Possessive Love

Possessive Love
Mendadak Mogok



Setelah acara makan malam bersama selesai, mereka langsung meninggalkan restoran itu bersama-sama, tanpa ada yang tertinggal seorang pun.


David dan Aretha tampak berjalan di barisan paling depan. Mereka berjalan saling merangkulkan tangan dengan begitu mesra, mungkin siapa saja akan merasakan iri, ketika melihat kedua pasangan yang terlihat sangat romantis itu.


Tak mau kalah, Rendy dan Clara juga tampak begitu mesra di tengah-tengah langakahnya yang saling bergandengan tangan. Sesekali mereka tertawa dan bercanda, meski perjalanan menuju tempat parkir itu sangatlah singkat.


Berbeda dengan kedua pasangan itu, Richard yang berada di belakang Rendy dan Clara, justru terlihat asyik dengan gawai di tangannya. Benda itu benar-benar telah mencuri perhatian pria itu, entah apa yang tengah ia lihat saat itu. Sesekali ia menghentikan langkahnya, ketika hendak mengetikkan sesuatu pada layar ponsel pintarnya itu.


Lain halnya dengan Dara yang tampak begitu menikmati kesendiriannya tanpa melakukan kegiatan apapun. Dokter muda itu terlihat sangat santai, ketika melangkahkan kakinya. Namun, kadang kala, ia juga memperhatikan pria dingin di depannya yang sedari tadi hanya sibuk dengan gawai miliknya. Bukan karena ada hal lain yang ia pikirkan. Hanya saja, ia merasa khawatir jika Richard akan terjatuh, karena lepas kontrol fokusnya.


Mereka tampak menghampiri mobil mereka masing-masing yang ternyata terparkir dengan jarak yang tidak terlalu jauh.


Dara telah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya. Namun, tiba-tiba mobilnya tidak mau menyala, ketika ia sudah berulang kali mencoba menyalakannya.


"Ya, Tuhan ... ada apa dengan mobilku? Kenapa tiba-tiba tidak bisa nyala begini, sih!" keluh Dara, lalu segera turun kembali dari mobilnya, sontak membuat yang lain mengalihkan perhatian terhadapnya.


David dan Rendy yang baru saja akan masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba mengurungkan niatnya kembali, lalu segera menghampiri Dara yang kala itu tengah berdiri di depan mobil berwarna merah, yang tak lain adalah milik wanita itu. Pun dengan Aretha dan Clara yang sudah sempat naik ke dalam mobil. Mereka tampak turun kembali, lalu menghampiri Dara.


"Ada apa, Dar?" tanya David dengan ekspresi datar, tidak terlihat begitu terkejut.


"Sepertinya mobilku mogok, Dave," ucap Dara memberi tahu seraya menoleh ke samping kanan, di mana David dan Aretha tengah berdiri di sana.


"Mobil kamu kenapa? Mogok?" tanya Rendy yang baru saja tiba di tengah-tengah mereka.


"Sepertinya begitu, Ren," jawab Dara yang juga sedikit bingung.


Berbeda dengan kedua pria itu, Richard hanya memperhatikan dari kejauhan, tanpa bertanya, terlebih lagi menghampirinya sebagai berbasa-basi. Namun, ia tahu masalah apa yang sedang terjadi saat itu. Ia masih bisa mendengar apa yang tengah mereka permasalahkan.


"Jadi, bagaimana? Dokter mau pulang bareng kita dan mobilnya ditunda di sini sementara, atau mau panggil montir?" tanya Aretha.


"Panggil montir sepertinya sudah terlalu malam," timpal Rendy.


"Tidak, tetapi sepertinya masih ada bengkel yang buka 24 jam," balas Dara seolah mengingat salah satu bengkel yang dekat dari daerah sana. "Barangkali aku bisa memanggil salah satu montirnya kemari," imbuhnya seraya mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


"Sudahlah, tidak perlu. Ini sudah terlalu malam dan kamu akan lama menunggu, lebih baik mobilnya tinggal saja dulu, lalu kamu pulang bareng ... Richard! Ya, Richard. Sepertinya dia bisa mengantar kamu pulang," ujar Rendy panjang lebar yang sontak membuat David sedikit terkejut.


David menatap Rendy dengan mengangkat sebelah alisnya. Rendy yang menyadarinya langsung melemparkan senyum jahilnya, sehingga membuat David sedikit menggelengkan kepala, karena baru memahami tujuan dari sahabatnya itu.


"Tidak. Tidak perlu, Ren. Aku bisa pesan taksi, kok," tolak Dara.


"Diantara kalian, memangnya tidak ada yang paham mesin satu orang pun?" tanya Clara menyela perbincangan mereka.


Mendengar pertanyaan sang kekasih, Rendy langsung menoleh ke arahnya, lalu terdiam sejenak.


Ah, Sayang ... kenapa harus bertanya seperti itu, sih? Mau membuat rencanaku gagal? Ini kesempatan baik biar mereka bisa berduaan.


"Aku tidak, Sayang," jawab Rendy.


Clara sedikit heran dengan jawaban Rendy. Padahal, kalau cuma masalah sepele, ia tahu bahwa Rendy bisa melakukannya, tetapi kenapa Rendy bilang tidak bisa. Bahkan, mengecek saja belum, pikirnya.


Fokus Clara beralih kepada David. "Kamu, Dave?" tanya Clara yang sontak membuat David tersentak.


"Hh? Aku?" David tampak bingung harus bagaimana menanggapinya. Tatapannya beralih kepada Rendy. Tentu saja sahabatnya itu memberikan kode tidak benar yang membuat David semakin bingung.


Ah, mungkin ada baiknya juga Ricahrd dan Dara diberi kesempatan untuk berdua. Barang kali mereka bisa memiliki kedekatan, dan aku tidak perlu khawatir lagi dengan istriku.


"Aku ... tidak paham juga," jawabnya sedikit ragu.


"Ya, Tuhan ... laki-laki macam apa kalian ini!" gerutu Clara. Namun, tidak ada yang menghiarukannya, termasuk Rendy.


"Ya sudah, lebih baik kamu pulang dengan Richard saja, daripada harus pesan taksi, kan?" ucap Rendy.


Rendy tertegun sejenak.


Ah, Aretha ... apa-apaan, sih? Mau mengacaukan rencanaku juga rupanya.


"Janganlah, nanti kamu malah jadi lalat kalau bareng mereka," balas Rendy asal bicara, tetapi mungkin apa yang dikatakannya itu benar.


Sementara David tidak menanggapi apapun. Ia hanya mengikuti alur yang dibuat oleh sahabatnya itu.


"Bro, lo bisa antar Dara pulang, kan?" teriak Rendy kepada Richard.


"Sorry, Bro, gue harus jemput Renata," jawab Richard masih berdiam di tempat yang sama.


"Ayolah, Bro ... sebentar saja, kasian Dara mobilnya mogok," ucap Rendy memohon.


Tanpa menanggapi perkataan Rendy, Richard segera menghampiri mereka, lalu membuka kap mesin mobil itu, tanpa meminta ijin terlebih dahulu.


Seketika Rendy yang melihatnya tampak mengumpat pelan, alamat rencananya akan gagal.


"Ah, sial!" umpatnya pelan.


Sementara, Richard terus memeriksa mesin mobil itu beberapa saat. Entah apa yang sedang ia utak-atik pada mesin mobil itu.


"Coba nyalakan!" titahnya sedikit melirik ke belakang, di mana sang pemilik mobil itu tengah berdiri di belakangnya.


"Baik," jawab Dara segera bergegas masuk ke dalam, lalu mulai menyalakan kembali mobilnya. Alhasil, mobil itu menyala kembali dalam satu kali percobaan.


"Alhamdulillah ...," ucap Dara senang.


Wanita itu turun kembali dari mobilnya, lalu menghampiri Richard yang kala itu masih berdiri di depan mobil itu. Ia tampak menutup kembali kap mobil itu, setelah mobilnya berhasil menyala.


"Thanks, ya ... berkat kamu mobilku nyala kembali," ucap Dara seraya melemparkan seringaian senang.


"Ya," singkat Richard tanpa ekspresi. Tatapannya langsung beralih ke arah Rendy dan David secara bergantian.


Seketika Dara menciut kembali, ketika mendapat tanggapan dingin dari Richard. Dengan terpaksa ia mengakhiri ekspresi semringahnya itu, lalu memilih untuk bungkam.


"Bro, gue duluan ya ... kasihan Renata sudah menunggu dari tadi," ucap Richard seraya pamit duluan.


"Oke, Bro. Thanks, ya ...," balas Rendy datar. Namun, ekspresinya sedikit kesal.


"Take care, Bro!" timpal David kemudian. Seketika ia menahan tawanya, ketika melihat ekspresi Rendy saat itu.


"Sekali lagi terima kasih ya, Rich, atas bantuannya," ujar Dara sekali lagi, ketika Richard baru saja hendak melangkahkan kakinya.


"Bukan masalah," balas Richard tanpa menatap wanita itu. Ia langsung bergegas dari tempat itu, lalu masuk ke dalam mobilnya.


Dara tampak tertegun memandangnya, sedikit meratapi nasibnya yang baru saja diacuhkan oleh pria tampan seperti Richard. Harusnya ia merasa ilfil dengan sikap Richard yang terkesan dingin dan sombong. Namun, entah kenapa ia justru mengaguminya.


Ternyata masih ada makhluk berhati es seperti dia? Kupikir hanya David yang terkesan dingin dengan wanita, ternyata dia lebih dingin daripada teman lamaku itu.


Seketika Dara menerbitkan senyumannya hingga lamunannya ambyar, ketika David dan Aretha pamit lebih dulu.


"Dar, kita duluan ya," ucap David yang membuat Dara sedikit tersentak.


"Oh iya, Dave, Silakan. Aku juga mau langsung pulang," jawab Dara.


"Kita juga ya, Dara," timpal Rendy.


"Iya, Ren. Thanks ya ...." Dara tampak tersenyum, lalu segera masuk ke dalam mobilnya, setelah mereka beranjak dari hadapannya.