Possessive Love

Possessive Love
Tertidur



Ketika Aretha baru saja akan memulai kegiatan makan siangnya, tiba-tiba ia merasakan mual kembali. Namun, ia berusaha menahannya agar tidak membuat suaminya merasa khawatir dan beranggapan bahwa dirinya benar-benar sakit.


Aretha tetap melakukan makan siang itu. Satu suap nasi telah masuk ke dalam mulutnya. Dengan perlahan dan sedikit dipaksakan, ia menelan nasi itu, berusaha melawan rasa mualnya. Satu suapan berhasil lolos melewati tenggoronkkannya.


Aretha melakukan itu secara berulang-ulang, hingga tiba pada suapan ke lima, ia benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi.


"Mas, aku permisi ke kamar mandi sebentar," ucapnya seraya beranjak dari sana, sontak membuat David merasa curiga.


Kenapa lagi dia? Apa dia mengalami mual lagi seperti tadi? Tapi, tidak terdengar suara apapun dari dalam kamar mandi.


Di tengah kebingungannya David memfokuskan pandangan kepada Ratih yang kala itu berada di dapur yang tak jauh dari jangkauannya.


Di dalam kamar mandi, Aretha memang memuntahkan semua yang baru saja ia makan. Namun, sekuat mungkin ia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, sehingga David tidak dapat mengetahui apa yang tengah ia lakukan.


"Ah, ini benar-benar membuatku tersiksa, tapi aku harus kuat demi janin yang tengah kukandung. Dan sepertinya aku memang harus segera pergi ke dokter hari ini juga. Aku tidak bisa terus-menerus sepeti ini, kasihan calon anakku nanti," keluh Aretha seraya mengusap perutnya, meski ia belum begitu yakin. Namun, tidak ada yang tahu, barangkali itu memang benar.


Aretha segera keluar, setelah sudah dirasa tidak mual. Ia berjalan dengan senyum merekah, menghampiri suaminya yang masih duduk di tempat yang sama.


"Sudah selesai, Mas?" tanya Aretha berbasa-basi. Padahal, ia tahu betul bahwa David masih belum menyelesaikan kegiatan makan siangnya.


"Kamu tidak apa-apa, kan?"


David masih saja mempertanyakan hal itu, sehingga membuat Aretha tertawa kecil, karena melihat ekspresi David yang tampak sangat khawatir terhadapnya.


Malah tertawa, dia pikir perasaan cemasku ini sebagai lelucon apa?


"Kamu itu terlalu berlebihan mengkhawatirkanku, Mas," balas Aretha.


"Kamu tidak suka? Merasa keberatan? Atau ...."


"Atau apa?" Aretha memotong pembicaraan sang suami.


"Atau ... kamu memang benar-benar tidak peduli terhadap perasaanku saat ini?" tanya David penuh selidik.


"Haiish! Mana mungkin aku tidak peduli, kamu ada-ada saja, Mas!"


"Ck!"


David melanjutkan kembali makan siangnya yang sempat tertunda sejenak. Namun, tidak dengan Aretha. Ia hanya berdiam diri, tidak berniat untuk melanjutkan kembali makan siang itu, meski nasi miliknya masih tersisa banyak.


Tentu saja itu membuat David semakin heran, lalu menoleh ke arahnya.


"Kenapa tidak habiskan makanannya?"


Aretha yang kala itu tengah mencoba melawan rasa mual di perutnya, seketika terkesiap mendengar pertanyaan David yang secara tiba-tiba.


"Hn?" Wanita itu mendongak seraya menatap wajah suaminya. "Itu, aku merasa sudah kenyang, Mas," jelasnya sedikit gugup.


"Jangan dibiasakan, tidak baik!" David memfokuskan kembali tatapannya ke bawah, memperhatikan kegiatan tangannya yang tengah menggerakkan sendok di atas piring yang berisi tinggal dua kali suapan lagi.


"Iya," lirih Aretha singkat.


Dalam waktu yang singkat, David telah menyelesaikan kegiatan makannya. Ia tampak meraih gelas berisi air putih yang berada di samping piring makannya, lalu meneguk sebagian dari isi gelas itu. Setelah itu, ia menyeka mulutnya dengan selembar tisu.


"Seperti yang kamu lihat," jawab David dengan nada datar.


"Setelah ini antar aku, ya?" pinta Aretha seraya menunjukkan ekspresi memelasnya.


"Nanti malam saja ya, sekarang aku lelah, aku mau istirahat," jawab David seolah tidak peduli, sontak membuat Aretha memberengut kesal dalam hitungan detik.


Bagaimana bisa sang suami menolak permintaannya, setelah sebelumnya tidak pernah. Ya, benar. David memamg tidak pernah menolak permintaan Aretha, kecuali untuk hal-hal yang membuatnya tidak aman.


"Aku ke kamar dulu ya, Sayang. Aku mau tidur sebentar." David beranjak dari tempat itu. Tentu saja membuat Aretha semakin kecewa. Bahkan, David tidak meminta maaf, atau apapun kepadanya. Ah, sungguh ini sangat menyebalkan, pikirnya.


"Mas, aku butuhnya sekarang, lho. Bukan nanti malam!" teriak Aretha dengan rasa kecewa. Namun, David tak menanggapi apapun.


Kenapa tiba-tiba dia berubah dingin lagi, sih? Aku ini masih istrinya, kan?


Aretha mengerucutkan bibirnya kesal. Hari pertama mendapat kabar yang membahagiakan, justru suaminya malah membuat semua itu ambyar, benar-benar menyebalkan.


Tidak mau kalah, apalagi menyerah. Aretha langsung menyusul sang suami ke kamarnya.


***


David baru saja selesai berganti pakaian, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di depan kamarnya. Dengan sigap, ia langsung naik ke atas tempat tidur, berharap sang istri tidak akan memaksanya untuk pergi mengantarnya saat itu.


"Yah ... Mas, kamu beneran tidur? Kenapa sih, kamu mengabaikan permintaanku? Padahal, aku ingin sekali diantar sama kamu, Mas," lirih Aretha, ketika mendapati suaminya sudah berbaring di atas tempat tidur, dengan mata yang terpejam.


Ya, Rasanya ia memang sudah tidak sabar ingin menemui dokter kandungan, untuk memastikan benar atau tidaknya kehamilan itu. Namun, sayang sekali suaminya malah menghancurkan apa yang menjadi harapnya.


"Apa kamu selelah itu hingga tidak mau mempedulikanku?" gerutu Aretha masih menatap kesal wajah sang suami. "Ish, aku kesal!" imbuhnya seraya menghentakkan sebelah kakinya sebagai pelampiasan kekesalannya.


Wanita itu langsung menghampiri rak buku yang berada di kamarnya, lalu segera meraih sebuah buku novel terbaru yang dibelinya beberapa hari lalu.


Sementara, David tampak menyeringai penuh kemenangan. Ia sengaja membuat sang istri merasa kesal.


Biarkan saja dia seperti itu. Siapa suruh sudah membuatku kesal.


David kembali dengan kegiatannya, sehingga ia benar-benar tertidur, bukan hanya sekadar sandiwara semata. Niat hati ingin mengerjai sang istri, ternyata ia malah melakukannya tanpa ia sadari.


Sementara Aretha, lagi-lagi ia harus mengalah kepada suaminya. Untuk melupakan kejenuhannya, Aretha mengisi waktunya dengan kegiatan membaca novel. Ia duduk selonjoran di atas sofa yang berada tepat di bawah jendela kamarnya.


Di tengah kegiatan membaca buku, sesekali wanita itu melirikkan matanya, menatap sang suami yang masih terlihat pulas dalam tidurnya. Namun, hanya beberapa saat.


Sesekali wanita itu menguap di tengah fokusnya ke buku novel yang ada dalam genggamannya, hingga akhirnya ia pun ikut tertidur di atas sofa, tanpa ia sadari buku novelnya telah terjatuh di lantai.


Jarum jam memutar terlampau cepat. Setelah kurang lebih dua jam, David masih dalam kegiatan yang sama. Sementara Aretha baru saja bangun dari tidurnya.


"Ya ampun ... aku ketiduran," ucap Aretha parau, lalu melirik ke arah tempat tidur, dimana David berada.


Aretha beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri sang suami, berniat membangunkan pria itu. Ia rasa waktu dua jam sudah cukup untuk suaminya beristirahat. Wanita itu merangkak naik ke atas tempat tidur, lalu mulai menggoyang-goyangkan tubuh pria itu.


"Mas, bangun, udah sore!"