
Aretha dan David baru saja selesai mengemas barang-barang mereka yang akan dibawa ke pantai untuk berlibur bersama teman-temannya.
David membawa barang-barang itu, lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Ia tampak menutup bagasi mobil itu dengan apik.
"Sayang, nanti di sana hati-hati, ya, jangan jauh-jauh dari suamimu," ucap sang mami khawatir.
Carmila memang menyempatkan datang ke rumah putri dan menantunya, setelah ia mendapat kabar bahwa mereka akan berlibur ke pantai hari itu.
"Iya, Mi," jawab Aretha.
"Selamat berlibur ya, Sayang, anggap saja ini sebagai honeymoon kedua buat kalian," ujar Carmila seraya menerbitkan senyumannya.
Ya, setelah Aretha dan David meminta ijin kepada kedua orangtuanya tentang rencana program hamil itu, kedua orangtua mereka berharap segera diberikan cucu yang sangat lucu.
Awalnya sang papi tidak memberinya ijin. Namun, karena Aretha sangat pandai membujuk pria berusia empat puluh lima tahun itu, akhirnya Anton memberinya ijin untuk menunda kuliah S2-nya.
Aretha hanya menanggapinya dengan senyuman, lalu pamit kepada maminya, pun dengan David. Mereka tampak mencium tangan Carmila bergantian.
Aretha melambaikan tangannya kepada sang mami yang langsung mendapat balasan.
David segera mengemudikan kendaraannya. Mereka sudah memiliki janji untuk kumpul dengan yang lainnya di sesuatu tempat.
Drt ... drt ... drt ....
Di tengah-tengah perjalanan mereka tiba-tiba ponsel David berbunyi. Fokus keduanya teralihkan.
David tampak meraih ponselnya yang sengaja ia letakkan di atas dashboard mobil. Rupanya ada panggilan masuk dari Rendy. David segera menerima panggilan itu.
"Iya, Bro?" sapa David.
"Oke, gue sebentar lagi, wait!" ucapnya, lalu segera mengakhiri obrolan tersebut.
David sedikit mempercepat laju kemudinya, mengingat Rendy dan Richard sudah menunggunya di tempat yang menjadi rencana mereka untuk bertemu, agar bisa berangkat ke pantai bersama-sama.
Ya, David memang sengaja mengajak Richard dan Rendy untuk ikut bersama mereka. Bahkan, Rendy juga mengajak Clara, kekasihnya untuk ikut dalam acara tedsebut.
"Itu yang menelepon kak Rendy?" tanya Aretha seraya mengamati wajah serius David.
"Iya," singkat David dengan fokus hanya ke depan.
"Mereka sudah menunggu?" tanya Aretha kemudian.
"Ya," jawab David.
***
Di tempat lain, Samuel yang juga akan ikut serta dalam acara liburan ke pantai, tiba-tiba diminta untuk menjemput Diandra oleh Deasy dan Tania, dengan alasan mobil yang mereka tumpangi tidak cukup, karena mereka juga masing-masing membawa pasangan.
Samuel telah berada di depan rumah Diandra, ia memencet bel rumah itu sebanyak dua kali, alhasil pintu itu dibuka.
Betapa terkejutnya Diandra, ketika mendapati Samuel yang tiba-tiba ada di depan rumahnya. Ia tampak membulatkan matanya, terdiam mematung beberapa saat.
"Kok, malah bengong?" tanya Samuel membuyarkan lamunan Diandra.
Diandra mengerjap kaget. "Kok, lo tiba-tiba ada di rumah gue, sih?" tanya Diandra bingung. "Mau ngapain?" imbuhnya.
Diandra memang belum mengetahui bahwa yang akan menjemputnya adalah Samuel. Entah kedua sahabatnya itu lupa memberi tahu atau memang sengaja tidak memberi tahunya.
"Gue diminta Deasy dan Tania buat jemput lo," jawab Samuel.
"Mana mungkin! Mereka nggak kasih tahu gue," balas Diandra tidak percaya.
"Memangnya lo pikir, gue mau apa jauh-jauh jemput ke sini, kalau bukan karena mereka yang memaksa?" tanya Samuel membulatkan matanya. "Nyusahin saja!" ketusnya seraya menatap tajam.
Diandra tampak menciut mendapat tatapan menusuk yang Samuel lemparkan kepadanya. Ia tampak memberengutkan wajahnya.
"Lagipula, siapa elo sampai gue harus mau repot-repot jemput, ha?" celetuk Samuel yang sontak membuat jantung Diandra seakan tertusuk sembilu.
Rasanya itu sangat menyakitkan. Diandra sadar betul bawa dirinya bukanlah siapa-siapa untuk Samuel. Namun, entah kenapa ucapan Samuel sangat menyakitkan baginya, sehingga membuat matanya sedikit berkaca-kaca. Namun, ia masih kuat untuk bertahan.
Diandra berusaha menetralkan perasaanya kembali, demi tidak ingin terlihat oleh Samuel dari ekspresinya saat itu.
"Lalu, gue harus semobil sama lo gitu?" tanyanya dengan ekspresi tidak rela. "Malas banget, semobil sama orang yang kasar, menyebalkan, tidak punya hati dan—"
"Berisik!"
Secepat kilat, Samuel memotong cerocosan Diandra, lalu langsung meraih koper wanita itu yang memang sudah berada di depannya. Samuel menariknya, berniat membawa koper itu ke dalam mobil.
"Terserah, lo mau ikut sama gue atau tidak!" ucapnya tanpa menoleh.
Diandra termangu sejenak, lalu mencebikkan bibirnya kesal, sembari memfokuskan pandangan pada punggung Samuel yang sudah semakin menjauh darinya. Dengan terpaksa Ia menurut saja untuk ikut dengan Samuel.
Diandra berdiri di samping mobil Samuel, sembari memperhatikan kegiatan pria itu yang terlihat tengah merapikan barang-barang dalam bagasi mobilnya.
Samuel tampak memasukkan koper Diandra ke dalam bagasi, lalu menutup kembali pintu bagasi itu. Ia yang sedari tadi menyadari keberadaan Diandra di dekatnya, tampak mendelik menatap wanita itu, lalu berjalan menuju pintu depan, ia tampak membuka pintu itu, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Diandra yang terlihat masih sedikit memberengut.
"Masuk!" titahnya yang sontak membuat Diandra tersentak.
Dengan sedikit ragu, Diandra berjalan menghampiri pintu itu. "Gue berasa kayak ratu, dibukain pintu segala!" ucapnya seraya masuk, lalu duduk di dalam mobil itu.
Samuel berdecak kesal. "Lo itu lama, yang lain sudah nunggu dari tadi. So, jangan GEER!" protes Samuel, lalu menutup pintu itu kembali.
***
"Aduh ... Diandra sama Samuel kok lama banget, sih!" gerutu Aretha yang sedari tadi sudah menunggu cukup lama dengan yang lainnya.
"Sabar, Sayang ... mungkin mereka terjebak macet," ucap David.
"Tapi ini lama sekali, Mas, kita sudah satu jam menunggu, lho," keluh Aretha.
"Coba kamu hubungi Diandra," balas David menyarankan.
Aretha tampak mengeluarkan ponselnya dari tas slempangnya, berniat untuk menghubungi Diandra. Ia tampak mengusap layar smartphone itu, lalu mencari kontak Diandra.
"Itu mobil Samuel!" teriak Deasy seraya menunjuk ke arah mobil mercedes benz berwarna silver, yang baru saja muncul dari arah barat.
Aretha langsung menghentikan kegiatannya, lalu mendongak menatap mobil itu.
Aretha memasukkan kembali ponselnya, setelah melihat Diandra dari jendela mobil itu yang sengaja dibuka.
"Sam, langsung saja berangkat!" titah Deasy, mengingat waktu yang sudah semakin siang.
Samuel yang tadinya sudah memperlambat laju kemudinya, langsung melanjutkan kemudinya kembali, setelah Deasy memintanya.
Mereka tampak memasuki mobilnya masing-masing, lalu segera mengikuti mobil Samuel. Mobil David berada di urutan kedua.
Samuel tampak memperlambat laju kemudinya, seolah memberi jalan untuk mobil David agar meluncur lebih dulu di depannya. Entah ia yang tidak tahu jalan atau apa. Sebab, itu adalah rencana David dan Aretha, jadi yang tahu pasti tempat tujuannya adalah mereka.
David langsung memahami aksi Samuel. Ia langsung menyalip, mendahului mobil itu. Setelah itu, Samuel juga mempercepat kembali mobilnya, mengekori mobil David.
"Mas, berapa lama perjalanan menuju lokasi?" tanya Aretha di tengah-tengah perjalanan mereka.
"Kurang lebih, tiga setengah jam, Sayang," jawab David tanpa menoleh.
"Lama sekali," keluh Aretha.
David menoleh, lalu tersenyum. Ia tampak mengelus puncak kepala Aretha dengan begitu lembut.
"Sabar," ucapnya.
Aretha hanya diam tak menanggapi. Ia hanya menatap wajah sang suami sejenak.
***
Di mobil lain, yang ditumpangi oleh Deasy dan Tania beserta kekasih mereka. Deasy dan Tania tampak heboh membicarakan Diandra yang satu mobil dengan Samuel.
"Tan, nggak kebayang Diandra satu mobil dengan Samuel, kira-kira mereka bakal gimana, ya?" tanya Deasy tiba-tiba.
Tania yang kala itu duduk di jok depan, samping kemudi, sedikit menoleh ke belakang.
"Gue yakin, pasti dari awal Diandra sudah ngomel-ngomel, haha," balas Diandra diakhiri dengan tawa.
"Kalian itu jail banget, deh, sama teman sendiri juga," komentar Alan dengan pandangan yang fokus ke depan.
"Biarin saja, Beb. Aku senang lihat mereka benci-benci jadi cinta," balas Tania.
Seketika tawa Deasy dan Tania memecah di dalam mobil, tak ayal membuat Alan dan Ferdy juga ikut tertawa.
"Sayang sekali, kamu nggak ijinin aku bawa mobil, Beb," ujar Ferdy seraya menoleh ke arah Deasy.
"Kenapa?" tanya Deasy.
"Kan kita bisa berduaan kayak mereka," godanya seraya mengerlingkan matanya.
Deasy mencebikkan bibirnya kesal digoda seperti itu. "Memangnya mau ngapain berduaan di mobil?" tanyanya seraya membulat.
"Ya ... nggak ngapa-ngapain. Rasanya seru saja, jadi lebih bebas. Iya nggak, Lan?" jawab Ferdy seraya meminta persetujuan dari Alan.
Alan hanya menggelengkan kepala, di tengah-tengah kegiatan mereka.
"Kurang bebas apa sih, Fer? Lo mau jungkir balik di sini sekarang, silakan! Asal jangan ganggu ketenangan gue!" komentar Tania.
"Percuma jungkir balik kalau nggak asyik, malah bikin sakit, haha!" seloroh Ferdy.
"Hati-hati lo diterkam sama dia, Deas!" canda Tania.
"Awas saja kalau dia berani macam-macam, gue lempar ke dasar laut!" ketus Deasy seraya mendelik ke arah Ferdy.
"Uuh ... seram!!" Ferdy terkekeh melihat ekspresi sang kekasih. Pun dengan Alan yang juga ikut terkekeh.
***
"Ya, Tuhan ... ini anak malah ngorok di mobil gue, awas saja kalau sampai dia tebar iler di sini!" gerutu Samuel yang baru menyadari bahwa Diandra tertidur di mobilnya.
"Percuma saja gue ada temannya, kalau ujung-ujungnya ditinggal tidur," lanjutnya kesal dengan pandangan yang fokus ke depan.
Samuel semakin mempercepat kemudinya, berharap Diandra akan terbangun. Namun, hasilnya nihil. Diandra masih saja tetap tidur dengan nyenyak, tanpa merasa terusik sedikit pun.
"Enak ya ... tidur di mobil gue," ucapnya seraya menoleh ke samping, melihat Diandra yang terlihat begitu nyaman.
Samuel tak kehabisan akal. Ia tampak menjentikkan jarinya, dengan ekspresi semringah, ketika menemukan ide baru untuk mengganggu tidurnya Diandra.
Samuel menyalakan musik sekeras mungkin, sehingga menghasilkan dentuman yang cukup menggema di dalam mobil. Namun, tetap tidak merubah apapun. Diandra masih tetap sama, tidak merasa terganggu sedikit pun.
"Ya, Tuhan ... dia tidur atau pingsan, sih?" gerutu Samuel.
Seketika wajah Samuel berubah kecewa, karena usahanya sia-sia. Entah kenapa Diandra begitu nyenyak tidur di dalam mobil Samuel, sehingga tidak merasa terganggu sedikit pun.
Akhirnya Samuel menyerah. Ia mengecilkan kembali volume suara musik itu, lalu memandangi wajah Diandra sejenak. Ia tampak tersenyum menatap wajah yang terlihat begitu tenang.
Lucu juga.