
Beberapa siswa terlihat berhamburan dari ruangan ketika waktu yang ditentukan untuk ujian telah selesai. Ya, hari ini adalah hari terakhir Ujian Nasional bagi siswa kelas XII.
Selama dua jam berada diruangan ujian membuat Aretha dan teman-temannya sedikit meneteskan peluhnya. Bukan karena ruangan yang panas tanpa AC melainkan karena tak jarang dari mereka yang merasa kesulitan dalam menjawab soal dan karena kecemasan yang ada dalam diri mereka akan hasilnya nanti, entah lulus atau tidak.
Selalu menjadi siswa terbaik di sekolahnya, tak lantas membuat Aretha tidak merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh teman-temannya. Meskipun dia selalu mempersiapkan sebelumnya dengan banyak belajar dan membaca buku, tetapi tidak sedikit pun mengurangi kecemasan akan hasilnya nanti.
Ketika Aretha sedang berjalan bersama ketiga sahabatnya menuju gerbang sekolah, tiba-tiba dia melihat Richard yang tengah berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke mobil silver miliknya.
Sekitar jarak kurang lebih sepuluh meter, Richard menyadari kemunculan Aretha kemudian dia melambaikan tangannya kepada Aretha. Gadis itu pun langsung menghampiri dan menyapa pria itu, setelah mereka saling berhadapan. Ketiga sahabatnya telah berlalu lebih dulu menuju gerbang sekolah setelah menyapa Richard.
"Kak, kamu disini?" tanya Aretha.
Richard memang tidak memberitahukan terlebih dahulu kepada Aretha bahwa dia akan menjemputnya sehingga membuat Aretha sedikit terkejut melihat keberadaannya yang tiba-tiba.
"Iya, aku sengaja jemput kamu," jawab Richard. "Gimana ujiannya, lancar?" imbuhnya.
"Alhamdulillah Lancar." Aretha tampak menerbitkan senyum di wajahnya. "Memangnya kamu enggak ngantor? Ini masih pagi, lho? lanjut Aretha.
Waktu yang diberikan untuk ujian memang hanya dua jam untuk setiap mata pelajarannya dan karena ini Ujian Nasional, perharinya hanya satu mata pelajaran yang diujiankan. Alhasil seluruh siswa bisa pulang lebih awal dari biasanya, begitupun dengan Aretha.
"Nanti, setelah antar kamu pulang, aku balik lagi ke kantor," terang Richard.
"Padahal kamu enggak perlu repot jemput aku, lho." Aretha merasa tidak enak hati, meskipun ini bukan permintaanya.
"Enggak apa-apa, Sayang. Sekalian ada yang mau aku omongin sama kamu." Richard tampak membukakan pintu mobil untuk gadis itu.
"Penting?" Aretha mengernyitkan dahi sembari menatap Richard dengan penuh rasa penasaran. Pria itu mengiyakan, lalu mengajak Aretha masuk kedalam mobil dan membawanya ke sebuah kafe.
Sesampainya disana, mereka langsung memesan minum dan camilan. Tak lama seorang pelayan kafe mengantarkan pesanan mereka di tengah-tengah kegiatan perbincangan mereka.
"Ehem ...." Richard tampak berdehem seolah menetralkan perasaannya dari rasa gugup.
Dengan sedikit ragu, pria itu meraih tangan Aretha yang saat itu berada di atas meja. Nampaknya, keraguan itu membuatnya sedikit gemetaran. Namun, tak lantas membuatnya menyerah untuk mengatakan apa yang ingin ia sampaikan.
"Sebenarnya aku bingung harus mulai dari mana. Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku juga enggak ada pilihan lain," ucap Richard dengan nada hati-hati. Pria itu terdiam sejenak seraya menundukkan kepala. Namun, seketika mendongak kembali.
"Kak, sebenarnya kamu mau ngomong apa sih? Jangan berbelit-belit deh, aku jadi deg-degan ini," tuntut Aretha polos.
"Ehem, Sayang ...," lirih Richard sedikit memberi jeda akan ucapannya. "Will you marry me?" imbuhnya dengan nada dan ekspresi gugup. Namun, cukup membuat Aretha tersentak merasa terkejut, kenapa tiba-tiba bertanya demikian.
Setelah pipi Richard tampak basah karena peluh rasa gugup yang membanjirinya, tiba-tiba Aretha menanggapinya dengan gelak tawa. Gadis itu seketika mengalihkan perhatian para pengunjung lainnya sehingga membuatnya seketika membungkam mulutnya sendiri.
Sontak saja itu membuat Richard merasa kesal. Alih-Alih mendapat jawaban akan pertanyaannya, ternyata Aretha hanya menganggapnya sebagai lelucon.
"Haha ... jadi, ceritanya kamu ngelamar aku, nih?" tanya Aretha masih terkekeh menahan tawa. "Gak lucu!!!" tukasnya sedikit menurunkan nada bicaranya, setelah menyadari beberapa mata yang masih tertuju padanya.
Richard semakin geram dibuatnya. Setelah susah payah dia merangkai kata, Aretha hanya menanggapinya dengan sebuah tawa. Apa ia pikir itu lucu?
"Aretha, kamu itu kenapa, sih? Selalu saja menganggap aku sebagai bahan lelucon, aku itu lagi serius!" bentak Richard sembari memelototkan matanya disertai nada tinggi.
Seketika Richard melepaskan tangan Aretha yang masih berada dalam genggamannya. Aretha menghentikan tawanya, setelah melihat ekspresi Richard yang begitu menakutkan baginya.
"Maaf ...," lirih Aretha seraya memberengut. Melihat wajah Aretha yang memelas itu, Richard merasa tidak tega. Diraihnya kembali tangan Aretha yang tadi sempat ia lepaskan.
"Sayang, maaf sudah bentak kamu." Richard tampak menyesal akan perbuatannya. "Aku itu serius, enggak lagi becanda," imbuhnya seraya menyelipkan sebagian rambut Aretha ke telinganya.
"Ya wajar kalau aku kaget! Kok, kamu tiba-tiba ngajak aku nikah?" cetus gadis itu tampak mengerucutkan bibirnya.
"Papa minta aku segera menikah dalam waktu dekat ini," jeals Richard tanpa berbasa-basi.
"Apa? Om Felix meminta kamu segera menikah?" tanya Aretha. Richard menganggukkan kepalanya sembari menatap pekat sang kekasih.
Masih teringat jelas kejadian dua minggu yang lalu. Tepat pada kegiatan makan malam di rumahnya. Di tengah-tengah kegiatan mereka, tiba-tiba Felix meminta Richard untuk segera menikah karena kekhawatiran akan penyakit yang di deritanya.
Semakin lama penyakit Felix memang semakin sering kambuh. Meskipun beliau masih rutin chek up ke dokter, tetapi karena mungkin kesibukannya akhir-akhir ini semakin padat dan mengurangi waktu istirahatnya sehingga membuat kondisi pria paruh baya itu semakin memburuk.
"Nak, apa kamu mau menikah dalam waktu dekat ini?" tanya Felix kepada Richard yang sontak membuat Richard terkesiap. Richard menghentikan makannya sejenak.
"Iya, papa mau kamu menikah dalam waktu dekat ini," terang Felix tanpa berbasa-basi. "Lagian, kamu kan sudah lama pacaran dengan Aretha, papa juga mengenal baik keluarganya dan menurut papa dia gadis yang baik buat kamu," imbuhnya.
"Tapi, Pa, kita itu masih terlalu muda, aku baru saja lulus kuliah. Bahkan, Aretha masih belum lulus sekolah, ujian pun belum!" tegas Richard sedikit meninggikan nada bicaranya, sementara Renata, adiknya, hanya diam dan menatap Richard yang ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi geram.
Gadis itu masih terlalu polos. Namun, ia tahu betul apa yang dirasakan sang kakak saat itu. Bukanlah hal yang mudah nagi mereka untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan di usia muda seperti itu.
Bukannya Richard tidak ingin menikah dengan Aretha. Menikahi gadis yang dicintainya adalah suatu kebahagiaan untuknya. Namun, tidak secepat itu juga. Terlebih lagi, ia sangat memahami bahwa Aretha tidak akan mau menikah muda.
Aretha ingin sekali melanjutkan sekolahnya dan itu akan sangat sulit bagi Richard untuk membujuk Aretha agar mau menikah dalam waktu dekat.
Selain itu, orangtuanya pun tidak akan mengizinkan mereka menikah dalam waktu dekat, ia tahu betul soal itu. Richard pun masih mengingat kata-kata Aretha tentang ia yang ingin sekali melanjutkan sekolahnya sampai S2, jika itu memang memungkinkan baginya.
Apakah menikah dengannya tidak akan membuat gadis itu mengurungkan niatnya? Ia sungguh tidak ingin jika pernikahan itu akan mengganggu keinginan dan cita-cita Aretha.
"Nak, papa sangat paham betul maksud kamu, tapi papa juga tidak punya pilihan lain. Kamu tahu sendiri penyakit papa semakin hari malah semakin memburuk. Papa gak mau sewaktu-waktu papa tidak bisa lagi menahan penyakit yang papa derita saat ini. Selain ingin melihatmu mengelola perusaahn dengan baik, papa juga ingin melihatmu menikah sebelum papa menyusul mama kalian nanti. Sebab, umur seseorang tidak ada yang tahu, entah esok atau lusa, yang jelas papa ingin melihatmu menikah!" jelas Felix panjang lebar.
Pernyataannya cukup membuat kedua anaknya memelas dan menahan air yang kini telah memenuhi sudut mata mereka, terlebih lagi Renata. Si bungsu yang selalu menjadi putri kesayangan Felix.
"Pa ...," lirih Renata. "Papa gak boleh bilang seperti itu," imbuhnya mengingatkan. Mengingat sang mama yang telah lebih dulu meninggalkannya, nampaknya membuat air mata gadis itu luruh seketika. Gadis itu tampak mendekati Felix yang kala itu duduk tidak jauh dari jangkauannya. Ia memegang lengan sang papa.
"Pa, aku yakin papa pasti sembuh," ucap Richard yang juga tidak dapat dipungkiri bahwa ia juga merasa sedih dan tidak akan sanggup jika harus membayangkan papanya menyusul sang mama lebih dulu.
"Papa jangan terlalu banyak pikiran! Nikah itu bukanlah perkara yang mudah. Aku akan turutin semua kemauan Papa, tapi tidak untuk menikah dalam waktu dekat ini. Aku sayang banget sama Aretha, Pa. Maka dari itu aku sangat memikirkan masa depannya kelak. Aku tidak mau membebani hidupnya hanya karena harus menikah muda denganku. Aku mohon Papa mengerti," Jelas Richard kemudian dengan nada lebih pelan dari sebelumnya, berharap Felix bisa mengerti apa yang tengah dikhawatirkannya.
"Nak, Aretha kan sebentar lagi lulus sekolah. Kalau soal kuliah, nanti kan bisa dilanjutkan setelah kalian menikah. Papa tidak akan melarang istrimu untuk tetap melanjutkan sekolahnya, yang terpenting papa melihat kamu menikah dulu," Felix tak menyerah untuk membujuk putranya
"Tapi tidak semudah itu, Pa. menikah itu kan bukan hanya menyangkut dua orang yang berbeda tapi juga menyangkut dua keluarga. Aku tahu betul om Anton seperti apa. Beliau tidak akan mungkin memberikan izin Aretha untuk nikah muda," tandas Richard.
"Baiklah, kalau begitu kamu tinggal pilih mau nikah dengan Aretha atau mau papa nikahkan dengan anak rekan bisnis papa!" tegas Felix .
"Pa ...," lirih Richard terdiam sejenak. "Baiklah, nanti aku akan bicara dengan Aretha, tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa," lanjut Richard menyerah. Melihat sikap papanya yang terlalu memaksakan kehendaknya, Richard sudah tidak bisa lagi menentang papanya.
"Papa tunggu keputusan kamu secepatnya!" tukas Felix.
Richard masih menatap gadis itu dengan tatapan penuh harapan. Berharap Aretha bisa memahami apa yang baru saja ia ceritakan kepadanya.
Mendengar cerita dari Richard, Aretha sedikit termenung memikirkan apa yang telah didengarnya. Entah apa yang harus ia perbuat. Berada di situasi yang dilema seperti ini, membuat gadis itu merasa ingin sekali berlari. Ya, lari dari sebuah kenyataan yang seakan memaksanya untuk menentukan sebuah pilihan.
Entah langkah apa yang harus diambilnya saat ini, Aretha pun tidak mengetahuinya. Yang ia tahu, sekarang hatinya penuh dengan kecemasan, cemas akan orangtuanya yang tidak memberikan izin untuknya menikah muda, juga cemas akan kehilangan Richard.
Seketika suara Richard membuyarkan lamunan Aretha sehingga membuat gadis itu sedikit tersentak.
"Jadi gimana, Sayang? Kamu mau kan nikah sama aku?" tanya Richard kepada Aretha yang saat itu masih diam tak memberikan jawaban.
"Maaf, Kak, aku gak tahu harus bilang apa. Ini terlalu cepat buat aku. Bahkan, sekarang aku lulus sekolah pun belum." keluh Aretha dengan raut wajah penuh kegelisahan. "Kamu kan tahu aku ingin sekali melanjutkan sekolahku, apa kamu lupa?" imbuhnya.
"Sayang, aku mohon ... banget sama kamu, aku tidak mau kalau sampai papa menjodohkan aku dengan anak rekan bisnisnya. Aku sayang banget sama kamu. Soal sekolah kamu, aku tidak akan melarang jika nanti setelah menikah kamu tetap akan melanjutkan sekolah," terang Richard memohon.
"Tapi, Kak. Bagaimana dengan papi dan mami aku? Apa mungkin mereka akan memberikan izin? Aku baru saja tujuh belas tahun, Kak. Papa sudah jauh-jauh hari mengingatkanku agar aku bisa sekolah tinggi dan menjadi penerus di perusahaannya," jelas Aretha
"Aku akan tetap berbicara dengan papi kamu!" Richard tak mau menyerah begitu saja.
"Terserah kamu, tapi aku tidak yakin papa akan menyetujuinya"
_________________Β
Hai Readers,
Terima kasih sudah mau membaca, semoga kalian suka ya...!
Di tunggu lho... Reviewnyaππ
jangan lupa selalu tinggalkan jejak kalian ya, dengan like n comment, jika berkenan mohon bantu vote juga yaπππ
Thank Youπππ