
"Ra, lo kemana saja, sih? Akhir-akhir ini kok jarang sekali nimbrung di grup chat, gue chat juga nggak pernah dibalas. Lo kenapa? Ada masalah?" tanya Aretha kepada Diandra yang memang sudah jarang sekali bertemu, atau bahkan mengobrol, meski hanya melalui telepon.
Siang itu Aretha memang sengaja datang ke rumah sahabatnya itu. Sungguh ia sangat merasa khawatir tentang sikap Diandra yang tiba-tiba berubah tak acuh terhadapnya. Bahkan, kepada kedua sahabatnya pun sama.
Kala itu Aretha dan Diandra terlihat sedang duduk di ruang tamu rumah bergaya minimalis. Aretha menatap wajah Diandra yang kala itu terlihat datar, tanpa ekspresi apapun, seolah tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya.
"Ra, kok diam saja?" protes Aretha, ketika tidak mendapat tanggapan dari Diandra.
Diandra yang tengah menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, tiba-tiba menghela napas, lalu mengangkat tubuhnya, seraya membuat posisi duduknya sedikit tegak.
Diandra menghela napas sejenak. "Gue bingung, Re," ucapnya lirih.
"Bingung kenapa, Ra? Lo cerita sama gue. Gue masih sahabat lo, kan?" Aretha tampak menanggapi dengan antusias.
"Nah, itu dia. Gue bingung bagaimana harus menanggapi pertanyaan lo itu," balas Diandra yang sontak membuat Aretha seketika mencebikkan bibirnya, merasa kesal.
"Gue serius, Ra!" kesal Aretha.
"Haha! Lo pikir gue bercanda apa?" balas Diandra tertawa, seolah ada yang lucu.
Kendatipun begitu, tetap saja Diandra terlihat tengah menyembunyikan sesuatu yang entah itu apa.
"Lo berubah lho, Ra ...," keluh Aretha seraya memasang ekspresi kecewa.
Tentu saja ia sangat kecewa dengan perubahan sikap Diandra yang secara tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas. Namun, ia seolah berusaha menyembunyikannya. Padahal, Aretha sudah paham betul bagaimana sahabatnya itu.
"Apa ini karena Samuel?" tanya Aretha memastikan dengan perasaan sedikit ragu.
Aretha hanya berusaha menduga saja, meski ia belum begitu mendalami tentang perasaan sahabatnya itu kepada Samuel selama ini. Namun, entah kenapa ia merasa bahwa perubahan sikap Diandra memang ada hubungannya dengan Samuel.
Kenapa bisa begitu? Aretha sendiri tidak tahu alasannya karena apa. Yang ia tahu, perubahan sikap Diandra terjadi, setelah Samuel pergi. Hanya saja, ia sedikit bingung, kalau memang benar karena Samuel, kenapa yang dihindari Diandra seolah dirinya dan kedua sahabatnya yang lain? Memang apa hubungannya mereka dengan Samuel? Entahlah.
Diandra tampak menatap Aretha dengan mengangkat sebelah alisnya. "Kok, Samuel? Apa hubungannya dengan dia?" tanyanya heran.
"Ya, mungkin saja, kan?" balas Aretha dengan polosnya.
"Nggaklah!" bantah Diandra, diakhiri dengan tawa yang seolah dipaksakan.
"Lalu?" ucap Areta singkat, tetapi penuh tanya.
Lagi-lagi Diandra menghela napas, lalu mengembuskannya secara perlahan. "Gue diminta daddy buat mengurusi restoran sementara waktu, Re. Jadi, ya ... waktu gue cukup tersita juga, maka dari itu gue jarang ada waktu buat nimbrung atau balas chat kalian. Sorry ya, Re," jelas Diandra memasang ekspresi menyesal.
Namun, tetap saja tidak membuat Aretha percaya begitu saja. Bahkan, Deasy yang sibuk mengurusi butiknya, juga Tania yang sibuk menjalankan program koas kedokterannya, mereka masih bisa saling memberi kabar, meski hanya melalui telepon, kenapa Diandra tidak bisa seperti itu? Apakah memang Diandra lebih sibuk daripada mereka hingga sulit sekali mencuri waktu sekadar untuk membalas chat darinya.
"Lo yakin, hanya karena itu alasannya?" tanya Aretha memastikan.
"Yakin! Memangnya menurut lo ada alasan lain?" Daindra malah bertanya balik.
"Ya ... nggak juga, sih. Hanya memastikan saja, barangkali ada alasan lain," ucap Aretha seraya menundukkan wajahnya menatap jemari tangannya yang sedikit terlihat berisi, karena efek kehamilannya itu. Namun, tak berlangsung lama. Seketika ia mendongak kembali, menatap sahabatnya itu.
"Nggak ada, Re!" Diandra tampak memberi penegasan.
"Okelah, gue percaya," balas Aretha mengalah, meski dalam hatinya ia masih yakin bahwa Diandra tidaklah sedang baik-baik saja.
Mereka terdiam beberapa saat. Aretha tampak meraih sebuah minuman berwaran hijau yang disuguhkan oleh Molly, asisten rumah tangga Diandra.
"Gue minum ya, Ra," ucap Aretha seraya mendekatkan gelas itu ke bibirnya.
"Silakan, Re."
Aretha langsung meneguk minuman itu. Nampaknya, ia sangat dahaga, sehingga tampak menikmati sekali minuman itu hingga habis satu gelas dalam satu kali tegukkan.
Aretha tampak menggantung gelas kosong itu di udara, lalu menatapnya sembari menggoyang-goyangkan gelas itu yang entah maksudnya apa.
"Lo haus, Re?" Diandra tampak membeliak, ketika menyadari gelas di tangan Aretha yang sudah kosong hanya dalam waktu yang sangat singkat.
Aretha tampak memberengut menatap Diandra, lalu menganggukkan kepalanya dengan ekspresi memelas.
"Iya, Ra! Boleh minta lagi?" jawab Aretha seraya menyodorkan gelas kosong itu.
"Astaga, Re!" Diandra menatap tidak percaya sahabatnya itu.
Apakah setelah hamil dia menjadi rakus seperti ini?
"Lo masih punya banyak stok air minum, kan?" tanya Aretha kemudian seraya menggoyang-goyangkan gelas yang masih berada di tangannya, seolah meminta segera diraih oleh Diandra.
Diandra tampak mendengkus kasar, lalu segera memanggil Molly untuk menghadapnya.
"Bi!" teriak Diandra untuk yang kedua kalinya.
Tak lama Molly langsung menghadap sang majikan. "Iya, Non, ada apa?" tanyanya.
"Ambilkan segentong air lagi buat ibu hamil ini," titah Diandra kepada Molly, setelah ia meraih gelas di tangan Aretha, lalu memberikannya kepasa asisten rumah tangganya itu.
"Maaf ya, Bi," ucap Aretha lirih.
"Tidak apa-apa, Non. Santai saja," balas Molly yang tampak dengan senang hati melayani tamu dari majikannya itu yang memang sudah sejak lama dikenalnya.
Molly segera beranjak dari tempat itu untuk mengambilkan air minum untuk Aretha.
"Ya ampun, Re ... Re ...." Diandra tampak menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. Seketika ia ingin sekali menertawakannya. Namun, tak sampai hati ia melakukan itu.
"Gue kegerahan, Ra. Entah kenapa semenjak hamil bawaannya gerah melulu. Wajarlah kalau gue minta tambahan minum, yang minum juga berdua," ucap Aretha seraya mengelus-elus perutnya.
Seketika Diandra tersenyum menatap perut Aretha yang sudah semakin membesar, lalu ikut mengelusnya. "Nggak sabar mau lihat bayi lo lahir, Re?" tanyanya seraya mendongak menatap Aretha.
"Mau diapain?" tanya Aretha penasaran.
"Mau gue cubit pipinya, pasti menggemaskan kalau pipinya sama kayak lo," jawab Diandra.
Aretha hanya diam tak menanggapi. Ia menatap wajah Diandra saat itu. Entah kenapa ia merasa bahwa Diandra masih menyembunyikan sesuatu darinya. Namun, tiba-tiba fokusnya teralihkan, ketika Molly kembali dengan menyuguhkan minuman yang ia minta.
"Silakan diminum, Non," ucap Molly dengan sopan.
"Terima kasih, Bi," balas Aretha.
Aretha langsung meraih gelas itu, lalu meminumnya sebagian. Setelah itu ia meletakkan kembali gelasnya di atas meja yang berada di hadapannya.
"Ra, gue mau tanya sesuatu, boleh?" tanya Aretha memasang ekspresi serius.
Diandra terdiam sejenak. "Tanya apa, Re?" tanyanya penasaran.
"Mm ... lo sama Sam—"
"Re, bentar ya, gue ke toilet dulu, kebelet!" Diandra tampak memotong pembicaraan Aretha.
Tanpa menunggu persetujuan Aretha, Diandra segera beranjak dari tempat itu, dengan berjalan sedikit tergesa-gesa. Nampaknya, ia benar-benar sudah kebelet.
"Ah, gagal lagi, kan!" gerutu Aretha.
Beruntung tak berlangsung lama, Diandra telah kembali dari toilet, lalu duduk di tempat semula.
"Tadi mau tanya apa?" tanya Diandra tanpa berbasa-basi.
"Mm ... itu, soal Samuel!" jawab Aretha.
Diandra menegerutkan dahinya, sembari menatap penuh tanya. "Maksudnya?" tanyanya.
Aretha menghela napas sejenak. "Lo dengan Samuel ... apa kabar?" tanyanya sedikit ragu.
"Gue? Sama Samuel?" Diandra tampak terperangah. "Ini maksudnya gimana, ya?" imbuhnya bingung.
"Ya ... kalian gimana sebenarnya?" ujar Aretha sedikit kesal, karena Diandra tidak memahami maksudnya.
"Gue—gue ya baik, seperti yang lo lihat, entah kalau dia," jawab Diandra tampak salah tingkah. Ia membuang muka ke sembarang arah, semakin membuat Aretha curiga saja melihat tingkahnya.
"Bukan itu maksud gue," jelas Aretha.
"Lalu?" Diandra seolah tidak paham.
Belum sempat Aretha menanggapi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia langsung meraih ponsel itu dari dalam tasnya, lalu menerima panggilan yang tak lain adalah dari suaminya.
"Hallo, Mas," sapa Aretha.
"Aku sudah di depan, Sayang," jawab David.
Nampaknya, David sudah berada di depan rumah Diandra untuk menjemput istrinya.
"Oke, Mas. Wait!" Aretha segera menutup teleponnya.
"Ra, gue pulang dulu, ya ... mas David sudah menunggu di depan," pamit Aretha seraya bangkit dari duduknya.
"Buru-buru sekali, Re" balas Diandra berbasa-basi.
"Kasihan kalau dia menunggu lama. Oh iya, gue ke sini cuma mau kasih ini, undangan dari kak Rendy." Aretha tampak menyodorkan surat undangan untuk Diandra.
Diandra segera meraihnya. "Kak Rendy mau menikah?" tanyanya.
"Ya," singkat Areta tak ingin panjang lebar. "Jangan lupa datang, ya! Gue pamit dulu," imbuhnya seraya mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya itu.
"Assalamu'alaikum," ucapnya seraya berjalan keluar dari rumah itu.
"Wa'alaikumsalam," balas Diandra seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Untung lakinya jemput lebih dulu, jadi nggak banyak tanya 'kan dia," gumam Diandra saat itu.