
Di halaman belakang villa, Rendy dan Clara masih sibuk dengan kegiatan memanggang, pun dengan yang lainnya yang juga masih sibuk dengan kegiatan mereka.
Di tengah-tengah kesibukannya, Rendy baru saja menyadari bahwa David dan juga Richard tidak ada di sana. Pria itu tampak mengedarkan pandangan ke kanan, kiri, depan dan belakang. Namun, ia tidak menemukan Richard dan David di sana. Sementara perihal Aretha ia tahu bahwa wanita itu tengah mengambil saus ke dalam.
Seketika Rendy memfokuskan pandangan ke arah Renata. "Renata, kakakmu kemana?" tanyanya heran.
Renata yang kala itu masih dengan kesibukan yang sama dengan Rendy dan Clara, tiba-tiba merasa tersentak.
Wanita itu mendongak menatap Rendy, lalu berpikir sejenak. "Mm ... kakak bilang tadi mau ngambil apa gitu, aku lupa," jawabnya, lalu fokus kembali dengan kegiatannya.
Rendy sedikit termangu, entah apa yang sedang pria itu pikirkan. Namun, sungguh ekspresinya terlihat sedikit menyimpan kecemasan.
"Sayang, aku tinggal sebentar, ya," ucap Rendy seraya meletakkan penjepit daging.
"Mau kemana?" Clara menatap penuh tanya.
"Sebentar saja, kamu tunggu di sini dulu. Aku tidak akan lama," jelas Rendy.
"Well," singkat Clara.
Rendy segera bergegas masuk ke dalam dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa. Ia langsung saja menuju dapur villa itu.
Seketika langkahnya terhenti, ketika ia mendapati sosok yang tengah ia cari. Ia melihat dengan jelas, Richard dan Aretha tengah bediri berhadapan di sana. Namun, tatapannya tertuju ke arah lain, dengan ekspresi yang sedikit terlihat tegang.
Ya, kala itu David tampak tengah berjalan menghampiri keduanya. Entah ekspresinya seperti apa, yang jelas Rendy tahu David seperti apa. Tidak mungkin perasaan David akan baik-baik saja, ketika melihat sang istri tengah berdua dengan mantannya.
"Mas?" Aretha memasang ekspresi terkejut. Tentu saja ia terkejut mendapati suaminya yang tiba-tiba berada di sana.
Namun, David tak menanggapi. Pria itu memfokuskan pandangan ke arah Richard yang juga tengah menatapnya sedari awal hingga tatapan mereka tekunci beberapa saat.
Di tengah kebingungannya Aretha tampak memandangi kedua pria itu secara bergantian. Jujur, ia sangat takut sekali, kedekatan yang tidak disengaja itu membuat David seketika murka. Ia sadar betul bahwa sang suami tidak suka melihatnya dekat-dekat dengan pria lain, terlebih lagi dengan mantannya sendiri, meski itu adalah sahabat suaminya.
Rendy masih memperhatikan dari kejauhan, mereka yang sedang bersih tegang.
Ternyata dugaanku benar! Argh ... bro, kenapa harus dekat-dekat dengan Aretha sih? Cari masalah saja!
Secepat kilat Rendy langsung memutuskan untuk menghampiri mereka, sebelum suasananya semakin memanas. Setidaknya, ia akan berusaha mencairkan suasana.
"Re, ya ampun ... mana sausnya? Aku menunggu dari tadi, lho." Suara Rendy memecah di ruangan itu, sehingga membuat ketiganya mengalihkan fokus kepadanya yang kala itu masih berjalan menghampiri mereka.
Aretha mengangkat kedua tangannya yang tengah memegang botol saus, lalu menatap kedua botol itu, sebelum akhirnya memberikannya kepada Rendy.
"Oh ... ini, Kak!" Aretha memberikan kedua botol saus itu.
Rendy segera meraih botol itu. Namun, tatapannya fokus ke Richard sejenak, seolah memberi kode.
"Mas, ayo kita ke sana lagi," ajak Aretha seraya menarik tangan sang suami, seolah mengalihkan perhatian pria itu.
Aretha memahami perasaan David saat itu. Meski David terlihat diam saja, tetap saja ia tahu dari ekspresi dan tatapan tidak suka yang dilontarkan suaminya kepada Richard. Sebisa mungkin ia berusaha mengalihkannya. Beruntung Rendy datang lebih cepat dan membuatnya merasa tertolong.
David menatap sinis wajah Richard, sebelum akhirnya ia membalikkan badannya, lalu meninggalkan ruangan itu bersama sang istri.
Pun sama dengan Richard yang juga menatap David. Namun, tatapannya datar. Nampaknya ia tidak ingin terlalu ambil pusing akan hal itu.
"Cari gara-gara saja lo, Bro!" gerutu Rendy seraya menyandarkan tubuhnya Pada meja mini bar yang ada di ruangan itu.
"Gue nggak sengaja," ucapanya, lalu meneguk air itu dalam satu kali tegukkan.
***
Mereka semua telah kembali berkumpul di halaman belakang. Nampaknya Samuel sudah mengganti lagunya. Mereka segera melanjutkan kegiatan mereka kembali. Namun, David terlihat lebih diam tak banyak bersuara.
Aretha yang menyadari perubahan sikap sang suami seketika memberengutkan wajahnya.
"Mas, boleh minta tolong ambilkan piring itu?" tanya Aretha seraya menunjuk sebuah piring kosong.
Tanpa berkata apapun, David langsung mengambil piring itu, lalu memberikannya kepada Aretha dengan pandangan yang fokus ke bawah, menyibukkan diri dengan beberapa daging yang tengah dipanggangnya.
"Terima kasih, Mas," lirih Aretha.
Beberapa saat kemudian Samuel dan yang lainnya turun dari gazebo untuk menghampiri alat pemanggang itu, setelah David dan yang lainnya selesai.
Deasy dan Tania juga kekasih mereka tampak mengambil alih alat pemanggang bekas Richard dan Renata. Sementara pemanggang bekas David dan Aretha tampak kosong.
Samuel dan Diandra tampak mengambil alih pemanggang itu tanpa disengaja secara berbarengan. Seketika Samuel dan Diandra saling menatap, ketika secara kebetulan mereka terlihat begitu kompak waktu menaruh beberapa bahan olahan mentah di atas pemanggang itu.
Samuel tampak menarik kedua sudut bibirnya, sedangkan Diandra diam saja tak melakukan apapun, meski hanya sekadar tersenyum.
Di tengah kegiatan mereka. David dan Aretha telah duduk di kursi santai yang berada menghadap kolam renang. Mereka menaruh makanan itu di atas meja, lalu segera mereka nikmati. Namun, lagi-lagi sikap David masih sama seperti sebelumnya. Bahkan, ia makan dengan pandangan fokus ke depan menatap kolam renang.
Aretha mengerucutkan bibirnya merasa tidak enak hati dengan sikap sang suami. Ia pun memutuskan untuk membuka suara, meski sedikit ragu.
"Mas, soal tadi ...."
"Aku tahu. Jangan diulangi!" tegas David memotong pembicaraan Aretha, seolah ia paham apa yang akan Aretha katakan. Namun tatapannya masih tidak fokus ke wajah sang istri.
"Kamu marah?" tanya Aretha memastikan.
"Mana bisa aku marah sama kamu?" jawab David sedikit ketus.
"Yakin?" Aretha meyakinkan.
"Hmmm ...." David menanggapi.
"Aku akan melakukan apapun, asal Mas mau memaafkan aku," lirih Aretha.
"Aku terima," balas David seraya mengulum senyum jahilnya yang langsung membuat Aretha seketika mencebikkan bibirnya.
Akhirnya mereka pun menikmati makanan barbeque itu bersama-sama dengan penuh canda dan tawa.
Sementara Samuel dan Diandra tampak masih sibuk memanggang, disaat yang lainnya sudah sibuk menikmati makanan mereka.
Diandra tampak meraih sebuah piring. Baru saja ia akan mengambil satu daging, tiba-tiba Samuel telah lebih dulu mengisi piring itu. Seketika Diandra menaikkan tatapannya, memandang Samuel. Lagi-lagi Samuel hanya tersenyum manis.
Sungguh Samuel membuat Diandra heran setengah mati dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah menjadi manis terhadapnya. Entah apa maksud pria itu.
"Thanks," ucap Diandda sedikit sinis. Dan memang selalu seperti itu, ketika dekat dengan Samuel.