
Sepanjang perjalanan menuju pulang, Aretha dan David hanya terdiam, tak ada pembahasan diantara mereka, meski sudah cukup lama mereka berada di dalam mobil.
Aretha telah menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil, dengan kepala yang sedikit terkulai lemah. Pandangannya ia fokuskan ke luar jendela, menatap jalanan yang begitu sibuk dengan beberapa kendaraan. Namun, tatapannya seolah kosong. Nampaknya banyak sekali yang tengah ia pikirkan saat itu. Ya, benar. Apalagi kalau bukan karena Richard.
Ingin rasanya saat itu juga ia mengatakan apa yang selama ini ia sembunyikan dari David. Namun, mulutnya seakan kaku dan hatinya pun terasa berat. Terlebih lagi, Richard sudah melarangnya untuk tidak mengatakan hal itu kepada David, apapun yang terjadi.
Aretha yakin, Richard memiliki alasan kenapa ia berniat sekali untuk menyembunyikan semua itu dari David. Bahkan, hingga Richard sendiri berani berbohong kepada sahabatnya itu. Dan, walau bagaimanapun gadis itu ikut andil dalam kebohongan tersebut.
Sungguh itu membuat Aretha dilema. Ia tidak ingin jika kebohongan itu justru akan menjadi bumerang di kemudian hari, sementara dirinya dan David telah berencana lebih jauh. Bukankah kepercayaan itu merupakan kunci penting dalam sebuah hubungan? Lantas, untuk apa ia membiarkan hubungannya berada dalam sebuah kebohongan yang justru bisa menghancurkannya?
Di tengah lamunannya, sesekali Aretha menghela napas panjang, mencoba memberi ketenangan akan dirinya sendiri. Pandangannya masih terfokus keluar. Namun, pikirannya masih melayang kemana-mana.
Jika ia tiba-tiba jujur kepada David, maka hubungan persahabatan antara David dan Richard dipertaruhkan, karena belum tentu David akan mentolerir hal itu.
Aku tidak menyangka, jika mencintaimu itu ibarat naik pesawat, penuh ketegangan dan tingkat resiko yang tinggi.
Di tengah kesibukannya mengendarai mobil. David sesekali melirik ke samping. Mendapati Aretha yang nampak melamun membuat pria itu sedikit cemas. Seketika ia memperlambat laju kemudianya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya David seraya menoleh sejenak, lalu memfokuskan kembali pandangannya ke depan.
"Hn?" Aretha terkesiap, lalu menoleh dengan tatapan datar.
"Ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya David seraya mengernyitkan dahinya.
Aretha terdiam sejenak. "Ti-tidak, Mas," lirih Aretha sedikit gugup. "Aku hanya sedikit mengantuk," imbuhnya seraya tertawa kecil.
David menyentuh puncak kepala gadis di sampingnya. "Tidurlah, kalau kamu memang mengantuk," titah David seraya tersenyum manis. Aretha hanya membalas dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
Lagi-lagi Aretha merasa tidak tenang. Ia tidak bisa jika harus terus-terusan menyembunyikan kenyataan itu dari David. Walau bagaimanapun David harus tahu bahwa dirinya pernah menjalin hubungan khusus dengan pria yang tak lain adalah sahabat calon tunangannya itu.
Meski hubungannya dengan Richard telah kandas, tetapi apa tidak sepantasnya David mengetahui hal itu?
Melihat kebaikan David terhadapnya membuat Aretha tidak tega jika harus terus-menerus membohibginya.
"Mas," panggil Aretha lirih, sontak membuat David seketika tersentak.
"Iya, Sayang?" tanya David.
"Aku mau bilang sesuatu," ucap Aretha.
"Bilang saja, tidak perlu meminta ijin begitu," jawab David tanpa menoleh.
Aretha menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. "Aku—"
Seketika ucapan Aretha terhenti, tatkala David menghentikan mobilnya di sekitar taman kota yang begitu ramai dengan para pengunjunga dan aneka jajanan. Tempat itu cocok sekali untuk sekadar nongkrong.
"Lho, kenapa berhenti di sini, Mas?" tanya Aretha.
"Kamu mau ice cream?" tanya David seraya menatap Aretha. Aretha mengangguk sembari tersenyum. Namun, ia sedikit kecewa karena apa yang akan ia katakan kepada David harus gagal begitu saja.
"Mau rasa apa?" tanya David.
"Cokelat," singkat Aretha.
David segera turun dari mobil lalu menghampiri pedagang ice cream yang juga berjualan di tempat itu.
Tak berlangsung lama, David tampak membawa dua cup ice cream ke dalam mobil, lalu memberikan salah satunya kepada Aretha. Aretha meraihnya dengan senang hati. David menghadapkan tubuhnya ke Aretha.
"Aku sengaja berhenti di sini. Sepertinya ada hal penting yang mau kamu bicarakan," jelas David. "Ada apa?" tanyanya seraya menatap penuh tanya, lalu memasukan satu sendok ice cream itu ke dalam mulutnya.
Aretha menundukkan kepala. "Mmm ... aku ... aku ...," ucap Aretha gugup.
David segera meraih dagu Aretha membuat gadis itu menatapnya. "Sayang, ada apa?" tanyanya seraya menatap penuh tanya.
Aretha memaksakan senyumnya. "Apa ... Mas David sudah benar-benar ... ehem ... mencintaiku?"
Ya, Tuhan ... apakah aku jahat jika terus menutupi kebohongan ini?
David menatap lekat wajah Aretha, lalu melebarkan senyumannya. "Apa yang membuatmu tidak percaya?" tanyanya.
"Hn?" Aretha terdiam.
"Apa ada hal yang membuatmu tidak percaya?" tanya David seraya mengerutkan dahinya.
Aretha membuang tatapannya ke sembarang arah. "Ti-tidak, tentu saja tidak ada," jawabnya gugup. "Aku hanya tidak percaya kalau pertemuan kita yang tidak disengaja, ternyata bisa sampai sejauh ini," imbuhnya tanpa menatap David, lalu sedikit memaksakan tawa kecilnya.
David menyingkap sebagian rambut Aretha yang sedikit menutupi wajahnya, lalu menyelipkan rambut itu di telinga Aretha sehingga membuat Aretha mendongak, menatapnya. "Percayalah kalau ini takdir!" lirihnya. Aretha hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala.
"Oh iya, ada yang mau aku ceritakan sama kamu," terang David.
"Apa?" tanya Aretha penasaran.
"Aku memecat Alivia," jawab David santai. Namun, cukup membuat Aretha terlonjak kaget. Kenapa Alivia tiba-tiba dipecat? pikirnya.
"Kenapa?" Aretha tampak heran.
"Mm ... karena dia mencoba menggoda aku sewaktu di Bali," jelas David sedikit ragu. Seketika Aretha membelalakkan mata, antara terkejut dan tidak percaya.
"Kamu digodain sama Mbak Alivia, Mas?" tanya Aretha mulai geram.
"Iya, Sayang ...," ucap David memberengut manja. "Masa dia ... mmm—"
"Kenapa Mas? Kamu ngapain saja sama dia, ha?" sergah Aretha memotong pembicaraan.
"Masa dia cium pipi sama bibir aku?" jelas David berbohong.
Aretha memasang ekspresi marah. Antara kesal, geram dan jijik, semuanya bercampur aduk. Entah bagaimana mendeskripsikan perasaannya, yang jelas Aretha telah dibuatnya naik darah seketika karena hal itu. Bagaimana bisa Alivia melakukan itu kepada atasannya sendiri.
"Mas David! Kamu bohong kan sama aku? Mbak Alivia tidak mungkin melakukan itu kan ke kamu? JAWAB!" celoteh Aretha penuh penekanan.
David melengos sejenak. "Mana mungkin aku berbohong!" jawabnya yang jelas-jelas itu bohong.
"Iiiiiih ... Mas David! Pokoknya aku gak mau menikah sama pria yang sudah disentuh perempuan lain. NO!" pekik Aretha.
"Makanya hapusin dong, Sayang!" titahnya sengaja menggoda sang kekasih yang cukup membuat Aretha bingung.
"Mana bisa? Aku saja yang semalaman mencoba hapus jejak kamu, sampai sekarang masih terasa, oops!" Nampaknya Aretha keceplosan. Ia segera mengatupkan bibirnya dengan sebelah tangannya, sementara David hanya menyeringai senang mendengar hal itu.
"Benarkah?" tanya David senang yang sontak membuat wajah Aretha seketika memerah. Gadis itu hanya terdiam tak menjawab.
"Kamu tidak mau membantuku menghapus jejak Alivia?" rengek David.
"Andai saja itu bisa kulakukan, mungkin sudah kulakukan tanpa kamu suruh. Memang kamu pikir aku rela apa menikah sama orang—"
"Bisa kok, Sayang ...," ucap David menyela omongan Aretha.
"Bagaimana caranya?" tanya Aretha heran.
"Dengan ini." David mendekatkan wajahnya ke wajah Aretha seraya memanyunkan sedikit bibirnya seolah akan mencium gadis itu. Namun, belum berhasil ia melakukannya, Aretha telah lebih dulu menghalau wajah tampan itu dengan tangannya sendiri.
"Mas David! Apaan sih, mesum banget!" kesal Aretha seraya menjauhkan wajah David dari wajahnya. Namun, David hanya terkekeh melihat ulah Aretha yang menggemaskan.
Setelah beberapa saat, David mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Aretha dan gadis itu memahaminya. Namun, seketika ia kembali teringat akan kebohongannya sendiri. Ia semakin merasa bersalah. David saja bisa jujur kepadanya, kenapa ia sendiri begitu susah melakukan hal yang sama?
_________
Readers, aku butuh sekali komentar kalian seputar novelku ini. Bukan hanya sekadar komentar yang hanya, lanjut, up, dan bla bla bla , melainkan kritik dan saran kalian, agar aku bisa memperbaikinya lagi. Mohon dengan sangat, kali ini aku benar-benar mengemis. Aku harap kalian bisa kasih tenaga jempol kalian untuk mengetikan beberapa kalimat di kolom komentar secara gratis. Terima kasih. 🙏
HAPPY READING