
"Maksud lo apa?" tanya Samuel tidak paham. Ia menatap serius Diandra.
"Kok ditanya malah nanya balik, sih?" kesal Diandra.
Samuel tampak melipat kedua tangannya di atas meja, masih dengan ekspresi heran.
"Ya, gimana gue nggak tanya balik, gue saja nggak paham dengan ucapan lo," jawab Samuel benar-benar tidak mengerti maksud Diandra.
"Heuh!" Diandra kesal, lalu mengembuskan napasnya ke atas sehingga sedikit mengibaskan poni rambutnnya.
"Yang lo sok perhatian sama gue waktu makan malam," jelas Diandra dengan rasa ragu dan sedikit malu.
"Oh ... soal itu." Samuel tampak melengos sejenak, lalu mencondongkan wajahnya ke depan, lebih mendekat kepada Diandra. "Lo nggak usah GEER!" imbuhnya penuh penekanan pada kata terakhirnya.
Diandra membeliak kesal. "Gue GEER?" Ia menunjuk wajahnya sendiri dengan sedikit mencondongkannya ke depan hingga hanya tersisa jarak beberapa centimeter dengan wajah Samuel. "Mana ada!!" bantahnya.
"Lantas?" tanya Samuel seraya tersenyum getir, seolah tidak percaya dengan pernyataan Diandra.
Diandra menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, lalu melipat tangannya di atas dada.
"Gue heran saja, pasti lo punya alasan lain, sampai berani lakuin itu ke gue," ucapnya menduga, lalu kembali mencondongkan tubuhnya dengan melipat kedua tangannya di atas meja.
"Karena Renata, kan?" tanyanya seraya menatap penuh selidik, sontak membuat Samuel seketika terkejut, bagaimana bisa Diandra tahu soal itu? Pikirnya.
Samuel menetralkan kembali perasaannya, lalu bersikap sebiasa mungkin, berharap wanita di hadapannya tidak akan curiga.
"Kenapa tiba-tiba lo berpikiran seperti itu?" tanya Samuel seraya meautkan kedua alisnya.
"Dia mantan lo?"
Alih-alih Samuel mendapat jawaban, Diandra malah bertanya lebih lanjut, sontak membuat pria itu kesal, karena seolah tidak bisa mengalihkan apa yang ada dalam pikiran Diandra saat itu.
Samuel berdecak kesal, lalu melengos sejenak. "Dapat info dari mana lo?" tanyanya ketus.
"Hmm ... jadi benar dia mantan lo? Jadi, lo sengaja jadikan gue sebagai alat untuk membuatnya cemburu, begitu?" tanya Diandra seraya menatap sinis wajah Samuel. Ia langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Nggak asyik lo, Sam!" ketusnya, lalu beranjak dari tempat itu, sontak membuat Samuel terlonjak dan langsung berdiri.
"Ra!" panggilanya. Namun, Diandra tak peduli.
Aksi mereka langsung menjadi fokus perhatian yang lain. Samuel tampak merasa tidak enak hati, ketika tiba-tiba yang lain menatapnya penuh tanya.
"Sam, Diandra kenapa?" tanya Aretha heran.
Samuel hanya menanggapi dengan mengangkat kedua bahunya, seolah memberi isyarat bahwa ia juga tidak tahu. Dan sungguh, ia memang tidak memahami kenapa Diandra hingga marah seperti itu.
"Aargghh!" Samuel tampak frustrasi, ia mengacak rambutnya sendiri, lalu mengejar Diandra demi tidak terjadi kesalah pahaman yang lebih lanjut.
Sementara seorang waiter yang membawakan pesanan Diandra tampak bingung, karena Diandra tidak ada di tempat.
"Mbak, simpan saja di situ pesanannya," ucap Aretha yang menyadari.
"Oh iya, baik, Mbak," jawab waiter itu.
Waiter itu menuruti apa yang diminta Aretha untuk menyimpan pesanan di meja kosong itu. Tempat Diandra dan Samuel berada sebelumnya.
Seketika, Deasy tampak menghampiri meja Aretha. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya itu, maka ia berniat untuk menanyakan kepada Aretha, karena posisi Aretha memang paling dekat dengan Diandra.
"Re, Diandra kenapa?" tanya Deasy heran.
"Entahlah, Deas. Gue nggak tahu Samuel bikin ulah apa lagi" jawab Aretha.
"Ra, tunggu!" teriak Samuel memanggil Diandra. Namun, wanita itu sama sekali tidak peduli.
"Ra, ayolah ... please! Gue nggak bermaksud seperti itu," jelas Samuel yang sedari tadi mengekori Diandra.
Lagi-lagi Diandra hanya bergeming. Ia terus berjalan menghindari pria yang mengikuti di belakangnya.
"Ra!" kesal Samuel seraya menarik tangan Diandra, sontak membuat Diandra seketika berbalik dengan gerakan slow motion-nya, sehingga membuatnya secara tidak sengaja mengibaskan rambut panjangnya yang tergerai indah.
Namun, tidak dengan matanya yang sudah penuh dengan air mata. Samuel yang melihatnya langsung terkejut dan merasa bersalah karena telah membuat Diandra terluka, meski ia tidak ada niat sama sekali.
"Lo nangis, Ra?" tanya Samuel seraya memasang ekspresi memelas. "Sorry, Ra, gue nggak ada maksud buat jadikan lo alat atau apapun," imbuhnya menjelaskan.
"Sudahlah, Sam, lepasin gue! Gue mau sendiri." Diandra menarik paksa tangannya, sontak membuat tangan Samuel yang memang tidak begitu erat mencengkeramnya, langsung terlepas begitu saja.
Diandra melanjutkan kembali langkahnya. Bahkan, sedikit berlari. Sementara, Samuel tidak mau kalah. Ia terus mengejarnya.
"Ra, ayo dong ... kasih gue kesempatan buat ngomong," ucap Samuel memohon.
Diandra membalikkan badannya kembali, menghadap Samuel, dengan tidak menghentikan langkahnya. Ia rela berjalan mundur demi menghindari Samuel.
"Cukup, Sam! Jangan ganggu gue! Lo paham, kan?" tegas Diandra, lalu membalikkan kembali badannya dan berlari sekencang-kencangnya.
"Ra!" teriak Samuel.
***
"Iya, Mom, Terima kasih," ucap Diandra pada sang mami melalui saluran telepon, setelah maminya yang tidak sempat datang ke acara wisuda beberapa hari yang lalu, terdengar mengucapkan selamat atas kelulusannya.
Ia tampak duduk di atas hamparan pasir putih, dengan tempat yang jauh sekali dari keramaian. Bahkan, mungkin hanya ada dirinya di sana.
Ya, ia memang butuh waktu untuk menyendiri. melupakan sejenak tentang hal-hal yang membuatnya sedih dan terluka. Namun, di tengah isak tangisnya, tiba-tiba sang mami menelponnya.
"Iya, aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja, Mom," ucap Diandra kemudian.
"Baik, Mom. Bye!"
Diandra tampak melepas ponsel pintar itu dari telinganya. Pertanda bahwa sang mami telah mengakhiri obrolan.
"Bahkan, untuk sekadar mengucapkan selamat saja, mommy baru sempat hari ini, itupun hanya melalui telepon? Apa mereka tidak rindu sama aku?" keluh Diandra yang entah pada siapa. Ia masih memandangi layar ponselnya, lalu menggenggam erat benda pipih itu, sebagai pelampiasan kekecewaanya.
Diandra menangis sejadi-jadinya meratapi nasibnya yang memang tidak seberuntung ketiga sahabatnya, yang selalu berada di dekat kedua orang tua mereka, dan tidak pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya.
Berbeda dengan dirinya yang selalu merasa sepi dan sendiri. Bahkan, terkadang ia merasa tidak memiliki siapapun, tempat untuk mengadu akan semua luka yang pernah singgah di hatinya, karena sedari SMA ia memang sudah jauh dari kedua orangtuanya.
Diandra tidak lagi memiliki saudara dekat di kota itu. Yang ia miliki hanyalah ketiga sahabatnya, Aretha, Deasy dan Tania.
Di tengah kesedihannya, Diandra tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedarin awal memperhatikan kegiatannya. Ya, Samuel.
Secara diam-diam Samuel memang mengikuti Diandra hingga ke tempat itu. Ia tampak berdiri di belakang Diandra yang sedari tadi tengah menghadap ke laut.
Awalnya Samuel akan langsung menghampiri wanita itu. Namun, ketika ia mendengar Diandra yang tengah berbicara dengan seseorang melalui saluran telepon, ia memutuskan untuk menghentikan langkahnya, lalu memperhatikannya dari belakang.
Dan dari situlah ia mengetahui bahwa Diandra memiliki kesedihan lain, selain karenanya. Mendengar tangisan Diandra, Samuel memutuskan untuk menghampiri wanita itu di tengah isak tangisnya. Ia tampak duduk di samping wanita itu.
"Adakalanya kita harus berlapang dada, menerima apa yang sudah Tuhan gariskan untuk kita. Mungkin kali ini kita bukanlah orang yang beruntung. Tetap ikuti alurnya dan nikmati prosesnya. Boleh jadi, kita akan bahagia setelahnya," ucap Samuel seraya memandang ombak dilautan.
Kemunculan pria itu yang secara tiba-tiba membuat Diandra kaget, lalu dalam sekejap ia langsung menyeka air matanya.
"Ngapain lo di sini?" ketus Diandra seraya menoleh.