Possessive Love

Possessive Love
Turtleneck



Setelah selesai mandi, Aretha terduduk di kursi rias yang ada di kamarnya sembari memperhatikan pantulan dirinya dari cermin yang berada di hadapannya. Ia tampak meraba lehernya yang disana terdapat begitu banyak jejak yang dibuat oleh David.


Terlalu hanyut dalam permainan pria itu, membuat dirinya menjadi lupa diri untuk mencegah sang suami membuat kissmark di area leher. Entah apa yang harus ia lakukan agar jejak David tidak terekspos orang lain. Terlebih lagi sang mertua terlanjur telah berada di rumah, ia menjadi ragu untuk keluar kamarnya.


Suara pintu kamar mandi terbuka, membuat Aretha yang kala itu tengah tenggelam dalam lamunannya sedikit tersentak, lalu menoleh ke sumber suara.


"Lho, kenapa masih di sini, Sayang?" tanya David, ketika baru saja ia keluar dari kamar mandi dengan busana yang seperti biasanya, hanya handuk yang melilit di bagian pinggang. "Kasihan mama sama papa menunggu lama, kenapa tidak keluar lebih dulu?" imbuhnya.


"Mas, ini bagaimana cara menghilangkannya?" rengek Aretha dengan masih memegang lehernya, menunjukkan beberapa bercak merah di sana.


David yang tengah berdiri beberapa meter dari Aretha, sedikit terkekeh menanggapi keluh kesah sang istri. Mengingat itu adalah ulahnya sendiri.


"Kok malah ketawa, sih!" kesal Aretha seraya kembali fokus ke arah cermin.


David menghampiri wanita itu, lalu berdiri di belakangnya seraya memegang bahu sang istri. Tampak bayangan pria itu yang tengah tersenyum dalam pantulan cermin, sementara Aretha masih dengan ekspresi memberengut.


"Aku malu mau keluar dari kamar, Mas," keluh Aretha.


"Mana? Coba sini aku lihat!" David tampak membungkukkan tubuhnya, menyeimbangkannya dengan leher Aretha. Betapa ia sangat tekejut, ketika begitu banyak tanda kepemilikan yang ia buat di sana. Namun tak ayal, itu justru membuatnya menyeringai senang, penuh kebanggaan.


"Ya sudah, tidak perlu dihilangkan juga, Sayang. Biarkan saja seperti itu, aku suka melihatnya," ucap David tidak peduli.


"Malu, Mas!" aku Aretha. "Bagaimana nanti tanggapan mama sama papa kalau lihat leherku merah-merah begini, aku harus jawab apa kalau mereka tanya?" imbuhnya.


"Ya ... jawab saja yang sebenarnya, apa susahnya?" balas David lagi-lagi menyeringai ingin menggoda.


"Heeeuuuh, kamu menyebalkan, Mas! Lagi pula, kenapa sih kamu bisa kebablasan seperti ini, aku 'kan sudah sering bilang, jangan bikin jejak di sini!" geram Aretha seraya menunjuk lehernya.


"Kamu saja menikmatinya, kok, sampai tidak sadar aku membuatnya di sana," ledek David lagi-lagi menggoda.


"Mas!!" bentak Aretha semakin kesal. Secara reflect ia menatap tajam sang suami.


"Tidak baik lho, Sayang, bentak-bentak suami seperti itu," sindir David.


"Maaf, habis kamu menyebalkan sih," balas Aretha yang langsung menyadarinya.


Cup!


David mencium pipi Aretha. "Tidak perlu cemberut seperti itu, kamu bisa kasih bedak atau make up lain saja, kurasa akan bisa sedikit menyamarkan bekasnya," ucapnya memberi saran.


"Pakai foundation bisa sih sepertinya, cuma kelamaan, Mas, ini terlalu banyak," terang Aretha.


David terdiam beberapa saat, seraya berpikir.


"Turtleneck! Kamu punya pakaian yang kerahnya turtleneck, tidak?" tanya David. Aretha menggeleng.


David berjalan ke arah lemari pakaian, dengan tidak menanggapi sang istri, lalu mengambil kaos lengan panjang berwarna hitam, dengan model kerah turtleneck. Pria itu tampak memberikan baju itu kepada Aretha.


"Ganti pakai ini!" titahnya seraya menyodorkan kaos itu kepada Aretha. Kala itu Aretha memang telah memakai blouse.


Dengan sedikit ragu Aretha meraih kaos yang diberikan David, lalu segera mengganti pakaiannya saat itu juga. Paling tidak lehernya tidak terlalu terekspos, karena tertutup kerah baju itu. Beruntung sskali David memiliki baju model seperti itu.


"Bagaimana?" tanya David, setelah ia selesai berganti pakaian.


"Ini jauh lebih baik," jawab Aretha.


"Ya sudah, ayo keluar!" ajak David.


Dengan perasaan ragu dan canggung, Aretha menuruti ajakan David. Tentu saja ia akan merasa malu kepada sang mertua karena bangun kesiangan.


Setelah mereka berada di ruang tengah, mereka tidak menemukan orangtua mereka di sana. David dan Aretha pun beranjak ke ruang tamu, berpikir bahwa kedua orangtuanya berada di sana. Namun, setelah mereka di sana, hanyalah Kris yang terlihat tengah duduk sembari membaca koran.


"Dave," sapanya kembali.


David tampak mencium tangan pria paruh baya itu, pun dengan Aretha, lalu mereka mendaratkan tubuhnya di sofa.


"Kapan pulang dari luar kota, Pa?" tanya David.


Ya, semenjak mengelola perusahaan di luar kota, papa dan mamanya David memang lebih banyak menghabisakan waktu untuk tinggal di sana.


"Tadi malam, Nak," jawab Kris. "Bagaimana kabar kalian?" tanyanya seraya menoleh ke Aretha yang tengah duduk di samping David.


"Alhamdulillah kami baik, Pa," jawab Aretha.


"Syukurlah," balas Kris.


"Oh ya, mama dimana, Pa?" tanya Aretha penasaran akan keberadaan ibu mertuanya saat itu.


"Mama tadi sih bilangnya mau ke dapur," jawab Kris memberi tahu.


"Baiklah, kalau begitu, saya pamit menyusul mama," ucap Aretha pamit.


"Silakan, Nak," Kris tampak mengizinkan.


"Mas, aku ke dapur dulu ya," ucap Aretha seraya menoleh ke arah David yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari sang suami.


Aretha melangkahkan kakinya ke dapur. Tampak Ratih dan Maria tengah sibuk di sana. Seketika wajah Aretha berubah bersemu merah Rasanya malu sekali ia untuk menemui sang ibu mertua yang tengah sibuk di dapur, sementara tuan rumahnya sendiri baru bangun. Namun, apa boleh buat, tidak mungkin juga ia menghindarinya.


"Ma," sapa Aretha.


"Sayang, kamu sudah selesai?" tanya Maria yang kala itu tengah sibuk menata hidangang masakan di atas meja makan.


Sebagaimana yang dilakukan kepada Kris, sang ayah mertua, Aretha juga msncium tangan Maria, sebagai tanda hormat kepada orangtua.


"Maaf, Ma, aku kesiangan, Mama sama papa jadi lama menunggu," lirih Aretha.


"Tidak apa-apa, Sayang," jawab Maria dengan senyum ramahnya. "Dave mana?" tanyanya.


"Itu, lagi ngobrol sama papa di depan," jawab Aretha. Maria hanya ber-oh ria menanggapinya.


"Maaf ya, mama sama papa baru bisa berkunjung ke sini hari ini," ucap Maria.


"Tidak apa-apa, Ma. Harusnya Mama kasih kabar kalau mau ke sini," balas Aretha.


"Mama lupa, Sayang," jawab Maria.


Aretha tampak membantu menyiapkan menata piring dan gelas di atas meja, sementara Ratih masih sibuk dengan kegiatan memasaknya. Nampaknya asisten rumah tangga itu memasak cukup banyak makanan pagi itu.


"Sayang, tolong panggilkan papa dan suamimu, ya, kita sarapan bersama!" titah Maria yang langsung ditanggapi oleh Aretha.


Wanita itu segera melakukan perintah sang ibu mertua. Tak lama orang yang dimaksud telah berada di ruang makan, dan duduk di kursi masing-masing.


Mereka mulai melakukan kegiatan sarapan bersama. Aretha tampak menuagkan nasi ke dalam piring sang suami dan mertuanya secara bergantian. Mereka sarapan dengan sangat memlerhatikan table manner, tidak ada yang mereka bahas di tengah-tengah kegiatan mereka. Namun, setelah selesai, mereka baru membahas banyak hal, baik terkait perusahaan yang mereka kelola, juga tentang rumah tangga mereka yang baru saja akan dibina.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC