
Keesokan paginya, David telah berada di depan rumah Aretha. Seketika Aretha dibuatnya terkejut, bagaimana bisa David tiba-tiba berada di rumahnya, sementara ia tahu bahwa pria itu sedang berada di Bali.
Pria itu tampak tengah duduk di kursi rotan yang terletak di depan rumah Aretha. Setelah beberapa menit ia menunggu, Aretha pun datang menghampirinya.
"Mas, kamu kok?" Aretha tampak mengerutkan dahinya merasa heran, lalu duduk di kursi yang lainnya.
David menoleh sembari tersenyum. "Aku pulang tadi malam," jawabnya.
Aretha mengangguk paham. "Semalam aku telepon, kenapa tidak diangkat?" tanyanya.
David terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menjawab. "Maaf, Sayang ... ada sedikit problem, jadi aku tidak bisa terima telepon dari kamu. Setelah itu, aku langsung siap-siap untuk pulang dan tidak sempat menghubungimu kembali," jelas David. Lagi-lagi Aretha hanya menganggukkan kepala sebagai tanggapan.
Tak berlangsung lama, Aretha segera mengajak sang kekasih untuk segera berangkat, setelah berpamitan kepada orangtuanya. David pun mengiyakan dan segera melajukan mobilnya membelah jalan raya yang sudah dipadati oleh beberapa kendaraan.
Tak banyak yang mereka bahas, ketika berada di dalam mobil. Setelah setengah jam, akhirnya mereka telah tiba di kampus, dimana Aretha kuliah di sana.
Seperti biasa, David mengantar Aretha hingga ke halaman kampus, dimana para mahasiswa dan dosen menggunakan tempat itu sebagai area parkir kendaraan beroda empat. Pria itu tampak tergesa turun dari mobilnya, lalu membukakan pintu untuk sang kekasih, sebelum Aretha berhasil melakukannya.
Dengan sedikit ragu dan canggung, Aretha menerbitkan senyumnya, lalu turun dari mobil itu. Namun, baru saja pintu mobil itu ditutup kembali oleh David, tiba-tiba salah satu gadis yang diduga mahasiswa di kampus itu tampak menghampiri Aretha.
Perhatian David teralihkan, tatkala gadis itu memberikan setangkai bunga mawar kepada Aretha. Aretha pun sedikit termangu, tidak mengerti maksud gadis itu. Terlebih Aretha tidak mengenalnya.
"Mbak—"
Belum sempat Aretha bertanya, gadis itu telah berlalu pergi dari hadapannya. Ia menoleh ke arah David yang masih berdiri di sampingnya. Namun, baru beberapa detik datang lagi gadis lain yang menghampirinya dan ia masih tidak mengenal gadis itu.
Gadis itu memberikan setangkai bunga mawar lagi dengan warna yang berbeda, yaitu putih. Aretha semakin dibuatnya termangu dengan semua itu. Bahkan, kedua gadis itu tidak mengatakan apapun terhadapnya.
"Kalian?"
Disusul kembali dengan bunga-bunga mawar yang lainnya, hingga ia mendapatkan tujuh bunga mawar dengan warna yang berbeda dari orang yang berbeda pula.
Aretha sudah memegang ketujuh bunga itu. gadis itu sedikit menciut menatap David yang kala itu masih sibuk memerhatikannya dengan rasa curiga.
Terakhir, tampak seorang gadis menghampirinya lagi dan masih tidak dikenalnya. Entah orang-orang itu berasal dari fakultas apa sehingga wajahnya begitu asing bagi Aretha.
Gadis itu tidak membawa setangkai bunga mawar, melainkan ia membawa sebuah kartu kecil, lalu memberikannya kepada Aretha. Dengan perasaan ragu Aretha meraih kartu itu. Gadis itu segera beranjak dari hadapan Aretha, setelah menyelesaikan tugasnya.
"Tunggu!" panggil Aretha. Namun, tak ditanggapi oleh gadis itu.
Dengan perlahan, Aretha mencoba membuka kartu itu, barangkali ia akan menemukan jawaban atas pertanyaannya saat itu. Namun, dengan sigap David segera mengambil kartu itu dari tangannya, sebelum Aretha berhasil membukanya.
David tampak membuka kartu itu, lalu membaca isinya.
...
...
Seketika David meremas kartu ucapan itu, sebelum Aretha mengetahui isinya. David tampak menunjukkan ekspresi geram, lalu mengepalkan kedua tangannya.
Aretha menoleh ke arah David. Seketika gadis itu dibuatnya takut akan ekspresi sang kekasih saat itu. Pasti ada sesuatu yang telah membuatnya marah. Namun, entah itu apa? Batin Aretha mulai bertanya-tanya.
Tak lama, Samuel menampakkan diri di hadapan mereka. Pria itu tampak berdiri sekitar lima meter dari kedua pasangan kekasih itu. Sepertinya pria itu memang sengaja ingin memanas-manasi David kala itu. Terlebih ia juga tidak mau kalah dari David. Meski David sudah berstatus sebagai kekasih Aretha. Namun, itu tak lantas membuat Samuel menyerah.
David yang kala itu menyadari keberadaan Samuel, segera melangkahkan kaki dengan tangan masih dikepalnya, berniat menghampiri Samuel. Namun, secepat kilat Aretha meraih tangan David sehingga membuat pria itu menoleh, lalu menghentikan langkahnya.
Aretha nenggelengkan kepala seolah memberikan bahasa isyarat untuk tidak melakukan hal buruk terhadap Samuel. Walau bagaimanapun, Aretha tidak ingin David terlihat rendah di hadapan orang lain, terlebih lagi hingga berkelahi dengan Samuel hanya karena masalah sepele. Ah, sangat memalukan jika itu sampai terjadi.
Ya, sepele. Itu menurut Aretha, tetapi tidak bagi David. Usaha Samuel yang seakan ingin sekali menunjukkan sebagai pria yang gentleman di depan mata kepalanya sendiri, justru membuat David semakin merasa khawatir.
Jika di hadapannya saja, Samuel bisa bertingkah seberani itu. Lantas, bagaimana jika mereka hanya berdua saja, tanpa sepengetahuannya? Bagaimana pula jika suatu saat Aretha merasa terkesan akan usaha Samuel? Pikir David.
"Tenang David, jangan mau kalah oleh bocah itu. Yakinlah bahwa Aretha hanya tercipta untukmu," bisik David dalam hati.
David menoleh sejenak ke arah Samuel, lalu memfokuskan kembali pandangannya kepada Aretha, tangannya bergerak mengapit kedua pipi gadis di hadapannya.
Deg!
Jantung Aretha dibuatnya berdegup kencang karena ulah sang kekasih. Aretha memang menyukai setiap perlakuan manis David terhadapnya. Namun, tidak di lingkungan kampus juga.
Seketika pipi gadis itu memerah, bola matanya nampak membulat, mengedarkan pandangan ke beberapa arah, mencari siapa saja yang tengah menyaksikan adegan romantisnya dengan sang kekasih. Untung saja tempat itu tampak sepi, sudah bisa dipastikan tidak ada orang lain yang melihatnya, kecuali Samuel.
"Sayang, aku pergi dulu ya, kamu jaga diri baik-baik, jika ada yang mengganggumu, tolong kasih tahu aku secepatnya," ucap David seraya menatap dalam wajah Aretha, lalu mendelik ke arah Samuel sejenak, sementara Samuel yang sedari tadi memerhatikannya tampak tersenyum getir, seolah tidak suka.
Aretha tersenyum, meski sebenarnya ia merasa malu. "Iya. Kamu juga hati-hati, Mas," ucapnya seraya menganggukkan kepala yang langsung membuat David melebarkan senyumnya.
Melihat keromantisan pasangan kekasih itu membuat Samuel seketika naik pitam. Hatinya seolah terbakar api cemburu. Namun, bukan Samuel namanya jika tidak bisa menyembunyikan rasa itu dengan tetap tampil elegan. Samuel hanya menyeringai, menatap keduanya.
"Sayang, sepertinya kamu kesulitan membawa bunga-bunga ini," ujar David seraya memegang tujuh bunga yang masih berada dalam genggaman kekasihnya.
Aretha melirik sejenak bunga-bunga itu, lalu mendongak kembali. ,"Hn?" Aretha memasang ekspresi datar.
"Sini, biar aku bantu!" ujar David menawarkan, lalu menyeringai senang.
Aretha yang nampak polos segera memberikan bunga-bunga mawar itu kepada David. David mengambilnya dengan kedua tangannya, lalu saat itu juga ia membawa ketujuh bunga itu ke sebuah tong sampah yang berada di area tersebut.
Tanpa rasa ragu, David membuang bunga-bunga itu di depan Aretha dan Samuel yang sontak membuat Aretha membeliak tidak percaya. Seketika Aretha dibuatnya memberengut.
Walau bagaimanapun Aretha merasa tidak enak hati kepada Samuel. Apa David tidak bisa membuangnya di tempat lain saja, tidak harus di depan Samuel juga, pikirnya.
Berbeda dengan Aretha. Samuel terlihat lebih santai dengan apa yang baru saja ia saksikan. Pria itu tidak peduli dengan ketujuh bunga mawar yang dibuang oleh David di hadapannya sendiri. Justru membuat David cemburu terhadapnya, itu sudah jauh lebih daripada cukup bagi seorang Samuel Benedict.
_______________
Jangan lupa komentar lagi ya .. 🙏
Thanks yang selalu setia menunggu, saranghaeyo🥰
HAPPY READING!