Possessive Love

Possessive Love
Papi Sakit



"Mami, ada apa panggil kami kemari?" tanya Aretha, ketika baru saja ia dan suaminya tiba di rumah kedua orangtuanya.


Carmila terdiam beberapa saat, sebelum ia menjawab pertanyaan putrinya, sehingga membuat Aretha sedikit heran.


"Papimu sakit, Nak," jawab Carmila dengan tatapan sendu.


"Sakit?" Aretha membelalak. Tanpa berpikir panjang, ia langsung masuk ke dalam rumah dan menghampiri sang papi di kamarnya. Tampak David dan Carmila yang juga mengikutinya dari belakang.


Aretha membuka pintu kamar itu, terlihat sang papi yang tengah terbaring di atas ranjang, sembari memejamkan matanya, dengan wajah yang terlihat sangat pucat.


Aretha duduk di bibir ranjang, tepat di samping papinya, lalu mengusap lembut wajah lesu itu. "Papi," lirihnya yang sontak membuat sang papi membuka mata.


Anton menatap wajah putrinya dengan rasa bahagia. "Nak, kamu di sini?" tanyanya parau. Ia sedikit mengangkat tubuhnya, seraya menyandarkannya ke sandaran tempat tidur.


Tanpa menunggu komando, Aretha langsung memeluk tubuh hangat itu dengan erat. Tak terasa air matanya sudah luruh membasahi pipinya.


Walau bagaimanapun ia sangat dekat dengan papinya, itulah mengapa ia selalu bersikap manja dan terlihat seperti putri kecil, ketika dengan sang papi. Namun, melihatnya lemah tak berdaya dan hanya terbaring di atas ranjang dengan wajah pucat dan lesu, bibir yang sudah mengering dan tubuh yang terlihat lemah, membuat wanita itu tak kuasa membendung lagi kesedihannya. Ah, sungguh semua itu membuatnya merasa tidak tega.


Orang yang selama ini tidak pernah mengeluh dan selalu mengajarinya apa itu arti kuat dan mandiri, tiba-tiba tumbang tanpa ia ketahui sebelumnya. Sungguh, rasanya ia seperti putri yang tak tahu diri. Bagaimana tidak? Di saat sang papi selalu ada untuknya, baik ketika ia bahagia, atau bahkan terpuruk sekali pun. Sementara dirinya? Bahkan, kondisi kesehatan papinya pun ia lupakan.


"Papi kenapa?" tanya Aretha di tengah pelukan erat sang papi.


Anton tampak memaksakan senyumnya. "Papi tidak apa-apa, Nak. Kamu jangan khawatir," jawabnya seraya mengelus lembut punggung putrinya.


Sementara, David dan Carmila tampak berdiri di sana, menyaksikan adegan haru antara pasangan ayah dan anak itu.


"Jangan membuatku khawatir seperti ini," lirih Aretha.


"Papimu tidak apa-apa, papi hanya kangen sama kamu, Nak," ucap Anton yang sontak membuat Aretha semakin merasa bersalah, jika memang itu benar.


Mereka memang sudah beberapa minggu tidak bertemu. Aretha yang sibuk dengan urusan rumag tangganya, juga Anton yang sibuk dengan pekerjaan di kantornya, membuat keduanya tidak bisa bertegur sapa, selain melalui suara.


Aretha melepaskan pelukannya, lalu menatap lekat wajah sang papi. "Papi tidak boleh sakit, jadi kelihatan jelek, 'kan? Tidak keren, aku tidak suka," rengek Aretha dengan diselipi kata ledekan, meski tidak sungguhan. Namum, mampu membuat papinya tertawa kecil.


"Kamu ini, selalu saja!" Anton tampak memencet hidung putri semata wayangnya dengan gemas, sehingga membuat Aretha merintih kesakitan.


"Auuww! Sakit, Papi," erang Aretha.


Anton segera melepaskannya. Seketika terbit senyuman simpul di wajahnya. Nampaknya, ia sangat bahagia sekali dengan kehadiran Aretha di sampingnya.


"Maaf, aku jarang sekali jengukin Papi," lirih Aretha menyesal.


"Tidak apa-apa, Sayang. Bisa lihat kamu hari ini, papi sudah sangat merasa senang," balas Anton.


Seketika fokusnya teralihkan kepada sang menantu yang tengah tersenyum melihat tingkah sang istri.


"Nak, Dave?" ucap Anton.


Aretha menggeser tubuhnya, sedikit menjauh dari pria paruh baya itu, seolah memberi celah untuk sang suami.


"Pi." David segera menghampiri sang papi mertua, lalu mencium tangannya. Ia duduk tepat di bibir ranjang, di depan sang istri. "Bagaimana keadaan Papi?" tanyanya seraya mendongak.


"Alhamdulillah ... sudah jauh lebih baik," jawab Anton yang entah itu sungguhan atau tidak.


"Syukurlah ...," ucap David seraya tersenyum senang. "Maaf, kami jarang sekali kemari, Pi. Sampai Papi sakit saja, kami tidak tahu," imbuhnya.


"Papi sudah periksa ke dokter?" tanya David seraya menatap lekat.


"Papi tidak mau ke dokter. Padahal, dari semalam sudah mami paksa, tetapi papi kekeh," timpal Carmila yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka.


David tampak menoleh ke belakang, berusaha mencerna ucapan mami mertuanya. Namun, tak berlangsung lama, ia kembali menatap papi mertuanya.


"Papi ke dokter, ya? Biar saya yang antar," ucap David seraya membujuk mertuanya itu.


"Tidak usah, Nak. Nanti juga sembuh, ini hanya sakit biasa, kok. Mungkin karen faktor 'U'," tolak Anton seraya mengeluarkan candaannya.


"Papi, jangan keras kepala begitu dong ... Papi harus sehat, masa mau punya cucu malah sakit?" timpal Aretha yang sontak membuat kedua orangtuanya terkejut bukan main.


"Cucu?" Anton dan Carmila tampak kompak.


Carmila segera mendekati putri semata wayangnya. "Kamu hamil, Sayang?" tanyanya seraya menatap serius wajah sang putri, seolah mencari kebenaran akan pertanyaannya itu.


Aretha tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya berulang kali.


Mendapat tanggapan dari Aretha, Carmila langsung memeluk putrinya dengan bahagia. "Selamat, Sayang. Akhirnya kalian akan segera memiliki momongan. Mami sudah tidak sabar mau menimang cucu mami," ucapnya.


"Terima kasih, Mi."


"Selamat, Nak. Papi senang sekali mendengarnya. Akhirnya, putri papi sudah besar, sudah dewasa, meski terkadang tingakahnya masih suka manja seperti anak kecil," ujar Anton menggoda putrinya, sehingga membuat Aretha tersipu, karena memang ia merasa seperti itu. Namun, sungguh. Itu hanya ia lakukan kepada kedua orangtuanya dan juga suaminya saja.


"Papi ...," rengek Aretha. Sementara, yang lain hanya terkekeh melihat ekspresinya.


"Selamat ya, Nak, akhirnya kamu bakal menjadi seorang ayah," ucap Anton kepada David.


"Terima kasih, Pi."


Mereka tampak berbahagia sekali. Akhirnya canda tawa pun memecah di ruangan itu. Meski Anton sedang sakit, tetapi mendengar kabar bahagia itu membuatnya seolah merasa kembali sehat.


"Papi mau ya pergi ke dokter?" bujuk David sekali lagi di tengah-tengah perbincangan mereka.


Anton terdiam sejenak, sebelum menanggapi, lalu menghela napas lembut. Ia tampak menyunggingkan senyumnya. "Papi merasa sudah lebik baik, Nak. Jadi, sepertinya tidak perlu ke dokter," jawabnya.


Anton bersih keras dengan pendiriannya untuk tidak memeriksakan kondisinya saat itu, meski David dan Aretha tetap tidak menyerah untuk membujuknya.


"Baiklah, kalau memang papi tidak ingin pergi ke dokter, biar saya panggilkan saja dokternya kemari," ucap David tidak mau kalah.


Walaupun David terlihat dingin di luar, tetapi kalau menyangkut urusan keluarganya, ia selalu memprioritaskan, terlebih yang berhubungan dengan kesehatan keluarganya.


Aretha tampak menerbitkan senyumnya melihat sang suami yang begitu peduli dengan papinya. Ia sangat bahagia, juga bangga memiliki suami seperti David.


Terima kasih, Ya Allah ... Engkau telah menciptakan seorang pria yang baik seperti mas David untuk menjadi pendampingku.


Anton tampak tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Bukan karena ia menolak, tetapi seolah ia tidak menyangka bahwa menantunya itu akan sangat mempedulikan dan memperlakukannya layaknya kepada kedua orangtua kandungnya sendiri.


"Terserah kamu saja, Nak," ucap Anton seolah menyerah.


David pun tersenyum senang. Akhirnya, sang papi mertua mau mendengarkan sarannya. Tanpa menunggu lama lagi, David segera menelepon dokter panggilan yang memang sudah biasa ia gunakan jasanya.