itu. Kris dan Maria tampak masuk lebih dulu. Baru saja satu langkah kaki keduanya masuk, mereka sudah dikejutkan oleh sosok yang tengah duduk di atas ranjang.


Mereka terperangah sejenak seolah tidak percaya. Namun, langkah mereka tidak terhenti sampai di situ. Dengan perlahan mereka menghampiri sosok itu. Matanya tampak sudah mulai berkaca-kaca antara haru dan bahagia bisa melihat sosok putra kesayangannya bisa kembali terduduk.


"Nak," panggil Maria dengan nada sedikit bergetar yang sontak membuat David seketika menoleh ke arahnya. Tampak seorang dokter dan perawat yang tengah berdiri di sampingnya.


"Mas," lirih Aretha seraya menutup mulutnya, setelah menyadari bahwa David telah siuman.


"Ma, Pa," balas David seraya menatap kedua orang tuanya.


Tanpa memikirkan apapun lagi, Maria langsung mendekati putranya, lalu memeluk pria itu dengan erat. Betapa lega dan bahagia ia sebagai seorang ibu, bisa melihat kembali putranya pulih dari koma.


"Kamu membuat mama sama papa cemas, Nak," ucap Maria sembari menangis.


"Maafkan aku, Ma," jawab David.


Sebagaimana Maria, Kris pun melakukan hal yang sama. Ia tampak memeluk putranya, setelah sang istri memberinya kesempatan, sedangkan Aretha masih berdiri di belakang kedua mertuanya sembari meneteskan air mata haru. Sungguh ia sangat terkejut dengan semua itu. Bahkan, rasanya ia sulit sekali untuk mengungkapkan kebahagiaannya saat itu.


Kris melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke belakang, seraya memberi sang menantu kesempatan untuk mendekati David.


"Mas ...," lirih Aretha masih dengan tangisan harunya.


David menatap wanita yang berada kurang lebih satu meter darinya. "Kamu?"