Possessive Love

Possessive Love
Undangan Makan Malam



"Sayang, kamu sudah siap, kan?" tanya David kepada sang istri, sembari mengancingkan tuxedo berwarna hitam yang sudah melekat di tubuhnya.


Wanita itu terlihat sangat cantik mengenakan gaun berwarna hitam yang berlengan pendek dan panjangnya melewati lutut kakinya. Tampak high heels yang menghiasi kaki jenjangnya, serta clucth berwarna senada dengan gaun dan high heels yang ia kenakan, sebagai pelengkap penampilannya. Sementara, untuk rambutnya ia memilih dengan model sanggul.


Perutnya yang semakin membesar, nampak jelas membentuk. Kendatipun begitu, tetap saja tidak memperburuk penampilannya malam itu. Penampilannya terlihat sederhana, tetapi tak sedikit pun mengurangi kecantikannya. Dan tentunya sangat terlihat elegan.


Pasalnya, malam itu kedua pasangan tersebut mendapatkan undangan makan malam dari Rendy, sahabatnya. Entah ada acara apa, sehingga mereka diundang secara khusus ke sebuah restoran ternama di kotanya.


"Sudah, Mas," jawab Aretha seraya berdiri di belakang suaminya.


David menoleh ke belakang, lalu ia sedikit terperangah, ketika melihat penampilan sang istri yang selalu membuatnya terpana. Ia menatap wanita itu beberapa saat dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Wow! Cantik sekali!" puji David seraya membulatkan matanya.


Meskipun bukan pertama kalinya ia melihat penampilan sang istri yang selalu saja terlihat mempesona. Namun, tetap saja selalu menjadi kejutan baru untuknya.


"Kamu ini selalu saja!" balas Aretha menanggapi dengan ekspresi yang sedikit tersipu malu. Namun, ia seolah ingin menyembunyikannya di depan sang suami.


David hanya tersenyum, tanpa berkomentar apapun lagi tentang penampilan sang istri. Baginya, penampilan Aretha kala itu sudah lebih daripada cukup dan ia sangat menyukainya, tidak terlalu memperlihatkan setiap lekuk tubunya, tetapi tidak memalukan juga.


"Ayo, kita berangkat!" ajak David seraya melebarkan senyumnya.


"Ayo," singkat Aretha.


David dan Aretha tampak keluar dari rumahnya menuju mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di halaman rumahnya.


David membukakan pintu mobil untuk sang istri. Hal yang sudah biasa pria itu lakukan, setelah mereka menikah.


Ya, benar. Setelah menikah, David memang selalu memperlakukan sang istri dengan begitu manis dan lembut, terlebih lagi setelah kehamilannya. Berbeda sekali dengan ketika Aretha masih menjadi sekretarisnya dulu. Hanya saja, untuk sifat posesif dan cemburunya masih saja belum berubah sedikit pun sampai detik ini.


David masih saja tidak menyukai Aretha dekat dengan pria lain, siapapun itu, sekalipun mereka hanya berhubungan sebagai teman. Nampaknya, ia tidak bisa memberikan toleransi perihal itu.


David segera menginjak pedal gas, melesatkan mobilnya dengan perlahan, tetapi pasti. Mengingat sang istri yang sedang hamil, membuat pria itu tidak bisa melakukan kegiatan semaunya. Ia harus sangat hati-hati, demi menjaga keselamatan sang istri dan juga janin yang ada di dalam kandungannya.


"Mas, tumben sekali kak Rendy mengundang kita untuk dinner bareng?" tanya Aretha di tengah-tengah perjalanannya.


Selain karena bukan hal yang biasa Rendy mengundang keduanya secara formal, itu juga terkesan sangat dadakan sekali, karena Rendy baru memberi tahunya tadi sore, sebelum David pulang dari kantor, sehingga membuat keduanya merasa heran karena mendapat undangan dadakan seperti itu.


"Entahlah, Sayang ... Rendy tidak memberi tahuku ada acara apa," jawab David seraya fokus ke depan.


Aretha tampak menganggukkan kepalanya pelan. "Yang diundang hanya kita saja?" tanyanya lagi.


"Sepertinya ... Richard juga," ucap David menduga-duga.


"Oh," singkat Aretha menanggapi.


Mereka terdiam beberapa saat. Namun, tiba-tiba David membuka perbincangan kembali.


"Nanti di sana, biasa saja ya sama Richard," ucapnya mengingatkan.


"Maksud kamu?" tanya Aretha tampak membulatkan matanya penuh tanya. Sebab, tidak memamhami arah pembicaraan David. Memangnya selama ini dirinya kurang biasa apa? Batinnya saat itu.


"Ya ... biasa saja, jangan main kontak mata, atau apalah yang bisa membuatku murka," jelas David sedikit bercanda.


Namun, sungguh tujuan dari ucapannya itu benar adanya. Ia tidak ingin sang istri terlibat kembali dengan masa lalunya, karena boleh jadi itu akan menjadi bumerang dalam hubungan mereka, mengingat dirinya yang sungguh tidak rela jika sang istri dekat dengan pria lain, terlebih lagi mantannya. Jangankan dekat, bertegur sapa saja terkadang membuatnya naik darah, meski sering ia tahan.


"Kenapa sih, kamu itu selalu saja! Kak Richard itu 'kan sahabat kamu sendiri, Mas. Masa iya aku harus diam saja, tidak usah nyapa, ngobrol, atau apalah. Nanti dikira istri kamu sombong loh, Mas," kesal Aretha sedikit memberi tahu.


"Apapun alasannya, aku tetap tidak suka. Kalau mau nyapa ya nyapa saja, tetapi tidak perlu berlebihan, kan?" balas David.


"Mas, Dia itu cuma masa lalu aku, pun sebaliknya. Jadi, untuk apa kamu mencemaskan itu, toh kita sudah nikah, aku sudah menjadi milikmu seutuhnya, pun denganmu yang sudah menjadi milikku seutuhnya," jelas Aretha memberi pemahaman kepada sang suami.


"Dan menurut kamu aku harus biasa saja, tidak perlu khawatir. Sementara, aku tahu bahwa masih ada rasa yang tertinggal di hatinya untuk kamu, begitu?" David tampak menatap kesal wajah sang istri. Namun, hanya sejenak. Ia kembali fokus ke arah kemudi.


"Sok tahu kamu, Mas!" bantah Aretha.


Bagaimana bisa David menduga bahwa Richard masih memiliki rasa untuk istrinya. Sedangkan, mereka putus hubungan sudah begitu lama. Dan bahkan, Richard sendiri yang merencanakan pernikahan mereka yang sempat dibatalkan, akhirnya berjalan sesuai dengan yang mereka inginkan.


"Aku tahu, Sayang. Buktinya sampai sekarang dia masih belum move on," jawab David seolah memberikan bukti yang kuat.


"Mungkin saja memang belum ada yang berjodoh dengannya, Mas. Belum ada yang pas di hatinya, bukan berarti karena dia yang masih menaruh hati kepadaku, Mas." Aretha berusaha mencoba menepis apa yang ada di dalam pikiran suaminya.


"Tidak seperti itu. Aku tahu dari tatapan dia sama kamu. Maka dari itu, tolong jaga jarak ya, Sayang," pinta David seraya mengusap pipi Aretha dengan lembut, lalu menerbitkan senyumnya.


"Kita ini sudah mau punya anak, Mas. Kamu jangan terlalu cemburuan seperti itu kenapa, sih?" gerutu Aretha.


"Aku tidak cemburu!" bantah David.


"Lalu, kalau bukan cemburu, apa namanya? Posesif?" kesal Aretha seraya memasang ekspresi datar.


"Menurutmu?"


"Kamu tidak takut kalau hidupku tertakan dengan sikap posesif kamu itu?" tanya Aretha sedikit geram.


"Mana mungkin kamu tertekan, disaat aku yang selalu bisa memberikan kebahagiaan," jawab David percaya diri.


Aretha tampak mencebikkan bibirnya kesal.


"Kenapa? Kamu tidak bahagia denganku?" tanya David seraya menoleh ke samping.


"Ya, bukan begitu, Mas! Cobalah kamu mengerti, Mas," jawab Aretha tampak bingung harus menanggapinya seperti apa.


"Aku kurang mengerti apa sih, Sayang? Sebenarnya simpel saja, ketika kamu tidak ingin melihatku seperti ini, ya kamu cukup ikuti apa kataku, beres 'kan masalahnya?"


"Terserah kamu saja lah," ucap Aretha mengalah.


***


Setengah jam kemudian, Mereka telah tiba di sebuah restoran mewah di kawasan Jakarta Selatan. David dan Aretha tampak turun dari mobilnya, lalu berjalan masuk ke dalam restoran tersebut. Namun, belum sempat ia masuk, tiba-tiba seseorang memanggilnya, sehingga membuat langkah mereka terhenti.


"Dave!"


David dan Aretha langsung membalikkan tubunnya. Nampaknya Rendy dan Clara juga baru saja tiba di tempat itu. Kedua pasangan kekasih itu tampak berjalan menghampirinya.


"Ren, baru datang juga?" tanya David.


"Ya," singkat Rendy.


Mereka tampak bersalaman akrab, layaknya sahabat. Pun dengan Aretha dan Clara yang juga melakukan hal yang sama.


"Apa kabar, Mbak Clara?" tanya Aretha kepada wanita yang usianya memang tiga tajjn setelah cipika-cipiki dengan wanita yang memang sudah ia kenal sebelumnya, meski tidak begitu akrab, karena jarang sekali bertemu.


"Aku baik-baik saja, Re. Kamu sendiri apa kabar?" jawab Clara seraya tersenyum simpul.


"Aku juga baik kok, Mbak," jawab Aretha seraya membalas senyumnya.


"Ya, tentu. Usia kandunganku sudah enam bulan, Mbak," jawab Aretha.


"Wah ... berarti tidak lama lagi kita akan punya keponakan baru, Sayang!" seru Rendy menimpali.


"Iya, Beb," balas Clara.


"Haha!" Aretha hanya tertawa menanggapi kedua pasangan kekasih itu.


"Ya sudah, ayo masuk!" ajak Rendy.


Mereka pun segera bergegas masuk ke dalam. Mereka berjalan saling berdampingan. Tampak Rendy dan Clara yang memimpin di depan. Sementara, Aretha dan suaminya mengekori di belakang.


Seorang pelayan resto tampak menuntun mereka ke salah satu meja yang memang sudah direservasi sebelumnya oleh Rendy. Meja berukuran panjang yang memiliki enam kursi di sana.


Mereka tampak mendaratkan tubuh mereka masing-masing di kursi itu, dengan duduk bersebelahan. David tampak duduk berhadapan dengan Rendy. Sementara, Aretha duduk berhadapan dengan Clara.


Masih tersisa masing-masing satu kursi yang berada di samping Clara dan Aretha.


"Ada acara apa, Bro, kok tumben sekali mengundang kit makan malam?" tanya David, setelah beberapa detik mereka duduk di sana.


"Nanti lo akan tahu," jawab Rendy, lalu menatap kekasihnya sambil tersenyum, pun sebaliknya hingga mereka tampak beradu pandang dan saling melempar senyum beberapa saat.


"Ck!" David hanya berdecak menanggapinya.


"Gue lagi menunggu satu orang lagi," ucap Rendy memberi tahu.


"Richard?" tanya David yang langsung bisa menebak.


"Ya," singkat Rendy.


Mereka berempat tampak mengalihkan topik pembicaraan. David dan Rendy lebih dominan membahas tentang urusan bisnis. Sementara Aretha dan Clara lebih banyak membahas urusan wanita. Clara tampa lebih banyak bertanya soal kehamilan Aretha waktu itu.


"Dave?"


Di tengah-tengah perbincangan mereka, tiba-tiba seorang wanita memanggil Dave. Wanita itu tak lain adalah Dara yang kala itu tengah berdiri di samping meja tersebut. Entah kenapa wanita itu tiba-tiba berada di sana.


Tak hanya David dan Aretha yang reflect menoleh ke sumber suara, melainkan Rendy dan Clara juga ikut penasaran dengan sosok asing yang memang belum mereka kenal sebelumnya.


"Dara?"


"Dokter Dara?"


Aretha dan David tampak kompak. Tempat itu memang bukan tempat privasi, jadi wajar saja jika ada seseorang yang mengenali mereka, tiba-tiba berada di sana.


"Kalian di sini juga rupanya," ujar Dara.


"Ya, kami ada acara di sini," jawab David.


Belum selesai mereka bertegur sapa, tiba-tiba Rendy memberi isyarat bahasa tubuh menggunakan matanya kepada David, seolah ingin tahu siapa wanita itu.


"Oh, ini teman lama gue, Ren," jawab David seraya melirik ke arah Rendy dan Dara secara bergantian.


David memperkenalkan Dara kepada Rendy dan Clara. Mereka pun tampak berkenalan dengan senang hati.


"Wah ... sepertinya aku mengganggu acara kalian, nih. Sebaiknya aku pamit saja. Terima kasih ya, Dave. Senang sekali bisa mengenal teman-teman kamu," seru Dara kemudian, setelah berkenalan dengan Rendy dan Clara. Nampaknya, ia merasa tidak enak hati dengan mereka berempat, khawatir jika kehadirannya yang tidak sengaja itu dapat mengganggu acara mereka.


"Mau kemana, Dara? Kamu bisa ikut gabung kalau mau?" ujar Rendi memberi penawaran.


Seketika Rendy melirik ke arah David, lalu mengedipkan sebelah matanya yang entah maksudnya apa, David pun tidak tahu.


David hanya mengangkat sebelah alisnya, seraya menatap heran sahabatnya itu.


"Ah, tidak perlu, Ren. Nanti aku malah mengganggu acara kalian lag," tolak Dara merasa tidak enak hati.


"Mengganggu apa, sih? Kita bukan sedang melangsungkan acara khusus, kok. Bukan begitu, Dave?" Lagi-lagi Rendy memberi kode mata kepada David, sehingga membuat David makin tidak memahami maksudnya.


Dia kenapa, sih, tiba-tiba bersikap seperti itu di hadapan Aretha. Nanti, kalau istriku berpikir yang tidak-tidak bagaimana? Ah, sial!


"Benarkah?" tanya Dara memastikan.


"Gabung saja, Dok! Dokter tidak sedang sibuk, kan?" timpal Aretha.


Dara terdiam sejenak, seolah tengah berpikir. Setelah beberapa saat, ia menyunggingkan senyum simpulnya.


"Baiklah kalau begitu," ucapnya menyetujui ajakan Rendy.


"Silakan duduk!" titah Rendy mempersilakan.


"Terima kasih," balas Dara seraya mendaratkan tubuhnya di kursi kosong yang berada di samping Aretha.


"Jadi Dara ini teman sekolah lo dulu, Dave?" tanya Rendy memastikan.


"Ya, sekaligus dokter kandungan Aretha," terang David.


"Wah, beruntung sekali kalian, bisa ditangani dokter yang tak asing lagi," seru Rendy.


"Ya, tentu!"


Mereka tampak melanjutkan kembali perbincangan mereka. Aretha, Dara dan Clara tengah membahas seputar kehamilan Aretha. Clara tampak begitu antusias membahas seputar kehamilan wanita itu. Begitu banyak yang mereka tanyakan kepada Dara terkait masalah kehamilan.


"Dave, lo nemu dimana cewek secantik ini?" bisik Rendy di tengah-tengah kegiatan para kaum hawa.


"Ck! Lo itu ya, di dekat Clara juga masih saja berani-beraninya melirik wanita lain!" gerutu David.


Rendy tampak melengos kesal. "Sayang saja, Bro, lo anggurin cewek secantik dia," balas Rendy.


"Maksud lo?" David tampak membulatkan matanya. Tentu saja ia tidak memahami kemana arah pembicaraan sahabatnya itu.


"Dia belum menikah, kan?" tanya Rendy kemudian.


"Hmm ...." David tampak menanggapi.


"Good!" Rendy tampak menjentikkan jarinya yang entah maksudnya apa, David benar-benar tidak mengerti.


"Kenapa, Beb?" tanya Clara melirik ke arah David, ketika ia menyadari suara petikan jari sang kekasih, sehingga membuatnya merasa heran.


Rendy tampak terkesiap mendapat pertanyaan dari Clara.


"Oh, ti-tidak apa-apa, Sayang," jawab rendy sedikit gugup. dan terbata.


Beruntunug Clara tidak mau ambil pusing perihal itu. Ia kembali melakukan obrolannya dengan Aretha dan Dara.


"Sorry, gue telat!"