Possessive Love

Possessive Love
Pending



"Apa?"


Mata david seketika membulat sempurna, menatap sang istri yang kala itu tengah berdiri di hadapannya, setelah selesai mandi dan berganti pakaian.


David yang kala itu tengah duduk di bibir ranjang, tampak mengernyitkan dahinya seolah tidak memahami perkataan Aretha yang memintanya untuk membelikan pembalut.


"Ini maksudnya gimana ya? Tolong kamu jelaskan!" tanyanya seolah tidak paham.


"Ya gimana? Aku datang bulan, dan sekarang butuh banget pembalut, siapa coba yang bisa bantu aku kalau bukan kamu?" keluh Aretha sembari menggerak-gerakkan kedua tangannya sebagai mimik.


"Datang bulan?" David semakin membulatkan matanya, merasa kaget. "Jadi maksud kamu, malam ini harus pending lagi?" tanyanya dengan mimik wajah yang kecewa.


Aretha yang langsung memahami kemana arah pembicaraan David, hanya mengangguk pelan sembari memberengutkan wajahnya seolah ikut merasa takut. Padahal, hatinya sangat berdisko-ria, karena tanpa perlu mencari alasan untuk menolak, ia masih diberi kesempatan untuk mepertahankan mahkotanya.


David tertegun beberapa saat, lalu kembali menanyakan perihal yang membuatnya sedikit penasaran.


"Berapa lama?" tanya David ingin tahu.


"Satu minggu mungkin," jawab Aretha sedikit ragu seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Ya, Tuhan ... dosa apa aku ini?"


David langsung menjatuhkan tubuhnya ke belakang, lalu membenamkan wajahnya di bawah bantal. Ia tampak begitu fruatasi dengan pernyataan Aretha. Seketika pria itu mengacak rambutnya kasar.


"Bisa gila aku!" gerutunya dalam posisi tengkurap di atas tempat tidur dengan bantal yang masih menutupi bagian kepalanya.


Aretha hanya mengulum senyumnya menyaksikan David yang begitu frustasi. Seketika ia teringat seminggu yang lalu, sewaktu David merengek meminta haknya di malam pertama pernikahannya. Namun, karena ia harus mempersiapkan diri untuk ujian semester, dengan berat hati ia menundanya. Beruntung David bisa mengerti.


Setelah seminggu mencoba bertahan, lagi-lagi David harus menelan kekecewaan.


Terkadang, segala sesuatu memang butuh waktu. Pun dengan kenyataan yang diinginkan sesuai harapan. Tidak mudah. Namun, jika sudah waktunya, ia akan tiba dengan sendirinya, tanpa perlu kita minta.


"Mas," panggil Aretha lirih.


David tak menanggapi perkataan Aretha.


"Mas, maaf ...," gumam Aretha sekali lagi.


Melihat David yang frustasi seperti itu membuat Aretha seketika merasa iba. Namun, apa yang bisa ia perbuat?


Apakah semua laki-laki memangseperti itu? Aku baru tahu sisi lain dari dia. Lucu, menggemaskan, tetapi juga membuatku merasa kasihan. Lantas, apa yang bisa kulakukan, untuk membuatnya tidak merasa tertekan, akan kenyataan yang tidak sesuai harapan?


David tampak membalikkan tubuhnya, lalu terduduk di atas kasur. Dengan kasar ia mengusap wajahnya sendiri, semakin menunjukkan kekesalannya, akan kekecewaan karena hasrat yang kian menjerat.


"Kamu tahu? Aku sudah menunggu momen ini dari satu minggu yang lalu, lho. Dan sekarang harus menunggu lagi satu minggu? Kalau tahu begitu, untuk apa kita pindah hari ini!" gerutu David kesal.


Dari pernyataan David, Aretha langsung bisa menangkap maknanya. Seketika ia dibuatnya sedikit emosi.


"Jadi itu alasan kamu mengajak aku pindah hari ini, Mas? Pantas saja mendadak sekali. Ternyata ini memang rencana kamu. Kamu tahu karena aku sudah selesai ujian, maka dari itu kamu mengajakku untuk segera pindah, agar kamu bisa lebih leluasa melakukannya dengan bebas, sepuas kamu. Iya kan, Mas? Dasar MODUS!" geram Aretha.


Begitulah, disaat David hanya berbicara sepuluh kata, Aretha justru membalasnya dengan seratus sepuluh kata.


"Lho, kenapa jadi kamu yang marah? Kan seharusnya aku yang marah," ucap David seraya mendelik kelas ke arah Aretha.


"Kenapa kamu yang harus marah, memangnya ini keinginanku? Kesalahanku? Dan aku yang harus menanggung semua kekecewaan kamu, begitu?" kesal Aretha seraya memasang wajah kecutnya.


"Ya, bukannya seperti itu! Kamu tidak tahu rasanya berada di posisi aku," terang David sedikit menurunkan volume suaranya.


"Memangnya kamu tahu rasanya berada di posisi aku?" Aretha bertanya balik.


"Aarrrrghhh, sudahlah! Aku tidak ingin berdebat!" erang David seraya beranjak dari tempat tidur.


Aretha masih memperhatikan tingkah suaminya yang sudah berubah menjadi menyebalkan.


"Kamu sendiri yang memaksaku untuk berkomentar," balas Aretha sedikit sinis. Namun, David tak menanggapinya.


David bediri di depan Aretha, lalu menghela napas pendek, berusaha menetralkan perasaannya. Ia menatap sayu wajah sang istri yang terlihat masih berbalut emosi.


"Maaf," lirihnya.


Aretha masih terdiam. Namun, beberapa saat akhirnya ia menanggapi, meski tanpa kata.


"Hmm ...."


Meski Aretha masih terlihat kesal, tetap saja ia memahami situasi David saat itu yang terkesan sedikit berlebihan.


"Tadi mau dibelikan apa?" tanya David datar.


"Pembalut overnights pads dan heavy flow yang bersayap," jawab Aretha singkat dan jelas.


David sedikit termangu, seolah tidak paham. "Kamu mau beli pembalut atau burung? Kok, ada sayap-sayapnya segala?" tanyanya heran seraya mengerutkan dahinya.


"Ah, sudah, beli saja itu! percuma kujelaskan juga, tidak akan paham!" tukas Aretha.


***


Netranya masil melihat-lihat produk tersebut. Sungguh David sangat bingung menentukan produk yang dimaksud oleh Aretha. Pria sepertinya mana paham dengan jenis pembalut yang sama sekali belum pernah ia lihat wujud aslinya seperti apa.


Setelah beberapa saat bediam diri di tempat yang sama, tiba-tiba seorang pramuniaga menghampirinya.


"Maaf, Mas, ada yang bisa saya bantu?" tanya pramuniaga berjenis kelamin perempuan itu.


David seketika terksiap, lalu menoleh ke arahnya.


"Ini, Mbak, anu ...." David tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mm ... saya sedang mencari pembalut wanita," imbuhnya pelan, khawatir akan ada yang mendengarnya.


"Oh ... biar saya bantu," balas pramuiaga itu. "Mau jenis apa, Mas?" tanyanya.


"Overnight pads dan heavy flow yang bersayap," jawab David ragu.


"Baik. Mau ambil berapa?" tanya pramuniaga itu lagi.


"Sepuluh, Mbak."


Tak tanggung-tanggung, David langsung membelikan banyak, sekalian buat stok di rumah. Paling tidak, ia akan terhindar dari kondisi seperti ini lagi, dimana ia diminta untuk membeli pembalut wanita. Sungguh memalukan!


Andai saja yang menyuruh bukanlah istrinya, tidak akan sudi ia membelikan barang aneh itu.


David keluar dari minimarket itu, setelah menyelesaikan transaksi di meja kasir.


Pria itu tampak menekan remote mobilnya, pertanda membuka kunci mobil mewah itu. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika suara seseorang memanggilnya.


"Dave!"


David menoleh ke sumber suara. Ia sedikit mengernyitkan dahinya, ketika mendapati wanita yang tengah berdiri sekitar satu meter di hadapannya. Ia seolah tidak mengingat wanita itu.


"Dave? Kamu Dave, kan?" tanya wnita itu seraya lebih mendekatinya, sehingga mereka tampak berdiri berhadapan dengan jarak yang hanya tersisa beberapa jengkal.


"Maaf, anda siapa?" tanya David semakin mengerutkan dahinya lebih dalam lagi. Ia benar-benar tidak mengingat atau mengenal wanita itu.


Wanita itu tampak menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman.


"Aku Dara ... teman kamu sewaktu SMA, kamu benar-benar melupakanku?" akunya.


"Dara ... Dara ... Dara ...." David tampak menyebut nama itu berulang kali sembari berusaha mengingatnya. Netranya tampak menatap ke atas.


Setelah beberapa saat, David mulai mengingat sosok teman sekolahnya yang bernama Dara. Namun, entah Dara yang dimaksud adalah Dara yang tengah berada di hadapannya atau bukan.


Pria itu tampak menatap Dara penuh tanya, seolah ingin memastikan keraguannya.


"Dara, siswi ...." David menggantungkan perkataannya, seolah merasa ragu.


"Cupu, berkacamata bulat besar, haha!" Dara langsung memahami maksud dari ucapan David, sehingga ia melanjutkan perkataan pria itu dengan diakhiri gelak tawa yang memecah seketika.


Nampaknya, masa SMA selalu membuatnya tertawa, setiap kali ia mengingatnya.


"Ya, Dara, aku ingat! Siswi tercupu, tetapi memiliki prestasi gemilang yang selalu menjadi rivalku," ucap David mengejek, tetapi mengakhirinya dengan pujian.


"Wah ... tetap saja aku selalu kalah dari kamu," balas Dara.


"Kamu banyak berubah ya, setelah hampir tujuh tahun tidak ketemu," ucap David.


"Ah, biasa saja, Dave," ucap Dara sedikit tersipu.


"Serius, lho. Aku sampai tidak mengenali kamu," ucap David.


Ya, jika dulu ia terkenal sebagai gadis cupu, maka saat ini berbanding terbalik. Ia justru terlihat lebih cantik dengan rambut panjang lurusnya, juga terlihat lebih dewasa, tampak tubuhnya yang semampai mbak model. Bahkan, kacamata bulat yang sempat menjadi topik perbincangan mereka pun, tidak terlihat melekat di wajah wanita itu.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Dara sekilas melirik barang belanjaan David.


David tersenyum. "Aku membeli sesuatu, pesanan istriku," jawab David.


"Istri? Kamu sudah menikah?" Dara tampak terkejut.


"Baru satu minggu yang lalu."


Dara hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.


Setelah beberapa saat, David mengakhiri perbincangan mereka, lalu pamit pergi lebih dulu, mengingat Aretha yang sudah lama menunggu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Yang menunggu part 'MP', mohon bersabar ya ... author masih mikir, maklumlah author masih dibawah umur, masih 12 tahun (yang lalu)😅


JANGAN LUPA LIKE AND COMMET


HAPPY READING!


TBC