
Aretha dan ketiga sahabatnya tampak sudah selesai berbelanja di sebuah department store yang tak jauh dari kampusnya.
Mereka berjalan beriringan sembari masing-masing membawa beberapa paper bag berukuran besar. Setelah selesai berbelanja, tinggalah waktu makan siang.
"Kita mau makan dimana, nih?" tanya Deasy.
"Bagaimana kalau kita makan di kafe yang biasa?" ucap Diandra menyarankan.
"Boleh," jawab ketiganya kompak.
Mereka melanjutkan langkah kakinya menuju kafe yang dimaksud. Kafe itu berada di seberang department store, dimana mereka berada. Kafe yang selama ini menjadi tempat tongkrongan keempatnya.
Namun, belum berhasil mereka keluar dari department store itu, tiba-tiba ada seseorang yang menyenggol tubuh Aretha hingga membuatnya terjatuh.
"Aauuww!" pekik Aretha yang kala itu sudah terduduk di lantai. Seketika perhatian beberapa pengunjung lainnya teralihkan.
"Sorry ... sorry ... aku tidak sengaja," ucap seorang wanita asing yang tidak sengaja menyenggol Aretha.
"Re, lo gak apa-apa?" tanya Tania seraya membantu Aretha berdiri, pun dengan kedua sahabatnya yang juga ikut membantu membereskan barang belanjaan Aretha.
"Gue gak apa-apa, kok," jawab Aretha.
"Sorry, ya ... aku benar-benar tidak sengaja," ucap wanita cantik berambut panjang, dengan tinggi semampai itu. Diduga usianya lebih tua satu atau dua tahun dari Aretha.
"Tidak apa-apa, Mbak," jawab Aretha.
"Lain kali hati-hati, Mbak!" ucap Diandra sedikit ketus.
"Sudahlah, Ra," sela Aretha.
"I'm so sorry, aku benar-benar sedang terburu-buru jadi lepas kontrol," jelas wanita itu. "Sorry ya, Mbak ...," imbuhya seraya menggantungkan kalimatnya.
"Aretha. Panggil saja aku Aretha," balas Aretha yang seolah paham dengan kalimat gantung yang dilontarkan oleh wanita itu.
"Oke! Sorry ya, Aretha," ucapnya tulus. "Oh ya, perkenalkan aku Freya," imbuhnya seraya mengulurkan tangan, mengajak berkenalan.
Aretha tertegun beberapa saat, sebelum ia memutuskan untuk menerima ajakan perkenalan itu.
Freya? Kok, namanya seperti nama mantan mas David, ya? Ah, mungkin kebetulan saja.
Aretha bertanya-tanya dalam hatinya, ketika mendengar nama yang begitu sama dengan nama mantan sang suami.
Ya, memang benar, wanita itu adalah Freya. Mantan David yang baru beberapa hari lalu pulang dari London.
Dengan sedikit ragu, Aretha meraih uluran tangan wanita itu. "Aretha," lirihnya seraya memaksakan senyumnya.
Tak lupa Freya juga mengajak ketiga sahabat Aretha untuk berkenalan, lalu ia segera pergi, setelah urusananya dengan Aretha selesai, sementara Aretha dan ketiga sahabatnya pun kembali ke niat awal, untuk segera pergi ke kafe.
Beberapa saat kemudian, mereka berempat telah berada di kafe yang dimaksud. Mereka tampak duduk di meja nomor sepuluh yang berada tepat di dekat penyekat ruangan kafe berbahan kayu.
Mereka tampak berbincang banyak hal, sembari menunggu pesanan mereka datang. Tak lama pesanan makan siang mereka pun datang.
Mereka memulai kegiatan makan siangnya, dengan di selingi obrolan santai dan canda tawa, hingga tak terasa mereka telah menghabiskan makanan masing-masing.
"Eh, Re, bagaimana kehidupan lo setelah menikah, seru gak?" tanya Deasy antusias.
"Oh iya, lupa, dari tadi kita gak bahas itu. Cerita dong, Re ...," timpal Diandra.
"Jangan, Re! Nanti mereka ngiri," ledek Tania menyerobot.
"Lo kali yang ngiri, yang selama ini ngebet banget pengen kawin kan elo, Tan!" sindir Deasy.
"Kawin, kawin, NIKAH!" gerutu Tania sedikit memberi penekanan di akhir kalimatnya.
"Memang apa bedanya?" tanya Deasy berlagak polos.
"Tapi lo tahu bedanya apa," balas Deasy.
"Memang apa bedanya?" Aretha ikut bertanya, setelah memperhatikan perdebatan Deasy dan Tania.
"Memang ada bedanya?" Diandra tampak bingung. "Bedanya cuma di spelling saja, kan?" imbuhnya yang sontak membuat ketiga sahabatnya menghela napas.
"Apa, sih?" Diandra dibuat semakin bingung. "N-I-K-A-H K-A-W-I-N," imbuhnya mengambsen huruf dari kedua kata itu seraya menggerakkan jari-jari tangannya.
"Itu saja kan bedanya, tidak ada yang lain?" tanya Diandra kemudian.
"Entahlah, Ra. sudahlah jangan dibahas lagi!" jawab Aretha tegas.
"Nikah? Lo sudah menikah, Re?"
Seketika suara seseorang mengalihkan pehatian mereka. Mereka menoleh ke sumber suara, tampak Indira tengah berdiri di sana. Salah satu teman sekelas Aretha dan Diandra di kampus.
Pernikahan yang dadakan membuat Aretha tidak sempat mengundang teman-temannya. Bahkan, termasuk Samuel saja belum mengetahui perihal itu. Lagi pula, resepsinya masih belum akan dilaksanakan, jadi ia pun memutuskan untuk tidak memberi tahu teman-temannnya di kampus lebih dulu, kecuali ketiga sahabat dekatnya.
Itu sedikit berbahaya. Indira, salah satu fans panatiknya Samuel yang selama ini selalu bersikap sinis kepada Aretha, karena ia merasa iri melihat Samuel yang lebih gencar mengejar Aretha daripada mempedulikannya.
Meski Indira tidak seagresif Cecil, tetapi Aretha tahu betul Indira seperti apa. Mungkin ia akan senang sekali, jika mengetahui bahwa dirinya telah menikah, atau malah Indira akan melakukan hal buruk?
"Gue ...." Dengan sedikit ragu Aretha mulai membuka mulutnya, berniat akan menanggapi, sementara ketiga sahabatnya hanya terdiam menyimak.
"Astaga, Re ... lo hamil duluan?" Tiba-tiba Indira mengatakan sesuatu di luar dugaan dan sangat mengejutkan Aretha. Bahkan, bukan hanya Aretha, melainkan ketiga sahabatnya pun ikut terkejut.
"Lo kalau ngomong itu dijaga ya, Dir!" celetuk Diandra kesal.
"Lho, ada yang salah dengan ucapan gue?" tanya Indira merasa tak berdosa. "Memang benar kan, lo hamil duluan? Kalau tidak hamil duluan, kenapa harus menikah mendadak sekali?" imbuhnya.
"Ini gak seperti yang lo pikirkan!" ketus Tania geram, sementara Aretha hanya diam.
Rasanya hati Aretha sangat terluka dituduh seperti itu. Walau bagaimanapun ia bukanlah wanita gampangan, seperti yang dikatakan oleh Indira. Jelas ia tidak terima dengan tuduhan itu.
"Sorry, gue gak lagi ngomong dengan kalian," sinis Indira.
"Lo cari gara-gara sama Aretha, itu berarti lo sudah siap berurusan dengan kita!" geram Deasy menimpali.
"Sombong!" kata Indira seraya mencebikkan bibirnya. "Gak nyangka ya, mahasiswa berprestasi kaya lo, ternyata kotor!" ledeknya sudah keterlaluan hingga membuat mata Aretha berkaca-kaca.
"Lo salah!" tegas Aretha seraya menahan amarahnya. "Justru lo yang harus ngaca, siapa sebenarnya yang dirinya kotor, lo atau gue?" geramnya.
"Hh! Lempar batu sembunyi tangan!" ketus Indira.
"Memang benar ya, orang yang lebih sering mengoreksi hidup orang lain itu, terkadang lupa introspeksi dirinya sendiri!" sindir Aretha.
"Rere ... Rere ... lo itu lucu ya. Pura-pura tidak berdosa, padahal aslinya, lo diam-diam menikah karena telah hamil di luar nikah, astaga!"
"Elo?" Diandra seketika naik pitam, ia tampak akan menampar Indira, tetapi Aretha menahannya.
"Jaga mulut lo ya, sebelum gue sulap jadi agar-agar!" timpal Deasy yang semakin emosi.
"Sorry, gue gak ada waktu buat meladeni celotehan lo itu! Bagi gue ucapan lo hanyalah SAMPAH!!" sergah Aretha berusaha kuat, meski sebenarnya ia juga sangat merasa kesal dan terluka dengan tuduhan Indira.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING
TBC