
Aretha menghela napas kembali. "Sebenarnya ... kkk ... kak ... kak Richard adalah mantan aku, Mas!" akunya seraya memejamkan mata.
Berulang kali Aretha menghela napas, mencoba Menetralkan perasaannya dari rasa gugup, cemas dan takut yang seketika becampur menjadi satu.
David masih terdiam, menatap penuh tidak percaya. Ia menyunggingkan bibirnya, sebelum akhirnya menanggapi Aretha. "Kamu bercanda?" tanyanya.
Aretha menundukkan kepala sejenak, lalu mendongak kembali. "Mas, percaya atau tidak, tetapi itu memang kenyataannya," ungkap Aretha pelan seraya menatap sayu pria dihadapannya.
Seketika David dibuatnya naik pitam. Meski ia tidak berkata apa-apa. Namun, terlihat jelas dari ekspresinya yang menunjukkan bahwa ia belum menerima kenyataan itu.
David tersenyum getir. "Lelucon apa lagi ini?" kesalnya.
"Mas, aku dan kak Richard memang salah karena telah menyembunyikan ini dari kamu, tetapi aku mohon kamu bisa memahaminya dan memaafkan aku, begitupun dengan kak Richard." Aretha memohon seraya memegang tangan David. Namun, dengan seketika David melepaskan tangannya secara paksa.
"Mas ...," lirih Aretha.
David tampak membuka laci dashboard mobilnya, lalu mengeluarkan sebuah benda dari laci tersebut dan menunjukkannya kepada Aretha.
"Jadi itu jawaban dari buku ini?" tanya David seraya menunjukkan sebuah buku novel yang ditulis oleh Richard. Novel yang diberikan Richard khusus untuk Aretha.
Aretha tampak membeliak kaget. Bagaimana bisa ia melupakan novel itu dan meninggalkannya di mobil David? Pikirnya.
Ini sungguh di luar dugaan. Ternyata David telah lebih dulu mengetahuinya. Lantas, kenapa selama ini David tidak pernah menanyakan akan hal itu?
"Mas, jadi ... kamu ...." Mulut Aretha terhenti. Ia masih tidak percaya. Entah apa yang akan terjadi setelahnya.
"Iya, aku memang sudah sejak lama curiga kepada kalian! Namun, aku berusaha tidak membenarkan kecurigaan itu!" tegas David. "Kamu tahu? Betapa cemburunya aku saat aku melihat bagaimana cara dia menatap kamu?" tanyanya penuh emosi.
Aretha hanya diam tak menanggapi. Namun, tanpa disadari air matanya telah luruh membasahi pipinya.
"Apa kamu juga tahu? Betapa sulitnya aku menepis itu semua? Setiap hari. Bahkan, setiap detik aku selalu berusaha beranggapan bahwa apa yang aku lihat tidaklah benar." jelas David.
"Hingga waktu itu, aku menemukan buku ini di mobilku. Buku pemberian Richard yang waktu itu kamu sembunyikan dariku!" David tampak mengangkat buku itu dengan penuh amarah. Aretha hanya menanggapinya dengan isak tangis.
"Dan, sejak saat itu pula aku menyangka bahwa pertemuan kamu dengan Richard di kafe itu bukanlah karena kebetulan, melainkan karena kalian sengaja membuat janji. Dan, lagi-lagi aku menepis itu. Namun, ternyata hari ini aku tahu bahwa semua itu benar dan kalian berbohong kepadaku, jawab aku!" pekik David.
"Iya, Mas, aku tahu itu salah, tetapi aku tidak bermaksud seperti itu, Mas. Tolong dengarkan aku dulu!" Aretha semakin terisak.
"Lantas, maksudnya kamu mau mempermainkanku, iya?" David semakin geram dibuatnya. Aretha hanya menggelengkan kepala di tengah isak tangisnya, seolah tidak mengindahkan perkataan David.
"Kamu lihat! Bahkan, aku belum membuka buku ini, kamu tahu karena apa?" tanyanya menyeringai sinis.
Ya, benar. Buku itu masih rapi terbungkus plastik transparan. Nampaknya David memang tidak membaca isi dari buku tersebut.
"Karena aku takut apa yang selama ini aku duga, ternyata benar adanya!" sergah David yang sontak membuat Aretha semakin terisak.
"Mas ... aku minta maaf, aku mohon! Aku tahu aku salah, aku tidak bermaksud seperti itu." Lagi-lagi Aretha memohon seraya mengatupkan kedua telapak tangannya di atas dada sembari masih tidak bisa menahan tangisnya.
"Kenapa kamu baru bilang hari ini, ha?" David membulatkan matanya tajam. "Kenapa harus berulang kali kalian membohongiku? Andai saja kamu memberi tahuku dari awal, mungkin ... Arrggh!!" David mengerang frustasi seraya memukul setir mobil yang sontak membuat Aretha terlonjak ketakutan. David. benar-benar belum bisa menerima kenyataan itu. Antara sahabat dan gadis yang begitu penting dalam hidupnya. Siapakah yang harus ia korbankan?
Melihat David seperti itu, Aretha merasa tidak tega. Namun, ia pun tidak bisa berbuat banyak. Ada rasa penyesalan di benaknya. Kalau saja akan berakibat sepatal itu, mungkin ia tidak akan terburu-buru mengatakannya kepada David. Ia terus-menerus terisak. sesekali ia menyeka air matanya sendiri.
"Betapa bodohnya aku, mau saja dibohongi oleh sahabat dan calon tunanganku sendiri," geramnya seraya memfokuskan pandangan ke depan.
"Mas, bukan sepeti itu, Mas ... aku mohon kamu mengerti!" Aretha memasang ekspresi memelas.
"Dan terima kasih, karena hari ini kamu juga memberi tahuku bahwa apa yang dikatakan Richard dua hari yang lalu, itu semua bohong!"
"Tidak, Mas ... aku dan kak Richard sama sekali tidak bermaksud untuk membohongi atau menyakitimu," lirih Aretha dengan suara parau. Ia tampak menggelengkan kepala seolah tidak membenarkan tuduhan David. Ia memang berbohong, tetapi bukan itu maksud dari kebongan yang ia lakukan.
"Terlalu egokah aku, mencintai perempuan yang ternyata adalah orang yang selama ini sangat dicintai oleh sahabatku sendiri? Terlalu egokah aku, ingin memilikimu seutuhnya tanpa ada siapapun yang mengganggu hubungan kita, termasuk Richard? Dan terlalu naifkah aku, disaat aku sudah mengetahuinya, aku tetap diam dan berharap kamu akan tetap tinggal?" keluh David tanpa menoleh ke arah Aretha.
"Mas ... hiks ... hiks ... aku mohon maafkan aku, Mas. Kita bisa bicarakan ini baik-baik," lirih Aretha terbata. Ia berusaha meraih tangan David. Namun, David menepisnya seolah tidak sudi.
"Percayalah, kak Richard hanyalah bagian dari masa lalu aku. Sumpah demi apapun, aku benar-benar sudah melupakannya, Mas. Aku mohon kamu percaya itu! Aku mencintaimu, Mas ... dan aku harap kita bisa melanjutkan rencana pertunangan kita," jelas Aretha.
David mencebikkan bibirnya sinis. "Hh, omong kosong apalagi ini!" ketusnya.
"Mas ...," lirih Aretha. Namun, David tak menghiraukan. Pria itu segera menyalakan mobilnya kembali, lalu memutar balikkan mobilnya itu menuju jalan sebelumnya.
Mobil itu melaju membelah jalanan yang sudah sedikit lebih lengang dari kendaraan yang berlalu lalang. David mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi seolah dikuasai oleh perasaan emosi yang tinggi. Tak ada lagi yang ia katakan kepada Aretha, meski sepatah pun. Bahkan, ia tidak menggubris perkataan Aretha, ketika gadis itu memintanya untuk berhati-hati dan memperlambat laju kendaraannya.
"Mas ... aku mohon, hentikan semua ini! Kita bisa celaka, Mas!" Untuk yang kesekian kalinya Aretha mengingatkan dengan rasa takut dan rasa khawatir yang seolah telah bergejolak di dalam dadanya. Namun, lagi-lagi David tak menggubrisnya.
______________________
Readers, maaf ya kalau kalian kecewa. Kurasa tidak indah jika cerita tanpa konflik. π¬π¬π¬
Terlalu egoiskah aku, membiarkan David tidak menerima, sementara readers berharap sebaliknya?π
Semoga kalian tetap sukaπ
Kalau tidak suka, lempar saja authornya, aku relaπ
Jangan lupa komentarnya.
HAPPY READING!