
Di sebuah rumah sakit swasta terbaik di kawasan Jakarta Selatan, Aretha dan David tampak sedang menunggu antrian di poliklinik, tepatnya di depan ruang dokter kandungan.
Mereka tampak duduk bersebelahan. Ada beberapa pengunjung lain yang juga ikut mengantri di sana. Mayoritas dari mereka yang sudah memiliki perut besar.
"Nyonya Aretha!" panggil seorang perawat yang mendampingi dokter kandungan. Ia tampak berdiri di ambang pintu ruangan itu, sembari memegangi beberap tumpukan kertas beralaskan papan bidang yang isinya diduga data pengunjung dokter.
Aretha dan David segera bangkit dari tempat duduknya, lalu beranjak masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Lho, Dave?" ucap seorang dokter yang tak lain adalah Dara, teman lama David. Ia langsung bangkit dari tempat duduknya.
Dara sedikit terkejut, ketika mendapati David dan istrinya di sana, pun sama dengan Aretha dan David. Mereka juga terkejut dengan keberadaan seseorang yang tidak asing di ruangan itu.
"Dara?" David sedikit membeliak. "Kamu tugas di sini?" tanyanya kemudian.
"Betul, Dave." Dara tampak menyunggingkan senyumnya. "Istri kamu hamil?" imbuhnya seraya memfokuskan pandangan kepada Aretha.
"Baru mau memastikan," jawab David.
"Baiklah, silakan duduk!" titah Dara kepada keduanya.
Aretha dan David pun segera mendaratkan tubuh mereka di kursi yang berada tepat di depan meja kerja dokter muda yang memiliki paras cantik itu.
"Sebelumnya ... sudah melakukan tes kehamilan?" tanya Dara mengonfirmasi.
"Sudah, Dok. Menggunakan test pack, dan hasilnya positif," jawab Aretha.
"Baiklah, kita periksa dulu ya, Mbak," ajaknya kepada Aretha dengan sangat ramah.
"Baik," singkat Aretha.
Wanita itu bangkit kembali dari tempat duduknya, lalu mengikuti langkah kaki dokter itu. Ia hanya menuruti apa yang diminta oleh dokter, ketika ia dibimbing untuk berbaring di atas ranjang pasien yang berada di ruangan tersebut.
Dokter itu telah memulai dengan kegiatan memeriksa kandungan Aretha. Aretha tampak memperhatikan dokter yang memiliki paras cantik dan mempesona.
"Ada keluhan tidak?" tanya Dara di tengah kegiatannya saat itu.
"Hanya mual dan pusing," jawab Aretha.
Dokter itu melakukan kegiatannya kembali dan memberikan beberapa pertanyaan lain kepada Aretha seperti kapan terakhir datang bulan, juga termasuk riwayat kesehatan wanita itu. Namun, tak berlangsung lama.
"Baik, sudah selesai," ucap Dara, ketika ia telah selesai dengan kegiatannya.
Aretha segera bangun, lalu turun dari ranjang pasien itu. Mereka berdua tampak berjalan kembali menuju meja dokter, dimana David masih setia menunggu di sana.
"Bagaimana hasilnya?" tanya David sangat antusias, ketika Dara baru saja mendaratkan tubuhnya di kuris putar kebanggannya.
Dara tersenyum, sebelum ia mengutarakan hasil yang ia ketahui berdasarkan pemeriksaan itu. "Selamat untuk kalian, berdasarkan pemeriksaan, hasilnya menyatakan positif," ucapnya seraya melebarkan senyumannya.
"Alhamdulillah ...." David dan Aretha terlihat begitu senang mendengar kabar baik itu. Mereka saling melemparkan tatapan haru dan bahagia. Rasanya seperti mimpi, mereka diberi kepercayaan secepat itu oleh Sang Mahakuasa.
"Sayang, kita akan segera memiliki anak," seru David bersuka cita.
"Iya, Mas," balas Aretha.
"Selamat ya, Dave, akhirnya kamu akan segera menjadi seorang ayah," timpal Dara di tengah euforia kebahagiaan mereka.
"Thanks, Dar. Ups ... sorry, maksudku dokter Dara," balas David seraya mengoreksi perkataannya.
Dara tertawa kecil melihat tingkah David. "Santai saja, Dave. Kamu tidak perlu memanggilku seperti itu," ujarnya.
"Oke," singkat David menanggapai. "Jadi, bagaimana kondisinya? Sehat, kan?" tanyanya kemudian.
"Ya, alhamdulillah kondisi janin dan ibunya sehat. Usianya sudah mencapai enam minggu. Untuk keluhan mual dan pusing, itu masih terbilang wajar, kecuali kalau memang terasa sangat parah, silakan kembali ke sini. Sebentar aku buatkan resep obatnya dulu," jawab Dara menjelaskan.
Dokter itu tampak menuliskan resep obat untuk kesehatan Aretha dan janin yang tengah dikandungnya, lalu menyerahkan secarik kertas berisi resep obat dan vitamin.
"Untuk obatnya bisa ambil di farmasi. Jangan lupa minum susu khusus untuk ibu hamil," ucap Dara mengingatkan.
David meraih kertas berisi resep obat yang diberikan oleh Dara.
Walau bagaimanapun ia harus mengetahui hal itu, demi menjaga kesehatan janinnya, karena ia tidak ingin terjadi apapun pada janinnya, hanya karena kecerobohannya sendiri.
"Banyak sekali, Mbak. Diantaranya, tidak boleh stres, tidak boleh melakukan aktivitas yang berat, hindari dari asap rokok, dan jaga pola hidup sehat dengan makan makanan dengan gizi seimbang, dan lagi, tidak dianjurkan untuk diet," jelas Dara panjang lebar.
Aretha tampak menganggukkan kepala seolah paham dengan apa yang Dara jelaskan. Ya, tentu saja ia memahami penjelasan yang singkat, padat dan jelas itu.
"Kapan kita harus kembali?" David menatap dokter itu penuh tanya.
"Satu bulan ke depan," jawab Dara tanpa berbasa basi.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi. Terima kasih ya, Dar." David tampak mengangkat tubuhnya dari tempat duduk, lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Dara.
Dara pun bangkit, lalu menerima uluran tangan pria itu. "Jaga istrimu baik-baik, tolong jangan biarkan dia stres dan kerja berat, karena usia kehamilannya masih terlalu muda," pesan Dara kepada David.
"Tentu," singkat David.
Sebagaimana David, Aretha pun melakukan hal yang sama. "Terima kasih ya, Dok," ucapnya seraya menerbitkan senyuman di wajahnya.
Dara langsung membalasnya dengan tangan terbuka, lalu mengulas senyumnya. "Jaga kesehatan ya, Mbak," ujarnya mengingatkan.
***
Di sepanjang perjalanan pulang, Aretha tak henti-hentinya mengulas senyum bahagia. Bagaimana tidak? Akhirnya, program hamil yang memang sengaja ia rencanakan, berhasil dengan memuaskan. Semesta mengabulkan apa yang menjadi harapnya. Dan itu sungguh sangat membahagiakan baginya dan juga sang suami.
David yang kala itu tengah fokus dengan kegiatan mengendarai mobil, sesekali melirik ke samping, menatap sang istri yang terlihat begitu bahagia. Seketika ia pun menyunggingkan senyum bahagianya. Sungguh, wanita itu adalah satu dari sekian banyaknya alasan dimana ia akan merasakan kebagahiaan yang hakiki, yaitu ketika melihat wanita itu tersenyum bahagia.
Dan kali ini, David tengah menunggu satu alasan lagi, yaitu janin yang ada di dalam kandungan sang istri yang sangat ia tunggu kelahirannya, dan akan menjadi alasan kebahagiaan untuknya.
"Kamu senang?" David menoleh sejenak, lalu mengalihkan kembali pandangannya ke depan.
Aretha melirik dengan senyuman merekah. "Tentu saja aku senang, Mas," ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, menatap haru pria yang tentu saja memiliki andil dalam mewujudkan harapannya.
David mengulas senyumnya, lalu membelai rambut Aretha. "Mulai sekarang, jaga kesehatan kamu ya, demi calon anak kita," pintanya.
"Aku masih ingat apa kata dokter Dara, Mas. Kamu jangan khawatir," balas Aretha.
"Ck! Apa kamu lebih senang mendengarkan apa kata dokter dibandingkan perkataanku?" kesal David.
Bagaimana tidak? Dara yang baru dua kali bertemu dengannya, Aretha langsung mendengarkan perkataan wanita itu. Sementara, David yang sudah sejak lama menjadi pendamping hidupnya, terkadang masih saja tidak didengarkan.
"Aku selalu menuruti perkataanmu lho, Mas. Memangnya, kapan kamu mau terima penolakan dariku? Tidak pernah, kan? So, mana bisa aku tidak menuruti semua yang kamu mau," jelas Aretha sedikit menyindir.
"Ck! Itu karena aku yang memaksa. Kamu kalau tidak dipaksa, mana mau mendengar perkataanku." Secara tidak lanngsung, David sudah mengakui bahwa dirinya adalah seorang yang suka memaksa.
Seketika Aretha tersenyum jahil. "Itu aku sengaja," ucapnya seraya memasang ekspresi menggemaskan. "Kenapa? Karena aku suka dipaksa sama kamu," imbuhnya yang sontak membuat David merasa sedikit tidak percaya dengan ucapannya. Apa memang benar seperti itu? Batinnya.
"Kalau begitu, aku akan memaksamu setiap hari," goda David seraya mengerlingkan sebelah matanya.
"Ish! Bukan seperti itu juga konsepnya," bantah Aretha kesal.
Di tengah perbincangan mereka tiba-tiba suara getar ponsel membuat keduanya memutuskan untuk mengakhiri perbincangan.
"Mami," lirih Aretha, ketika melihat layar ponselnya. Ia segera menerima panggilan masuk dari sang mami.
"Iya, Mi?"
"Ada apa, Mi?"
"Baik, Mi."
Aretha memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, setelah panggilan telepon itu berakhir.
"Mas, kita diminta ke rumah mami, malam ini," ucap Aretha memberi tahu.
"Ya sudah, nanti kita ke sana," jawab David tanpa berpikir panjang.