Possessive Love

Possessive Love
Berasa Tua



Seminggu telah berlalu.


Malam itu, tepat pukul 07.30. Selain kamarnya digunakan untuk melakukan aktivitas mengetik laporan tentang kegiatan selama magang, di perusahaan yang dipimpin oleh David, Aretha juga menggunakannya untuk memikirkan beberapa hal tentang sosok pria itu.


Waktu begitu cepat berlalu layaknya kereta yang datang dan pergi dengan begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia magang di tempat itu. Kini, tinggal menunggu hari untuk ia menyelesaikan kegiatan tersebut.


Sesekali gadis itu tersenyum, tatkala mengingat tingkah konyol yang dilakukan oleh David terhadapnya, selama magang.


Entah kenapa hal-hal yang sebelumnya membuat ia jengkel dan menyebalkan, tiba-tiba berubah menjadi hal yang lucu dan mengesankan.


Meski pria itu belum pernah menyatakan langsung tentang perasaannya terhadap gadis itu, tetapi ia kerap kali menunjukkan perhatiannya melalui sikap. Namun, tetap saja itu tidak lantas membuat Aretha sadar bahwa pria itu menaruh perasaan terhadapnya.


"Setelah magangku selesai, pasti gak akan ada yang ngerecokin hidup aku lagi, tapi aku pasti bakal kangen lihat tingkah konyol pak David," ucap Aretha seraya menyunggingkan senyum lebarnya sembari menggelengkan kepala.


"Soal perjodohan itu ... apa dia benar-benar ingin menyetujuinya?" Gadis itu tampak bermonolog. "Tapi atas dasar apa dia harus setuju, sementara aku gak tahu perasaan dia yang sebenarnya ke aku seperti apa," imbuhnya seraya berpikir.


Seketika suara telepon membuyarkan lamunan gadis itu. Ia sedikit menghela napas, lalu segera menerima panggilan yang tak lain dari David.


"Hallo, Pak!" sapa Aretha.


"Kamu lagi apa?" tanya David.


"Lagi napas," jawab Aretha asal.


"Sambil memikirkanku?" tanya David yang sontak membuat gadis itu sedikit menahan tawa. Tak menyangka tebakan David tepat pada sasaran.


"Atas dasar apa saya harus memikirkan Bapak?" ujar Aretha.


"Apakah segala sesuatu harus ada alasannya?" tanya David.


"Menurut saya, sih begitu."


"Lantas, kamu tidak memiliki alasan sedikitpun untuk memikirkanku?" tanya David ingin tahu.


"Hmmm ...." Aretha tampak berpikir sejenak. "Klo ternyata alasan saya karena ingin membunuh Bapak, gimana?" tanyanya.


"Bunuh saja, itu akan jauh lebih baik!" sinis David, sontak membuat gadis itu terkekeh.


"Jadi, Bapak ada perlu apa?" tanya Aretha penasaran.


"Apa aku telepon harus karena ada perlu saja?" tanya David kesal.


"Ya ... bukan begitu juga. Saya lagi membuat laporan," jelas Aretha.


"Bilang saja kalau aku ganggu!" ketus David.


"Nah, itu Bapak paham," sindir gadis itu.


"Heran ya, kamu itu enggak pernah ada manis-manisnya sama aku," keluh David.


"Jangan, Pak, karena yang manis itu terkadang lebih menyakitkan."


"Laporan apa, sih? Perasaan hari ini aku enggak kasih kamu pekerjaan dadakan?" David tampak penasaran.


"Laporan magang saya, Pak. Jadwal magang saya di perusahaan


Bapak, kan, tersisa dua hari lagi. Jadi, saya sudah menyiapkan laporannya," terang Aretha yang sontak membuat David seketika terbatuk-batuk.


"Bapak sedang sakit?" tanya Aretha, setelah mendengar David batuk.


"Ti-tidak!" jawab David sedikit terbata. "Dua hari lagi ya?" tanyanya.


"Hmmm."


David terdiam beberapa detik. Sebagaimana yang dilakukan David. Gadis itu pun ikut terdiam. Ia merasa bingung, entah apalagi yang harus dibahas.


Karena merasa takut mengganggu Aretha, setelah beberapa menit David mengakhiri teleponnya, sementara gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya.


***


"Karena besok adalah hari terakhir saya. Jadi, saya sudah menyelesaikan semua tugas saya sebagai sekretaris Bapak, berikut laporan yang Bapak butuhkan sudah saya kirim ke email Bapak," jelas Aretha yang kala itu tengah duduk di kursi yang berada di ruangan David. Mereka tampak duduk berhadapan, hanya terhalang sebuah meja kerja milik pria itu.


"Mmm ... Apa Bapak sudah menentukan, siapa yang akan menjadi sekretaris Bapak, setelah saya kembali ke kampus?" tanya Aretha yang sontak membuat lamunan pria itu ambyar seketika.


David hanya menggeleng menanggapinya.


"Biar saya bisa mengkonfirmasi tentang schedule Bapak," terang Aretha.


"Mungkin besok," singkat David.


Aretha tampak mengangguk. " Baiklah," ucapnya, lalu menyodorkan sebuah laporan kepada David.


"Ini laporan magang saya. Saya butuh tanda tangan Bapak," ucap gadis itu meminta tolong.


Tampak raut kekecewaan di wajah David. Kenapa waktu berlalu begitu cepat hingga ia harus melepaskan Aretha disaat ia belum mendapatkan hatinya.


Dengan sedikti rasa ragu, David tampak memeriksa laporan tersebut dan menandatanganinya. Pria itu lalu menatap Aretha kembali, sebelum menyerahkan laporan itu kepada pemiliknya.


"Apa tidak ada yang mau kamu sampaikan, sebelum kamu pamit?" tanya David terdengar sedikit ragu.


"Pasti ada, tapi tidak sekarang," jawab Aretha polos.


"Kalau aku minta sesuatu, boleh?" tanya David sedikit memberi jeda. "Dan ini permintaanku untuk yang ke sekian kalinya," imbuh pria itu sedikit memelas.


"Apa?" tanya Aretha singkat. Namun, ekspresinya datar.


"Tolong jangan panggil aku seperti itu. Kamu bisa, kan, untuk tidak terlalu formal, ketika ngobrol sama aku?" pinta David yang sontak membuta gadis itu sedikit termangu.


"Lantas, saya harus panggil apa? Apa ada panggilan yang lebih terhormat untuk seorang atasan, selain itu?" tanya Aretha yang sontak membuat David seketika berdecak kesal.


"Dengan Richard dan Rendy, kamu bisa lebih santai, kenapa denganku tidak?" David tampak membandingkan.


"Ya bedalah, Pak, mereka bukan atasan saya," ujar Aretha.


"Susah ya menghadapi orang yang keras kepala macam kamu!" ketus David.


"Maksudnya saya harus panggil kakak, gitu?" tanya Aretha sedikit terkekeh. Entah kenapa panggilan itu justru terasa aneh baginya, jika diberikan kepada David.


"Kok aneh ya kedengarannya?" ucap David seraya ikut terkekeh. Ternyata mereka berdua memiliki pemikiran yang sama.


"Nah, makanya saya pikir panggilan bapak lebih cocok," ledek Aretha.


"Aku berasa tua dipanggil itu!" protes pria itu.


"Nyatanya, Bapak memang lebih tua dari saya, Kok," sindir Aretha. Pria itu tampak melengos kesal. "Saya hanya menjaga profesionalisme saja, sih," imbuh gadis itu.


"Hanya ketika berdua saja, lagian satu hari lagi, aku juga sudah bukan atasan kamu lagi," jelas David.


"Semua karyawan di sini panggil Bapak seperti itu, Bapak tidak pernah masalah, kenapa tiba-tiba saya dipermasalahkan?" tanya Aretha.


Seketika David tampak membeliak, sedikit geram dengan ucapan gadis itu. Bagaimana bisa gadis itu tidak memahami maksud dari ucapanya.


"Karena ... ah, sudahlah, lupakan ucapanku yang barusan!" ketus David.


"Bilang saja karena aku ini istimewa, susah amat!" Batin Aretha menggerutu.


"Itu laporan kamu. Belajarlah dengan baik!" ucap David mengingatkan seraya memberikan laporan milik Aretha.


"Terima kasih, Pak," Aretha tampak berdiri dari tempat duduknya. "Mm ... untuk permintaan Bapak barusan, akan saya pikirkan nanti, setelah saya benar-benar sudah menyelesaikan tugas saya di perusahaan ini. Itu pun jika kita masih dipertemukan kembali, setelah ini," jelasnya kemudian, sontak membuat David sedikit menerbitkan senyumnya.


"Baiklah, saya permisi," pamit Aretha, lalu beranjak dari ruangan itu.


"Kita pasti dipertemukan kembali. Aku yakin!" David tampak memandang pintu ruangan itu hingga tertutup rapat, lalu menenggelamkan sosok yang sangat ia dambakan.


_______________


HAPPY READING!


AKU AKAN LEBIH SEMANGAT NULISNYA KALAU KALIAN BISA MERAMAIKAN KOLOM KOMENTAR DAN KASIH KRISAN.👇👇👇😅