Possessive Love

Possessive Love
Masa Lalu David dan Fathur (Part 1)



"Dave ...," panggil seorang pemuda yang tegah berlari meghampiri temannya. "Lihat nih, bagus tidak?" tanya Fathur pada David sambil menunjukan sebuah kalung berwarna silver dengan liontin hati.


David melihat kalung itu dan mengangguk. "Buat siapa?" tanya David.


"Buat Arumi. Gue rencananya mau Nembak dia nanti pulang sekolah. Lo pulang sendiri saja ya, hari ini?," ucap Fathur sambil memasukan kalung itu kedalam sebuah kotak berwarna merah muda.


David hanya mengangguk, Ia pun memasukan sebuah benda yang sedari tadi digenggamnya ke dalam saku celana seragam sekolahnya.


David dan Fathur, Dua remaja SMA yang sudah bersahabat cukup lama. Sebenarnya ada satu lagi, seorang remaja putri yang bernama Arumi. Mereka bersahabat dari mereka masih menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sedangkan dengan Arumi mereka baru bersahabat tiga tahun belakangan ini, sejak pertama mereka masuk SMA.


Arumi yang memang seorang gadis remaja yang pendiam pun sering kali diganggu oleh teman-temannya maupun Seniornya di sekolah. Karena kecantikan dan kecerdasannya tak ayal banyak remaja putra di sekolahnya yang menggoda dan mendekatinya.


Kehadiran dua lelaki tampan dan cukup di segani di sisi Arumi pun membuat mereka perlahan menjauh. Awalnya David dan Fathur hanya merasa kasihan pada gadis remaja itu karena sering kali diganggu oleh para murid laki-laki. Namun, karena Arumi yang terlihat ramah pada mereka dan gadis yang cukup cerdas itu sering membantu mereka mengerjkan tugas sekolah yang tak mereka pahami menjadi awal mula kedekatan mereka. Sayang sekali, ketika mereka naik ke kelas XII, mereka tidak lagi tinggal di kelas yang sama.


"Sebagai ungkapan terimakasih aku sama kalian karena sudah selalu membantu aku dan melindungi aku." Itulah jawaban Arumi saat ditanya kenapa dia begitu baik membantu mereka mengerjakan tugas sekolahnya.


Sebenarnya, berbicara soal akademik, David juga memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Hanya saja, entah kenapa dari awal mengenal Arumi, ia senang sekali jika belajar bersama dengan gadis itu. Berbeda dengan Fathur yang memang sering kesulitan dalam beberapa mata pelajaran.


Perlahan kehadiran Arumi di dalam kehidupan mereka pun banyak membawa perubahan untuk David dan Fathur. yang semula mereka malas sekali belajar kini mereka menjadi rajin. Terlebih lagi untuk Fathur yang memang mengalami banyak penigkatan dari nilai-nilai tugas dan ulangannya, berbeda dengan David yang sudah terbiasa mendapat nilai yang selalu memuaskan, meski jarang belajar.


Kehadira Arumi membuat hidup kedua pemuda itu semakin berwarna, sehingga tak ada alasan untuk mereka tidak menerima pertemanan dengan gadis cantik sebaik Arumi.


Siang itu, tepat di aaktu istirahat, ketiga sahabat itu menghabiskan waktu mereka di perpustakaan untuk membahas soal-soal pelajaran yang menurut Fathur cukup sulit. Meski David tidak terlalu merasa kesulitan, tetapi ia tetap mengikuti mereka ke perpustakaan dan berlagak belum memahami materi yang akan dibahas dengan Arumi.


"Tuh, 'kan bisa. Kalian itu pada dasarnya memang pintar, hanya saja sedikit malas," ucap Arumi yang tengah mengoreks soal kedua yang ia berikan kepada sahabatnya itu. "Buktinya aku jelasin satu kali saja kalian sudah paham. Hebat!" Arumi mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Besok-besok kamu saja yang mengajar kita di kelas, biar kita berdua bisa pintar sepertimu," ucap David sekenanya.


" Iya, kalau belajar sama kamu, aku juga merasa lebih bisa memahami" timpal Fathur.


"Kalian itu terlalu berlebihan menialaiku. Kalau kalian belajar dengan rajin, aku yakin kalian bisa lebih pintar dari aku," ucap Arumi merendah.


Begitulah awal persahabatan yang terjalin di antara mereka. Tanpa mereka sadari semakin lama persahabatan itu menjadi rasa kagum. Hati dan pikiran mereka pun menuntut untuk lebih dari sekedar menjadi sahabat.


***


Pada awalnya sering kali Fathur dan David dipanggil ke ruangan guru karena berkelahi dengan seniornya untuk membela Arumi. Dan puncaknya terjadi pada siang itu saat jam istirahat.


David yang tak menemukan Arumi di perpustakaan pun mencari gadis itu di sekeliling sekolah. Tempat yang biasa mereka kunjungi pada saat jam istirahat tiba. David juga bertanya kepada beberapa siswa lain yang berpapasan dengannya.


"Tadi kulihat dia diajak sama salah satu temannya kak Damar, anak XII IPS 1, waktu arumi mau ke kantin," ucap salah satu murid perempuan saat David menanyakan keberadaan Arumi.


"Kayaknya mereka ngomong sesuatu deh, sama Arumi. Soalnya setelah temannya Kak Damar itu bicara bisik-bisik, Arumi langsung ikut saja," sambung salah satu temannya lagi.


"Kalian tahu tidak mereka pergi ke mana?" tanya David lagi.


"Entah ya. Aku sih pernah tidak sengaja melihat mereka nongkrong di belakang gedung sekolah kita yang dekat gudang itu, lho," jawab murid bernama Sinta itu.


"Lo yakin? Sedang apa mereka di sana? Lo juga mau apa ke belkang gedug sekolah?" tanya teman David bernama Riko.


"Waktu itu, aku disuruh sama bu Susi ngambil sapu di gudang, lalu tidak sengaja aku mendengar suara dari belakang. Nah, pas aku intip, ternyata kak Damar sama teman-temannya sedang merokok," bisik Sinta.


Tanpa berpikir panjang, David pun segera berlari ke tempat yang dimaksud oleh Sinta. Dan benar saja. Ia mendengar suara seseorang di sana.


"Makanya, jadi cewek itu nggak usah jual mahal dong," ucap Damar dengan tangan yang mulai menyusuri wajah Arumi.


Arumi yang ketakutan pun hanya bisa menangis, karena kedua tangannya sudah dipegangi oleh dua teman Damar. Bahkan Damar sudah mendekatkan wajahnya ke arah wajah arumi.


"Woi ... lepaskan dia!" teriak David saat melihat empat seniornya tengah merundung Arumi dan bersikap kurang ajar pada gadis itu di belakang gedung sekolahnya. Arumi yang terpojok pun tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya di dorong hingga merapat ke tembok.


"Ini, nih. Adik kelas yang songong sama seniornya. Mau jadi pahlawan kesiangan lo, ha?" teriak Damar salah seorang senoir yang menjadi ketua dari ketiga temannya yang lain.


Damar hendak mendorong David. Namun, David segera menepis tangan Damar.


"Wah, benar-benar kurang ajar lo, ya!" ucap salah seorang teman Damar.


"Banci kalian semua! Beraninya merundung Cewek! Memalukan! Kalau berani, sini lawan gue!" tantang David, karena sudah sangat murka dengan kelakuan Damar dan teman-temannya saat itu.


Tanpa menunggu aba-aba lagi, Damar segera berlari menghampiri David.


BUM!!


Sebuah pukulan pun mendarat di wajah David, sehingga membuatnya terhuyung seketika.


"Dave!" teriak Arumi.


Gadis itu terlihat panik saat menyadari sudut bibir David yang berdarah. Ia pun berusaha untuk berlari menghampiri David. Namun, kedua tangab kekar telah lebih dulu menahan tubuhnya.


David mengusap sudut bibirnya yang berdarah, kemudian manik mata itu menatap Damar dengan tatapan sinis dan penuh kebencian. Ia beralih menatap Arumi dan melihat tangan gadis itu di tahan oleh kedua teman Damar.


"Segitu doang kemampuan lo? Tidak usah berlagak mau jadi pahlawan deh, lo!" Damar menyeringai penuh kemenangan sembari menatap David. David kembali menatap Damar, terlihat sorot matanya yang sudah tak bisa lagi menahan amarah.


BRUG


Tubuh Damar terjatuh di tanah setelah sebuah pukulan dari David mendarat tepat di hidungnya.


"Sial!" umpat Damar seraya mengusap hidungnya yang terasa hangat. Darah segar mengalir dari hidungnya. Ia begitu terkejut melihat darah di tangannya. Belum sempat ia bangkit, sebuah tinjuan mendarat lagi di pipinya.


"David, cukup Dave. STOP!" teriak Arumi sambil terisak ketakutan.


"DAVID!!!" teriak Arumi lagi yang melihat Anton—teman Damar tengah mengangkat tangannya hendak memukul kepala David dengan batu itu. Arumi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kemudian Ia terisak, tubuhnya lemas terduduk di atas tanah.


BRUG!


Tubuh Anton terjatuh di tanah, tepat saat seseorang mendorong dan memukul wajahnya.


Fathur datang di saat yang tepat. Ia kemudian menarik tubuh David untuk menjauh dari Damar yang sudah tak berdaya.


"Gila lo, ya! Bisa mati anak orang! kendalikan emosi lo, kita ini masih di sekolah, lo juga bisa masuk penjara kalau begini," ucap Fathur masih menahan tubuh David yang berontak hendak memukul Damar kembali.


"Lepaskan Gue! Biar saja gue bunuh sekalin tuh anak." David masih berusaha untuk berontak.


"DAVID, STOP! Sadar, Dave. Lo sudah mebuat Arumi ketakutan." Fathur mencoba menyadarkan David, tangannya menunjuk ke arah Arumi. Terlihat gadis itu tengah menangis terduduk di atas tanah sambil menutup wajahnya dengan tangan.


David pun tersadar, ia segera menghampiri sahabatnya yang tengah terisak itu. Ia berjongkok di hadapan gadis itu, kemudian ia melepaskan kedua tangan Arumi yang menutupi wajahnya.


Arumi mendongakkan kepala menatap David, kemudian ia menghambur ke dalam pelukan david dan terisak semakin dalam. "Aku takut, Dave," lirihnya.


David pun mencoba menenangkan sahabatnya itu dengan mengusap kepala Arumi.


"Lebih baik sekarang kita ke UKS dulu, yuk! kita obatin dulu luka lo, Dave," ajak Fathur pada keduanya, ketika ia melihat ada luka di sudut bibir David.


Saat mereka tiba di UKS. Tampak tempat itu sudah ramai dengan beberapa siswa dan guru. Bahkan kepala sekolah. Semua mata tertuju ke arah mereka. David, Arumi, dan Fathur sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi.


"Ini, Nih, Pak pelakunya," ucap Anton menunjuk ke arah David. "Dan anak ini yang mukul saya, Pak," sambungnya sambil menunjuk ke arah Fathur.


Terlihat Kepala Sekolah dan beberapa guru menatap David dan Fathur secara bergantian.


"Kalian lagi," ucap Kepala Sekolah mengembuskan napas berat. " Kalian ikut ke ruangan Bapak! Anton kamu dan yang lain juga ikut ke ruangan Bapak sekarang juga!" titah Kepala Sekolah dengan tegas.


Setelah luka David diberi sedikit obak merah, ia segera mengikuti perintah kepala sekolah untuk datang ke ruangannya bersama Fathur.


"Kalin ini, sudah berapa kali Saya peringatkan jangan membuat ulah lagi di sekolah!" Bentak Kepala sekolah kepada ke Enam murid yang tengah berdiri di hadapannya.


"Anton, Yogi, Deni. Kalian itu sudah kelas XII, seharusnya kalian itu fokus beajar untuk menghadapi Ujian Akhir, Bukan malah sibuk jadi preman!" ucap Kepala Sekolah pada ketiga tan Damar. "Kamu juga David, Fathur, Saya sudah sangat senang melihat nilai-nilai kalian, tetapi kenapa kalian malah membuat masalah di sekolah? Terlebih lagi kamu, David. Kamu ini siswa berprestasi di sini. Apa kata orang kalau kelakuan kamu juga seperti preman? Kalian ini sudah sangat keterlaluan. Bagaimana jika Orang tua Damar Menuntut dan membawa masalah ini ke pihak berwajib?" tanya kepala sekolah dengan emosi.


"Permisi ...." Seketika Arumi hadir di ruangan itu. Ada rasa bersalah yang menyelimuti dirinya. Andai saja David tidak berusaha menolongnya, mungkin ia tidak akan terkena masalah seperti itu.


Gadis itu pun merasa khawatir jika peristiwa itu malah akan membawa David ke pihak berwajib, dan ia akan sangat merasa bersalah, ketika itu sampai terjadi.


"Maafkan Saya, Pak. Semua ini adalah salah saya. Kalau bukan karena saya, David dan Kak Damar tidak akan berkelahi," ucap Arumi memberi tahu, sontak membuat kepala sekolah terkejut mendengarnya.


"Maksud kamu apa, Arumi?" tanya kepala sekolah itu.


"Permisi," Suara dari arah pintu membuat mereka menoleh. Kedua orang tua Damar pun masuk setelah setelah Pak Gofur selaku kepala sekolah mempersilakan mereka untuk masuk.


"Mana yang namanya David disini, ha?" ucap Mama Damar terlihat marah.


"Saya, Tante," ucap David mendongakkan kepala menatap Wanita yang usianya diperkirakan seusia mamanya.


"Kenapa kamu pukulin anak saya, ha? Mau jadi jagoan kamu di sekolah. Gara-gara kamu anak saya harus di rawat di rumah sakit, butuh waktu cukup lama untuk memulihkan wajahnya yang babak belur karena kamu," Bentak wanita itu dengan memukuli tubuh David dengan tas Branded yang ia kenakan. David sama sekali tidak memberontak.


"Maafkan saya, Tante. Saya punya alasan kenapa saya memukul Damar," ucap David memberi alasan.


"Alasan seperti apa yang membuat kamu memukuli anak saya hingga babak belur seperti itu, ha?" Wanita itu masih terlihat sangat emosi.


"Ma, ini Sekolah. Mama tenang dulu, ayo kita duduk dulu!" ajak lelaki di belakang wanita itu, yang sepertinya ayah dari Damar. " Kita dengarkan dulu penjelasan dari mereka, biar Kepala sekolah yang bicara," sambung lelaki itu setelah mereka duduk.


Setelah meneguk Air mineral yang di sodorkan suaminya wanita itu terlihat sedikit tenang. Kepala sekolahpun mulai memberikan pertanyaan kepada masing-masing murid yang ada di depannya.


Jawaban dari ketiga teman Damar tentunya sama- menyudutkan David tentunya.


"Saya tidak tahu kejadian sebenarnya, Pak. Saya hanya sedang mencari kedua sahabat saya, yang kata beberapa teman mereka ada di tempat kejadian, saat saya tiba di sana, saya melihat Anton yang sedang memegang batu yang cukup besar hendak memukul kepala David. Saat itu David memang sedang memukul Damar. Sebagai sahabatnya, saya tahu David mempunyai alasan melakukan itu. Saya juga melihat Arumi yang sedang menangis ketakutan," jelas Fathur dengan apa yang ia lihat.


"Halah. Kamu 'kan sahabat David, ya sudah pasti kamu membela dia," tukas mama Damar.


"Maaf, Tante. Kalau Tante berpikiran seperti itu. Lalu, bagaimana dengan Anton dan Kedua temannya, bisa saja mereka juga mengarang cerita, karena mereka sahabat Damar," ucap Fathur membalikan ucapan mama Damar. Wanita itu terlihat kesal.


"Maaf, Pak. Kalau diizinkan saya akan menjelaskan awal mula kejadiannya," pinta Arumi kepada pak Gofur.


Kepala sekolah pun menganggukan kepala. " Silakan Arumi," ucapnya.


"Maaf, Om, Tante, David hanya ingin menolong saya karena kak Damar mencoba melecehkan saya," jelas Arumi sambil menyeka kristal bening yang menetes di sudut matanya. "Saya tidak bisa melawan karena tangan saya di pegani oleh kedua temannya Kak Damar," Sambung Arumi.


"BOHONG!" teriak mama damar, "tidak mungkin anak saya berbuat seperti itu!" sergah wanita itu tidak terima. " Saya bisa saja melaporkan kamu atas pencemaran nama baik, ya." ancamnya kemudian.


"Pokoknya, saya mau Kasus ini di bawa ke pihak berwajib, Pak. Saya tidak terima anak saya dituduh seperti itu!," ucap mama Damar kepada pak Gofur.


Arumi hanya bisa terisak. Tak akan ada yang akan memercayainya.


"Jika saya mempunyai bukti, Apakah tante siap jika saya melaporkan balik anak tante?" ucapan David. Membuat semua mata menatap ke arahnya.