Possessive Love

Possessive Love
Akhlak Less



"Kamu sudah selesai, Re?" Suara bariton seketika mengejutkan mereka sehingga membuat ketiganya menoleh.


Tampak David tengah berdiri di sana. Dengan sigap Rangga dan Diandra menyapa pria itu, lalu mereka segera pamit kepada pria itu karena merasa tidak enak hati. Mereka paham betul bahwa David ada keperluan kepada Aretha yang entah itu terkait pekerjaan atau bukan.


"Apa masih ada yang harus saya kerjakan, Pak?" tanya Aretha memastikan.


"Ayo pulang!" ajak David.


"Loh, saya sudah meminta pak Iman untuk jemput saya, Pak," terang Aretha.


"Cancel saja!" titah David seenaknya.


"Mana bisa begitu, pak Iman pasti sudah di jalan," rengek Aretha.


"Aku tunggu di mobil!" tegas David tidak mau tahu, lalu berjalan keluar kantor lebih dulu.


"Ish, heran deh, apa-apa sukanya seenak jidat," gerutu Aretha memasang ekspresi kesal.


Dengan terpaksa Aretha menghubungi kembali sopir pribadinya itu, lalu meminta Iman untuk tidak perlu menjemputnya.


Aretha tampak berjalan keluar dan menghampiri mobil David yang sudah terparkir di halaman kantor. Lantas, gadis itu mengetuk pintu mini cooper itu dan David pun membuka kuncinya.


Dengan ekpsresi yang masih kesal, Aretha tampak masuk ke dalam mobil tersebut, lalu duduk dengan wajah yang sedikit ditekuk.


"Kenapa? Kamu keberatan pulang denganku?" tanya David seraya menoleh.


"Tidak perlu saya jawab! Saya rasa Bapak juga tidak akan peduli dengan jawaban saya!" ketus Aretha.


David tampak menaikkan alisnya. "Baguslah kalau kamu paham," ucapnya yang sontak membuat Aretha semakin geram. Namun, gadis itu masih bisa menjaga sikap untuk tidak melampiaskannya.


David segera melajukan kendaraanya dengan kecepatan sedang menembus jalanan yang sibuk dengan lalu lalang kendaraan. Suara klakson kendaraan yang terdengar gaduh, cukup mengganggu pendengaran mereka berdua.


Aretha tampak mengedarkan pandangan ke luar jendela mobil. Ya, sama halnya dengan hari-hari sebelumnya. Sejauh mata memadang, nampaknya kemacetan telah dimulai sehingga membuat David secepat kilat menekan pedal rem pada mobilnya.


"Kenapa harus lewat sini, sih?" protes Aretha yang sontak membuat David menoleh sejenak.


"Protes saja bisanya!" sindir David seraya kembali memalingkan pandangannya dari gadis itu.


"Sebelumnya saja biasa melewati jalan lain, kenapa sekarang harus lewat sini, kejebak macet kan jadinya," gerutu Aretha kesal.


"Aku ada perlu ke sesuatu tempat, jadi terpaksa harus lewat sini," terang David yang sontak membuat Aretha seketika memberengut.


"Tahu gitu, tadi aku pulang dengan pak Iman saja," keluh Aretha.


"Keberatan? Kalau keberatan, turun saja di sini!" ketus David. Namun, tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya.


Seketika Aretha naik pitam. "Memangnya siapa yang nyuruh Bapak nganterin saya pulang? Kalau bukan karena Bapak yang memaksa, saya juga tidak mau!" geramnya.


"Kalau tidak mau turun di sini, ya sudah nurut saja, apa susahnya?" David tampak tidak peduli dengan emosi yang tengah membuncah pada gadis itu.


Menyebalkan! Kak Richard mana berani memperlakukanku kayak gitu. Ya Tuhan, kenapa aku harus dipertemukan dengan orang yang akhlak less model begini, sih?


"Oh ya, aku mau tagih janji kamu untuk tidak memanggilku dengan sebutan itu, karena aku tidak suka, dan alasan utamanya adalah karena aku ini bukan bapakmu!"


"Suka-suka saya!" ketus Aretha sengaja membalas pria itu, sontak membuat David mempertajam tatapannya hingga membuat gadis itu seketika menciut kembali.


Hening.


Mereka tampak terdiam, tak lagi melanjutkan pembahasan. Aretha membuang kembali pandangannya ke luar jendela mobil. Ia mendengus kesal, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil.


Ditengah-tengah kekesalannya karena harus menghadapi kemacetan. Lagi-lagi David membuatnya semakin merasa kesal. Pria itu sungguh telah membuatnya naik darah seketika.


Hal yang paling menyebalkan lagi adalah ia tidak bisa melampiaskan kekesalannya di depan pria itu. Walau bagaimana pun gadis itu masih menghargai David sebagai atasannya, meski tidak banyak. Akhirnya ia pun memutuskan untuk lebih bersabar menghadapi pria itu.


Pria itu tampak menyetel sebuah lagu band legendaris The Carpenters yang berjudul Close to You. Paling tidak lagu yang dirilis pada tahun 1970 itu bisa menghilangkan kejenuhan disaat macet seperti itu. Dan benar saja, Aretha cukup menikmati lagu tersebut.


On the day that you were born the angels got together.


And decided to create a dream come true.


So they sprinkled moon dust in your hair of gold and starlight in your eyes of blue


That is why all the girls in town


Follow you all around


Just like me, they long to be


Gadis itu tampak begitu mengahayati, ketika mengikuti lantunan lagu itu sehingga membuat David seketika mengalihkan perhatian terhadapnya.


"Kamu suka lagu ini juga?" tanya David seraya menatap gadis itu.


Aretha mengangkat punggungnya dari sandaran jok, lalu menoleh ke arah David. "Suka," jawabnya singkat.


"Jarang loh gadis seusia kamu yang suka lagu lawas kayak gitu," ujar David.


"Itu karena mami yang suka banget lagu-lagu lawas, termasuk lagunya The Carpenters. Aku jadi menyukai lagu itu karena sudah terbiasa mendengarnya," jelas Aretha. David hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala.


"Besok kamu mulai masuk kuliah lagi?" tanya David, setelah beberapa detik.


"Minggu depan," jawab Aretha.


Mereka tampak mengakhiri perbincangan hingga kemacetan itu teratasi. David kembali melajukan mobilnya melewati jalanan yang sudah nampak lengang dari kendaraan.


***


"Apa? sepuluh panggilan tak terjawab dari kak Richard?" Gadis itu tampak membelalakkan mata, ketika mendapati sepuluh panggilan dengan nama kontak Richard pada layar ponselnya.


Kala itu ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk. Ya, gadis itu beru saja melakukan ritual membersihkan badannya.


Aretha segera menggeser screen lock pada ponselnya, lalu membuka pesan whatsapp yang di kirim oleh Richard.


Kak Richard : Kamu sudah tidur?


Baru saja Aretha akan membalas pesan tersebut. Namun, Richard telah lebih dulu meneleponnya. Gadis itu tampak berdiam sejenak, berpikir apa harus menerima panggilan itu atau malah membiarkannya. Akan tetapi, Richard sudah terlanjur mengetahui bahwa ia telah menerima dan membaca pesan whatsapp dari pria itu.


Setelah berpikir sedikit panjang, gadis itu pun memutuskan untuk menerima telepon dari Richard, mencoba menghindari hal-hal yang membuat pria itu curiga terhadapnya.


"Hallo, Kak!" sapa Aretha, setelah berhasil menerima telepon dari Richard. Ia tampak menempelkan ponselnya pada telinga.


"Hallo, Re, aku ganggu kamu?" Suara di seberang sana.


Aretha terdiam sejenak. "Aku baru selesai mandi, maaf telat angkat telepon dari kamu," jawab Aretha.


"Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah mengganggu kamu," lirih Richard. "Kamu baru pulang kerja?" tanyanya.


"Iya, Kak, tadi kejebak macet, jadi pulang malam, belum lagi harus menemani pak David makan dan beli buku. Ada apa?" tanya Aretha penasaran. Namun, tidak langsung mendapat jawaban dari Richard.


"Kak?" panggil Aretha setelah beberapa detik Richard terdiam.


"Iya."


"Ada perlu apa?" tanya Aretha.


"Enggak ada apa-apa," jawab Richard seraya terdiam sejenak. "Bagaimana kamu sama Dave?" tanyanya ingin tahu.


"Masih seperti sebelumnya," jawab Aretha sedikit ragu.


"Aku masih menunggu jawaban dari kamu loh, Re," imbuhnya yang sontak membuat Aretha seketika terkejut.


"Jawaban apa?" tanya Aretha pura-pura tidak paham, padahal ia tahu betul maksud dari ucapan Richard.


Gadis itu memang belum memberikan jawaban atas Pertanyaan Richard tentang perasaannya terhadap pria itu. Ia sendiri bingung harus jawab apa. Meski pria itu sudah lama ia lupakan. Namun, sampai detik ini memang belum ada pria lain yang mengambil alih tempat di hati gadis itu.


Walau bagaimana pun ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Richard atas kenangan pahit yang ia terima dua tahun yang lalu. Sejatinya, itu semua terjadi bukan atas kehendak mereka berdua, baik Richard atau pun Aretha, melainkan karena semesta yang belum mendukung untuk mereka bersama.


"Apa besok kamu ada waktu?" tanya Richard yang sontak membuat Aretha sedikit terkesiap.


"Hh?"


"Aku ingin sekali bertemu," lirih Richard.


"Mungkin lusa," jawab Aretha.


"Baiklah, aku tunggu."


"Ya," ucap Aretha singkat.


_________


HAPPY READING!