
"Aauuuwwww!" David memekik kesakitan.
"Pokoknya aku gak mau tahu, kamu jangan sekali lagi lakukan itu, sebelum kita nikah, titik!" sergah Aretha.
"Jadi benar, kalau dia marah karena itu?" gumam David dalam hati. Ia tampak mencebikkan bibirnya, lalu melengos kesal.
"Kamu tidak suka?" tanya David ingin tahu.
"Ah, sudahlah jangan bahas itu lagi!" Aretha tampak menutup telinga sembari memejamkan matanya seolah tidak ingin mendengar David membahas hal yang sudah membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
Bagaimana bisa dia tidak menyukainya? Apa benar seperti itu?
David menatap tidak percaya, lalu mendengus. "Ya sudah, bersiap-siaplah, aku tunggu di depan!" titah David, setelah menghabiskan selembar roti tawarnya, sontak membuat Aretha menoleh.
"Mau kemana?" tanya Aretha heran.
"Kurasa mami kamu sudah kasih tahu," jawab David.
"Apa?" Aretha mengernyitkan dahinya.
"Cari cinicin tunangan," jawab David seraya tersenyum.
"Kok gak kasih tahu sebelumnya?" protes Aretha yang sontak membuat David melengos sejenak.
"Itu puluhan telepon aku yang kamu tolak, apa namanya?" sindir David seraya menatap geram yang langsung membuat Aretha sedikit menciut.
"Ya sudah, sana!" titah David.
"Iya," jawab Aretha memberengut, lalu mulai berdiri dari tempat duduknya.
Seketika perhatian David teralihkan ke tubuh Aretha bagian bawah yang tampak terekspos jelas, paha dan kakinya yang putih mulus, tanpa cacat sedikit pun. David menelan salivanya berat.
Kenapa di rumah ... dia bisa seseksi ini?
Siapa yang tidak akan terhipnotis , jika disuguhkan sebuah mahakarya yang begitu indah dipandang oleh mata.
Seketika bulu kuduk David meremang. Hal yang wajar bagi pria normal sepertinya. Pikirannya mulai bergerilya kemana-mana. Kesempurnaan tubuh Aretha sungguh membuatnya ingin segera memiliki gadis itu sepenuhnya.
"Aku ganti baju dulu," pamit Aretha seraya beranjak dari tempat duduk itu yang sontak membuat lamunan David seketika ambyar.
David kembali menepis pikiran liarnya. Nampaknya ia harus sedikit bersabar hingga Aretha benar-benar menjadi miliknya.
David segera beranjak dari tempat itu menuju ruang tamu. Ia mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruangan itu sembari memainkan ponselnya.
Setelah beberapa menit David menunggu, Aretha tampak sudah kembali dengan memakai gaun berwarna hitam yang berhiaskan renda sebagai pelengkap di bagian tangan pendeknya, sementara panjangnya hanya menutupi sebagin pahanya. Rambutnya ia biarkan tergerai dengan indah. Gadis itu tampak berdiri di hadapan David.
"Ayo!" ajak Aretha.
David masih tak bergeming. Matanya membulat memperhatikan penampilan Aretha dari ujung rambut hingga ujung kaki. Cantik sempurna! Pikirnya.
Namun, tatapannya terhenti pada bagian bawah tubuh Aretha yang menurutnya terlalu seksi. Rasanya ia tidak akan rela jika keindahan tubuh Aretha disuguhkan untuk pria lain.
David mendongak seraya menatap sinis. "Apa tidak ada pakaian yang lebih seksi daripada itu?" tanyanya kesal.
Aretha tertegun sejenak, lalu mengecek penampilannya dengan melirik ke tubuhnya sendiri. Ia tampak menundukkan kepala sejenak, lalu mendongak kembali, menatap David.
"Kenapa harus berpakaian seksi, memangnya kita mau kemana?" tanyanya polos. Menurutnya pakaian yang ia kenakan terbilang wajar, tidak terlalu menunjukkan setiap lekuk tubuhnya. Ia pikir David benar-benar memintanya untuk mengganti dengan yang lebih terbuka. Namun, ternyata ia salah mengartikan ucapan David.
"Ganti dengan yang lebih tertutup!" tegas David, sontak membuat Aretha sedikit terlonjak kaget. Dengan sigap, Aretha segera kembali ke kamarnya untuk memenuhi keinginan David.
"Lho, Re ... kenapa balik lagi?" tanya Carmila yang kala itu tengah berada di ruang keluarga bersama Anton yang nampak tengah sibuk dengan laptopnya. Seketika Anton mengalihkan perhatian kepada Aretha, setelah gadis itu menghentikan langkahnya dan berdiri tidak jauh dari jangkauan orangtuanya.
"Lihat calon mantu Mami, belum jadi istrinya saja sudah banyak ngatur!" ketus Aretha kesal. Namun, cukup membuat Carmila dan Anton terkekeh mendengarnya. Carmila hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.
Mereka tahu betul apa yang dimaksud Aretha karena sebelumnya gadis itu sudah menceritakan tentang David yang posesif terhadapnya.
Aretha tampak menuruni anak tangga satu persatu, setelah ia berhasil mengganti pakaiannya. Kala itu, ia memakai blouse berwarna hitam lengan pendek yang dipadupandankan dengan long pant berwarna cream. Tak lupa sneakers putih dan bucket bag yang tampak melengkapi penampilannya, sementara gaya rambutnya masih sama seperti sebelumnya.
Carmila dan Anton yang kala itu masih berada di ruang keluarga, kembali memperhatikan Aretha yang tengah berjalan di hadapannya.
"Terlihat lebih cantik dari sebelumnya," puji Anton yang sontak menghentikan langkah Aretha sejenak, lalu menoleh ke arahnya.
Aretha menghela napas, lalu menghampiri keduanya. "Aku berangkat dulu," pamitnya seraya mencium tangan kedua orang tuanya.
"Hati-hati, Sayang!" ucap Carmila mengingatkan.
Aretha segera menghampiri David yang kala itu masih menunggunya di ruang tamu. Wajahnya masih memberengut kesal.
"Cantik!" puji David seraya menatap Aretha sembari tersenyum. Aretha hanya mendengus kesal. Walau bagaimanapun waktunya menjadi terbuang sia-sia karena terlalu banyak dihabiskan untuk sekadar mengganti pakaian.
"Ayo!" ajak Aretha dengan nada sinis.
"Pamit dulu," jawab David.
"Ya udah, sana!" titah Aretha masih kesal.
"Sama kamu lah," ujar David.
"Sudah," jawab Aretha singkat yang langsung membuat David lagi-lagi mencebikkan bibirnya. Dengan terpaksa, David berpamitan sendiri, setelah Aretha memberi tahu keberadaan kedua orangtuanya.
***
Di dalam mobil, Aretha hanya diam tak bersuara. Ia tampak menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil. Nampaknya ia masih kesal sehingga membuatnya malas untuk berbicara.
Sementara David masih fokus dengan kegiatan menyetirnya. Melihat Aretha yang hanya diam, membuat David sesekali melirik gadis di sampingnya.
Pria itu merendahkan kecepatan laju kemudinya, lalu sebelah tangannya mengelus lembut kepala Aretha. "Kamu marah?" tanyanya seraya menoleh sejenak, lalu mengalihkan kembali ke arah kemudi. Tentu saja ia tahu karena ekspresi wajah yang ditunjukkan Aretha saat itu. Aretha hanya diam tak menjawab seolah membernarkan pertanyaan David.
"Maaf ya, Sayang ... aku hanya tidak ingin jika pria lain melihatnya, " jelas David seraya tersenyum.
Seketika David teringat dengan sindiran yang diberikan oleh Samuel. Ia tidak ingin jika Aretha merasa tertekan karena ulahnya. Namun, walau bagaimanapun Aretha adalah calon istrinya dan ia tidak ingin jika pria lain menikmati setiap lekuk tubuh Aretha yang nampak terbuka, meski hanya melalui mata.
Aretha hanya menanggapi dengan helaan napas panjang. Entah ia suka atau tidak dengan sikap David saat itu. Yang jelas, ia selalu merasa nyaman, ketika David memperlakukannya dengan manis dan lembut, meski sebelumnya pria itu telah membuatnya marah.
"Kamu cantik, aku suka!" puji David seraya mengusap lembut pipi gadis itu, lalu memfokuskan kembali pandangannya ke depan. Seketika Aretha menoleh menatapnya. Pipinya memerah, jantungnya berdegup kencang sehingga membuatnya mematung, bungkam. Tidak bisa berbuat apa-apa.
David kembali menoleh. "Sayangnya, aku belum medapat SIM, padahal mau banget," imbuhnya masih memegang pipi Aretha.
"SIM?" Aretha membulatkan matanya, menatap heran pria di sampingnya.
David tersenyum menggoda. "Surat Ijin Mencium," ucapnya menyeringai.
"Mas David!" erang Aretha seraya melepas paksa tangan David dari pipinya sehingga membuat pria itu terkekeh menahan tawa.
"Dasar otak mesum!" gerutu Aretha.
__________________
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT DULU DONK🙏
HAPPY READING!