Possessive Love

Possessive Love
Hukuman Termanis



Aretha tampak tengah menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur sembari membaca buku. Sekilas ia mendelik ke arah pintu, ketika pintu itu baru saja terbuka.


David terdiam sejenak di ambang pintu, menatap ke arah Aretha yang tampak fokus dengan kegiatannya. Ia sedikit menghela napas berat, lalu menutup pintu kamar itu.


Dengan perhalan, tetapi pasti, David melangkahkan kaki, lalu merangkak ke atas tempat tidur seraya mendekati sang istri. Ia tampak duduk di samping Aretha dengan posisi mengahadapinya.


"Sayang, kamu masih marah?" tanya David lirih.


Aretha hanya diam, tak menanggapi. Ia tetap fokus dengan buku novel yang tengah dibacanya. Nampaknya, wanita itu memang masih sangat kesal kepada David.


"Oke, aku tahu aku salah, aku minta maaf," ucap David mengakui kesalahannya.


Sebagai laki-laki, sepertinya ia memang harus banyak mengalah, meski sebenarnnya ia masih tidak terima dengan ucapan Aretha yang menyatakan bahwa dirinya tidak menghargai kerja kerasnya. Namun, apa boleh buat? Demi keharmonisan rumah tangganya, apapun harus ia lakukan.


"Aku sudah tepati janji aku, aku tetap makan apa yang kamu masak," akunya yang sontak membuat Aretha seketika menghentikan kegiatan membacanya. Namun, fokusnya tak beralih sedikit pun. Ia hanya terlihat sedang berpikir, entah apa itu.


"Kamu tidak mau memaafkanku?" tanya David.


David menatap lekat wanita di hadapannya. Diamnya Aretha nampaknya membuat David benar-benar merasa bersalah. Sebelumnya, Aretha tidak pernah marah sampai seperti itu, tetapi sekarang? Lantas, apa yang bisa ia lakukan untuk membujuk wanita itu agar bisa kembali seperti semula?


Sedikit banyak aku menyesal, karena kata-kataku yang membuatmu kesal. Jika diammu adalah tanda kemarahan, maka aku siap menerima hukuman.


"Sayang," lirih David.


"Sudahlah, Mas! Aku sedang tidak ingin membahas apapun!" tegas Aretha seakan tidak sudi menoleh.


David mendengus kasar, lalu sedikit memiringkan kepalanya, menatap wajah Aretha yang kala itu masih menunduk fokus pada buku di tangannya.


"Kamu ingin mencubit aku?" tanya David seolah ingin menggodanya.


Aretha hanya mendelik sekilas, lalu mendengus kasar.


"Kamu ingin menamparku?"


Sekuat apapun David mencoba membujuknya, tetap saja Aretha masih kuat dengan pertahanannya.


"Atau ... kamu ingin menciumku, sebagai hukuman?" David masih tidak ingin menyerah.


Kala itu, Aretha hanya melempar tatapan tajam. Sedikit menyeramkan memang, tetapi jangan panggil David, jika ia tidak bisa mengalahkan apa yang mebuat wanita itu tetap ingin bertahan.


"Ayolah ... aku lebih baik dikasih kecupan daripada didiamkan seperti ini," keluhnya, tetapi Aretha semakin mempertajam sorot matanya.


"Kamu tidak mau?" tanyanya polos yang masih tidak mendapat jawaban dari wanita di hadapannya. "Baiklah, kalau begitu biarkan aku yang melakukannya," imbuhnya seraya lebih mendekatkan wajahnya ke wajah Aretha yang sontak membuat Aretha terlonjak.


"Mas! Jangan macam-macam kamu!" tukas Aretha meberontak.


Ia menarik kepalanya ke belakang, lalu menggeser tubuhnya, sedikit menjauh dari jangkauan David.


David melengos kesal. "Shit! Macam-macam apa? Aku ini suami kamu, bukan penjahat!" protesnya.


"Itu mau ngapain dekat-dekat?" tanya Aretha sedikit ketakutan.


"Haiish!"


Tanpa menanggapi apapun lagi, David segera meraih tubuh Aretha, mendekapnya, lalu merebahkan tubuh mungil itu dalam pelukannya.


Aretha semakin memberontak, berusaha melepaskan. Namun, David semakin berkuasa dengan memperkuat pertahanannya, hingga Aretha tak mampu mengalahkan.


"Mas, lepasin! Kamu apa-apaan, sih?" geram Aretha masih berusaha mendorong tubuh David agar menjauh.


"Diamlah! Aku akan menghukummu," ucap David tak peduli.


"Kan kamu yang salah, kenapa aku yang harus dihukum? Lepasin!"


"Karena kamu tidak mau memberi hukuman, ya sudah biarkan aku yang melakukannya. Hukuman dariku tidak berat, bukan?" David tampak menyeringai penuh kemenangan.


"Kamu—"


"Sssttt! Anggap saja ini hukuman termanis yang pernah kamu dapatkan!"


Aretha langsung bungkam, ketika David memintanya untuk diam. Tatapannya tampak fokus ke wajah pria yang hanya beberapa centimeter berada di hadapannya.


Sebagaimana Aretha, David sudah lebih dulu menatap wanitanya, hingga mereka beradu pandang beberapa saat. Tatapannya saling terkunci, seolah tidak ingin ada yang terlewati akan keindahan mahakarya sang Ilahi.


Seketika tatapan lekat itu berubah menjadi penuh hasrat. Namun, terpaksa ia harus membuatnya terlewat, meski harus merasakan sesuatu yang semakin padat.


Aretha sedikit tertegun. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia merasa nyaman berada dalam posisi seperti itu. Ia nyaman ketika david memeluknya, lalu mencium bibirnya dengan lembut.


Sebagaimana layaknya wanita normal, yang selalu membumbung tinggi, ketika diperlakukan dengan lembut dan romantis oleh pasangannya. Namun, entah kenapa perlakuan David itu selalu saja membuatnya merasa gugup, meski bukan yang pertama kalinya.


Di saat kedua iris berwarna cokelat itu masih menelusuri setiap inchi wajah David, pria itu malah terlihat memejamkan matanya. Namun, itu membuat Aretha semakin leluasa memandang wajah suaminya yang begitu tampan tanpa ada cacat sedikitpun, kecuali ekspresi dinginnya yang memang sudah menjadi ciri khasnya selama ini.


"Kenapa memandangiku seperti itu? Aku tampan ya?" tanya David dengan masih memejamkan matanya.


Aretha tampak kalap dibuatnya. Ia sedikit gelagapan, bagaimana harus menjawab pertanyaan David saat itu?


"Ti-tidak! Siapa yang memandang kamu?" bantah Aretha sedikit gugup.


David membuka matanya, lalu menatap kembali wanita yang masih berada dalam dekapannya.


"Kamu masih marah?" tanyanya memastikan.


"Aku akan terus marah, kalau kamu tidak mau melepaskanku, Mas!" kesal Aretha.


"Ya sudah, marah saja terus! Sebab, aku tidak akan melepaskanmu," balas David semakin mempererat pelukannya, lalu kembali memejamkan matanya.


"Mas," rengek Aretha yang sudah merasa tidak nyaman dengan pelukan yang membuatnya sedikit sesak.


"Diamlah!" titah David tak peduli dengan rengekan Aretha.


"Kamu beneran makan sup itu, Mas?" tanya Aretha sedikit penasaran, seolah tidak percaya bahwa David akan memakan sup rasa air laut itu.


"Hmm ...."


"Maaf," lirih Aretha merasa tidak enak hati. Sepertinya ia sudah menyadari kesalahannya sendiri.


David membuka matanya, lalu menerbitkan senyuman. Ia senang mendengar kata maaf dari Aretha. Itu artinya wanita itu sudah tak lagi marah kepadanya.


"Untuk apa meminta maaf? Aku suka dengan masakan kamu," ucapnya seraya sedikit merenggangkan pelukannya.


"Mana mungkin kamu menyukai sup itu!" Aretha tampak tak percaya.


"Kalau aku tidak suka, untuk apa aku memakannya?"


"Aku tahu kamu bohong!" tukas Aretha sedikit memberi jeda. "Maaf, itu bukan sepenuhnya salah aku," imbuhnya.


"Lalu?"


David tampak bingung. Kalau bukan salah Aretha, lantas salah siapa? Salah dirinya?


"Itu aku lihat tutorial di internet lho, Mas. Aku kan cuma mengikuti apa yang ada di tutorial itu," jelas Aretha yang tentu saja membuat mata David membulat sejenak, lalu memutarnya, seolah merasa aneh.


Bukanlah karena tutorialnya yang terkesan aneh, tetapi justru Aretha yang seolah terlihat aneh, karena secara tidak langsung menyalahkan tutorial itu.


Karena tidak ingin membuat Aretha curiga terhadapnya, David segera mengakhiri ekpresi keanehannya itu, lalu kembali menanggapi Aretha.


"Mungkin yang membuat tutorialnya keliru," ucapnya seolah membela sang istri, padahal bukanlah itu tujuannya, ia hanya tidak ingin Aretha semakin tersinggung karena kesalahan ucapannya. Jadi, cari aman sepertinya akan jauh lebih baik untuknya.


Cup!


Tiba-tiba Aretha mengecup pipi David, sontak membuat David seakan terkesima menerimanya. Sebab, bukanlah hal yang biasa bagi Aretha melakukan hal seintim itu tanpa dimintanya.


"Terima kasih," lirih Aretha dengan wajah yang sudah sedikit memerah karena merasa malu.


David tersenyum senang. Paling tidak ia tahu bahwa selalu ada pelangi setelah hujan mereda.


Sama halnya dengan hubungan. Selalu ada kemesraan, setelah pertengkaran.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC