
Aretha dan David tampak sudah berada di dalam mobil. Mereka memang pulang lebih dulu, sebelum acara selesai.
Beruntung sekali jalanan terlihat lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang, mungkin karena waktu yang sudah semakin larut, sehingga jalanaan semakin terlihat sepi.
Aretha tampak menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobil. Pandangannya fokus ke luar jendela, menatap beberapa pedagang makanan kaki lima yang cukup meramaikan kota di malam hari itu.
Wanita itu merasa sangat lelah, meski sebenarnya bukanlah pekerjaan berat yang ia lakukan sebelumnya. Namun, nyatanya hanya berdiri dan berjalan-jalan di ballroom hotel membuatnya merasakan pegal pada kakinya.
Baik Aretha maupun David, mereka tampak fokus dengan kegiatan mereka masing-masing, tak ada yang mereka bahas saat itu.
David masih fokus dengan kemudinya. Namun, sesekali ia melirik ke arah sang istri.
"Sayang, adakah yang mau kamu beli?" tanya David menawarkan di tengah-tengah kegiatannya.
Aretha yang kala itu tengah fokus dengan kegiatannya sedikit terkesiap ketika mendengar sang suami yang mulai mengajaknya berbicara.
"Hn?" Aretha mengalihkan fokusnya ke arah suami. "Tidak, Mas." Ia tampak menggelengkan kepalanya pelan.
"Yakin?" David tampak memastikan.
Ya, David sangat mengetahui istrinya seperti apa. Setelah hamil, wanita itu memang selalu saja menginginkan banyak hal yang tidak biasanya. Maka dari itu David sengaja menawarinya sesuatu mumpung masih di jalan, pikirnya.
"Yakin, Mas," jawab Aretha.
"Baiklah," ucap David.
Mereka kembali fokus dengan kegiatan masing-masing. Sesekali Aretha membuka suara membicarakan hal yang tidak penting untuk dibahas. Setelah sekitar empat puluh lima menit, David dan Aretha pun akhirnya tiba di kediaman mereka.
Dengan sigap, Yudhi segera membuka pintu gerbang rumah itu dengan lebar, memberikan jalan untuk mobil sang majikannya masuk ke dalam. Seketika ia membungkukkan tubuhnya, sebagai tanda hormat kepada sang majikan, sebelum akhirnya mobil yang David kendarai masuk.
David menyalakan klakson mobilnya, lalu memasuki halaman rumahnya. Pria itu segera turun, lalu membukakan pintu mobil untuk sang istri.
"Hati-hati, Sayang," ucap David mengingatkan.
"Aku bukan anak kecil, Mas," ujar Aretha merasa tidak nyaman karena David seolah memperlakukannya seperti anak kecil.
"Tetapi kamu memang selalu saja bertingkah seperti anak kecil dan tidak mendengarkan perkataanku," gerutu David. Namun, Aretha hanya menanggapinya dengan senyuman.
David segera mengunci pintu mobilnya itu, lalu mengajak sang istri masuk ke dalam rumah. Setibanya di kamar, Aretha segera mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Sayang, apa kamu lelah?" tanya David seraya membuka tuxedo yang kala itu masih melekat di tubuhnya.
"Kakiku terasa pegal sekali, Mas," jawab Aretha sedikit memijit kakinya. Bagaimana tidak pegal, ia memakai high heels disaat tengah hamil seperti itu.
David tampak memperhatikannya beberapa saat, lalu menghampiri sang istri. Seketika ia membukakan high heels dengan tinggi hanya sekitar tujuh centimeter itu, yang belum sempat Aretha buka, lalu mengangkat kaki Aretha ke atas tempat tidur, membuatnya selonjoran di sana.
"Istirahatlah dulu sebentar, aku mau mandi dulu," ucap David.
"Iya, Mas," singkat Aretha.
David berniat untuk segera beranjak dari hadapan sang istri. Namun, baru saja ia berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Aretha menghentikan langkahnya.
"Mas," panggil Aretha, sehingga membuat David membalikkan badannya kembali.
"Iya, kenapa?" tanya David menatap datar wajah sang istri.
Aretha terdiam sejenak, seolah merasa ragu dengan apa yang ingin ia ucapkan. "Sepertinya aku mau martabak manis cokelat keju, deh," ucapnya memberi tahu yang sontak membuat David seketika mengangkat alisnya, lalu menatap nanar wajahnya seolah merasa kesal. Namun, pria itu berusaha menyembunyikannya.
Hal yang wajar bukan, ketika David merasa kesal kepada sang istri, setelah ia menawari istrinya itu untuk membeli sesuatu, tetapi sang istri menolak, dan malah ingin membelinya, setelah tiba di rumah? Mungkin semua suami juga akan merasakan hal yang sama, ketika mereka berada pada posisi yang sama seperti David.
Ingin rasanya David mengeluh saat itu juga. Akan tetapi, ia urungkan kembali niatnya, ketika mengingat sang istru yang tengah hamil. Bisa berabe urusannya, jika sang istri merasa kesal hanya karena mendengar berbagai keluhan darinya. Sudah dapat dipastikan wanita itu akan berkata apa.
Ya, tentu ia pasti akan mendengar celotehan Aretha yang menyatakan bahwa dirinya tidak sayanglah, tidak perhatianlah, dan berbagai tuduhan lain yang dapat mengancamnya, sehingga lagi-lagi ia yang harus mengalah, dan memang sudah seperti hukum alam bahwa laki-lakilah yang harus selalu mengalah kepada seorang wanita. Bukankah begitu?
Demi menghindari kemungkinan buruk yang akan terjadi, David memilih untuk menghela napas pendek, lalu menerbitkan senyuman termanis di hadapan sang istri. Ia tampak mendekati Aretha kembali, meski sudah sempat melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
"Aku akan membelikannya, kamu tunggu di sini sebentar," ucap David seraya mengelus pipi sang istri. "Martabak yang di depan itu, kan?" tanyanya memastikan.
"Bukan," jawab Aretha singkat.
"Lalu?" tanya David memastikan.
"Di tempat jajanan yang tadi ramai itu loh, Mas," rengek Aretha.
Seketika David terdiam sejenak dan lagi-lagi dibuatnya semakin kesal.
Ya, Tuhan ... itu jauh sekali dari sini.
Tak ada yang bisa David perbuat, selain menuruti kemauan sang istri. Meski itu benar-benar membuatnya kesal, tetapi ia tetap berusaha tenang dan tidak ingin menunjukkan kekesalannya di depan sang istri.
"Baiklah," ucap David tidak ada pilihan lain, selain menyetujui.
Rasanya percuma juga jika ia berusaha menawarkan martabak di tempat yang lebih dekat dengan rumahnya, jika sang istri inginnya di tempat yang lain. Tidak akan berhasil ia membujuknya.
"Terima kasih, Mas," ucap Aretha.
"Baiklah, aku pergi dulu."
David segera beranjak dari kamarnya, tanpa menunggu komando lagi dari sang istri, meski ia sangat merasa kesal karena harus kembali ke tempat yang tidak jauh dari hotel tempat resepsi pernikahan Rendy dan Clara berlangsung. Sungguh itu jauh sekali dari rumahnya.
"Apa setiap wanita hamil selalu menyebalkan seperti ini? Tidakkah dia tahu bahwa aku juga lelah ingin segera beristirahat? Ah, istriku itu ... selalu saja!" gerutunya di tengah langkah kakinya menuju halaman depan rumah, tempat mobilnya terparkir.
Memang sudah bukan lagi hal yang baru bagi David menghadapi istrinya yang sering sekali bersikap menyebalkan setelah hamil. Namun, tetap saja itu selalu membuatnya geram dan meradang. Lebih geram lagi, ketika ia hanya bisa menahan tanpa mengeluarkan amarah yang ia pendam.
Dari keajuhan, David memencet tombol pada remote kunci mobilnya, sehingga terdengar suara alarm yang menandakan bahwa kunci mobil itu telah terbuka.
Mendengar suara itu dan menyadari sang majikan telah masuk ke dalam mobilnya, Yudhi segera membuka pintu gerbang kembali, meski sedikit merasa bingung.
David segera menekan pedal gas, lalu memundurkan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya. Pria itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, berharap akan segera tiba di rumahnya kembali dalam waktu yang singkat.
Karena merasa khawatir tidak mendapat kabar dari gadis itu, Aretha segera meraih tasnya, lalu merogoh telepon cerdas dari dalam tas itu.
Wanita itu segera menggulir layar ponselnya, mencari kontak Diandra. Setelah ia menemukan apa yang ia cari, ia segera menekan tombol panggilan suara, pertanda bahwa ia akan menelepon sahabatnya itu.
Aretha menempelkan layar ponsel itu ke telinganya, lalu menunggu beberapa saat panggilan itu tersambung ke nomor yang dituju.
Panggilan teleponnya sudah tersambung hingga terdengar bunyi yang lumrah dari sebuah panggilan. Namun, tak ada jawaban dari sang pemilik nomor yang dituju. Aretha tidak mau menyerah begitu saja. Ia terus berusaha mengulangi panggilan itu, tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban.
"Ini anak kenapa sih, selalu saja membuatku khawatir!" gerutu Aretha seraya menatap layar ponselnya.
Ya, Aretha memang selalu khawatir dengan Diandra. Khawatirnya melebihi kepada kedua sahabat yang lainnya. Bukan karena ia pilih kasih, lebih mengutamakan perhatian kepada salah satu sahabatnya. Hanya saja, karena ia tahu bagaimana kehidupan Diandra yang sudah sejak lama hidup jauh dengan kedua orangtuanya.
Mengingat hal itu, Aretha selalu saja merasakan sedih yang mendalam. Di saat ia bisa berada dekat dengan orang-orang yang ia sayangi, justru Diandra sebaliknya. Bahkan, ia sangat menyayangkan, ketika Samuel pamit pergi dari kota itu. Sungguh ia tahu apa yang akan terjadi dengan perasaan Diandra, meski Diandra sendiri tidak pernaha bercerita langsung kepadanya tentang perasaannya terhadap Samuel, tetapi ia bisa membacanya dari raut wajah wanita itu bahwa telah ada cinta di hatinya.
Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan sekadar untuk menahan Samuel agar tetap tinggal dan menemani sahabatnya itu, ketika ia mengetahui alasan lain kenapa Samuel tetap memaksa untuk pergi, dan ia sangat memahami itu.
Wanita itu terus berusaha melakukan panggilan ke nomor Diandra tanpa ingin menyerah. Setelah berulang kali, akhirnya ia bisa menyeringai senang, ketika mendapatkan jawaban atas panggilan teleponnya.
"Ra, lo dari mana saja? Gue telepon dari tadi juga, kenapa nggak diangkat? Sekarang lo dimana?" cerocos Aretha tanpa ingin berbasa-basi.
"Ada apa sih, Re?" Suara Diandra terdengar parau dan sangat loyo.
"Ra, lo kenapa? Lo baru bangun? Lo nggak datang ke acaranya kak Rendy?" Lagi-lagi Aretha bertanya tanpa jeda.
"Hmmm ...."
"Apa jangan-jangan lo sakit lagi?" Aretha masih berusaha memastikan. Namun, Diandra hanya diam.
"Ra, jawab gue!" tegas Aretha mulai cemas.
"Hmm ... gue cuma demam biasa kok, Re," jawab Diandra dengan nada sedikit terpaksa.
"Ya ampun, Ra ... lo sudah ke dokter?" Mata Aretha mulai berkaca-kaca.
Apapun hal buruk yang menyangkut Diandra, selalu saja membuatnya bersedih. Terbayang rasanya jika ia sendiri yang berada di posisi Diandra saat itu. Kondisi sedang sakit, tetapi orang-orang terdekatnya malah berada jauh darinya, meski itu hanya sekasar sakit ringan.
"Gue cuma demam biasa, mungkin ini akan segera membaik, setelah gue istirahat cukup," jawab Diandra.
"Ya ampun, Ra ... kenapa nggak kabari gue, sih? Gue 'kan bisa bantu lo antar ke dokter," keluh Aretha.
"Gue nggak apa-apa, Re. Lo tenang saja, tidak perlu terlalu mengkhawatirkan gue. Bukankah gue sudah terbiasa seperti ini?" Diandra bersuara dengan nada sangat pelan dan kalimat terakhirnya, sungguh seakan menusuk jantung Aretha.
"Ya sudah, Ra ... semoga lekas sembuh ya," ucap Aretha dengan hati yang sendu.
Ingin rasanya ia memaksa Diandra untuk pergi ke dokter malam itu juga, tetapi ia yakin bahwa Diandra pasti akan menolaknya. Aretha pun segera mengakhiri panggilannya itu, lalu berniat untuk menghubungi kedua sahabatnya.
Tanpa ada jeda, Aretha segera melakukan panggilan telepon kepada Tania. Mengingat sahabatnya itu adalah sebagai calon dokter, berharap ia bisa membantu Diandra malam itu.
"Hallo, Tan! Lo di mana?" tanya Aretha.
"Iya, Re. Gue masih di jalan nih, kenapa?" tanya Tania di seberang sana.
"Gue baru saja telepon Diandra, ternyata malam ini dia memang tidak hadir di acara kak Rendy," ucap Aretha memberi tahu.
"Iyakah? Pantas saja dari tadi dicariin nggak ada," balas Tania.
"Lo tahu? Ternyata dia sakit," ujar Aretha memberi tahu. Ekspresi wajahnya tampak memelas, meski ia tahu bahwa Tania tidak akan bisa melihatnya saat itu.
"Serius, Re? Sakit apa dia?" Tania terdengar sangat antusias.
"Lo bisa bantu gue, kan?" tanya Aretha.
"Apa?"
"Kalau bisa lo tolong mampir ke rumahnya sebentar buat menjenguknya, karena yang gue tahu dia belum sempat ke dokter, meski dia cuma bilang demam biasa, tapi tetap saja gue merasa cemas," jelas Aretha.
"Tentu, gue akan menjenguknya, Re," balas Tania.
"Thanks ya, Tan. Kalau misalkan ada apa-apa lo kabari gue lagi ya, Tan," ucap Aretha sebelum akhirnya ia mengakhiri obrolannya dengan Tania.
"Oke, Re."
Akhirnya ia bisa sedikit bernapas lega, setelah mendengar bahwa Tania bersedia menjenguk Diandra. Setidaknya, rasa khawatirnya sedikit berkurang, meski itu belum memastikan bahwa Diandra baik-baik saja.
"Kok, tiba-tiba aku ingin makan kerak telor ya?" ucap Aretha di tengah lamunannya.
Entah kenapa tiba-tiba ia teringat makanan itu. Seketika ia membayangkan betapa lezatnya makanan khas betawi yang sempat ia temui di pinggir jalan tadi, sepulang dari acaranya Rendy dan Clara.
"Atau aku sekalian saja minta mas David membelikan?" Aretha berpikir beberapa saat. "Sepertinya itu ide yang sangat bagus," imbuhnya kemudian.
Tanpa menunggu lama lagi, Aretha langsung mengirim pesan Whatsapp kepada sang suami agar sekalian membelikan kerak telor untuknya. Seketika ia menyeringai senang, ketika menekan tombol kirim pada layar ponselnya.
Setelah pesan whatsapp itu terkirim ke nomor sang suami, Aretha segera beranjak ke kamar mandi untuk melakukan ritual harian, tanpa menunggu balasan pesan dari sang suami terlebih dahulu.
***
Aretha menghabiskan waktu di dalam kamar mandi sekitar dua puluh menit. Entah apa saja yang ia lakukan di dalam sana.
Setelah selesai dengan kegiatannya. Aretha segera keluar dan berganti pakaian, lalu mulai mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di depan meja rias, hanya sekadar untuk menyisir rambut. Semua kegiatannya selesai, bertepatan dengan pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka, lalu muncullah sang suami dari balik pintu itu. Ia tampak menangkap bayangannya dari cermin yang berada di depannya.
Aretha menoleh ke belakang sembari menyunggingkan senyuman. "Mas, kamu sudah pulang?" tanyanya yang baru saja selesai menyisir rambut. Ia tampak beranjak dari kursi meja rias, lalu menghampiri sang suami dengan seringaian senang.
"Ini yang kamu pesan!" David tersenyum sembari memberikan jinjingan berwarna putih itu kepada Aretha.
Dengan perasaan senang, Aretha segera meraih jinjingan tersebut dari tangan David, lalu duduk kembali di kursi rias. Ia tampak menengok jinjingan itu. Namun, sepertinya ada yang kurang dari dalam kantong itu. Aretha tampak mencari. Namun, ternyata benar memang ada yang kurang.
"Mas, kerak telornya mana?"