
"Oh ya?" Rendy nampak tidak yakin. "Apa itu?" tanyanya.
Bukan hanya Aretha dan Rendy, nampaknya Richard juga penasaran akan ucapan David. Mereka bertiga terdiam, menunggu jawaban dari pria itu. David memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia kenakan.
Sembari berdiri tegak, pria itu menjawab, "Sebagai calon tunanganku!"
Jleb!
"Bukan begitu, Sayang?" tanyanya seraya menoleh kepada gadis di sampingnya.
Bukannya menjawab, Aretha malah membulatkan matanya. Sungguh sulit dipercaya jika David akan seberani itu di depan Richard dan Rendy. Bahkan, sejujurnya Aretha masih belum meresmikan hubungan mereka, meski kedua orangtuanya telah merestui.
Sekalipun gadis itu telah menyetujui perjanjian yang dibuat oleh David, itu hanya karena sebuah keterpaksaan. Dalam hatinya, ia sama sekali belum menerima perjodohan itu.
Richard menatap gadis itu dengan penuh tanya. Ia seolah menuntut pernyataan langsung dari gadis itu. Namun, seketika gadis itu menciut. Ia memundukkan kepala karena tidak tahan dengan tatapan pria di hadapannya yang begitu menusuk.
Pernyataan David sungguh membuat gadis itu dilema. Ia bingung entah harus membenarkan pernyataan itu atau malah sebaliknya.
Meski gadis itu tahu bahwa Richard bukanlah lagi kekasihnya, tetapi entah kenapa ia seperti ingin menjaga hati sang mantan kekasih. Ia tidak memiliki keberanian untuk sekadar membenarkan pernyataan David, demi menjaga perasaan Richard.
"Benar, Re?" tanya Rendy memastikan.
Seketika gadis itu terkesiap. Lain halnya dengan Richard yang masih tak bergeming menatapnya.
Aretha tampak kebingungan. Entah ia harus menjawab apa, sementara ia tahu bahwa Rendy dan Richard pasti menunggu akan jawaban darinya.
"Maaf, aku harus kembali bekerja." Hanya itu yang keluar dari mulut gadis itu. Ia mencoba menghindari situasi itu dengan mengalihkan pembicaraan.
"Pe-permisi," ucap gadis itu gugup. Ia langsung melangkahkan kakinya. Namun, secepat kilat David menahannya.
"Mau kemana?" tanya David seraya memegang tangan Aretha, sehingga membuat gadis itu kembali menoleh.
Seketika pandangan Richard beralih ke arah tangan gadis itu. Ia melihat dengan jelas bahwa David tengah memegang pergelangan tangan Aretha.
"Saya harus kembali bekerja, Pak," jawab Aretha terlihat santai sembari melepaskan tangannya dari cengkraman pria itu.
"Nanti saja, kita ngobrol dulu di sini. Kalian juga sudah lama 'kan tidak bertemu?" ujar David.
"Maaf, tapi saya harus menyiapkan berkas untuk meeting besok, lalu menyebar materi tersebut ke beberapa pihak terkait. Bukankah Bapak sendiri yang meminta?" jelas Aretha mencari alasan.
David menghela napas. "Baiklah," ucapnya singkat.
"Permisi," pamit gadis itu. Ia segera keluar dari ruangan tersebut tanpa memberikan pernyataan apapun terkait hubungannya dengan David.
Gadis itu tampak berjalan dengan tergesa. Seketika perasaannya bercampur aduk. Jantungnya berdebar kencang, entah pertanda apa. Ia hanya menyadari bahwa ia tengah mengalami kegelisahan karena kehadiran Richard di depan matanya sendiri.
Ya, gelisah karena takut akan perasaan yang telah lama ia kubur akan tumbuh kembali pada waktu yang salah. Walau bagaimanapun Richard telah menjadi milik orang lain.
Ah, kenapa tiba-tiba dia muncul lagi, disaat aku telah berusaha cukup keras untuk melupakannya, gerutunya dalam hati.
Harusnya kehadiran David bisa ia jadikan sebagai pengganti Richard saat itu. Namun, itu sangat sulit baginya. Sejujurnya ia memang belum memiliki perasaan apapun terhadap atasannya itu. Jadi, bukanlah hal yang mudah untuk ia mengakui sebuah kebohongan mengenai perasaanya.
Tak tanggung-tanggung. Demi menghindari apa yang baru saja telah terjadi, gadis itu memutuskan untuk pergi ke toilet. Berdiam diri sejenak di sana. Menurutnya itu adalah tempat yang cukup aman untuk sekadar menetralkan kembali perasaanya. Paling tidak ketiga pria itu tidak akan berani menemuinya.
Terdengar suara ketukan sepatu di setiap sudut, tanda gadis itu semakin mempercepat langkahnya.
Tepat di depan pintu toilet, gadis itu menabrak seseorang yang baru saja keluar dari tempat itu hingga mereka berdua terjatuh.
"Aawww!" pekik keduanya berbarengan.
Aretha mendongak, menoleh kepada orang itu. Pun sebaliknya. Keduanya tampak terkejut, ketika menyadari bahwa orang yang baru saja bertabrakan dengannya adalah sahabatnya sendiri.
"Ra?"
"Re?"
Mereka beradu pandang dalam kondisi masih terduduk di lantai. Orang itu adalah Diandra, sahabat sekaligus rekan magangnya di perusahaan tersebut.
Aretha tampak berdiri lebih dulu. "Lo gak apa-apa?" tanyanya seraya menyodorkan tangan kepada Diandra, berniat membantu sahabatnya untuk berdiri.
"Lo mau kemana, kok buru-buru banget?" tanya Diandra heran. Ia berdiri dengan bantuan Aretha.
"Mau ke toilet," jawab Aretha.
"Kebelet banget?" Diandra tampak mengernyitkan dahinya.
"Eng-enggak sih," jawab Aretha sedikit gugup.
"Lalu?" tanya Diandra semakin menginterogasi. Namun, Aretha hanya menatap Diandra dengan mata berkaca-kaca, seolah ingin menunjukkan kesedihan yang sebelumnya ia tahan.
"Re? Lo kenapa?" Keheranan Diandra semakin menjadi, tatkala melihat Aretha yang terlihat seperti ingin menangis.
Dengan sigap Aretha memeluk Diandra. Bahkan, ia tidak peduli andai ada orang yang melihatnya saat itu. Diandra semakin penasaran akan isak tangis yang baru saja lolos dari tenggorokkan gadis itu. Sebenarnya apa yang terjadi pada Aretha, pikirnya.
Setelah Aretha bisa mengendalikan kembali perasaanya, Diandra membawa sahabatnya itu ke pantry untuk sekadar mengajaknya minum teh. Aretha tampak menceritakan tentang Richard, juga tentang perjodohannya dengan David kepada Diandra.
Kabar itu sontak membuat Diandra terkejut bukan main. Bukan soal Richard yang telah kembali karena sungguh itu tidak penting baginya. Mengingat tentang sepengetahuannya bahwa Richard telah berbeda status saat itu. Ia rasa itu tidak perlu dibahas.
Yang mengejutkan bagi gadis itu adalah tentang perjodohan Aretha dan David. Sungguh itu akan menjadi topik hangat. Bagaimana jika semua karyawan mengetahui kabar tersebut? Sudah dapat dipastikan bahwa akan ada beberapa karyawan perempuan yang merasa patah hati, menurutnya.
Sebagaimana yang dilakukan oleh seorang sahabat. Diandra mencoba menenangkan kembali perasaan sahabatnya.
"Sudahlah, Re ... kak Richard kan sudah menjadi milik orang lain, so gak perlulah terus-terusan mikirin dia. Gak ada salahnya, kan, lo fokus ke perjodohan lo dan pak David. Pak David juga gak kalah tampan, kok," jelas Diandra panjang lebar, setelah mendengarkan semua curahan hati sahabatnya.
Aretha hanya diam tak menanggapi. Ia tak habis pikir jika sahabatnya bisa berpikir semudah itu. Padahal kenyatannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Setelah beberapa menit, Aretha dan Diandra tampak meninggalkan pantry. Aretha pergi ke toilet, sementara Diandra kembali ke tempat kerjanya.
Tak berlangsung lama. Aretha segera keluar, setelah kegiatan di dalam toilet selesai. Namun, baru beberapa langkah ia keluar dari toilet itu, tiba-tiba langkahnya terhenti, tatkala sebuah tangan yang kekar berhasil mencengkeram pergelangan tangannya.
Gadis itu menoleh. "Kak Richard?" Seketika ia terlonjak, ketika mendapati Richard di sana.
"Apa benar apa yang dibilang David?" Richard menatap gadis itu penuh tanya.
_____________________
TO BE CONTINUED
HAPPY READING!