
"HAH!!" teriak David seraya memukul meja kerjanya sekuat tenaga, lalu ia mengepalkan tangan itu di atas meja sembari memasang ekspresi geram.
Sulit dipercaya, gadis itu ternyata mampu mengalahkannya dalam hal debat. Sungguh pria itu dibuat murka seketika. Sebagaimana yang dikatakan gadis itu bahwa status mereka hanyalah sebagai rekan kerja, tidak lebih. Kalimat itu cukup membuatnya kecewa. Bahkan, bukan hanya sekadar kecewa, melainkan terluka.
Nampaknya, David telah benar-benar jatuh hati kepada gadis itu, setelah sekian lama ia menghindari hal yang berkaitan dengan cinta, termasuk kaum hawa yang selama ini selalu ia hadapi dengan sikap dinginnya. Bahkan, sekadar berbasa-basi untuk mengobrol pun rasanya tidak pernah ia lakukan, selain karena ada kepentingan.
Akan tetapi, kenapa dengan Aretha sepertinya berbeda, padahal mereka belum begitu lama saling mengenal? Pria itu seperti terhipnotis oleh pesona di balik kesederhanaan gadis itu. Ya, sederhana. Gadis itu memang selalu tampil sederhana, meski ia terlahir dari keluarga yang serba ada. Namun, itu tak jarang membuat kaum pria terpana, ketika melihatnya.
Dengan tangan yang masih mengepal di atas meja sembari menatap ke arah jendela yang terletak di samping kanannya, pria itu tampak mensugesti dirinya sendiri. Nampaknya ia cukup optimis dalam hal itu.
"Suatu saat nanti, aku akan buktikan bahwa ucapanmu salah, Aretha! Tak mengapa hari ini kamu tak memiliki perasaan apapun terhadapku, tapi lihat, secepatnya aku akan merubah itu hingga tak ada lagi status sebagai rekan kerja. Aku tahu ini bukanlah perkara mudah, tapi jangan sebut aku David Wijaya jika tidak bisa membuatmu jatuh dipelukanku. Aku janji!" ucapnya yakin seraya menyeringai.
Entah apa yang membuat pria itu begitu yakin bisa meluluhkan hati Aretha, sedangkan gadis itu sendiri nampaknya tidak mencoba berusaha untuk menyukainya. Apakah karena menurutnya itu sangat menantang? Entahlah.
BUG!
Sekali lagi tangan kekar itu memukul meja, tatkala ia teringat pengkhianatan mantan kekasihnya, Freya. Ternyata itulah alasan David kenapa tidak ingin melihat Aretha dekat dengan pria lain, selain dirinya.
Sebenarnya, Pria itu tidak berhak menghakimi seseorang dari apa yang telah ia lihat di masa lalu, berdasarkan pengalaman buruk yang ia alami. Namun, nyatanya itu membuat David memiliki kecemasan tersendiri, dimana ia tidak ingin merasakan sakit untuk yang kedua kalinya hanya karena alasan yang sama.
***
Langit mulai bersemu gelap, menandakan waktu yang sudah sore. Aretha berdiri tepat di depan pintu utama, menunggu sopir pribadinya menjemput.
Setelah perdebatannya dengan sang atasan tadi siang, ia memutuskan untuk tidak pulang diantar oleh David. Gadis itu segera menghubungi Iman agar bisa segera menjemputnya ke kantor, setelah kegiatannya selesai.
Nampaknya ia harus cukup bersabar menunggu sopir pribadinya itu, mengingat jarak dari rumahnya menuju kantor dimana ia magang, cukup jauh dan harus menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit.
Setelah lima belas menit berlalu, tiba-tiba sebuah mini cooper berwarna hitam berhenti di hadapan gadis itu. Meski mobil itu terlihat baru di sana. Namun, tentu saja Aretha mengenal mobil yang tadi pagi mengantarnya ke tempat itu.
Gadis itu tampak berdecak kesal. Lagi-lagi ia harus dihadapkan dengan sang atasan. Ia tampak memalingkan pandangannya ke sembarang arah seolah tidak peduli dengan mobil itu, terlebih kepada pemiliknya.
"Cepetan masuk!" titah David seraya membuka sebelah jendela mobil itu.
"Maaf, saya sedang menunggu pak Iman," jawab Aretha tak peduli.
"Pak Iman tidak akan menjemput, barusan mami kamu telepon dan menitipkan kamu kepada saya," jelas David yang sontak membuat gadis itu seketika terkejut.
Bagaimana bisa mami menitipkanku seperti anak bayi. Paling tidak kasih tau, kek, kalau pak Iman tidak bisa menjemput!
David tampak menarik tangan Aretha, lalu menyeretnya pelan masuk ke dalam mobil. Untuk ke sekian kalinya gadis itu tidak bisa berbuat apapun, selain menurut.
"Bagaimana bisa gadis sepertimu sangat keras kepala!" gerutu David, setelah berhasil mendudukkan gadis itu di jok samping kemudi.
Aretha tampak membulatkan matanya seraya memberengut. Namun, ia memilih untuk diam, tidak menanggapi pria itu.
Setelah beberapa detik berlalu, mobil yang dikendarai David melaju membelah jalan kota Jakarta yang begitu sibuk dengan lalu-lalang kendaraan.
Aretha tampak terduduk kaku di kursinya dengan tubuh yang ia sandarkan pada sandaran kursi. Setelah hampir sepuluh menit, tak ada yang mereka bahas sepanjang perjalanan itu. Sesekali ia melirikkan mata ke arah David, pun sebaliknya.
David membelokkan mobilnya memasuki jalanan yang tidak biasanya dilewati, ketika pulang dari kantor, sontak membuat Aretha terperanjat, lalu menegakkan tubuhnya.
Gadis itu mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalan yang tampak sepi, jauh dari tanda-tanda kehidupan. Beberapa pohon besar yang rindang tampak menghiasi setiap pinggiran jalan itu sehingga suasannya terasa begitu sejuk dan segar dipandang oleh mata.
Aretha sedikit bingung. Meski ia tahu bahwa jalan itu masih satu arah ke rumahnya. Namun, ia menyadari bahwa David tidak pernah melalui jalanan itu, sebelumnya, sehingga ia merasa heran, kenapa tiba-tiba David memilih jalan itu.
Tak berlanngsung lama. Baru beberapa meter David melalui jalan itu, tiba-tiba ia menghentikan mobilnya, sontak membuat gadis di sampingnya semakin terkejut dan merasa heran. Entah apa yang akan dilakukan oleh pria itu sehingga ia harus menghentikan mobilnya di jalanan sepi seperti itu.
Aretha masih bungkam. Dalam hati ingin sekali ia bertanya. Namun, mulutnya seakan terkunci, tak bisa berkata apa-apa. Semuanya terasa begitu kaku, setelah perdebatan tadi siang. Jangankan untuk bertanya. Bahkan, sekadar menatapnya pun ia tidak berani.
David menoleh, lalu tiba-tiba mendekati tubuh Aretha yang sontak membuat gadis itu semakin terlonjak karena merasa gugup. Tidak! Bahkan, bukan hanya sekadar gugup, melainkan takut sehingga membuatnya bergemetar.
Hatinya semakin bergejolak, tatkala David kian mempersempit jarak dengan tubuhnya hingga hanya tersisa jarak sekitar lima centimeter pada wajah mereka. Matanya terbelalak, wajahnya bersemu merah. Entah itu karena perasaan malu atau takut. Gadis itu pun nampaknya kesulitan untuk mendeskripsikan perasaannya saat itu yang terasa bercampur aduk.
Dengan perlahan Aretha memundurkan punggungnya hingga tersandar pada sandaran jok mobil yang tengah ia duduki. Ia mencoba sedikit menghindari tubuh David. Namun, nayatanya David terus mengikuti pergerakan tubuhnya. Semakin lama jarak mereka kian mendekat hingga hampir tidak tersisa satu centimeter pun.
Dalam hati, Aretha ingin sekali berteriak, lalu mendorong tubuh pria itu. Namun, mulut dan tanganya seakan terasa kaku. Ia tidak mampu meloloskan satu kata pun dari tenggorokkannya. Pun dengan tangannya.
Tanpa ia sadari, gadis itu telah memejamkan matanya rapat-rapat. Seketika pikiran negatif melintas di benaknya. Bagaimana jika ternyata David berniat untuk mencelakainya karena ia merasa sakit hati dengan ucapannya tadi siang? Lalu, pria itu menyiksanya, melecehkan dan merenggut kesuciannya, mem—
_____________
To Be Continued ....
Jangan lupa komen ya jangan cuma di baca-baca aja🤭🙏
HAPPY READING!