
Hari berganti hari. Sudah waktunya Aretha kembali menjadi diri yang sesungguhnya, sebagai mahasiswa di salah satu universitas ternama di ibukota.
Kala itu Aretha tak lagi harus mengenakan pakaian kantor seperti ketika ia magang. Gadis itu tampak mengenakan blouse berwarna hitam yang dipadupadankan dengan celana jeans panjang. Pakaian itu terlihat sangat cocok ditubuhnya yang proporsional.
Tak lupa sneakers putih dan tote bag yang menjadi pelengkap penampilannya saat itu. Sementara, rambutnya yang sudah mulai memanjang ia biarkan tergerai indah.
Dengan santai, Aretha berjalan melewati sebuah lorong panjang sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling kampus yang telah lama ia rindukan. Tampak beberapa mahasiswa yang mayoritas tidak ia kenal, tengah berbincang di tepi koridor itu. Beberapa tampak bergurau dengan gelak tawa yang memecah di setiap sudut. Terdengar pula suara saling menyahut bergantian membuat tempat itu menjadi tempat yang paling ramai saat itu.
Aretha terus berjalan menuju kelas dimana ia biasa melakukan kegiatan pembelajaran. Beberapa mahasiswa yang ia kenal tampak tersenyum kepadanya yang langsung mendapatkan balasan dari gadis itu, tak lupa ia pun menyapanya sekadar berbasa-basi.
"Re!" teriak seseorang yang sontak membuat Aretha menoleh ke belakang. Ia tampak tersenyum, lalu melambaikan tangannya kepada seorang gadis yang tengan berdiri tepat beberapa meter di hadapannya.
Gadis itu tampak menghampiri Aretha hingga jarak mereka mendekat. Bahkan, tidak tersisa satu centimeter pun tatkala gadis itu memeluk Aretha erat, sebagai pelampiasan rasa kangen mereka yang tidak pernah bertemu selama magang.
"Deas, gue kangen," ucap Aretha, setelah Deasy berhasil memeluknya. Ya, ia adalah Deasy, sahabat Aretha.
"Gue juga." Deasy tampak mempererat pelukannya.
"Lo apa kabar, Re?" Deasy tampak merenggangkan tubuhnya dari tubuh Aretha seraya menatap bahagia sahabatnya.
"Alhamdulillah, gue baik," jawab Aretha seraya melempar senyuman. "Lo sendiri apa kabar?"tanyanya.
"Gue?" Deasy tampak menunjuk wajahnya sendiri. "Emang kapan gue gak baik?" imbuhnya.
"Yakin lo?" Aretha tampak memastikan.
"Yakin dong," jawab Deasy. "Temenin gue ke kantin, yuk! Kita ngobrol dulu di sana, kan udah lama kita gak ngobrol," rengek Deasy yang langsung mendapat persetujuan dari Aretha.
Mereka tampak berjalan menuju kantin sembari berbincang ringan. Setelah sampai di sana, Deasy tampak memesan menu sarapan karena ia memang belum sempat sarapan, sementara Aretha hanya memesan minumannya saja, meski sebenarnya ia tidak merasa haus. Namun, hanya sekadar menemani sahabatnya itu.
"Tania sama Diandra kok belum kelihatan ya?" ucap Aretha seraya mengedarkan pendangan ke sekeliling kantin, barangkali orang yang ia maksud berada di sana.
"Oh iya, bentar-bentar gue hubungi mereka." Deasy tampak mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu menekan keyboard pada ponsel tersebut, tanda akan mengirim pesan singkat.
Diandra : Gue baru sampai di gerbang, nih. Bentar lagi nyusul.
Deasy tampak menyeringai, ketika membaca balasan pesan dari Diandra. Ia pun kembali meletakkan ponselnya, setelah berhasil membalas pesan tersebut.
"Oh iya, Re, gimana pengalaman magang lo, seru gak?" tanya Deasy penasaran.
Aretha menghela napas panjang. "Gimana ya? Ya gitulah. Kadang seru, kadang juga menyebalkan," jawabnya.
"Ya sama, Re," timpal Deasy.
Aretha terdiam sejenak. "Gue ... ketemu kak Richard," lirihnya yang sontak membuat Deasy seketika terlonjak.
"Apa?" Deasy tampak membeliak tidak percaya. "Terus?" tanyanya ingin tahu.
"Ternyata dia belum menikah," jelas Aretha dengan ekpresi datar.
"Loh, kok bisa?" Deasy masih tidak percaya.
Aretha pun menceritakan sedikit kejadian yang ia alami, ketika magang. Terutama tentang pertemuannya dengan Richard di tempat yang cukup membuat Deasy sempat tidak percaya.
Ditengah-tengah perbincangan mereka, Diandra tampak datang menghampiri yang tak lama disusul oleh Tania yang juga ikut nimbrung di meja itu, sontak membuat mereka berempat tampak melepas kangen dengan berbagai pelukan dan canda tawa.
***
"Samuel?" ucap Aretha yang mendapati Samuel tengah berlari menghampirinya.
"Re, aku antar pulang, yuk!" ajak Samuel, setelah ia berhasil berdiri tepat di hadapan Aretha.
Pria yang selama ini selalu berusaha mendekati gadis itu dari semasa OSPEK. Namun, tidak pernah mendapat tanggapan dari Aretha. Kendatipun begitu, Samuel tetap berusaha mendekati gadis itu, berharap Aretha dapat berubah pikiran.
"Gak usah, Sam. Aku dijemput, kok," tolak Aretha.
"Yah, sekali ini ... saja!" Samuel tampak memohon, sementara Aretha kembali melangkahkan kakinya, sebelum menanggapi Samuel. Pria itu pun tampak mengikuti Aretha, lalu berjalan di sampingnya.
"Kapan-kapan aja ya, Sam," ucap Aretha dengan pandangan yang fokus ke depan.
"Ada banyak hal yang mau aku sampaikan sama kamu, Re," jelas Samuel. Namun, tetap saja tidak merubah pikiran gadis itu.
"Maaf, Sam, aku gak bisa kalau sekarang," jawab Aretha.
"Terus kapan kamu bisanya?" Samuel tampak menarik tangan Aretha hingga membuat gadis itu menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan, menghadap pria itu.
Secepat kilat Aretha melepaskan tangannya dari cengkeraman pria itu. "Mungkin next time, Sam," ucapnya.
"Dari dulu jawaban kamu itu-itu mulu, tapi gak pernah sekali pun kamu kasih aku kesempatan untuk ngomong," keluh Samuel.
"Lah, ini aku kasih kamu kesempatan loh, Sam," terang Aretha.
"Bukan itu maksudku, Re," kesal pria itu.
"Sam—"
"Kamu sudah selesai?" Seketika suara bariton terdengar memecah di halaman kampus yang dijadikan sebagai tempat parkir kendaraan beroda 4 itu, sontak membuat Aretha dan Samuel menoleh.
Betapa terkejutnya Aretha saat mendapati David yang berdiri di sana. Bagaimana bisa pria itu tiba-tiba berada di kampusnya. Aretha sedikit membeliak tidak percaya.
David tampak mengalihkan pandangan ke arah Samuel yang langsung mendapatkan senyuman termanis dari pria itu. Samuel pasti menyangka jika David adalah sodara Aretha.
"Kamu siapanya Aretha?" tanya David datar, sebelum Aretha berhasil menyapanya. David tampak menatap tidak suka kepada Samuel.
"Saya ... saya temannya Aretha, Mas" jawab Samuel seraya melempar senyumannya kembali.
"Jangan dekat-dekat, bukan muhrim!" ucap David penuh penekanan yang sontak membuat ekspresi wajah Samuel seketika berubah menjadi kecut.
"Ayo!" David tampak menarik tangan gadis itu, lalu berjalan menuntunnya menuju mobil yang sudah terparkir tak jauh dari jangkauannya.
"Tunggu!" panggil Samuel yang langsung menghentikan langkah keduanya. Mereka tampak membalikkan badannya kembali ke arah Samuel.
"Mas ini siapanya Aretha, suaminya?" tanya Samuel dengan wajah kesal. Selain sudah mengganggu waktunya dengan Aretha. Menurutnya, David juga telah mencari gara-gara dengannya.
"Lebih tepatnya, CALON SUAMI!" tegas David tanpa rasa ragu hingga membuat Samuel menyeringai tidak senang. Namun, jawaban David tak sedikit pun membuatnya ingin menyerah begitu saja.
"Jangan pegang-pegang, belum muhrim!"
________
HAPPY READING