Possessive Love

Possessive Love
Urgent



"Keluar kamu, Mas!" usir Aretha tanpa menoleh ke belakang.


Ah, keras kepala sekali dia!


"Aku tidak akan keluar, sebelum kamu makan!" tegas David.


Aretha tak menjawab. Bahkan, hal yang paling ia benci saat itu adalah berbicara dengan pria yang tak lain adalah suaminya sendiri.


"Ayolah ... kamu makan dulu! Kalau kamu sudah makan, aku janji akan keluar!" ucap David membujuk.


"TIDAK!" tolak Aretha.


David mengulum senyumnya, seolah ada niat jahil yang terselubung di balik senyum itu.


"Oh ... jadi, sebenarnya kamu mau kutemani di sini? Ya sudah, Baiklah," ucap David menggoda, seraya berusaha memeluk wanita itu dari belakang.


Namun, Aretha yang menyadarinya langsung mengangkat tubuhnya dengan sigap, hingga ia terduduk sempurna menghadap sang suami yang dianggapnya sebagai pendosa.


"Heeuuhh!!!!" geram Aretha seraya mengeratkan giginya sembari mengepalkan kedua tangannya di depan dengan begitu gemas.


Sekuat mungkin David berusaha menahan senyumnya. Ia tidak ingin Aretha curiga dan beranggapan bahwa ia telah menganggap masalah ini sebagai lelucon, karena memang kenyataannya tidak. Hanya saja, ia suka sekali menggoda istrinya itu.


Kamu lucu sekali kalau lagi marah seperti itu, Sayang.


"Lho, kenapa? Ada yang salah?" tanya David belagak bodoh.


Aretha hanya menjawabnya dengan tangisan. Ia malah semakin tersedu sedan. Ia kesal. Benar-benar kesal.


Bahkan, dalam situasi seperti itu pun dia masih saja berani menggodanya, lelucon macam apa ini? batinnya saat itu.


"Jangan menangis seperti itu, aku tidak suka! Nanti semakin jelek lagi!" seloroh David seraya mengambil piring berisi makanan dari atas nakas.


Aretha membulatkan matanya, lalu mendelik kesal ke arah David yang kala itu tengah memunggunginya.


Apa dia bilang? Aku jelek? Ya, Tuhan ... laki-laki macam apa yang menikah denganku ini!


David kembali duduk di samping Aretha, lalu mulai mengambil satu sendok makanan dari piring, yang hendak akan disuapi kepada wanita di depannya.


"Nih, makan!" titahnya seraya menyodorkan sendok yang sudah terisi penuh oleh nasi dan lauknya.


Aretha hanya menatap sinis wajahnya, tanpa ada pergerakkan apapun, baik mulut ataupun anggota tubuh lainnya. Ia hanya diam, tak menghiraukan.


"Ayo, makan!" pinta David sekali lagi. "Masih mau berlama-lama dengan pria menjijikkan sepertiku di sini?" tanyanya dengan nada sedikit mengancam.


David semakin mendekatkan sendok itu ke bibir Aretha. Bahkan, hingga menempel.


Akhirnya, Aretha menyerah. Ia membuka mulutnya, daripada harus berlama-lama dengan makhluk menyebalkan seperti David, pikirnya.


David menyeringai penuh kemenangan. Siapa sangka, ternyata ia pandai juga membujuk wanita yang tengah merajuk dan berkepala batu seperti istrinya.


Pria itu kembali mengambil sesendok makanan, lalu menyuapi Aretha kembali. Ia semakin senang karena Aretha mau menuruti perkataannya. Paling tidak, ia tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi kesehatannya.


Katanya tanganku kotor, menjijikkan, tetapi masih nikmat saja mendapat suapan dari tanganku ini.


David menyuapi Aretha hingga beberapa kali. Tanpa adanya perbincangan diantara mereka. Bahkan, tidak ada penolakan lagi dari Aretha.


"Ehem!" David sengaja berdeham. Entah maksudnya apa, sehingga membuat Aretha sedikit tersentak di tengah kegiatannya menikmati makanan itu.


Nampaknya, terlalu lama menangis membuat wanita itu kehabisan energi dan merasa begitu lapar. Ternyata benar apa kata David bahwa menangis pun membutuhkan energi.


"Aku bisa makan sendiri!" ketus Aretha seraya merebut piring itu dari tangan David.


David termangu sejenak.


"Masih punya tenaga untuk makan sendiri?" tanyanya polos. Namun, memang berniat untuk menyindir. Sontak membuat Aretha melempar tatapan tajam kepadanya, dan seketika ia menciut menyadari tatapan yang begitu menusuk.


Ya, Tuhan ... kenapa Kau kirimkan suami yang menyebalkan untukku? Apa tidak ada lagi stok yang lebih baik daripada dia?


"Oke, aku diam," lirih David tak berkomentar banyak.


Aretha melanjutkan makannya sendiri, sementara David hanya memperhatikannya dengan tatapan teduh.


Andai saja ia tahu bahwa kejadiannya akan seperti ini, mungkin ia tidak akan menerima tawaran temannya itu untuk mengisi acara seminar tersebut. Hanya penyesalan yang ada dalam benaknya saat ini.


Namun, ia masih yakin dan percaya bahwa Tuhan tidak akan memberi ujian kepada manusia di luar batas kemampuannya.


"Sayang," lirih David berusaha untuk membuka suara kembali, berharap Aretha sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya dan mau mendengarkan perkataannya.


Aretha tak bergeming. Ia masih fokus dengan kegiatan makan malamnya. Namun, David tidak peduli.


"Aku benar-benar tidak melakukan itu. Aku memang laki-laki yang memiliki banyak dosa, tetapi mana mungkin aku melakukan perbuatan keji semacam itu, Sayang. Astaghfirullahaladzim," jelasnya, diakhiri dengan beristighfar.


Aretha terdiam sejenak, menghentikan kegiatan makannya seraya menaikkan bola matanya, seolah berpikir.


Apa benar dia tidak melakukannya?


Namun, ia tetap acuh, lalu melanjutkan kembali kegiatannya.


"Jika perlu, tak harus menunggu satu minggu, malam ini pun akan aku buktikan kalau itu tidak benar!" imbuh David mempertegas.


"Coba saja kamu lakukan kalau bisa!" celetuk Aretha tanpa menoleh.


"Baik," jawab David menyetujui. "Aku tinggal sebentar," imbuhnya seraya beranjak ke luar kamar.


***


"Jangan belagak bodoh kamu! Aku tahu kamu sengaja menjebakku 'kan, untuk kejadian tadi malam?" geram David kepada Freya.


Ya, setelah ia mendapatkan nomor telepon wanita itu dari Zacky, ia pun segera menghubunginya. Beruntung ia teringat Zacky, karena ia pikir temannya itu pasti tahu semua kontak nara sumber acara seminar di kampusnya.


"Maksud kamu apa sih, Dave? Aku benar-benar tidak mengerti. Menjebak? Menjebak apa?" tanya Freya seolah tidak paham. Entah memang seperti itu kenyataannya atau mungkin ia hanya berpura-pura.


"Kamu 'kan yang kirim foto kita tadi malam ke rumahku? Dan kamu juga yang sengaja merekayasa sebuah foto yang mirip dengan kita?" tanya David dengan sinis.


Sebenarnya ia masih tidak percaya jika Freya sampai melakukan hal sejauh itu, tetapi kalau bukan wanita itu, lantas siapa lagi?


"Foto apa sih, Dave? Aku tidak tahu apa yang kamu maksud!"


"Jangan sok polos kamu! Aku tidak mau tahu pokoknya malam ini juga temui aku dan jelaskan semuanya kepada istriku bahwa kita tidak pernah melakukan apapun!" tegas David.


"Tunggu dulu! Melakukan apa maksudnya? Bahkan, aku tidak tahu foto yang kamu maksud. Dan malam ini aku sedang di Jogja, mana mungkin aku bisa menemuimu!" jelas Freya masih bersih keras tidak mau mengaku.


"Aaarggh! Itu cuma alasan kamu, kan?" tanya David frustrasi.


"Aku serius, Dave! Dari Bandung aku langsung terbang ke Jogja, aku ada urusan di sini selama dua hari. Nanti, kalau aku sudah pulang, aku langsung temeui kamu, aku janji!"


"Tidak perlu!"


Tut!


David segera menutup teleponnya, setelah tidak mendapat pengakuan dari Freya. Namun, ia segera menghubungi Denis tanpa jeda.


"Hallo, Den, kamu dimana?" tanya David tanpa berbasa-basi.


"Saya di apartemen mas Rendy, Pak," jawab Denis di seberang sana.


"Sedang apa? Ada masalah?" tanya David heran, tumben sekali Denis mampir ke apartemen Rendy.


"Tidak ada, Pak, hanya saja mas Rendy butuh sedikit bantuan."


"Saya tunggu kamu di rumah, malam ini juga!" tegas David penuh penekanan.


"Ada apa? Apa ada masalah lagi?" tanya Denis penasaran.


"URGENT!!!" singkat David.


"Baiklah, saya akan segera ke sana!"


David tampak mondar mandir tidak jelas di kamarnya, sembari tidak sabar menunggu kedatangan Denis. Seketika ia mengingat perkataan Freya, apa benar bukan wanita itu pelakunya? pikirnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING!


TBC