Possessive Love

Possessive Love
Cemburu



Ternyata benar apa yang dikatakan David. Malam itu Aretha merasa kesulitan untuk memejamkan mata. Kejadian beberapa jam lalu yang terekam jelas di otaknya, selalu saja mengganggu pikiran gadis itu.


David yang romantis. Sungguh dunianya seakan jungkir balik lagi seolah kembali ke masa-masa dengan Richard dulu. Seketika ia mengingat sosok pria itu. Pria yang dulu selalu memperlakukannya dengan lembut dan selalu memberikan hal-hal yang membuatnya merasa menjadi seorang ratu.


Namun, kini ia mendapatkan perlakuan itu dari orang yang berbeda. Bahkan, David melakukan lebih dari yang sekadar Richard lakukan untuknya. Meski pria itu terkesan sedikit diktator, tetapi itu cukup mengesankan baginya dan tidak mudah untuk dilupakan begitu saja.


Kejadian itu membuat Aretha seketika menjadi gila. Ia tampak senyum-senyum sendiri sembari menatap langit-langit kamarnya yang seakan berubah menjadi bayangannya bersama David, ketika di rooftop itu.


Sesekali gadis itu menutup wajahnya dengan tangannya sendiri atau bahkan dengan selimut yang sudah menutupi sebagian tubuhnya. Ia seolah merasa malu sendiri membayangkan akan hal itu.


"Itu artinya, mulai malam ini aku sudah bukan jomblo lagi," lirihnya polos, lagi-lagi tersenyum tidak waras, lalu menutupkan selimut itu ke wajahnya. "Mas David ...," gumamnya, ketika tubuhnya sudah tertutup sempurna oleh selimut itu.


Belum selesai ia membayangkan akan keindahan malam itu baginya, tiba-tiba dering ponsel membuatnya tersentak, lalu dengan seketika menghentikan aksi gilanya di dalam selimut berwarna putih itu.


"Siapa sih, telepon malam-malam begini?" gerutunya seraya membuka selimut itu dari wajahnya, lalu meraba nakas, mengambil benda pipih yang seolah sudah tidak sabar untuk diraihnya.


Aretha tampak membeliak, setelah melihat nama my crazy boss terpampang jelas di layar ponselnya. "Mas David?" ucapnya kaget.


Gadis itu masih terdiam, tidak langsung menerima panggilan dari pria yang telah menjadi kekasihnya itu. "Aduh ... angkat jangan, ya?" Ia tampak bermonolog. "Kalau aku angkat, nanti ketahuan kalau aku tisak bisa tidur, tetapi kalau tidak diangkat ... kok, aku pengen dengar suaranya, ya?" imbuhnya seraya membuat pipinya merah sendiri.


Gadis itu tampak bingung untuk memutuskan. Ia pun masih terdiam, menolak ataupun menerima panggilan itu tak lantas ia lakukan sehingga membuat dering ponsel itu mati dengan sendirinya.


"Yaah ... mati," ucapnya menyesal seraya mengerucutkan bibirnya. Namun, belum genap satu menit, ponsel itu kembali berdering yang sontak membuat Aretha kembali tersenyum semringah. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera menerima panggilan itu.


"Hallo, Mas!" sapa Aretha dengan nada yang sengaja terdengar serak, berharap David akan menyangka bahwa dirinya baru saja bangun tidur.


"Gak usah diserak-serakin kayak gitu, aku tahu sebenarnya kamu belum tidur, kan?" jawab David yang seketika membuat Aretha kesal. Teryata usahanya sia-sia, ia memang tidak begitu pandai dalam hal berakting, terlebih lagi di hadapan David.


"Kamu kok tahu, sih?" Aretha tampak memberengutkan wajahnya.


Seketika terdengar jelas embusan napas pria itu di telinga Aretha. "Karena aku juga sama, tidak bisa tidur," jawab David.


"Kenapa?"


"Mikirin kamu." Aretha kembali mengulas senyumnya, mendengar David mengatakan hal itu.


"Pantas saja kupingku serasa panas!" ketus Aretha asal bicara.


"Haiish, aku hanya memikirkanmu, bukan membicarakanmu!" sergah David yang sontak membuat Aretha terkekeh.


"Apa yang kamu pikirkan tentangku?" tanya Aretha penasaran.


"Banyak," jawab David singkat.


"One of them?"


"Mm ... about your body, your smile and your lips. Kayaknya nyaman saja kalau bisa tidur sambil peluk dan ci—"


"STOP!" Aretha tampak menghentikan ucapan David, tatkala ia mendengar apa yang semetinya tidak diucapkan pria itu. "JANGAN DITERUSKAN!" imbuhnya penuh penekanan, sontak membuat David terkekeh.


"Kenapa, Sayang?" ucap David menggoda.


"Aku heran, beruang kutub macam kamu ternyata punya otak mesum juga!" ketus Aretha.


"Beruang kutub? Kamu mengataiku beruang kutub, ha?" geram David.


"Bukan sekadar mengatai, tetapi menobatkan!" tegas Aretha.


"Mas itu mau ngapain, sih, telepon tengah malam begini?" tanya Aretha ingin tahu.


"Tadi aku lupa bilang. Besok pagi aku harus berangkat ke luar kota. So ... maaf, sepertinya aku tidak bisa antar jemput kamu ke kampus," terang David. "Tidak apa-apa, kan?" imbuhnya.


"Tidak, Mas. Sekali pun kamu tidak harus pergi ke luar kota, kamu tidak perlu repot antar jemput aku, fokus saja dengan kerjaan kamu," jawab Aretha tidak merasa keberatan.


"NO! Aku tidak akan membiarkan pria lain yang melakukannya, termasuk bocah sableng itu!" cetus David yang seketika membuat Aretha kembali terkekeh, masih ingat saja ia dengan Samuel.


"Dia punya nama. Namanya Samuel," ucap Aretha memberi tahu.


"Aku tidak peduli siapa nama dia. Yang aku peduliin itu kamu, bagaimana caranya agar dia tidak terus-terusan mendekati kamu!" tegas David.


"Lho, siapa bilang dia mendekatiku?" tanya Aretha heran, dari mana David tahu soal itu?


"Memangnya aku tidak mendengar pembicaraan kalian waktu itu? Aku tahu dari tatapan dia ke kamu, aku yakin itu!" jelas David yang seketika membuat Aretha menghela napas panjang. Bahkan, tentang Samuel saja dia mengetahuinya, padahal baru bertemu satu kali dengannya.


"Kamu besok pergi dengan siapa?" tanya Aretha mengalihkan pembicaraan.


"Alivia," jawab David singkat yang seketika membuat Aretha memberengut.


Kenapa haru mbak Alivia, sih? Memangnya tidak ada yang lain?


Setelah David, kini Aretha mulai kesal atau bahkan merasa cemburu karena sang kekasih harus pergi ke luar kota bersama wanita lain yang tak lain adalah sekretarisnya.


"Berdua saja? Pulangnya kapan?" cerocos Aretha.


"Iya. Mungkin lusa aku baru pulang," jawab David singkat.


"Apa nginap? Kamu nginap berdua saja gitu sama mbak Alivia?" Hardik Aretha seraya membulatkan matanya. Seketika pikiran buruk mulai merasuki otaknya.


David terdengar tertawa kecil. "Kamu kenapa, sih?" tanyanya heran. "Tenang saja, aku akan menjaganya untuk kamu, Sayang," godanya kemudian yang seolah menyadari bahwa Aretha tengah mencemburuinya. Namun, Aretha hanya berdecak kesal.


"Ya sudah, kamu tidur sana! Pastikan besok kamu berangkat dan pulang dengan pak Iman, bukan pria lain!" tegas David.


"Kamu saja pergi dengan wanita lain, kok," bisik Aretha kesal. Namun, bagaimana pun David masih bisa mendengarnya.


Tentu saja itu membuat Aretha sedikit kecewa. Disaat ia tidak diperbolehkan untuk dekat-dekat dengan pria lain, David malah sebaliknya. Dengan santai ia ingin memboyong sekretaris cantiknya itu ke luar kota, menginap pula.


Wajar saja jika Aretha berpikiran yang tidak-tidak, ketika mendengar bahwa mereka akan menginap di sana. Meskipun mereka akan tidur di kamar berbeda, tetapi tidak menutup kemungkinan, sesuatu hal buruk bisa saja terjadi.


"Aku janji, aku tidak akan membuatmu kecewa," lirih David.


"hmm ...."


"Well, kamu tidur yang nyenyak. Kalau masih tidak bisa tidur, kamu sebut saja namaku," ucap David yang sontak membuat Aretha seketika menahan senyumnya.


"Buat apa? Tidak akan berpengaruh juga!" ketusnya berpura-pura.


"Paling tidak, kamu akan merasa bahwa aku selalu ada di dekat kamu," goda David yang langsung membuat Aretha semakin melebarkan senyumnya.


________________


HAPPY READING!