Possessive Love

Possessive Love
Kepercayaan Sang Papa



"Kenapa, Sayang?" tanya David penasaran dengan sikap sang istri yang tiba-tiba hanya diam termangu sembari duduk di atas tempat tidur.


"Hh?" Aretha terkesiap, lalu menoleh ke arah sang suami yang kala itu tengah menatapnya penuh tanya.


"Ada apa dengan Samuel?" selidik David.


Tentu David sangat mencurigai istrinya. Kenapa sikap Aretha tiba-tiba berubah, setelah menerima telepon dari pria itu, adakah hal yang mengejutkan baginya?


Ya, memang benar. Aretha sangat terkejut, ketika baru saja menerima telepon itu. Tentu saja David bisa melihat ekspresinya saat itu.


Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Maksudnya, apakah itu ada hubungannya dengan dia? Batin David mulai bertanya-tanya.


"Besok pagi, Samuel berangkat ke New York untuk menyelesaikan study-nya di sana," jelas Aretha lirih.


Apa? Jadi, hanya karena itu sikapnya berubah? Lalu, apa hubungannya? Bukankah harusnya dia tidak masalah, toh Samuel bukan siapa-siapa baginya? Lalu, ini apa?


David berusaha mencerna semua perkataan sang istri. Menurutnya Aretha telalu berlebihan bersikap seperti itu, hanya karena pria yang jelas-jelas bukan siapa-siapa baginya akan pergi ke luar negeri.


"Lalu?" tanya David masih dengan tatapan yang sama.


"Maksudnya?" Aretha tidak memahami arah pembicaraan sang suami.


David mendengkus kesal. "Lalu, kamu keberatan dia akan pergi ke New York?" David mulai menatap Aretha dengan tatapan tidak suka.


Aretha sedikit terlonjak dengan pertanyaan David. Bagaimana bisa suaminya beranggapan seperti itu padanya.


Tidakkah ia tahu bahwa sampai detik ini hanyalah dirinya yang selalu aku khawatirkan, ketika ia pamit pergi dan berada di tempat yang jauh? Tidakkah ia tahu bahwa selama ini adalah dirinya yang selalu kutunggu kehadirannya. Lantas, untuk apa aku merasa keberatan akan kepergian Samuel, jika dirinya masih tetap berada di sampingku?


"Mana mungkin aku keberatan, Mas. Memangnya dia siapa?" bantah Aretha seraya mengangkat tubuhnya, lalu berdiri tepat di hadapan David.


"Lantas, kenapa sikapmu berubah seperti itu, kalau bukan karena keberatan?" Rupanya David masih tidak percaya.


"Aku hanya khawatir sama Diandra," terang Aretha seraya menatap intens wajah sang suami.


David mengerutkan dahinya sembari membalas tatapan sang istri. Namun, tatapannya masih sama seperti sebelumnya. Tatapan yang penuh tanya. Kenapa Aretha begitu khawatir kepada Diandra, memangnya apa hubungan wanita itu dengan Samuel, bukankah mereka memang belum menjadi sepasang kekasih? Lantas, untuk apa ia sampai khawatir seperti itu? Pikirnya.


"Aku sahabatan sama Diandra sudah lama, Mas. Aku tahu dia seperti apa. Mungkin orang lain akan menganggap bahwa dia sangat benci pada Samuel, karena sikapnya yang selalu sinis dan ketus. Tapi, kurasa itu salah. Aku tahu Diandra sudah memiliki rasa terhadap Samuel, meski aku belum begitu yakin dan bisa membuktikan hal itu," jelas Aretha memberi tahu apa yang bisa ia tangkap dari sikap Diandra kepada Samuel. "Pun sebaliknya," imbuhnya yang seolah menyatakan bahwa Samuel juga sama seperti Diandra.


"Dari mana kamu tahu itu?" tanya David datar.


"Kalaupun tidak, mana mungkin Samuel menitipkan Diandra sama aku," jawab Aretha.


David semakin heran. Ia terdiam tak menanggapi.


Ini bagaimana maksudnya? Kenapa pria itu harus menitipkan Diandra segala kepada istriku? Memangnya dia anak bayi apa?


"Sudahlah, Mas ... ayo, kita pergi! Kasihan mama sama papa kalau harus menunggu lama." Aretha ingin segera mengakhiri obrolan yang tidak terlalu penting untuk di bahas.


***


David dan Aretha baru saja turun dari mobil mereka yang sengaja diparkirkan di sebuah halaman depan rumah mewah bergaya klasik yang didominasi dengan cat berwarna putih.


David tampak memencet bel rumah kedua orangtuanya yang jarang sekali ia kunjungi. Jangankan setelah menikah, sebelum menikah saja ia lebih memilih untuk pulang dan tinggal di apartemennya.


Setelah beberapa saat mereka menunggu, pintu itu tiba-tiba terbuka. Seketika seringaian senyum merekah di wajah keduanya, ketika mendapai sang mama yang berada di hadapannya.


"Nak, kenapa lama sekali?" Sang mama tampak begitu bahagia menyambut putra dan menantu tunggalnya.


David dan Aretha langsung mencium tangan mamanya. Tak lupa mereka juga memberikan pelukan singkat secara bergantian.


"Mama apa kabar?" tanya Aretha.


Maria tersenyum simpul menatap sang menantu yang sangat ia cintai itu. "Alhamdulillah, mama baik-baik saja, Sayang. Kamu sendiri?" Maria memegang kedua lengan Aretha.


"Syukurlah ... kami juga baik-baik saja," jawab Aretha.


"Oh iya, bagaimana dengan liburan kalian?" tanya sang mama seraya memberi jeda, lalu menatap David. "Maaf lho, mama panggil kalian ke sini, padahal mama tahu kalau kalian pasti lelah," lanjutnya sedikit menyesal.


"Tidak apa-apa, Ma. Liburan kami juga sangat menyenangkan, Ma." balas Aretha.


"Papa kemana, Ma?" tanya David seraya mengedarkan pandangan ke seisi rumah.


"Ya ampun ... tuh 'kan mama sampai lupa tidak mengajak kalian masuk. Ayo masuk! Papa sudah menunggu kalian dari tadi," ajak Mari seraya merangkul tangan sang menantu. David yang berjalan di belakang mereka tampak menyeringai senang melihat kedekatan istri dan mamanya.


Dari kejauhan sudah terlihat seorang laki-laki paruh baya yang tengah duduk di sofa yang berada di ruang tengah, sembari menonton berita yang tayang di chanel televisi. Ya, siapa lagi jika bukan Kris Wijaya sebagai orang nomor satu di rumah itu.


Mendengar suara langkah kaki membuat laki-laki itu menoleh ke belakang, lalu segera berdiri menyambut kedatangan putra dan menantu yang sudah sejak lama ia rindukan.


"Pa." David langsung menghampiri sang papa lalu mencium tangannya, sebagaimana yang ia lakukan kepada sang mama. Setelah itu, Aretha juga melakukan hal yang sama seperti David.


"Duduk, Nak!" titah sang papa seraya mendaratkan kembali tubuhnya di atas sofa berbahan semi kulit berwarna hitam.


David dan Aretha langsung duduk di sofa panjang dengan jenis dan model yang sama seperti yang diduduki sang papa. Mereka duduk bersebelahan. Sedangkan, sang mama duduk di samping papanya.


"Papa ada apa sampai panggil kami kemari?" tanya David seraya memfokuskan pandangan ke arah sang papa.


"Ma, tolong ambilkan berkasnya," pinta Kris kepada sang istri.


"Baik, Pa." Maria tampak bangkit dari tempat duduknya, lalu beranjak menuju kamar tidurnya. Entah berkas apa yang diminta oleh laki-laki paruh baya itu.


"Silakan diminum, Mas, Mbak," ucap seroang asisten rumah tangga di rumah itu. Namanya Darmi, perempuan yang usianya sekitar setengah abad. Ia tampak menyuguhkan minuman beserta camilannya kepada mereka.


"Terima kasih, Mbok," ucap David dan Aretha berbarengan.


Darmi segera kembali ke dapur membawa nampan kosong. Tak lama, Maria juga kembali dari kamarnya.


"Ini, Pa." Maria menyodorkan sebuah map berwarna kuning kepada sang suami, lalu duduk kembali di tempat sebelumnya.


Kris langsung membuka map itu sejenak, kemudian ia berikan kepada David.


David meraih map itu dengan perasaan sedikit ragu. Ia masih bertanya-tanya dalam hatinya perihal map itu. Ia benar-benar belum mengetahui akan isi dari map tersebut, terlenih lagi sang papa tidak membicarakan perihal itu sebelumnya.


Mungkinkah perusahaan mengalami kekacauan selama ia tinggalkan tiga hari? Ah, mana mungkin papa tidak bisa mengatasinya dengan baik, pikirnya.


Ya, ia tahu betul keahlian sang papa dalam hal berbisnis. Tidak mungkin beliau melakukan kesalahan dalam waktu yang sangat singkat.


David membuka map itu. Seketika ia membulatkan matanya, ketika mengetahui isi dari map tersebut. Surat kepemilikan perusahaan yang mengatas namakan dirinya.


Dengan perasaan terkejut ia mendongak, menatap sang papa. "Pa, apa maksud dari semua ini?" tanyanya masih tidak percaya.


Ya, bagaimana tidak. Itu serasa mimpi baginya Apakah secepat itu sang papa mempercayakan perusahaan kepadanya? Ah, sungguh ini terlalu cepat baginya. Rasanya ia masih belum pantas menerima itu semua, meski pada kenyataannya ia adalah satu-satunya ahli waris dari keluarganya.


"Ya, sudah waktunya kamu menerima ini semua, Nak," jawab sang papa yakin.


"Tapi, Pa, apa tidak terlalu cepat? Aku takut tidak bisa menjaga amanah yang papa berikan." keluh David.


Papanya tersenyum simpul menatap wajah sang putra. Betapa bangganya ia memiliki putra yang tidak terlena dengan harta kekayaan yang dimilikinya. Mungkin sebagian orang tidak akan berpikir panjang untuk menerima perihal materi. Namun, tidak dengan David yang justru merasa belum pantas untuk memiliki.


"Papa percaya sama kamu, Nak," balas sang papa tanpa rasa ragu sedikit pun.


David sangat terharu diberi kepercayaan yang menurutnya sangat berat.


Sementara, Aretha hanya memperhatikan raut wajah sang suami. Ia merasa bangga karena memiliki suami yang sangat dipercaya untuk mengelola perusahaan keluarganya. Itu bukanlah perkara yang mudah. Namun, ia yakin dan percaya bahwa sang suami bisa melakukannya, ia harap seperti itu.


"Terima kasih, Pa. Aku janji akan berusaha menjaga dan mengembangkan perusahan kita agar lebih maju.


"Tentu! Dan papa yakin kamu bisa melakukannya," balas sang papa.


"Semoga, Pa."


Mereka melajutkan perbincangan yang lain, setelah membahas topik inti. Sang mama tampak bertanya banyak tentang bagaimana liburan mereka. Aretha menjawabnya dengan senang hati.


"Sayang, kalian sudah makan?" tanya Maria di tengah-tengah perbincangan mereka.


"Sudah, Ma, tadi sebelum kemari," jawab Aretha memberi tahu.


"Oh ... baiklah," ucap Maria menanggapi.


"Sayang, malam ini kita menginap di sini tidak apa-apa, kan?" David tampak menoleh ke samping.


Entah kenapa tiba-tiba ia ingin sekali menginap di rumah kedua orangtuanya. Rumah yang memiliki begitu banyak kenangan sewaktu ia kecil dulu.


"Oh, tidak apa-apa, Mas. Aku malah senang. Jarang-jarang kita bisa berkumpul bersama," jawab Aretha menyetujui. Seketika senyuman manis terbit di wajahnya, sebagai tanda bahwa ia sangat senang dengan ide sang suami untuk menginap di rumah itu.


"Syukurlah ... kalian mau menginap di sini, mama sangat senang sekali. Biar mama minta mbok Darmi merapikan kamar kalian," ujar Maria tak kalah senangnya karena putra dan menantu kesayangan akan menginap di rumahnya.


"Tidak perlu, Ma. Biarkan aku saja yang akan merapikan nanti," tolak Aretha.


"Oh, baiklah."


"Sering-sering saja kalian menginap di sini. Rumah ini terasa sepi kalau hanya ada papa sama mama," timpal sang papa.