Possessive Love

Possessive Love
Jomblo Akut



"Rere!!" teriak Diandra, Deasy dan juga Tania berbarengan.


Mereka langsung memeluk tubuh Aretha, ketika Aretha baru saja membuka pintu rumahnya. Mereka berempat akhirnya berpelukan, saling melepas rindu karena sudah terlalu lama tidak bertemu.


Ya, Aretha memang sudah mengetahui bahwa ketiga sahabatnya itu akan berkunjung ke rumahnya siang itu, sesuai permintaannya.


Awalnya ketiga sahabat Aretha merasa canggung untuk datang ke rumahnya, dengan alasan karena merasa tidak enak hati kepada David. Namun, setelah Aretha berhasil membujuk mereka, mereka pun bersedia untuk berkunjung ke rumahnya, dengan syarat David tidak sedang berada di rumah. Dan itulah waktu yang tepat. David masih di kantor saat itu.


Aretha mempersilakan ketiga sahabatnya itu untuk masuk dan duduk di sofa yang berada di ruang tamu, lalu ia meminta Ratih untuk menyiapkan minuman dan makanan untuk mereka.


Ratih tampak menyuguhkan tiga minuman dan camilannya kepada mereka. Setelah itu, ia segera beranjak kembali menuju dapur.


Aretha dan ketiga sahabatnya tampak berbincang banyak hal. Bahkan, hal yang tidak penting untuk dibahas pun, mereka bahas. Sesekali gelak tawa memecah di setiap sudut ruangan.


Seketika mereka mengganti topik bahasan. Tania, Deasy dan Aretha saling bercerita tentang hubungan mereka dengan pasangan mereka masing-masing. Namun, tak ayal itu membuat Diandra seketika memberengutkan wajahnya, antara iri dan bingung harus menanggapi atau hanya diam mendengarkan.


Jelas ia merasa iri, karena diantara mereka, nyatanya hanya dirinya sendiri yang masih jomblo. Ya, katakanlah bahwa Diandra adalah jomblo akut.


Sebagian besar cerita mereka adalah tentang kemesraan mereka dengan pasangannya masing-masing. Sungguh itu membuat Diandra semakin minder.


Entah apa yang membuat Diandra susah sekali mendapatkan kekasih. Padahal, ia memiliki paras yang cantik. Namun, pada kenyataanya wajah cantik tidaklah menjadi jaminan seseorang bisa dengan mudah memiliki kekasih, meski tidak sedikit pula pria yang jatuh hati karena melihat fisik wanita.


Apa mungkin ia memang ditakdirkan untuk hidup sendiri? Setelah kedua orangtuanya yang memilih untuk tinggal di luar negeri, demi karir mereka, lalu ia juga tidak berhak memiliki seorang kekasih yang siap menemani dan mengisi sepinya, layaknya ketiga sahabatnya itu. Bahkan, Aretha sudah bukan lagi kekasih, melainkan suami yang bisa kapan saja ada, ketika dibutuhkan.


"Apa disini cuma gue yang jomblo?" celetuk Diandra yang sontak membuat ketiganya seketika bungkam.


Tentu mereka merasa tidak tega melihat ekspresi Diandra saat itu. Mereka jadi merasa tidak enak hati.


"Dosa nggak sih, berbagi kemesraan di depan jomblo kayak gue?" tanya Diandra dengan intonasi menyindir.


"Ra, sorry, kita nggak ada maksud, lho," ucap Aretha tidak enak hati.


"Yaelah, Ra ... cuma begitu doang, insecure-an banget sih lo!" timpal Deasy yang selalu berbicara santai, tanpa beban.


"Sabar, akan ada masa dimana lo ngerasain apa yang kita rasakan saat ini," ucap Tania seraya merangkulkan tangannya di bahu Diandra, karena ia memang duduk di samping Diandra.


Kendatipun begitu, mereka bertiga tetap mengetahui watak Diandra itu seperti apa. Jadi, mereka sudah tahu bagaimana cara menghadapinya.


"TERSERAH!" balas Diandra mengeluarkan bahasa keramatnya, lalu bangkit dari tempat duduk itu. "Gue mau ke toilet!" imbuhnya seraya menoleh ke arah Aretha, seolah meminta petunjuk letak toilet dimana.


"Mau ngapain? Kalau mau nangis di sini aja kali, bahu gue masih bisa kok dijadikan sandaran," goda Aretha sembari menepuk-nepuk bahunya sendiri.


"Gue kebelet, Re!" kesal Diandra seraya menatap tajam wajah Aretha, sontak membuat Deasy dan Tania terkekeh.


Diandra segera beranjak dari tempat itu, setelah Aretha menunjukkan letak kamar mandi di rumahnya.


"Eh, gue ada ide deh," ucap Deasy, setelah Diandra pergi ke kamar mandi.


Tania dan Diandra tampak mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ide apa?" tanya mereka kompak.


Deasy tampak membisikkan sesuatu kepada mereka. Entah apa yang tengah direncanakannya. Tania dan Aretha tampak menganggukkan kepala, seolah paham dengan apa yang dikatakan oleh Deasy.


"No! Jangan gue dong, bisa dipenggal hidup-hidup gue sama mas David!" tolak Aretha, setelah Deasy memintanya untuk bertindak dalam menjalankan rencananya itu.


"Lalu siapa, kalau bukan lo?" tanya Deasy.


"Ya, elo lah ... masa gue!" kesal Aretha.


"Kan yang dekat sama dia elo, Re!"


"Nggak ada! Pokoknya gue nolak keras!" tegas Aretha kekeh.


"Nolak apaan, Re?" tanya Diandra yang tiba-tiba telah berdiri di belakang Aretha.


Aretha terkesiap, lalu menoleh ke belakang. "Hh?"


Belum sempat Aretha menanggapi pertanyaan Diandra, tiba-tiba terdengar suara derung mobil di depan rumahnya. Ia sedikit mempertajam pendengarannya, sepertinya ia kenal betul dengan suara mobil itu.


"Mobil siapa, Re?" tanya Tania.


"Kayaknya mobil mas David, deh," jawab Aretha, lalu bangkit dari tempat duduknya. Ia segera melangkahkan kakinya ke luar rumah. Dan benar saja, itu memang mobil David.


Tumben sekali David sudah pulang. Padahal, waktu masih menunjukkan jam dua siang.


"Mas, tumben pulang cepat?" tanya Aretha seraya mencium tangan suaminya.


"Aku habis ketemu klien di luar, karena selesai lebih cepat, ya sudah aku langsung pulang," jelas David.


"Siang, Mas," sapa Deasy dan Tania sedikit canggung.


"Siang, Pak," sapa Diandra menimpali.


David menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman. Namun, hanya sekilas, seolah terpaksa, dan tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulutnya.


David segera beranjak dari sana menuju kamarnya. Sementara, ketiga sahabat Aretha merasa tidak enak hati akan sikap dingin David. Pun dengan Aretha yang juga merasa tidak enak hati kepada ketiga sahabatnya, karena sikap sang suami.


"Re, katanya suami lo pulang sore, gimana sih!" gerutu Deasy.


"Tahu nih!" timpal Tania.


"Pak David dari dulu nggak berubah ya, selalu saja dingin sama cewek, beda kalau sama lo, Re," ucap Diandra yang sudah mengenal David lebih dulu.


"Lo betah Re, nikah sama dia?" tanya Deasy meragukan kebahagiaan Aretha.


"Kenapa tidak! Dia baik sama gue," balas Aretha. "Justru bagus 'kan, kalau pasangan kita bersikap dingin sama wanita lain?" imbuhnya seolah mengindahkan sikap David.


"Ya bagus, sih. Tapi, harus lihat-lihat juga kali, Re!" protes Deasy.


"Ya, setidaknya, dia nyapa, kek. Gue berasa makhluk halus tahu! Bisa melihat, tetapi seolah tidak terlihat," timpal Tania melayangkan protesnya. "Kita ini sahabat lo, Re, masa tidak disapa sama sekali, sih!" imbubnya.


"Iya ... iya ... sorry, mas David memang begitu kalau sikap dinginnya sedang kumat," jawab Aretha.


"Ya sudahlah, kita pulang saja, nggak enak gue lama-lama di sini," ujar Tania.


"Jangan dong ... masa pulang sih, nanti dulu lah ...," balas Aretha membujuk. "Kalian tunggu sebentar," imbuhnya.


Aretha tampak menemui David di kamarnya. Tampak David yang sedang duduk selonjoran di atas tempat tidur, sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Ia terlihat sibuk memainkan gawai di tangannya.


Menyadari kehadiran Aretha. David menghentikan kegiatannya sejenak, lalu mendongak, menatap sang istri dari kejauhan, ia tampak melebarkan senyumannya.


Aretha terus menghampiri sang suami, hingga berada tepat di samping tempat tidur.


"Kok, kesini? Teman-teman kamu sudah pulang?" tanya David.


"Belum," jawab Aretha singkat.


"Lalu, kenapa ditinggal?" tanya David heran.


"Aku kesal sama kamu, Mas!" gerutu Aretha, sontak membuat David merasa semakin heran.


"Lho, kesal kenapa?" tanya David seraya mengerutkan dahinya.


"Kamu tidak menyapa teman-temanku, mereka jadi merasa canggung di sini," ucap Aretha melayangkan protesnya.


"Lho, bukankah hal yang wajar ya, kalau orang selalu merasa canggung di rumah orang lain?" heran David.


"Ish, bukan itu maksudku, Mas!" bantah Aretha.


"Lalu, apa?" David semakin bingung dibuatnya.


"Mereka jadi merasa kalau kamu tidak senang ada mereka di sini," jelas Aretha memberengut. "Mereka teman-teman aku lho, Mas!" imbuhnya.


"Bilang sama mereka, aku tidak akan merasa keberatan, selagi mereka tidak mengajak istriku yang aneh-aneh, yang aku tidak suka!" jelas David.


"Ya ... paling tidak, kamu sapa mereka, kek. Sudah seharusnya seperti itu, kan?"


"Aku kasih senyuman lho, Sayang!" David kekeh tidak ingin melalukan apa yang Aretha minta.


"Senyum saja tidak cukup, Mas! Pokoknya, aku mau kamu menyapa mereka, titik!" Aretha tampak memaksa dengan menari-narik tangan David, hingga pria itu mau turun dan menemui kembali ketiga sahabat Aretha.


"Ya ampun, Sayang ... kamu terlalu mengagungkan mereka," protes David.


"Dia tamu aku. Ingat! Tamu itu adalah raja! Sudah seharusnya kita memperlakukan mereka dengan baik," balas Aretha tidak mau kalah.


David pun tidak bisa berbuat banyak, selain menuruti keinginan sang istri untuk menemui ketiga sahabatnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC