
David segera membuka pintu rumahnya, setelah terdengar suara bel rumah berbunyi. Namun, ia sedikit dibuat kaget, ketika mendapati Richard dan juga Rendy yang ikut serta bersama Denis.
"Kalian ikut juga rupanya?" tanya David heran, padahal ia hanya meminta Denis yang datang.
"Kenapa? Lo keberatan?" tanya Rendy sedikit sinis.
"Ck! Sensitif banget lo! Gue cuma heran," kesal David. "Ah ... sudahlah, masuk!" titahnya.
Mereka pun menurut, lalu duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"By the way, bagaimana dengan nomor peneror itu? Apa kamu sudah menemukannya?" tanya David seraya memfokuskan pandangan kepada Denis.
Denis menghela napas sejenak, sebelum ia menanggapi perkataan David. "Maaf, Pak, saya gagal," jawabnya yang sontak membuat David melengos kesal.
"Sebenarnya saya sudah dapat melacak nomor itu. Hanya saja ... ketika saya mendatangi tempatnya, ternyata handphone yang si peneror gunakan itu telah dijual, jadi saya hanya bisa melacak hingga tempat itu saja," jelasnya kemudian.
"Sial!" umpat David.
Namun, apalah daya, tidak banyak yang bisa ia perbuat. Terlebih Denis pun sudah bekerja cukup baik menurutnya, meski nyatanya ia sedikit terlambat.
"Gue tinggal sebentar," ucap David seraya beranjak dari tempat itu, berniat untuk mengambil foto-foto itu di kamarnya.
Tak berlangsung lama, ia telah kembali ke hadapan mereka.
Plak!
"Bagaimana dengan itu?"
David sedikit melempar amplop berwarna cokelat ke atas meja. Posisinya masih berdiri, sehingga membuat ketiga pria di sana tampak mendongak menatapnya heran.
Richard yang penasaran, segera membuka amplop itu, tanpa berkomentar apapun. Jelas ia langsung berpikir bahwa amplop itu adalah teror baru yang diterima oleh David dan Aretha, oleh karenanya ia sangat penasaran dengan isinya.
Rendy yang kala itu duduk di samping Richard, berusaha mendekat untuk mengetahui isi dari amplop itu. Sementara, Denis masih stay di tempatnya.
Baik Richard maupun Rendy, mereka tampak membeliak, ketika sudah berhasil membuka amplop itu dan mengeluarkan beberapa foto dari dalamnya.
Mereka melihat foto-foto itu satu persatu. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat foto-foto David bersama mantan kekasihnya. Ya, tentu saja mereka tahu Freya siapa, meski tidak mengenalnya dekat.
Dengan perasaan geram, Richard beralih menatap David dengan tatapan sinis. "Dave, ini apa maksudnya? Lo—"
"Itu bukan gue!" bantah David yang langsung memahami tatapan dari Richard.
Tentu saja Richard tidak rela, jika Aretha disakiti oleh sahabatnya sendiri, dengan cara seperti itu pula.
"Sepertinya ada yang sengaja merekayasa foto itu," jelas David.
Richard terdiam sejenak, berusaha percaya akan penjelasan David.
"Awas saja kalau ini terbukti, gue akan ambil Aretha dari lo, detik itu juga!!" ancam Richard penuh penekanan, seraya menatap tajam wajah David.
"Aretha sudah tahu, Dave?" tanya Rendy penasaran.
"Nah, itu dia! Justru Aretha yang terima foto-foto itu. Dan sekarang dia marah besar sama gue," keluh David.
Mereka terdiam beberapa saat. Sementara, Denis pun masih belum berkomentar apapun.
"Den, gue tahu, lo bisa berbuat sesuatu 'kan untuk membuktikan bahwa foto ini tidak asli?" ucap David kepada Denis yang tiba-tiba berubah santai layaknya seorang teman.
"Biarkan saya melihat dulu fotonya," ucap Denis.
Tanpa menunggu komando, Richard segera menyerahkan foto-foto itu kepada Denis.
Denis melihatnya satu-persatu. Seketika tatapannya terhenti pada salah satu foto, ketika Freya memegang tangan David. Denis mempertajam penglihatannya. Ia berpikir bahwa tidak ada keanehan sedikit pun pada foto itu.
Denis mendongak, menatap David yang kala itu masih berdiri di tengah-tengah mereka, lalu mengangkat satu foto itu.
"Ini asli?" tanyanya kepada David yang sontak membuat Richard dan Rendy terkejut.
"Dave!" panggil Richard, seolah meminta jawaban.
David melengos kesal, lalu berdecak. "Ck! Iya, iya, itu asli!" jawab David mengaku.
"Maksud lo apa, Dave?" geram Richard.
"Gue bisa jelasin itu nanti! Yang terpenting, lo selidiki dulu foto yang itu, karena gue sama sekali tidak pernah melakukan perbuatan itu!" bantah David.
Denis kembali melanjutkan tugasnya menyelidiki kebenaran dari sisa foto-foto yang ia pegang.
"Bapak punya tahi lalat di dada?" tanya Denis kembali mendongak.
"Tidak ada!" jawab David merasa yakin seraya mendaratkan tubuhnya di salah satu sofa kosong. Denis hanya mengangguk.
Sama halnya dengan foto pertama. Denis memasang tatapan tajam. Namun, ia seperti menemukan kejanggalan pada foto itu, salah satunya adalah adanya tahi lalat di dada pria yang ada dalam foto tersebut. Sementara, David tidak memiliki tahi lalat itu.
Ya, mungkin bagi sebagian orang, foto itu akan terlihat asli, tanpa adanya kejanggalan di sana. Namun, bagi Denis yang sudah terbiasa melakukan itu, itu bukanlah hal yang sulit, karena ia pun ahli dalam hal itu.
Setelah proses penyelidikan, Denis beranggapan bahwa foto itu tidaklah benar, berdasarkan beberapa kejanggalan yang ia temukan, seperti warna kulit wajah dengan tubuh yang berbeda, adanya perbatasan yang kurang sempurna pada bagian leher dan kepala, juga efek blur yang kurang baik.
Meski ia tidak memakai alat teknologi, tetapi ia bisa memastikan bahwa dugaannya benar. Namun, ia tetap akan melakukan penyelidikan itu secara lanjut.
"Sepertinya ini memang hasil rekayasa," ucap Denis memberi tahu, sontak membuat David bisa bernapas lega.
"Namun, saya tetap harus menyelidikinya lebih lanjut lagi, untuk mengetahui hasil yang lebih akurat, meski saya merasa yakin bahwa itu hasil editan," jelas Denis.
"Gue butuh hasil itu malam ini juga, Den!" tegas David tidak sabar.
"Mungkin Bapak bisa menjelaskan temuan-temuan saya kepada istri Bapak, sebagai bukti sementara," jawab Denis. "Seharusnya kita senang dengan adanya kiriman foto-foto ini," imbuhnya.
"Maksud kamu?" tanya David seraya mengangkat sebelah alisnya.
Mana mungkin ada yang senang dengan kiriman macam itu. Gila saja, kalau memang benar ada orang seperti itu, pikirnya.
"Ya ... paling tidak ada sidik jari yang bisa kita jadikan sebagai penyelidikan selanjutnya, mungkin saja ini ada kaitannya dengan peneror itu, tidak ada yang tahu, kan?" jelas Denis santai.
"Wah ... Bro, amazing! Ide bagus itu!" puji Rendy.
"Gue malah tidak terpikirkan dengan peneror itu. Justru gue mikir ini adalah perbuatan Freya," timpal David.
"Lo yakin, Dave?" tanya Richard.
"Entahlah, gue bingung. Yang jelas, Freya tidak mengakui perbuatan itu," jawab David.
"Mungkin tidak, kalau ternyata peneror itu adalah Freya?" ucap Rendy penuh tanya.
"Gue juga tidak tahu, yang jelas kita sudah selesaikan masalah kita semalam di Bandung, tetapi kenapa ketika pulang ke rumah, gue malah dapat foto-foto ini, coba bagaimana menurut kalian?"
"Ada kemungkinan, tetapi untuk lebih jelasnya, sebaiknya kita selidiki dulu," balas Denis yang sedari tadi menyimak obrolan mereka.
"Ya sudah, tunggu apa lagi?" tegas David.
"Saya ambil alatnya dulu di mobil," jawab Denis.
Denis segera keluar dari rumah itu, menghampiri mobil miliknya yang terparkir di halaman rumah David. Ia tampak menekan remote kunci dari kejauhan, hingga terdengar bunyi alarm yang menandakan bahwa kunci mobil sudah terbuka.
Denis segera membuka pintu itu, lalu mengambil sebuah tas berukuran sedang dari sebuah bagasi mobil. Ia tampak membuka tas itu beberapa saat, sekadar mengecek kelengkapan isinya.
Setelah dirasa semuanya ada, Denis segera mengunci kembali mobilnya, lalu bergegas masuk ke dalam rumah itu.
Denis duduk di tempat semula, lalu meletakkan tasnya di atas meja seraya membuka tas itu, mengeluarkan beberapa alat dan bahan yang digunakan untuk mengambil dan melacak sidik jari seseorang.
"Den, apa sidik jari seseorang tidak akan hilang, ketika benda itu sudah dipegang orang banyak?" tanya Richard sedikit ragu.
"Tidak akan, Mas. Hanya saja nanti akan terdapat beberapa sidik jari. Dan itu akan memperlambat proses penyelidikan, karena kita harus menyelidiki satu-persatu. Jadi, kalau ternyata yang kita temukan hanya sidik jari kita, berarti pelakunya adalah salah satu diantara kita," jawab Denis sedikit menakut-nakuti.
"Ya, Tuhan ... nyesel gue pegang itu!" gerutu Richard.
"Gue tidak terlibat ya, sorry," timpal Rendy seraya mengangkat kedua tangannya, karena ia merasa tidak memegang foto itu. Denis hanya terkekeh menanggapinya.
Ya, begitulah Denis. Bahkan, dalam situasi yang menegangkan sekali pun, ia masih terlihat santai, seolah tanpa ada beban dan kekhawatiran. Baginya, hal seperti itu sudah dianggapnya sebagai permainan kelas rendahan. Ia berharap, semoga pelakunya benar-benar memegang benda itu, sebelum dikirim ke rumah David.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING
TBC