Possessive Love

Possessive Love
Lugina Jewellery



David memarkirkan mobilnya di area parkir sebuah department store terbesar di kotanya. David segera membukakan pintu mobil untuk Aretha, setelah ia berhasil turun lebih dulu. Aretha pun turun dari mobil itu, lalu diajak masuk ke dalam gedung pusat perbelanjaan itu oleh David.


Mereka tampak berjalan berdampingan menuju salah satu toko perhiasan yang sudah direkomendasikan oleh Maria, mamanya David. Lugina Jewellery, salah satu toko perhiasan ternama yang merupakan langganan keluarga David.


"Selamat pagi, Mas Dave," sapa salah satu perempuan yang berjaga di toko perhiasan tersebut. Nampaknya perempuan berusia sekitar dua puluh delapan tahun itu sudah mengenal David. "Ada yang bisa saya bantu?" imbuh perempuan itu.


David tersenyum. "Kami butuh cincin tunangan. Mbak Gina bisa bantu?" tanya David.


"Wah ... ini calon tunangan Mas Dave?" tanya perempuan bernama gina itu. Ia tampak mengalihkan perhatian kepada Aretha. "Cantiknya ...," pujinya yang sontak membuat pipi Aretha memerah seketika.


David tersenyum, lalu menoleh ke samping. "Kenalin ini mbak Gina, pemilik toko ini, langganannya mama," jelas David kepada Aretha. Aretha mengangguk, lantas segera berkenalan dengan Gina.


"Baiklah, saya punya beberapa rekomendasi buat kalian, barangkali cocok," ujar Gina. "Saya ambilkan dulu barangnya." Gina tampak berjalan ke salah satu etalase yang menyimpan beberapa koleksi khusus cincin pertunangan, lalu membawakan beberapa cincin dengan model yang berbeda ke hadapan keduanya.


David dan Aretha tampak memfokuskan pandangan ke cincin-cincin tersebut secara bergantian. Semua model sangat cantik sehingga membuat keduanya tampak bingung memilih mana yang paling cocok, karena menurut mereka semuanya bagus.


Sembari keduanya meliha-lihat cincin itu, sang pemilik toko tampak menjelaskan dari beberapa model cincin itu, terkait bahan dan beratnya. Seketika David menyerah. Ia tampak bingung harus memilih yang mana sehingga ia pun memutuskan untuk mengikuti keinginan sang kekasih saja.


"Kamu suka yang mana, Sayang?" tanya David seraya menoleh ke arah Aretha, setelah beberapa menit ia melihat beberapa model cincin itu.


Aretha masih memfokuskan pandangannya ke beberapa cincin yang direkomendasikan oleh sang pemilik toko. Ia pun nampak bingung harus memilih yang mana hingga ia melihatnya berulang kali secara bergantian, sekadar untuk memastikan mana yang lebih cocok untuknya dan David.


Seketika pandangannya terhenti ke salah satu model cincin couple berlian yang terbuat dari emas putih yang di desain elegant dan chic dengan detail mata berlian. Sepertinya, hati gadis itu mengatakan cocok dengan cincin tersebut.


"Aku lebih suka yang ini," ucap Aretha seraya menunjuk salah datu diantara sekian banyaknya yang direkomendasikan oleh Gina. "Gimana menurut kamu?" tanyanya seraya meminta saran kepada David.


"Baiklah, aku setuju. Aku juga menyukai modelnya," jawab David menyetujui.


"Wah ... ternyata Mbak Aretha pintar juga ya memilihnya. Ini model terbaru lho ... harganya juga lebih mahal dibandingkan yang lainnya, sepertinya akan cocok jika dipakai gadis secantik Mbak," timpal Gina memuji.


"Ah, Mbak Gina bisa saja," balas Aretha nampak tersipu malu.


"Baiklah, Kami ambil yang ini ya, Mbak!" ujar David tanpa berpikir panjang karena ia juga merasa cocok dengan pilihan Aretha.


"Siap, Mas, mau pakai nama tidak?" tanya Gina.


"Tentu," jawab David yakin.


"Boleh, tetapi untuk pemesanannya tidak bisa hari ini ya, Mas. Kalian bisa kembali sekitar dua atau tiga hari lagi," jelas Gina.


"Baik, Mbak. Tidak masalah," jawab David santai.


Sebelum David membayar cincin itu, Aretha dan David tampak mencobanya terlebih dahulu, ternyata ukurannya pun sangat pas sekali sehingga tidak perlu memesan ukuran baru, hanya perlu diberi nama saja.


Setelah urusan dengan pemilik toko perhiasan selesai, David mengajak Aretha berkeliling di pusat perbelanjaan tersebut. Berbeda dengan perempuan lain. Jika kebanyakan perempuan lebih menyukai shopping seputar fashion, maka Aretha lebih memilih untuk mengunjungi toko buku, ketika David bertanya ia mau pergi kemana.


David pun menuruti kemauan sang kekasih untuk pergi ke salah satu toko buku yang berada di pusat perbelanjaan tersebut.


Di toko buku, Aretha mencari beberapa buku novel terbaru. Ia berjalan menelusuri setiap rak buku di toko tersebut. David tampak mengekori gadis itu sembari melakukan hal yang sama dengan Aretha.


"Kamu suka baca?" tanya David seraya menoleh ke arah Aretha, ketika gadis itu menghentikan langkahnya di depan salah satu rak buku.


"Suka," singkat Aretha seraya mengambil salah satu buku dari rak itu.


"Buku apa yang kamu suka?" tanya David masih memfokuskan pandangan ke arah Aretha.


Aretha menoleh seraya tersenyum. "Banyak, termasuk novel ... aku juga suka baca," jawab Aretha seraya menunjukkan buku novel yang baru saja ia ambil dari rak buku. David menanggapinya dengan senyuman.


"Nanti, kalau aku sudah nikah dan punya rumah, aku mau bikin home library gitu, Mas, dan aku akan menyimpan semua koleksi bukuku di sana," jelas Aretha, sementara David hanya tersenyum menanggapinya.


Mereka tampak melanjutkan kembali pencariannya ke beberapa rak yang masih berjajar di sana. Setelah beberapa menit, Aretha sudah menjatuhkan pilihannya ke empat buku novel yang akan ia boyong ke rumahnya.


David segera membayar keempat buku itu di kasir. Meski Aretha sudah berusaha keras menolaknya. Namun, David tetap memaksa sehingga gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menurut.


Mereka segera keluar dari tempat itu. Namun, baru beberapa langkah mereka keluar dari toko buku, tiba-tiba suara bariton menghentikannya.


Dengan sigap Aretha dan David menoleh ke belakang mencari sumber suara. "Ren?" ucap David, setelah mendapati Rendy yang tengah berdiri beberapa langkah dari arahnya. Rendy tidak sendiri, ia tampak membawa seorang gadis yang entah itu siapa. Baik David ataupun Aretha, tidak ada yang mengenalnya.


Rendy berjalan menghampiri David dan Aretha yang diikuti oleh gadis di sampingnya. "Kalian di sini juga ternyata?" tanya Rendy seraya tersenyum lebar.


"Kita baru saja selesai cari cincin tunangan," jelas David memberi tahu.


Rendy sedikit termangu mendengarnya. "Wah ... selamat ya buat kalian," ucap Rendy tampak menunjukkan raut wajah bahagianya. Namun, entah kenapa itu seolah terpaksa, tidak tulus dari hatinya.


"Thanks, Ren," ucap David tersenyum. Sama halnya dengan David, Aretha pun tampak tersenyum menanggapi.


"BTW ... itu siapa?" tanya David yang lebih ke nada meledek seolah ingin menggoda sang sahabat. Pandangannya ia alihkan sejenak ke arah gadis yang tengah berdiri di samping Rendy.


"Oh iya, kenalin ini Clara," ucap Rendy memperkenalkan.


"Adik lo?" tanya David tidak serius, sontak membuat Rendy sedikit terkekeh.


"Adik ketemu gede," jawab Rendy sekenanya sembari menyeringai menunjukkan sederet gigi putihnya.


Gadis bernama Clara itu tersenyum malu, lalu berkenalan dengan David dan Aretha secara bergantian.


Kebetulan sekali. Mereka bertemu di waktu yang tepat, disaat mereka sama-sama akan melakukan kegiatan makan siang. Rendy mengajak David dan Aretha makan siang bersama di salah satu kafe yang ada di tempat itu.


Namun, lebih dulu Rendy memberi tahu bahwa ia juga telah ada janji dengan Richard sehingga membuat mereka harus menunggu Richard, sebelum memesan makanannya.


Setelah hampir lima belas menit mereka menunggu, akhirnya Richard telah tiba di hadapan mereka. Ia tampak datang sendirian, tanpa ada pasangan yang menemaninya, layaknya David dan Rendy. Rendy meminta sahabatnya itu untuk duduk di salah satu kursi yang berada tepat di hadapan Aretha.


"Wah ... rupanya ada double date, nih!" seru Richard seraya mendudukkan tubuhnya sembari tersenyum, sementara tatapannya ia fokuskan ke arah Aretha.


Richard tampak seolah menunjukkan sikap yang biasa, walau sebenarnya hatinya sakit melihat gadis yang ia cintai telah bersama orang lain, dan lebih menyakitkan lagi karena orang itu adalah sahabatnya sendiri.


Aretha yang kala itu tengah menatapnya, seketika mengalihkan perhatian ke sembarang arah. Jujur, ia merasa tidak enak hati, ketika sedang jalan berdua dengan David, tiba-tiba harus bertemu dengan Richard yang ia ketahui bahwa pria itu masih mengharapkannya.


"Makanya cari, jangan sibuk kerja mulu lo!" ledek Rendy yang sontak membuat Richard berdecak kesal.


"Masih belum move on dia," sindir David yang seolah tahu bahwa Richard masih belum berpindah ke lain hati.


"Sialan lo!" umpat Richard.


"Eh, tapi dulu waktu di London, seingat gue ... lo pernah cerita tentang mantan lo yang benar-benar buat lo tidak bisa move on, iya kan?" tanya David seraya mngerutkan dahinya.


DEG!


Pertanyaan David seketika membuat Aretha sedikit terkejut mendengarnya. "Apa orang yang dimaksud itu adalah dirinya?" batin Aretha saat itu.


Tidak hanya Aretha, Richard pun ikut terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa David tiba-tiba menanyakan hal itu. Meskipun ia belum pernah bercerita tentang nama orang dimaksud. Namun, tetap saja membuatnya seketika menjadi gugup. Entah ia harus menjawab apa.


Bahkan, Rendy pun sedikit terlonjak dengan pertanyaan David kala itu. Pria itu tampak memandang Richard, sementara Richard tengah menatap Aretha.


Di waktu yang sama Aretha tampak termangu memandang Richard. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ada rasa takut dalam dirinya. Mereka beradu pandang beberapa saat, sebelum akhirnya Richard mengalihkan pandangannya ke arah David.


"Maksudnya ... Rere?" tanya Richard.


____________________________


HARUSKAH SETELAH INI ADA PERANG DINGIN?


KOMENTAR!


KOMENTAR!


KOMENTAR!


HAPPY READING!