
Lagi-lagi mereka hanya saling menatap satu sama lain. Tentu saja karena masih merasa bingung harus menjawab apa.
Carmila mulai mendekati Aretha, lalu meraih bayi yang masih berada di pangkuan putrinya itu.
"Kenapa pada diam, sih? Sebenarnya ada apa?" tanya Aretha, setelah memberikan bayinya kepada sang mami.
"Pa? Pi?" Aretha tampak menatap papi dan papa mertuanya secara bergantian.
Dengan rasa ragu, Anton mendekati Aretha. Ia tampak menatap putrinya dengan sendu. Ia pikir, sudah waktunya Aretha tahu.
Aretha tampak menatap sang papi dengan penuh selidik. Bahkan, ia enggan mengedipkan matanya walau barang sedikit pun.
"Sayang, kamu yang sabar ya ...," lirih Anton, ketika ia sudah berada di samping Aretha. Ia mengusap lembut puncak kepala wanita itu, berusaha memberikan ketenangan.
"Ada apa, Pi?" tanya Aretha lagi-lagi tanpa mengedipkan mata.
"Suamimu ...."
Dengan terpaksa dan sangat hati-hati, Anton pun menceritakan kondisi sebenarnya tentang David saat itu, meski ia tahu Aretha akan sangat terpukul dengan kabar itu, tetapi tak ada pilihan lain. Cepat atau lambat Aretha akan mengetahuinya. Sebab, tidak mungkin jika selamanya mereka menyembunyikan itu semua dari wanita itu.
"Tidak ... tidak ...." Aretha tampak menggeleng-gelengkan kepala, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Tidaaaaaaaaak!" teriak Aretha sambil menangis histeris, sehingga membuat ketiga sahabatnya berlari masuk ke dalam ruangan itu, karena mendengar teriakan Aretha.
Bahkan, Richard dan Rendy yang baru saja tiba di depan ruangan Aretha tampak dikagetkan oleh tangisan histeris Aretha, lalu segera berlari masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Tidak, Papi bohong, kan? Bilang kalau Papi bohong!" Aretha masih tidak percaya dan berharap bahwa apa yang dikatakan sang papi itu tidak benar adanya.
Carmila dan Maria tampak menangis melihat Aretha yang sangat terpukul saat itu. Namun, mereka tidak bisa mendekatinya, sekadar untuk menenangkan, karena tengah menggendong bayi Aretha.
"Sayang, sabar ... David pasti sembuh, kamu percaya sama papi," ucap Anton seraya memegangi bahu putrinya itu.
Dengan terus menangis, Aretha menyingkap selimut yang menutupi kakinya. "Tidak, aku harus bertemu dengan mas David sekarang juga!" ucapnya seraya beranjak turun dari ranjang pasien itu dengan paksa.
"Sayang, kamu mau kemana? Kamu masih sakit, Nak. Jangan nekat!" Anton berusaha menahan tubuh Aretha. Namun, Aretha tetap memaksa untuk turun.
Namun, baru saja ia menggerakkan tubuhnya—menurunkan sebelah kakinya, tiba-tiba ia merasakan sakit yang benar-benar sakit di bagian perutnya, sehingga membuatnya merintih kesakitan.
"Aauuuuuuw!!!" pekiknya seraya memegangi perutnya.
Anton langsung menahan tubuh Aretha. "Sayang, jangan memaksakan diri, kamu masih belum pulih, Nak. Tolong jangan membuat papi cemas!" Anton tampak memasang ekspresi cemas.
Dengan sigap, Kris langsung menghampirinya dan ikut membantu menantunya itu.
5embuh, kamu percaya sama papa! Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhan David," ucap Kris dengan tatapan memelas.
Sebenarnya, baik Kris maupun Anton, mereka juga sama, tidak kuasa menatap Aretha yang menangis seperti itu. Rasanya mereka juga sudah tidak bisa membendung kesedihan itu. Namun, jika mereka ikut terpuruk dengan peristiwa itu, lalu siapa yang akan menenangkan Aretha dan istri-istrinya.
"Mas David, Pa ...."
Ia pun memeluk Aretha yang kala itu masih tersedu sedan. "Aku mau ketemu mas David, Pa," lirihnya.
"Nanti, setelah kamu pulih," jawab Kris.
Ketiga sahabat Aretha tampak saling beradu pandang melihat Aretha yang masih menangis histeris. Sungguh mereka tidak memahami apa yang sudah terjadi kepada Aretha, sehingga ia bisa sehisteris itu.
"Maaf, Om, Tante, sebenarnya apa yang sudah terjadi?" Dengan rasa ragu dan penuh ingin tahu, Tania berusaha menanyakan hal itu, sehingga membuat Aretha dan keluarganya tampak menoleh ke arahnya.
Tak ada satu pun dari mereka yang mejawab pertanyaan Tania. Lagi-lagi Aretha semakin menangis sejadi-jadinya.
"Pi ... aku mau ketemu sama mas David!" teriak Aretha sekali lagi. Bahkan, ia sudah tidak mempedulikan kedua bayi kembarnya itu.
Sebagaimana Aretha, Carmila dan Maria pun masih menangis melihat Aretha yang tidak bisa ditenangkan. Namun, seketika perhatian mereka teralihkan, ketika kedua bayi itu menangis. Mungkin karena ikatan batin antara anak dan ibu itu, sehingga mereka ikut menangis di saat mamanya menangis.
"Aku mau melihat mas David!" Lagi-lagi Aretha berteriak. Andai saja Anton dan Kris tidak menahannya waktu itu, mungkin Aretha sudah berhasil menjatuhkan dirinya dari ranjang itu.
"Kamu masih belum kuat, Nak. Nanti akan kami antar, setelah kamu bisa berjalan," jawab Anton.
"Aku mau ketemu mas David sekarang, Pi," kekeh Aretha di tengah isak tangisnya.
"Tapi mas David butuh aku, Pi ... aku mau bertemu dengannya." Aretha masih tidak memahami dengan apa maksud dari orang tuanya.
Masa bodoh dengan apa yang tengah ia rasakan saat itu. Bahkan, ia pun sudah tidak peduli dengan tangisan kedua buah hatinya. Hanya David yang berada dalam pikirannya saat itu. Ia sangat berharap bisa menemui sang suami secepatnya. Namun, bagaimana bisa dengan kondisinya yang seperti itu?
Sekeras apapun Aretha memaksa untuk berjalan, tetap saja ia tidak akan bisa melakukannya. Ia tidak cukup kuat untuk melawan rasa sakitnya saat itu. Jangankan untuk berjalan, bahkan menangis dan tertawa pun membuatnya merasakan sakit di bagian perutnya, karena bekas operasi yang masih terasa kaku. Memang tidak mudah untuk menyembuhkan luka bekas operasi.
Anton tampak menghadapkan tubuh Aretha ke arahnya, sehingga mereka tampak berhadapan sembari beradu pandang. Anton tampak memegang kedua lengan Aretha.
"Sayang, dengarkan papi! Ini ujian buat kalian berdua. Percayalah, bahwa Tuhan telah merencanakan sesuatu yang lebih indah, setelah ini." Anton tampak memberi jeda beberapa saat. "Suamimu pasti berjuang keras untuk tetap bertahan demi kamu dan bayi kalian. Kamu doakan dia agar bisa melawan ujian itu. Papi yakin kalian pasti akan bisa berkumpul kembali. Percayalah!" imbuhnya.
"Ada apa ini?" Seketika suara seseorang tampak mengalihkan fokus seluruh makhluk di dalam ruangan itu.
Mereka tampak menoleh ke belakang, tampak seorang perawat yang tengah berdiri di ambang pintu. Rupanya kerusuhan yang terjad di ruangan itu tidak sengaja memanggilnya untuk datang ke ruangan tersebut, khawatir telah terjadi sesuatu dengan pasiennya. Benar saja, pasiennya dalam keadaan tidak sedang baik-baik saja. Itu jelas dari apa yang tengah ia lihat saat itu.
"Ada apa ini?" Perawat itu tampak menghampiri ranjang, di mana Aretha tengah duduk di sana, masih dalam keadaan menangis dan lengan yang tengah dipegang oleh papinya.
"Maaf, Sus ... kami sudah membuat kerusuhan," ucap Kris merasa tidak enak hati.
"Ada masalah?" tanya perawat itu tanpa mengalihkan fokus dari Aretha. Ia tampak berdiri tepat di sebelah kiri Aretha, tepatnya di dekat Kris. Sementara Anton berdiri di seberangnya.
"Tolong jangan membuat pasien stres, karena itu tidak akan baik untuk kesehatannya, terlebih lagi setelah operasi seprti itu," ucap perawat itu seolah ia mengetahui banyak tentang kejadian tersebut.
"Baik, Sus," jawab Kris mengindahkan pernyataan perawat itu. "Maaf sudah mengganggu ketenangan," imbuhnya.
Perawat itu menerbitkan senyum ramahnya. Walau bagaimanapun ia paham apa yang tengah Aretha hadapi saat itu, karena ia juga tahu tentang peristiwa yang menimpa suami Aretha saat itu.
"Ibu ... Ibu jangan stres ya, jangan banyak pikiran. Sebab, itu akan memengaruhi kondisi tubuh dan penurunan kesuburan ASI yang nantinya akan berakibat kepada kedua bayi ibu," jelas perawat itu.