
Malam itu, tepat pukul satu dini hari, Aretha terlihat sangat gelisah, seolah tengah ada yang dipikirkannya. Wanita itu tampak membolak-balikan tubuhnya ke kanan dan ke kiri berulang kali, sehingga membuat sang suami yang kala itu tengah terlelap pun ikut terbangun.
David tampak menyipitkan sebelah matanya, lalu mengucek matanya seolah menetralkan penglihatannya yang sedikit terasa samar.
"Sayang, kamu kenapa?" tanyanya parau seraya menatap heran sang istri.
Aretha terdiam sejenak, lalu menatap sang suami. "Mas, aku lapar," rengeknya.
David mengangkat tubuhnya, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Sudah dapat ia duga bahwa sang istri memang selalu merasakan lapar di malam hari. Dan itu bukan lagi hal yang mengejutkan baginya.
"Ya sudah, ayo aku temani ke dapur!" ucapnya dengan pandangan yang fokus kepada sang istri.
Aretha pun ikut bangun dari tidurnya, lalu duduk di samping sang suami. "Tapi aku maunya makan sate, Mas," rengeknya seraya merangkul lengan David.
"Ya ampun ... sekarang sudah jam berapa, Sayang? Mana ada yang jualan sate jam segini," ujar David bingung.
"Iya, aku tahu. Tapi aku maunya makan sate," jawab Aretha seraya memberengutkan wajahnya. Bahkan, sudah terlihat seperti ingin menangis.
Ya, dan memang selalu seperti itu. Setiap kali ia menginginkan sesuatu, harus selalu terpenuhi saat itu juga, tidak boleh ditunda, apalagi tidak sama sekali. Pokoknya, setelah kehamilannya, apapun yang ia inginkan sifatnya sudah termasuk wajib, tidak boleh tidak.
David mengembuskan napasnya kasar. Ia bingung jika sudah dihadapkan dengan situasi seperti itu. Kalau saja ada satu warung sate yang ia tahu masih buka di waktu sepertiga malam, mungkin detik itu juga ia sudah bergegas pergi untuk mengabulkan keinginan sang istri. Namun, jika seperti itu ia harus bagaimana lagi? Ia sama sekali tidak tahu warung sate yang masih buka di waktu itu.
"Lalu, aku harus bagaimana, Sayang? Kalau ada warung sate yang masih buka, aku belikan buat kamu saat ini juga, ini aku tidak tahu warung sate yang masih buka sekarang. Besok saja ya, aku belikan sate yang paling enak buat kamu," jelas David seraya membujuk sang istri. Ia tampak mengelus rambut panjang sang istri yang sedikit berantakan.
"Aku maunya sekarang," ucap Aretha memelas sembari mengelus perutnya yang sudah tidak terlihat rata seperti sebelum ia hamil.
David pun merasa tidak tega melihat ekspresi sang istri saat itu. Seketika fokusnya teralihkan ke perut sang istri. Mengingat di dalamnya terdapat benih miliknya, ia semakin merasa tidak tega jika membiarkan sang istri dan calon bayinya tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, ia pun bingung harus berbuat apa.
"Sayang, sementara satenya diganti dengan sosis saja, ya? Nanti aku buatkan sosis bakar buat kamu, kalau kamu mau," saran David, ketika ia baru saja mendapat ide cemerlang, berharap sang istri mau menerima saran darinya.
"Mas, yang benar saja! Masa sate diganti dengan sosis, beda sekali, Mas!" kesal Aretha.
"Tapi aku bingung harus beli kemana, Sayang ...." David terlihat memasang ekspresi frustrasi. Namun, masih bisa ia tahan emosinya. Apapun yang menyangkut sang istri dan kehamilannya, memang selalu ada sabar yang ia luaskan untuknya.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau membelikannya untukku!" Aretha tampak melepaskan tangannya, lalu kembali membaringkan tubuhnya membelakangi sang suami.
"Sayang, bukannya begitu," ucap David memabantah. Namun, Aretha hanya bergeming.
Lagi-lagi David menghela napas kesal, lalu meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Pria itu tampak membuka internet, sekadar mencari informasi warung sate yang masih buka, barang kali memang ada. Namun, setelah ia melakukan pencarian beberapa menit, ternyata hasilnya nihil.
"Sayang, warung sate rata-rata tutup jam sebelas malam, jam segini sudah tidak ada yang buka, cobalah mengerti," jelas David seraya menatap punggung sang istri. Namun, lagi-lagi Aretha hanya diam tak menanggapi.
Ya, Tuhan ... aku harus bagaimana? Kenapa dia sama sekali tidak bisa memahaminya? Percuma juga aku pergi keluar, kalau tidak ada warung sate yang buka.
David terdiam beberapa saat, berusaha berpikir mencari cara agar keinginan sang istri terpenuhi. Setelah cukup lama ia berpikir, akhirnya ia pun memutuskan untuk memenuhi permintaan sang istrinya.
"Ya sudah, aku akan membuatkan sate untukmu," ujar David yang sontak membuat Aretha secepat kilat membalikkan tubuhnya.
"Serius, Mas?" tanyanya seraya membulatkan mata.
"Hmm ...." David menanggapi dengan terpaksa.
"Memangnya kamu bisa?" tanya Aretha lagi seolah tidak yakin dengan kemampuan sang suami.
"Aku bantuin!" Aretha tampak antusias sekali, karena David akan mengabulkan keinginannya dengan cara membuatkan sate di sepertiga malam.
Sepasang suami istri itu pun langsung bergegas menuju dapur. David tampak membuka lemari pendingin. Beruntung masih ada daging ayam yang bisa mereka jadikan sebagai bahan utama. Sementara untuk tusuk satenya, mereka menggunakan tusuk yang biasa digunakan untuk membakar sosis. Beruntungnya lagi persediaan bumbu di dapur masih ada stok banyak.
Keduanya tampak mempersiapkan semua bahan dan alat yang akan mereka gunakan untuk membuat sate. David melakukan kegiatan memotong daging kecil-kecil. Sementara, Aretha tampak menyiapkan beberapa bumbu yang dibutuhkan.
"Sayang, kamu duduk saja, biarkan aku yang melakukan ini semua," titah David di tengah kegiatannya.
"Tidak, Mas. Aku akan bantu biar cepat selesai," tolak Aretha.
"Nanti kamu kecapean," ucap David tidak menyerah.
"Tidak akan, Mas, tenang saja!" Aretha tampak bersikeras, sehingga membuat David hanya mendengkus kasar.
"Huh!" David tampak menyerah, tidak ada yang bisa ia perbuat lagi. "Kamu ini, selalu saja keras kepala!" imbuhnya kesal.
Aretha hanya menyeringai. Sungguh ia sangat senang melihat suaminya seperti itu. Ada kebahagiaan tersendiri, ketika sang suami mengomelinya, dengan alasan karena pria itu sangat khawatir terhadapnya. Aretha seolah menjadi wanita yang paling beruntung di dunia, karena memiliki suami seperti David. Meski terkesan posesif dan pencemburu, tetapi ia tahu, itu Dilakukannya semata-mata karena David sangat menyayanginya.
David baru saja selesai memotong daging ayam. Ia lanjutkan kegiatannya itu ke tahap selanjutnya. Sementara Aretha tengah sibuk dengan kegiatan mengupas beberapa bumbu mentah, seperti bawang dan bumbu lainnya, sembari membaca tutorial di internet, karena sungguh, membuat sate merupakan pengalaman pertama baginya.
"Aauuww!!"
Tiba-tiba Aretha merintih kesakitan di tengah-tengah kegiatannya, sontak membuat David langsung menghentikan kegiatannya, lalu menghampiri sang istri.
"Kamu kenapa?" tanya David reflect memegang tangan sang istri, lalu memeriksanya, seolah mencari luka yang mungkin saja baru dialami oleh sang istri.
"Kenapa?" tanya David sekali lagi seraya mendongak menatap sang istri penuh tanya, ketika ia tidak menemukan luka apapun di tangan Aretha.
"Perutku bergetar," lirih Aretha seraya mengelus perutnya.
David membulatkan matanya, menatap tidak percaya. "Benarkah?" tanyanya yang langsung mendapat anggukkan kepala dari sang istri.
David segera meraih perut sang istri, lalu mengelusnya dengan begitu lembut. "Sabar ya, Nak, papa lagi buatkan sate spesial buatmu," lirih David seraya tersenyum lebar. Sementara, Aretha tampak terkekeh melihat tingkah sang suami.
Mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka. Setelah David siap dengan beberapa tusuk sate yang berada di hadapannya, ia langsung melanjutkan kegiatan inti, yaitu membakar sate tersebut pada sebuah pemanggang gas. Pun dengan Aretha yang juga mulai memasak bumbu satenya.
"Umm ... wangi sekali, Mas!" seru Aretha, ketika ia mencium wangi sate yang tengah dibakar oleh sang suami. "Sepertinya ... ini akan enak," imbuhnya seolah membayangkan betapa lezatnya sate yang dibuat oleh sang suami. Rupanya Aretha sudah tidak sabar ingin segera mencicipinya.
"Sabar, Sayang ... tidak akan lama lagi selesai.
Aretha masih setia menunggu suami menyelesaikan kegiatannya. Selang beberapa menit, David telah menyelesaikan tugasnya sebagai koki dadakan. Ia langsung menatanya di piring, lalu menaburi sate itu dengan bumbu kacang yang sudah dibuatkan oleh sang istri.
"Silakan dinikmati tuan putriku yang cantik," ujar David seraya menyerahkan piring berisi sate itu kepada sang istri.
Aretha segera meraihnya, lalu membawa sate itu ke meja makan. Sebelum ia meletakkan sate itu, ia mencium wanginya terlebih dahulu. "Mmm ... wangi sekali," lirihnya, lalu meletakkan piring itu di atas meja makan.
Alih-alih wanita itu langsung melahap apa yang sedari tadi ia inginkan, wanita itu hanya diam saja, sehingga membuat David heran.
"Kok cuma dilihat saja? Kenapa tidak di makan?" tanya David heran.
Aretha tampak menyeringai, sebelum ia menanggapi sang suami. "Tiba-tiba aku merasa kenyang, Mas. Yang makan satenya kamu saja, ya?"