Possessive Love

Possessive Love
Rencana Menikah



Akhirnya, Aretha bisa kembali menghirup udara segar, setelah sebelumnya ia hanya bisa menghirup aroma khas rumah sakit. Ya, siang itu Aretha bisa kembali pulang ke rumahnya, setelah dokter yang menanganinya di rumah sakit memberikan izin.


David terlihat mendorong Aretha yang terduduk di sebuah kursi roda, masuk ke dalam rumah. Demi bisa mengantar pulang sang kekasih, David rela mengesampingkan pekerjaannya, meski sebenarnya ada kedua orangtua Aretha yang bisa melakukan itu.


"Sayang, mau langsung kuantar ke kamar?" tanya David sedikit mencondongkan wajahnya ke depan.


"Tidak usah, Mas. Nanti saja, aku mau di sini dulu," jawab Aretha lebih memilih untuk tinggal sebentar di ruang keluarga.


"Baiklah kalau begitu." David menghentikan langkahnya di sana, lalu mendaratkan tubuhnya di sofa berwarna abu yang berada di ruangan itu, sementara Aretha masih terduduk di kursi roda dengan kaki yang masih digips.


"Nak David, tante tinggal ke dapur ya ... sepertinya tante harus bantu bi Wati memasak, untuk menyambut kedatangan mama dan papa kamu," ucap Carmila.


"Mama dan papa mau ke mari, Tante?" tanya David.


"Ya, tadi beliau telepon," jawab Carmila.


"Syukurlah, sekalian ada yang mau saya bicarakan," ucap David.


"Baiklah, kalau begitu tante ke dapur dulu. Kalau butuh sesuatu, panggil saja," ucap Carmila seraya berlalu dari tempat itu menuju ke dapur.


David tampak menemani Aretha di ruang keluarga. Tak lama Anton menyusul dan ikut mendaratkan tubuhnya di sofa kosong di ruangan itu. Mereka tampak berbincang ringan, sebelum akhirnya kedua orangtua David datang bertamu ke rumah itu.


Dua keluarga nampak telah berkumpul di ruangan itu, tak terkecuali Kris, papanya David yang baru pulang dari luar kota dan baru sempat menjenguk Aretha.


"Bagaimana kondisimu, Nak?" tanya Kris kepada Aretha.


"Baik, Om. Eh, Pak," jawab Aretha sedikit canggung yang langsung mendapat senyuman dari Kris. Entah panggilan apa yang lebih pantas untuk pria yang sempat menjadi atasannya itu, lalu sekarang malah menjadi calon mertuanya.


"Maaf, om baru sempat menjenguk," ucap Kris kemudian.


"Tidak apa-apa, Om," jawab Aretha.


Setelah berbincang beberapa hal yang tidak begitu penting, mereka melakukan makan siang bersama di ruang makan.


Acara makan siang berlangsung cukup lama. Tidak ada perbincangan di tengah-tengah kegiatan mereka hingga kegiatan mereka berakhir.


Setelah selesai, kedua keluarga itu kembali kumpul di ruang keluarga. Sebagaimana yang dikatakan David sebelumnya, bahwa ada hal penting yang ingin ia sampaikan kepada orangtuanya dan juga orangtua Aretha. Entah apa itu, Aretha juga belum mengetahuinya.


Lima pasang mata tampak tertuju kepada David. Menatap serius pria itu sembari menunggu apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan, sebelum akhirnya David membuka suara.


"Pa, Ma, Om dan Tante, ada hal penting yang ingin saya sampaikan," lirih David. "Mm ... saya dan Aretha sudah sepakat untuk membatalkan pertunangan kami," lirihnya terlihat sedikit ragu.


Tentu saja pernyataan David membuat mereka terkejut, kecuali Aretha yang langsung bisa memahami kemana arah pembicaraan pria itu. Namun, ia juga tidak menyangka jika David akan menyampaikan rencananya secepat itu.


Ah, Mas David ... setidaknya bicara dulu denganku kalau akan menyampaikan hal itu sekarang.


Baik orangtua Aretha ataupun David tampak membulatkan matanya, merasa kaget. Kenapa tiba-tiba dibatalkan, bukankah hubungan mereka sudah kembali membaik?


"Lho ... kenapa, Nak? Apa sebenarnya yang sudah terjadi diantara kalian? Kemarin kamu menunda, sekarang malah ingin membatalkan, apa kalian mempunyai masalah yang begitu berat sehingga harus mengambil keputusan ini?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Kris yang memang tidak begitu mengetahui masalah mereka sebelumnya, karena terlalu sibuk mengurusi pekerjaan di luar kota.


"Iya. Ada apa sebenarnya? Apa mungkin selama ini kami terlalu memaksa kalian? Ceritalah kepada kami, biar kami sebagai orangtua bisa lebih memahami keinginan kalian," timpal Anton yang juga merasa tidak percaya. Ia sedikit bingung dengan keputusan yang secara tiba-tiba itu. Padahal selama di rumah sakit, dengan jelas ia melihat kedekatan David dengan putrinya.


Aretha yang sedari tadi memperhatikannya tampak mengulum senyum. Namun, ia tidak ingin menanggapi, biarkan saja David yang bertanggung jawab akan hal itu. Sementara Carmila dan Maria tampak memasang ekspresi kecewa, sebagaimana yang dilakukan Kris dan Anton.


"Lantas?" tanya Kris seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Kami berencana untuk ... segera menikah," jawab David yang sontak membuat mereka semakin terkejut. Terlebih lagi kedua orangtua Aretha.


"Menikah?" Anton semakin membulatkan tatapannya dengan sempurna. "Benarkah begitu, Nak?" tanyanya seraya menoleh ke arah putrinya, sekadar memastikan. Sebab, yang ia tahu bahwa Aretha memiliki komitmen untuk tidak menikah, sebelum lulus kuliah.


"Aku ... sebenarnya aku juga masih bingung , Pi," jawab Aretha ragu.


Suasananya seketika menegang, terlebih lagi David. Bagaimana bisa jawaban Aretha begitu kontras dengan sebelumnya, pikir pria itu.


"Kamu jangan aneh-aneh deh, Nak. Pernikahan itu bukanlah untuk main-main, jika memang kamu belum siap, jangan dipaksakan!" ujar Anton menasihati.


"Lho, Sayang ... kita kan sudah bicarakan ini sebelumnya," timpal David sedikit menahan kekesalan.


Tidak konsisten banget sih kamu, padahal kemarin sudah bilang iya.


"Sebaiknya kamu pikirkan matang-matang, Nak. Om tidak ingin jika pernikahan yang terburu-buru, tanpa kesiapan antara keduanya, malah memperburuk hidup kalian nantinya," ujar Kris.


"Iya, Sayang ... kamu pikirkan baik-baik ya ... kami tidak akan memaksa jika kamu belum siap. Masalahnya ini menikah lho, bukan bertunangan?" ucap Carmila seraya mengelus lembut tangan putrinya, sementara Maria masih belum berkomentar.


Aretha sedikit mendongak. "Iya, aku memang masih sedikit ragu, tetapi ... aku juga tidak memiliki alasan untuk menolak, Pi, Mi," ucap Aretha.


"Tetapi ... bukankah kamu akan menunggu lulus kuliah terlebih dahulu, baru setelah itu menikah?" tanya Anton seraya mengingatkan.


"Iya, Papi benar," jawab Aretha. "Namun, bukankah tidak baik jika kita menunda niat baik?" tanyanya.


"Lalu kuliahmu?"


"Kalau mas David saja tidak akan mempermasalahkan hal itu, kenapa harus kujadikan sebagai alasan untuk menolak?" ucap Aretha yang sontak membuat David seketika menghela napas lega, lalu mengulum senyumnya, merasa senang. Seketika hatinya bersorak-sorai bergembira mendengar pernyataan Aretha.


"Kamu yakin, Sayang?" tanya Maria.


"Iya, Tante. Insya Allah aku yakin seyakin-yakinnya," ucap Aretha mantap.


Memang benar niat utamaku hanya karena ingin menghindari hal-hal yang memang dilarang agama terjadi antara aku dan mas David. Namun, aku yakin pacaran setelah menikah itu akan jauh lebih indah. Semoga keputusanku ini adalah yang terbaik. Aamiin.


"Baiklah, kalau kamu memang sudah yakin, papi merestui kalian. Semoga ini yang terbaik buat kalian," ucap Anton.


"Om sangat senang mendengarnya," ucap Kris seraya tersenyum simpul. "Om pastikan kamu tidak akan putus sekolah hanya karena menikah dengan putra om," imbuhnya.


"Terima kasih, Sayang." David menerbitkan senyumnya seraya menatap Aretha sejenak.


"Jadi, kapan rencananya?"


_________________________


JANGAN LUPA KOMENTAR


HAPPY READING!