Possessive Love

Possessive Love
Butuh Waktu



"Dave, kalau ada masalah, ayolah ... Kita selesaikan baik-baik," ucap Rendy sedikit memberi jeda. " Jangan seperti ini lah ... Kita sama-sam sudah dewasa, kan?"imbuhnya seraya melerai kedua sahabatnya.


Namun, David masih tidak menggubris. Pria itu masih menatap sinis Richard yang kala itu telah terduduk di sofa dengan wajah dan pakaian yang sudah sedikit berantakan karena ulahnya. Tampak darah segar keluar dari sebelah sudut bibir Richard, akibat baku hantam yang dilakukan oleh David.


Richard menatap David penuh penyesalan. Tak ada dendam di matanya. Ia menyadari bahwa itu memang kesalahnya sendiri. Andai ia memberi tahunya dari awal, mungkin David akan jauh lebih bisa menerima.


Bodohnya ia karena dari awal menyembunyikan itu semua dan berulang kali membohongi David. Siapapun tidak akan terima jika dibohongi seperti itu.


Harusnya dari awal ia menyadari bahwa Aretha sudah melupakannya dan tidak perlu ia mengejar cinta gadis itu lagi secara diam-diam, sementara ia sendiri tahu bahwa Aretha telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.


Mereka beradu pandang beberapa saat. Tanpa ada pernyataan apapun dari keduanya.


"Ayolah, Dave ... jangan bertingkah seperti anak kecil." Rendy masih mencoba membujuk David agar semua masalah bisa di selesaikan secara baik-baik.


"Siapa yang dari awal menganggap gue anak kecil, ha?" David tampak menoleh ke arah Rendy seraya menatap tajam pria itu.


"Ha? Siapa? Memangnya siapa yang menganggap lo anak kecil, ha? Gue tidak pernah punya pikiran seperti itu, kecuali malam ini," jawab Rendy sekenanya seraya memasang wajah polos.


Seketika Richard melengos kesal. Bisa-bisanya Rendy menjawab seperti itu, disaat keadaan tengah tegang seperti ini, pikirnya.


"Lantas, apa namanya kalau bukan menganggap gue anak kecil, ha?" geram David. "Kalian pikir gue tidak akan memahami dan menerima, ketika lo bilang yang sebenarnya dari awal?" imbuhnya seraya menoleh ke arah Richard.


"Kenapa lo lebih memilih diam dan terus-menerus membohongi gue? Sebodoh itukah gue di mata lo, ha?" hardik David.


Rendy mencoba menjadi penengah diantara keduanya. "Dave, lo tidak bisa begitu saja ambil kesimpulan. Gue tahu Richard punya–"


"Lo diam! Karena lo juga salah di sini, sebab telah ikut membohongi gue!" sergah David memotong pembicaraan Rendy. David tampak menunjuk Rendy tepat satu jengkal dari mata pria itu.


"Lo tidak perlu menyalahkan siapapun, baik Rendy ataupun Aretha. Karena itu semua salah gue. Gue yang meminta mereka berdua untuk bungkan akan hal ini! Dan gue punya alasan untuk hal itu. Kalau lo mau marah, marah sama gue!" jelas Richard penuh emosi karena merasa tidak rela jika Rendy disangkut pautkan dengan masalahnya, meski Rendy tahu yang sebenarnya.


"Hh, Dan gue tahu alasannya apa!" David menyunggingkan senyum sinisnya. "Agar lo bisa mendekati Aretha kembali, lalu merebutnya dari gue secar diam-diam, iya kan?" ketusnya.


Richard terdiam sejenak, sebelum akhirnya menanggapi perkataan David. "Iya!" jawabnya yakin. "Awalnya memang seperti itu, karena gue tahu kalian dijodohkan dan gue tahu bahwa Aretha belum menerima perjodohan itu. Gue hanya tidak ingin, jika Aretha menikah dengan orang yang tidak dia cintai dalam keadaan terpaksa," ungkap Richard mengakui. Namun, David tidak menanggapi. Nampaknya, ia masih di bawah pengaruh emosi yang tinggi.


Richard mengangkat tubuhnya, berdiri tepat di hadapan David. "Namun, setelah menyadari akan sikap Aretha yang berubah, seolah ingin menghindari gue, gue pun mulai sadar bahwa hati Aretha sudah bukan lagi untuk gue dan Gue menerima itu, hingga gue dengar kabar akan pertunangan kalian, dari mulut lo sendiri," imbuh Richard sembari menatap David penuh kejujuran.


"Dari sejak itu ... gue pun menghindar darinya, tidak pernah berharap bisa kembali lagi dengannya. Sebab itulah gue menyembunyikan ini semua dari lo. Lo tahu, gue lakukan itu karena apa?" jelas Richard panjang lebar.


Sementara David tidak berkomentar sedikit pun. Sebagaimana David, Rendy pun hanya diam mendengarkan.


"Karena gue tahu, dari bagaimana cara Aretha menatap lo, bersikap di depan lo, tersenyum buat lo, itu semua karena cinta, dan gue bisa lihat itu. Jujur, gue tidak ingin merusak kebahagiaan kalian. Gue lakukan ini semua untuk kebahagiaan kita, agar lo bisa bahagia karena memiliki orang yang lo sayang, Aretha bisa bahagia juga karena bisa hidup dengan orang sebaik lo, dan gue? Gue juga bahagia bisa melihat orang yang gue cinta hidup bahagia bersama sahabat terbaik gue, yaitu elo!" Richard tampak melempar tatapan sayu kepada David.


Seketika penjelasan Richard mulai meruntuhkan pertahanan David. Ia sedikit luluh. Naampak jelas dari ekspresi wajahnya. Namun, itu tidak lantas membuatnya bisa menerima begitu saja. Walau bagaimanapun ia sudah terlanjur kecewa karena dibohongi.


"Mungkin gue tidak akan rela, jika Aretha dengan pria lain, tetapi karena dia bersama lo, gue ikhlas. Karena gue tahu lo pria baik-baik. Dan gue rasa, gue tidak perlu menitipkan Aretha sama lo, karena gue tahu lo akan menjaganya dengan baik. Percayalah ... gue bahagia, jika kalian pun hidup bahagia," ucap Richard seraya menerbitkan senyumnya. "Gue janji, gue tidak akan mengganggu kebahagiaan kalian," imbuhnha seraya memegang kedua bahu David.


"Lo percaya kan sama gue?" Richard menatap dalam mata David. Namun, David masih terdiam membisu. Ada rasa tidak percaya dibenaknya, ternyata Richard sangat peduli terhadapnya hingga pria itu rela mengorbankan perasaannya sendiri.


"Kalau lo masih tidak percaya, bunuh saja gue sekarang juga, biar lo tenang dan gue juga tenang karena bisa menebus kesalahan gue terhadap lo!"


"Dave!" teriak Rendy, mencoba menahan David. Namun, Richard telah lebih dulu menahannya sehingga membuat Rendy tidak bisa bergerak dan membiarkan David keluar dari apartemennya.


"Biarkan dia menenangkan pikirannya dulu, kita tahu dia seperti apa," ucap Richard seraya menghalangi pergerakkan Rendy untu mengehar David.


"Tapi, Rich—"


"Sudah, gue aman, kok!" sela Richard.


"Lo jagalah diri lo baik-baik," ucap Rendy mengingatkan.


"Hmm ...." Richard seolah mengindahkannya. "Mending sekarang lo telepon Aretha, gue yakin dia lagi kalut, hiburlah dia!" imbuhnya.


"Kenapa harus gue?" tanya Rendy heran.


Richard tampak menyeka darah di bibirnya. "Ya elo, lah ... gak lihat nih, pipi gue bengkak begini? Gak kerenlah kalau gue kedengaran meringis kesakitan di depan dia," candanya.


Rendy pun mengikuti perintah Richard. Pria itu segera menghubungi Aretha dan benar saja, Aretha masih belum berhenti menangis. Terlebih lagi, saat Rendy memberi tahu kondisi Richard waktu itu. Aretha semakin merasa bersalah dengan apa yang telah ia perbuat. Namun, Rendy terus mencoba menenangkan Aretha sebisanya.


Di tengah perbincangan keduanya, Richard yang sedari tadi hanya memerhatikan percakapan mereka melalui udara, tiba-tiba meraih ponsel itu dari tangan Rendy, lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Halo, Re, kamu baik-baik saja?" tanya Richard.


"Kak Richard? Bisa-bisanya kamu mengkhawatirkanku, disaat kondisimu sendiri sedang tidak baik," gerutu Aretha di seberang sana.


"Aku baik, Re. Jangan dengarkan Rendy, dia suka seenaknya kalau ngomong!" tegas Richard sembari terkekeh yang sontak membuat Rendy berdecak kesal. "Berhentilah menangis, Re!" titahnya


"Aku tahu kamu bohong!" ketus Aretha sedikit serak. Namun, Richard tak menanggapi perkataan itu.


"Hanya ada satu orang yang bisa meluluhkan hati David," ucap Richard yang membuat Aretha sedikit tertarik menanggapinya.


"Siapa?" tanya Aretha penasaran.


"Kamu!" singkat Richard.


"Tidak bisa, Kak!" tegas Aretha seolah menyerah dengan apa yang sudah ia lakukan sebelumnya.


"Aku yakin kamu bisa!"


"Tapi bagaimana?"


"Aku yakin kamu tahu bagaimana caranya meluluhkan hati David," ucap Richard seolah percaya penuh terhadap Aretha.


_________________________


JANGAN LUPA KOMENTAR YA ... AKU NULISNYA SAMBIL NGANTUK, KALAU ADA YANG TYPO, INGATKAN AKU!


HAPPY READING!