Possessive Love

Possessive Love
Cemburu (Part 2)



"Hati-hati ya, Ma, Pa," ucap Aretha yang kala itu tengah mengantar kedua mertuanya sampai depan rumah, dengan ditemani sang suami.


Setelah menghabiskan waktu hingga sore bersama sang putra dan menantu di rumah barunya, Kris dan Maria memutuskan untuk segera pulang ke rumah mereka yang berada cukup jauh dari rumah sang putra. Rasanya berat sekali mereka untuk beranjak dari rumah itu, terlebih lagi Maria yang memang sudah cukup lama menahan rindu berat terhadap putranya itu. Kalau bukan karena harus berangkat lagi ke luar kota malam itu juga, mungkin ia akan tinggal lebih lama dengan Aretha dan David.


Meski selama ini Kris tidak pernah memaksa istrinya untuk ikut ke luar kota, tetap saja Maria yang memaksa untuk ikut, karena merasa khawatir dengan sang suami, terlebih perihal kesehatannya.


"Iya, Sayang. Kalian juga baik -baik ya, jaga rumah tangga kalian baik-baik!" balas Maria menasihati.


"Iya, Ma, pasti!" jawab Aretha. "Kapan-kapan kalau ada waktu, menginaplah di sini, Ma, Pa," pintanya.


"Kalau ada waktu senggang, kapan-kapan papa sama mama pasti akan menginap di sini," balas Kris seraya tersenyum simpul. "Sampaikan salam kami untuk papi sama mami kamu ya, Nak!" imbuhnya. Aretha tampak menganggukkan kepalanya seraya membalas senyuman papa mertua.


Keduanya segera naik ke mobil, setelah mereka mengakhiri perbincangan mereka. Tak lama, mobil yang dikendarai oleh Kris itu sudah melesat dengan cepat menuju jalan raya, tampak gerbang yang ditutup oleh seorang satpam di rumah itu.


Sementara Aretha dan David kembali masuk ke dalam rumah. David tampak merangkul pinggang sang istri hingga tiba di ruang tengah. Mereka mendaratkan tubuh mereka di sofa berwarna abu-abu, lalu menyalakan televisi, sekadar mengisi kejenuhan karena bingung apa yang harus dilakukan.


"Sayang, apa kamu tidak ingin pergi kemana-mana?" tanya David seraya menyelipkan anak rambut Aretha ke telinganya.


"Tidak, Mas," jawab Aretha singkat, dengan tatapan masih fokus ke layar televisi yang tengah menyiarkan berita petang.


Di tengah-tengah kegiatan mereka, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang yang seolah menghampiri mereka. Tentu saja mereka sudah dapat memastikan itu langkah kaki siapa. Dan benar saja, Ratih telah berdiri tepat di belakang mereka, setelah mereka berhasil menoleh ke belakang


"Mas, Mbak, saya sudah menyelesaikan tugas saya, sekarang saya mau pamit pulang," ucap Ratih dengan ramah.


"Oh iya, Bi, silakan," jawab Aretha.


Ratih pun segera bergegas pergi dari rumah itu, setelah sang majikan memberinya izin, sementara Aretha dan David kembali melanjutkan kegiatannya.


"Mas, kamu mau kubuatkan sesuatu?" tanya Aretha seraya menoleh ke arah David.


"Boleh, Sayang," jawab David tersenyum.


"Mau kubuatkan apa?" Aretha ingin tahu.


"Tolong buatkan aku kopi, ya ... bisa, kan?"


"Siap!" singkat Aretha.


Wanita itu bergegas ke dapur untuk membuatkan kopi. Tak beberapa lama ia telah kembali dengan membawa secangkir kopi dan camilannya, lalu meletakan kopi dan camilan itudi atas meja, tepat di hadapan sang suami.


"Ini, Mas," ucapnya, lalu mendudukkan kembali tubuhnya di samping David.


"Terima kasih, Sayang," ucap David, lalu segera meraih cangkir berisi kopi itu. Ia tampak menyesap kopi itu sedikit, dengan tatapan yang masih fokus ke layar televisi.


"Gimana?" tanya Aretha, seolah ingin tahu bagaimana rasa dari kopi yang ia buat. Meski bukan yang pertama kali ia membuatkan kopi untuk sang suami, tetap saja terkadang ia merasa ragu akan rasanya, mengingat ia yang memang tidak ahli dalam hal itu.


"Kurang manis, Sayang," jawab David seraya menoleh ke samping, dengan tidak melepaskan cangkir kopi dari tangannya.


"Yang benar kamu, Mas?" tanya Aretha, seolah tidak percaya, karena ia memberi gula sesuai dengan takaran seperti biasa.


"Ini, coba kamu cicipi sedikit." David tampak menyodorkan cangkir kopi itu kepada sang istri. Dengan ragu, Aretha pun meraihnya, lalu menyesap kopi itu.


"Manis, Mas," ucapnya, setelah ia berhasil mencicipi sedikit kopi itu.


Tentu saja ia sangat hafal dengan takaran kopi dan gula yang disukai suaminya, tetapi kenapa tiba-tiba itu terasa kurang manis di lidah David, padahal menurutnya itu sangatlah manis.


"Coba, sini biar aku cobain lagi," ucap David kembali meraih cangkir kopi itu dari tangan Aretha, lalu menghirup aroma kopi itu, sebelum ia kembali menyesapnya.


"Ah, manis sekali, Sayang. Lebih manis dari sebelum kamu meminumnya," ucap David seraya memejamkan matanya sejenak, seolah merasakan nikmat yang masuk ke dalam tenggorokkannya.


Kendatipun begitu, kopi yang dibuat Aretha memang sudah cukup manis dari pertama kali pria itu menyesapnya. Hanya saja, ia sedikit ingin menggoda sang istri saat itu.


"Kamu sengaja membodohiku?" ucap Aretha sedikit gemas dengan ulah sang suami.


"Tidak! Ini memang terasa lebih manis dari sebelumnya, Sayang!"


"Ck! Bohong banget kamu, Mas!" balas Aretha tidak percaya. David tampak mengulum senyumnya.


"Aku ke belakang sebentar ya," pamit Aretha.


"Mau kemana?" tanya David, seolah tidak rela sang istri beranjak dari sana.


"Ke kamar mandi, Mas. Aku mau mandi dulu, sudah sore" jawab Aretha.


"Ya sudah," singkat David memberi ijin.


Aretha yang merasa tubunya sudah lengket dengan keringat, segera pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Berniat untuk segera melakukan ritual harian untuk membersihkan diri.


***


Hanya menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit saja, wanita itu telah selesai dengan kegiatannya, lalu segera menghampiri sang suami yang ternyata masih berada di tempat semula.


Wanita itu tampak mendaratkan kembali tubuhnya di samping David, lalu menoleh, menatap sang suami dengan senyuman merekahnya. Ia terlihat sudah lebih segar dari sebelumnya.


Baru saja ia akan meminta sang suami untuk mandi, tiba-tiba ia urungkan niatnya, ketika mendapati ekspresi David yang terlihat sedikit kecut, tidak seperti sebelumnya. Bahkan, pria itu terlihat cuek dengan kehadirannya, tidak ada pujian yang sudah biasa pria itu lontarkan untuknya, ketika baru saja selesai mandi.


Wanita itu memperhatikan pria di sampingnya dengan lekat, meyakinkan apa yang saat itu ia lihat. Dan benar saja, David memang terlihat berbeda, sehingga membuatnya mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya telah terjadi?


Kenapa mas David berubah kecut, ada apa dengannya?


Sekeras apapun ia bertanya pada dirinya sendiri, tetap saja ia tidak mendapatkan jawaban akan pertanyaannya itu, sehingga ia pun memutuskan untuk menanyakan langsung kepada sang suami, degan nada yang sangat hati-hati.


"Mas," panggil Aretha lirih.


Namun, David hanya diam. Ekspresinya terlihat sedikit menyeramkan. Rahangnya mengeras, seolah tengah menahan amarah dalam benaknya. Entah apa yang membuatnya seperti itu, sehingga membuat Aretha semakin penasaran. Jangankan menanggapi Aretha, menoleh pun tidak.


"Mas, are you okay?" tanya Aretha penasaran. Namun, David masih sama, tidak mau menanggapi.


Aretha tak mau menyerah, ia tampak memegang tangan David, berusaha memberi ketenangan pada pria yang diduga tengah dirundung murka itu.


"Mas, jawab aku! Ada apa?" tanya Aretha sekali lagi.


Alih-alih mendapat jawaban, David malah bangkit dari tempat duduknya, lalu meninggalkan Aretha begitu saja. Tentu saja Aretha semakin merasa bingung.


"Mas!" panggil Aretha seraya mengekori David dari belakang, sementara David tak menghiraukannya.


Apa salahku? Kenapa dia tiba-tiba mendiamkanku seperti ini?


"Mas!"


Beruntung pintu kamar itu tidak dikunci, ketika Aretha mencoba membukanya. Tampak David yang tengah duduk di bibir ranjang sembari menundukkan kepalanya, dengan ekspresi wajah yang masih sama.


Dengan perlahan Aretha mendekatinya, lalu duduk di samping pria itu.


"Mas, ada apa? Kenapa tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini?" tanya Aretha memelas.


Tentu saja Aretha masih belum memahami apa yang sudah terjadi. Ia rasa dirinya tidak melakukan kesalahan apapun. Dan kalaupun ia memang telah melakukan kesalahan yang tanpa ia sadari, harusnya David memberitahunya, bukan malah mendiamkannya seperti itu. Itu sungguh membuatnya frustrasi dan bingung harus berbuat apa, sementara perkataannya saja tidak dihiraukan oleh pria itu.


"Aku sedang ingin sendiri," jawab David seraya kembali bangkit dari tempat duduknya.


Namun, secepat kilat Aretha menarik tangannya, sehingga membuat pria itu mengurungkan niatnya untuk beranjak dari tempat itu.


"Mas! Kamu itu apa-apaan, sih? Salahku apa sampai kamu mendiamkanku seperti ini?" kesal Aretha yang sudah tidak bisa lagi menahan kesabarannya. David hanya menatapnya sinis, seolah penuh kebencian.


"Mas, ayolah ... kalau memang aku melakukan kesalahan, mbok ya bilang, jangan bersikap seperti ini yang membuatku bertanya-tanya," jelas Aretha dengan tidak melepaskan tangan sang suami.


"Kamu tidak perlu sok sibuk mengurusiku, mempedulikan aku, lebih baik kamu urus saja fans kamu itu!" geram David yang entah apa maksudnya.


Aretha tertegun sejenak, tidak mengerti kemana arah pembicaraan David. "Maksud kamu apa, Mas?" tanyanya.


David hanya melengos kesal. Namun, hanya sekilas. "Jangan pura-pura tidak paham, Re! Aku tahu kalau selama ini kamu masih suka chatting sama Samuel, kan?" jelasnya seraya melepas paksa tangannya dari genggaman Aretha.


"Lho, kok tiba-tiba bahas Samuel, sih? Memangnya kapan aku chatting sama dia?" tanya Aretha heran, kenapa tiba-tiba Samuel yang menjadi dalang di balik kemarahan suaminya.


"Pakai sok lupa segala lagi! Bahkan, hari ini aku baru tahu kalau ternyata dia suka memanggil kamu semesra itu," geram David, sementara Aretha semakin bingung. "Dan maaf, kalau aku telah lancang mengecek hp kamu!" imbuhnya.


"Mas, apaan sih? Memangnya kapan aku merasa keberatan kamu mengecek hp aku?"


Sejauh ini, Aretha memang tidak pernah sedikit pun merasa keberatan akan David yang sering mengecek handphone-nya, terlebih lagi David selalu ijin. Bahkan, setelah menikah, David juga mengetahui semua akun sosial media yang ia miliki, ia tidak pernah keberatan akan hal itu. Menurutnya itu adalah hal yang wajar bagi sepasang suami istri. Bahkan, ia pun sering melakukan hal yang sama, sebagaimana yang dilakukan oleh sang suami.


"Kamu tahu? Betapa aku cemburunya, setiap melihat dia mendekatimu dengan segudang cara yang dia miliki? Dan hari ini, bahkan setelah kamu menjadi istriku pun dia masih berani mendekati kamu. Kamu tahu perasaanku seperti apa saat ini? Aku muak, Re, melihat kata-kata manis yang dia berikan untuk kamu yang notabene sudah mejadi istriku! Apa aku salah?"


"Mas, bahkan aku sudah tidak pernah lagi membalas chat dari dia," aku Aretha seraya menatap sendu wajah sang suami. Ia tidak tahu jika hal sekecil itu bisa membuatnya terlihat sangat terluka.


"Ya sudah, balas sana! Kasihan dia sudah terlalu lama menunggu!" geram David.


"Tidak, Mas! Aku sangat menghargai kamu sebagai suamiku, mana mungkin aku membalas chat laki-laki yang jelas-jelas kamu tidak menyukainya, terkecuali jika memang itu ada sangkut pautnya dengan urusan kuliahku," ucap Aretha menolak.


"Lalu, untuk apa kamu membiarkan dia memanggilmu semesra itu? Kamu senang, dipanggil seperti itu olehnya?" cecar David.


"Apa sih? Bahkan, aku tidak tahu dia memanggilku seperti apa." Aretha merasa heran dengan ucapan David.


David hanya melengos kesal, tanpa menanggapi apapun lagi.


"Oke, wait! Kamu diam, aku akan mengecek chat dari dia!" tegas Aretha, lalu beranjak ke ruang tengah, mengambil benda pipih miliknya.


Samuel : Rere Sayang ... aku kangen, besok kita jalan, yuk!


Aretha tampak terbelalak, setelah membaca pesan whats app dari Samuel.


Di atasnya, begitu banyak pesan dari Samuel sebelumnya, yang tidak pernah ia tanggapi, setelah sah menjadi istri David. Namun, entah kenapa kala itu Samuel memanggilnya semesra itu, layaknya kepada seorang kekasih, padahal sebelumnya tidak pernah. Dan sialnya, yang membuka pesan itu adalah suaminya sendiri. Bisa tamat riwayatnya!


"Ya ampun ... Samuel cari gara-gara saja! Kenapa panggil sayang-sayang segala, sih!" gerutu Aretha, lalu ia segera kembali ke kamarnya untuk menemui David.


Ya Tuhan ... kenapa hidup berumah tangga serumit ini, sih?


"Mas, aku bisa jelasin!" ucap Rere. "Aku tidak pernah lho, membalasnya. Mas tahu sendiri kan, Samuel seperti apa?" imbuhnya.


"Tidak usah sebut namanya, aku tidak suka!" sergah David.


"Oke, maaf," lirih Aretha yang seketika menciut. "Mungkin, karena dia belum tahu kalau kita sudah menikah, maka dari itu dia masih berani menggangguku," terangnya.


"Oh, jadi dia belum tahu soal pernikahan kita? Hh, pantas saja!" geram David seraya mencebikkan bibirnya. "Kamu sengaja menyembunyikannya dari dia, ha? Biar dia bisa terus ganggu kamu, begitu?" David semakin dibuat naik pitam.


"Bukan seperti itu, Mas! Kamu kan tahu sendiri kalau teman-temanku memang belum mengetahui soal pernikahan kita, kecuali Diandra Tania dan Deasy, cuma mereka yang tahu soal itu!" bantah Aretha.


"Lalu, apa susahnya kamu memberi tahu dia? Kalau kamu benar-benar menghargai pernikahan kita, kurasa itu tidak sulit," ucap David, seolah menyalahkan Aretha.


"Ya aku belum sempat, Mas! Aku kan sudah lama juga tidak ngobrol sama dia," jelas Aretha membela diri.


"Harus banget, kamu menunggu sampai ada waktu untuk ngobrol sama dia?" kesal David.


"Ya, bukan seperti itu juga maksudku," jawab Aretha memelas.


"Lalu, tunggu apa lagi?" David tampak menatap tajam wajah wanita di hadapannya. "Kamu mengerti tidak, sih, apa yang aku rasakan saat ini?" imbuhnya.


"Memangnya kamu juga mengerti perasaanku, Mas? Tidak!"


"Kok, jadi kamu yang menuntut dimengerti?"


David dibuatnya bingung, alih-alih ia yang minta dimengerti, sang istri malah menuntut pengertian balik darinya.


"Kenapa? Aku tidak berhak?" tanya Aretha geram. Nampaknya, ia sudah tidak lagi bisa menahan kesabaran yang sedari tadi ia tahan.


"Kenapa jadi kamu yang marah? Harusnya kan aku. Aku yang disini dikecewakan, bukan kamu!"


"Lalu, apa namanya dengan kamu tidak mempercayaiku? Apa itu bukan mengecewakan namanya?" Aretha tak mau kalah. "Lantas, untuk apa kita menikah, kalau kamu saja tidak bisa percaya sama aku, Mas?" imbuhnya.


PRAAANG!!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


JIKA BERKENAN MAMPIR JUGA KE KARYA BARUKU🙏




HAPPY READING!


TBC