
Nampaknya David telah termakan omongan Richard sehingga ia begitu penasaran akan apa yang telah mereka lakukan.
Aretha yang polos tampak sedikit membulatkan matanya, memasang ekspresi antara bingung dan aneh dengan pertanyaan David. Sepertinya gadis itu cukup kesulitan mengartikan kata 'sentuh' yang dimaksud pria itu.
"Sentuh?" tanyanya heran. "Maksud kamu apa? Aku tidak paham apa yang kamu maksud," imbuhnya.
"Ya ... sentuh, mana mungkin kamu tidak paham apa yang aku maksud, ha?" kesal David tampak kelabakan menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Kalau cuma sentuh ... ini pernah di sentuh, ini juga," ucap Aretha seraya mengangkat tangan sebelah kanan, lalu tangan kiri.
Dengan sigap David meraih kedua tangan Aretha secara bergantian.
Cup!
Cup!
Pria itu tampak memberi kecupan di kedua tangan Aretha sehingga membuat Aretha semakin terbelalak heran.
Apa yang dia lakukan?
"Mana lagi?" tanya David seraya menatap Aretha. Dengan perasaan masih bingung, Aretha menyentuh puncak kepalanya. Secepat kilat David pun mengarahkan bibirnya ke puncak kepala gadis itu.
Cup!
"Mana lagi?" tanya David lagi seraya menunggu Aretha memberi tahu titik mana saja yang pernah disentuh sang mantan.
"Mas, kamu ngapain, sih?" kesal Aretha seraya mendorong wajah David yang kala itu masih berada tepat di atas wajahnya.
"Aku cuma tanya. Tinggal jawab saja apa susahnya, ha?" Tak kalah, David pun tampak geram. Ia mempertajam tatapannya kepada Aretha, lalu mencebikkan bibirnya kesal.
"Pertanyaan kamu aneh, Mas!" ketus Aretha masih belum paham.
David hanya melengos, lalu mencondongkan kembali wajahnya mendekati Aretha. "Ini sudah pernah disentuh belum?" tanyanya seraya menunjuk kedua pipi Aretha secara bergantian.
Namun, Aretha hanya diam tidak menjawab pertanyaan David. David semakin kesal dibuatnya. "Jawab!" titahnya penuh penekanan.
"Memangnya kalau pernah disentuh kenapa, ha?" Aretha semakin naik pitam. Emosinya seketika menyeruak.
Tanpa menanggapi, David langsung meraih pipi gadis itu dan lagi-lagi memberi kecupan di sana.
Cup!
Cup!
"Ini?" David menunjuk kening Aretha.
"Mas!!!" Aretha sudah tidak tahan dengan perlakuan David saat itu.
"Jawab saja, Sayang. Aku cuma ingin menghapus jejak dia," ucap David.
"Iish, kamu menyebalkan!" kesal Aretha.
Cup!
Satu kecupan lagi melayang di kening Aretha, sebelum Aretha menjawab.
"Maaas ...," pekik Aretha pelan.
"Ini disentuh juga?" David menunjuk bibir Aretha.
"ENGGAK!" jawab Aretha penuh penekanan.
David langsung membulatkan matanya tajam. "Mana mungkin dia tidak pernah menyentuh ini?"
"Memangnya kamu! Dia itu pria baik-baik, mana pernah mencuri kiss dari aku!" Aretha semakin dibuat naik pitam saat ia menyadari maksud dari perlakun David terhadapnya.
"Aku tidak percaya! Mana mungkin dia bisa tahan selama itu!" Nampaknya David semakin geram karena terlalu membayangkan tentang apa yang telah dilalui kekasihnya dengan Richard dulu. "Biarkan aku menghapusnya," imbuhnya. Namun secepat kilat Aretha mendorongnya hingga sedikit memberi jarak akan tubuh mereka, sebelum David berhasil dengan aksinya.
"Benarkah?" tanya David menyeringai. Ada rasa bangga dalam dirinya, ketika mengetahui bahwa ia adalah orang yang pertama melakukannya, meski sekedar kecupan.
Aretha memberengutkan wajahnya kesal, tanpa menanggapi pertanyaan David. Entah apa yang telah Richard bicarakan sehingga David bisa berbuat seliar itu, pikirnya.
"Hey! Tidak usah marah seperti itu! Apa aku melukaimu?" tanya David lirih seraya mencondongakan kembali wajahnya. "Kalau kamu mau marah, marah sama Richard sana! Karena dia yang sudah membuatku cemburu," bisiknya.
"Memang dasarnya saja kamu yang modus, Mas!" ketus Aretha. "Aku kesal, aku mau tidur saja!" imbuhnya.
Cup!
"Untuk permintaan maafku karena telah membuatmu kesal," ucap David seraya mengecup bibir ranum Aretha sekilas, lalu ia tersenyum tepat di atas wajah Aretha, menatapnya sejenak, sebelum Aretha berhasil merusak suasana romantis itu.
"Mas ... iiiissshhhh!" Aretha mendorong David dengan kuat. "Lebih baik kamu pulang sana!" geramnya.
Bisa-bisa aku tidak bisa istirahat kalau ada dia di sini!
"Ya sudah, kamu istirahat. Aku akan menunggu di sini," ucap David seraya mendudukkan kembali tubuhnya di kursi.
"Kamu tidur saja sana, di sofa!" titah Aretha, merasa khawatir David akan melakukan hal yang lebih, jika terus menerus berada di dekatnya.
"Tidak, aku akan jaga kamu di sini," ucap David menolak. "Ayo tidur!" David tampak mengelus lembut puncak kepala Aretha, lalu menggenggam tangan Aretha kembali. Namun, Aretha hanya menatapnya tidak percaya.
"Aku tidak akan berbuat apa-apa lagi." Rupanya David memahami maksud dari tatapan gadis itu.
"Yakin?" Aretha memastikan.
"Percayalah!" ucap David, lalu mencium lembut punggung tangan Aretha. Setelahnya, ia mengusap-usap tangan Aretha. "Tidurlah!" titahnya.
David menunggu beberapa saat. Sepertinya Aretha memang sudah kelelahan sehingga ia bisa dengan mudah tertidur.
David menatap wajah lugu itu. Nampak begitu tenang ketika Aretha tengah tidur seperti itu. Seketika ia menerbitkan senyumnya. Netranya masih menelusuri wajah cantik Aretha. Sepertinya ia enggan untuk mengalihkan pandangannya dari wajah itu.
"Cantik! Sayangnya, aku belum memilikimu seutuhnya," lirih David seraya mengelus pipi gadis itu.
***
Keesokan paginya, David telah berada di kantor, tepatnya diruangan pribadinya. Setelah mami Aretha datang ke rumah sakit dan menggantikannya untuk berjaga, David segera pulang, lalu pergi ke kantor.
Pria itu tampak akan menelepon seseorang yang entah itu siapa. Ia menempelkan benda pipih itu di telinganya, lalu menunggu beberapa saat telepon itu tersambung dan orang di seberang sana menerima telepon darinya.
"Hallo," sapa David, setelah orang di seberang sana berhasil menerima telepon darinya.
"Bagaimana, apa kamu sudah menemukan siapa pelakunya?" tanyanya. Entah dengan siapa ia berbicara dan hal apa pula yang tengah mereka bicarakan dalam saluran telepon itu.
"Shit! Paksa dia, jika perlu berikan dia imbalan yang lebih daripada orang yang menyuruhnya!" geramnya.
"Saya tidak mau tahu! Saya hanya beri kamu waktu sampai besok. Jika kamu tidak melakukannya dengan baik, biarkan saya yang akan turun tangan sendiri menghabisi orangnya!" David semakin naik pitam, lalu segera mematikan saluran telepon itu.
BRAK!
David tampak menggebrak meja kerjanya, setelah ia berbicara dengan orang itu. Ekspresinya begitu geram. Entah siapa yang baru saja berbicara dengannya pada saluran telepon sehingga membuatnya seperti itu.
Berdasarkan dari apa yang David bicarakan. Sepertinya ia mencium bau kejahatan yang entah itu apa. Mungkinkah ia telah mengetahui penyebab kecelakaan Aretha?
"Lihat saja! Aku tidak akan tinggal diam dan membiarkannya bisa lari begitu saja, bila perlu aku yang akan menghabisinya sendiri, Aargh!" Sekali lagi pukulan itu mengenai meja kerja.
Namun, seketika ketukan pintu membuatnya tersentak hingga ia kembali menetralkan perasaannya.
___________________________________
JANGAN LUPAN LIKE AND COMMENT!
HAPPY READING!
TBC