Possessive Love

Possessive Love
Tidak Suka



"Kenapa ikat rambut saya dilepas?" tanya Aretha heran dengan sikap David yang tiba-tiba melepas ikat rambutnya.


Sejak awal, menguncir rambut memang sudah menjadi style dari gadis itu. Terlebih lagi, semakin hari rambutnya kian memanjang sehingga membuatnya merasa sedikit kurang nyaman jika harus menggerai rambut lurus berwarna hitam itu.


Namun, siapa sangka ternyata itu tidak luput dari perhatian David yang kala itu tengah berjalan di sampingnya. Pria itu sedikit menoleh kepada Aretha. Seketika ia menelan salivanya, tatkala melihat keindahan yang terpampang pada leher jenjang gadis itu.


Pria itu sengaja memperlambat langkah kakinya hanya untuk memperjelas penglihatan akan keindahan tersebut. Mulus, pikirnya.


Sekelebat bayangan kotor tampak mengganggu pikiran pria itu sehingga membuat bulu kuduknya meremang, tatkala ia membayangkan dapat mengecup tengkuk leher gadis itu. Entah sejak kapan pikirannya menjadi liar seperti itu.


Seketika ia berpikir bahwa tidak akan rela jika ada pria lain yang melihat pemandangan indah itu, apalagi hingga memikirkan hal yang sama seperti dirinya. Ia pun memutuskan untuk melepas ikat rambut tersebut. Rambut gadis itu tampak tergerai dengan indah, meski tidak cukup rapi, but it's not bad.


Seketika pria itu menyunggingkan senyumnya. "Saya tidak suka!" tegasnya tanpa merasa berdosa.


David memasukkan kedua tangan beserta ikat rambut itu ke dalam saku celananya, kemudian berjalan mendahului gadis itu tanpa menoleh sedikit pun.


Jawabannya yang seolah tanpa beban cukup membuat gadis itu sedikit termangu.


Memang apa peduli dia? Mau rambutku dikuncir atau tidak, kurasa itu bukan urusannya.


Gadis itu tampak sedikit merapikan rambutnya menggunakan jari tangan, lalu menyusul langkah David memasuki restoran itu, setelah rambutnya terasa jauh lebih baik dari sebelumnya.


Dalam waktu sekejap, langkahnya telah tertinggal jauh dari pria itu sehingga ia sedikit mempercepat pergerakan kakinya, mencoba mengejar ketertinggalan.


Mereka tampak mendaratkan tubuhnya di atas kursi berbusa tebal yang dibalut kain beludru berwarna ungu dengan kombinasi warna cokelat pada setiap kerangka yang berbahan kayu.


Cukup menarik! Restoran berkelas bintang lima dengan desain interior yang sangat mewah dan elegan.


Resto itu cukup popular di kalangan atas karena harganya yang cukup fantastis. Kendatipun begitu, tetap banyak pengunjung karena menunya yang beragam dan juga enak.


Tidak sedikit yang mengetahui keunggulan resto yang menyajikan dua jenis menu berbeda itu, yaitu menu western dan Indonesia sehingga pengunjung dapat memilih menu yang mereka inginkan.


Bukanlah hal yang mengejutkan bagi Aretha yang terlahir dari keluarga sultan, bisa makan di tempat mewah seperti itu. Ia tampak biasa, tidak terlihat canggung sama sekali atau bahkan terlihat norak seperti baru pertama kali menginjakkan kaki di restoran mewah.


Tampak seorang pelayan laki-laki menghampiri mereka, lalu memberikan buku berisi daftar menu yang tersedia di restoran tersebut kepada keduanya.


"Saya pesan beef steak black paper sauce!" Aretha dan David tampak berbarengan menyebutkan pesanan yang sama. Mereka tampak beradu pandang sejenak, tak habis pikir kenapa bisa kebetulan memilih menu yang sama.


Tanpa berpikir panjang, David segera mengganti menu yang ia sebutkan sebelumnya. "Maksud saya, saya pesan baked chicken in oats," ucapnya.


Pelayan itu tampak menuliskan pesanan kedua pengunjung itu. "Maaf, untuk minumnya mau pesan apa?" tanyanya seraya mendongak menatap Aretha dan David secara bergantian.


"Citrus squash dan apple cooler!" David memesan dua minuman sekaligus, sekalian untuk Aretha.


Aretha hanya diam termangu, ketika pelayan itu telah berlalu dari hadapannya. Apakah semua sekretaris bernasib sama seperti aku? Pikirnya.


Setelah ia harus selalu menuruti perintah sang atasan hingga harus membatalkan janji makan siang bersama sahabatnya, hanya demi menemani pria itu. Kali ini, ia tidak diberikan kesempatan untuk memilih minuman yang ia inginkan. huft!


***


Tampak beef steak yang di sodorkan ke hadapan Aretha dengan apple cooler. Sementara, menu lainnya tampak dihidangkan di hadapan David.


Namun, seketika David menukar makanannya dengan Aretha, setelah pelayan itu selesai dengan tugasnya dan berlalu dari sana.


"Lho ... bukannya ini pesanan Bapak?" tanya Aretha heran, setelah menerima sepiring baked chicken in oats dari pria itu.


"Makanlah itu! Kamu tidak baik makan makanan yang pedas dan kaya akan lemak!" titah pria itu seolah tidak peduli. "Mulailah hidup sehat agar lambung kamu tidak kumat!" imbuhnya tegas.


Percaya atau tidak, lagi-lagi David melakukan hal kecil yang membuat gadis itu seketika terpaku akan sedikit sikap simpatik yang diberikan pria itu terhadapnya. Entah sejak kapan pria itu mulai berubah menjadi manis terhadap Aretha.


"Jangan geer! Saya hanya tidak ingin sekretaris saya sakit karena itu akan menghambat pekerjaan saya!" tegas pria itu seolah tahu apa yang tengah Aretha pikirkan saat itu.


Aretha mendengus kesal. Namun, ia tidak dapat membalas perkataan pria itu yang cukup membuatnya sedikit jengkel.


Seketika gadis itu menatap makanan miliknya. Entah akan seperti apa rasanya. Itu kali pertama ia memakan makanan tersebut. Seketika pandangannya beralih ke arah gelas berisi apple cooler yang terletak di samping makanannya.


Bahkan, soal makanan dan minuman pun harus sesuai keinginannya? Huft!


"Ayo, makan!" perintah David yang sontak membuat gadis itu seketika terkesiap.


Aretha menghela napas, lalu mencoba memulai kegiatan makan siangnya. Gadis itu berharap apa yang akan ia makan kala itu, cukup baik di lidahnya.


Dengan sedikit perasaan ragu, gadis itu memasukkan sedikit makanan itu ke dalam mulutnya. Ia menyicipnya dengan mengunyah makanan itu secara santai. Good! Itu cukup lezat terasa di lidahnya.


Well, David tidak salah memilih makanan untuknya. So, sepertinya gadis itu akan melahap habis makanan itu.


"Mulai besok, rubahlah penampilan kamu, jangan menguncir rambut seperti itu, saya tidak suka!" celetuk David di tengah-tengah kegiatan mereka yang sontak membuat gadis itu sedikit mendongak, lalu menatap pria itu.


"Saya tidak pernah menuntut orang lain untuk suka dengan penampilan saya!" tukas Aretha yang langsung mendapatkan tatapan tidak suka dari pria di hadapannya.


Seketika gadis itu menciut tatkala menangkap tatapan sinis dari pria itu.


"Ehem!" Aretha tampak berdehem. "Maksud saya ... saya cukup nyaman dengan penampilan saya," imbuhnya meralat ucapan sebelumnya.


"Tidak dengan saya!" David tampak mempertegas ucapannya bahwa ia memang tidak menyukai penampilan Aretha yang terlalu mengekspos setiap lekuk tubuhnya, meskipun itu cuma leher.


Secepat kilat gadis itu mengiyakan keinginan sang atasan, sebelum emosi pria itu semakin meradang karena ulahnya yang mencoba menentang.


"Baik, Pak," lirihnya sembari menganggukkan kepala, sontak membuat pria di depannya seketika menerbitkan senyuman merasa senang. Namun, hanya sekilas.


"Sial! Dia mulai berani mengatur hidupku. Memang apa untungnya buat dia hingga harus repot-repot mengurusi hidup orang?" Aretha menggerutu dalam hati.


_______________


HAPPY READING!