Possessive Love

Possessive Love
Lupa



"Sayang," panggil David, ketika baru saja ia berdiri si samping sofa, dimana sang istri berada.


Aretha hanya bergeming, tak peduli siapa yang tengah berdiri menatapnya. Nampaknya, kekesalan wanita itu membuatnya tidak ingin menoleh sama sekali.


Ia menyadari bahwa itu hanyalah masalah sepele, tetapi entah kenapa ia begitu marah, dengan ucapan David, seolah ia tidak rela jika David menilai sosok fisik wanita lain, selain dirinya, terlebih jika wanita itu cantik dan mempesona seperti dokter Dara.


Meski sang suami mengatakan bahwa mereka tidak terlalu berteman dekat sewaktu dulu, justru sekarang ia melihatnya mereka sedikit akrab, dan itu sangat mengganggu pikirannya. Bagaimana jika nantinya mereka semakin akrab, lalu lama kelaamaan David terpincut oleh wanita itu. Ah, sungguh hanya pikiran negatif yang saat itu ada di dalam otakknya.


Aretha terus mengutak-atik layar ponsel semaunya. Namun, sungguh pikirannya seolah melayang, tidak ada hal lain yang ia pikirkan saat itu, selain perihal David dan Dara.


David menurunkan tubuhnya, lalu berlutut di bawah sofa yang diduduki oleh Aretha. Ia menatap lekat wajah sang isti. Seketika, ia seolah merasakan luka di hatinya, ketika melihat ekspresi sang istri yang tampak sendu.


"Sayang, maaf aku salah," lirihnya tanpa ingin mengalihkan pandangan dari wanita itu.


Lagi-lagi Aretha tak menggubrisnya. Ia tetap fokus dengan kegiatannya yang tentu saja itu tidak jauh lebih penting. Bagaimana bisa itu dibilang penting, jika Aretha hanya menggulir ke atas dan ke bawah layar ponsel itu, selain itu juga ia hanya membuka aplikasi social media yang kemudian ia kembalikan lagi ke layar depan, tak ada yang ia posting atau apapun itu, meski sekadar melihat status akun lain.


David menghela napas berat, melihat sang istri yang terus diam tak mau menanggapinya. Dengan perlahan David meraih ponsel yang tengah dipegang oleh wanita itu, lalu menyimpannya di sembarang tempat.


Aretha tampak mendelik kesal. Ia tahu betul bahwa David bukanlah orang yang mudah menyerah, dan sudah bukan rahasia lagi apa yang akan dilakukan suaminya setelah itu. Ah, sungguh itu membuatnya suka serba salah.


Didiamkan, David pasti akan memaksa dan membuatnya berbicara dengan sejuta cara yang pria itu miliki. Namun, jika ia menanggapi, justru ia merasa tidak ingin melakukan hal itu secepatnya. Ia benar-benar masih kesal dengan pria itu, dan ia pikir diam adalah cara terbaik untuk melewati kekesalannya saat itu.


Setelah David meraih ponsel milik Aretha, kini ia meraih tangan wanita itu, lalu mengusapnya sangat lembut. Namun, tatapannya masih sama seperti sebelumnya.


"Sayang ... jangan seperti ini dong. Oke, aku mengaku salah. Aku salah, seharunya aku memang tidak berbicara seperti itu, tetapi sumpah demi apapun aku tidak bermaksud seperti itu. Sungguh!" jelas David seraya menatap lekat wajah sang istri.


Namun, Aretha masih tidak ingin menoleh barang sedetik pun. Tatapannya ia fokuskan ke arah jendela kamar yang tirainya masih terbuka lebar, sehingga ia dapat menikmati aktivitas dedaunan yang tampak menari-nari mengikuti arus angin yang bertiup lirih, melalui kaca jendela kamar itu.


"Kamu tahu? Alasan kenapa aku ingin sekali segera menikahimu? Bahkan, sampai memaksamu?" tanya David lirih.


Seketika hati Aretha mulai goyah dengan pertanyaan David saat itu. Tentu saja ia tidak tahu kenapa, dan ia ingin sekali mengetahui jawabannya apa. Namun, kekesalan itu kembali melanda, sehingga ia memilih untuk tetap bungkam.


"Karena rasa ini yang terlalu besar padamu, sehingga aku tidak rela jika nantinya kamu lebih memilih pria lain dibandingkan aku," jelas David seraya mengungkapkan isi hatinya.


Deg!


Jantung Aretha mulai berdegup tak karuan. Apa benar seperti itu? Batinnya bertanya-tanya.


"Bahkan, ketika teman kamu mencoba memfitnahmu waktu itu, jika kamu menganggap semua yang aku lakukan adalah sebuah pembelaan, kamu salah besar, karena itu bukanlah sekadar pembelaan, melainkan perasaan, perasaanku yang sebenarnya terhadap kamu. Dan, sekarang kamu mau meragukan itu?" ungkap David mengakui.


David tertawa kecil di tengah Aretha yang bersikap cuek dan seolah tak peduli padanya.


"Ya, mungkin itulah keegoisanku. Saking egoisnya aku, aku sampai tidak peduli perasaanmu, kamu mau marah atau tidak waktu kupaksa menikah secepatnya, yang penting kamu menjadi milikku seutuhnya, itu sudah cukup buatku. Jadi, untuk apa sekarang aku menyia-nyiakan apa yang dulu sudah kuperjuangkan mati-matian?" ujar David.


Aretha mulai terenyuh dengan pernyataan sang suami. Namun, ia tampak bingung harus berbuat apa. Apakah harus semudah itu ia mempercayainya? Akan tetapi, hatinya memang berkata bahwa David tidaklah sedang berbohong.


"Sayang, ayolah ... jangan marah terus, jangan semakin membuatku merasa bersalah hanya karena kebodohanku sendiri. Aku tidak bisa kalau didiamkan seperti ini, kalau kamu mau marah, mau pukul, atau apapun itu lakukan saja, asal jangan diamkan aku seperti ini, please!" David tampak memohon, lalu mencium tangan Aretha cukup lama.


Aretha masih terdiam. Namun, tatapannya sudah beralih ke kepala sang suami yang kala itu masih terlihat menunduk, karena sedang mencium tangannya. Melihatnya seperti itu membuatnya selalu saja merasa tidak tega.


Meski David sering membuatnya kesal dan kecewa, tetapi ia juga sadar bahwa begitu banyak sisi positif yang pria itu miliki, entah dari perhatiannya, kepeduliannya, atau bahkan sisi lain yang membuatnya merasa kagum. Lantas, haruskah ia melupakan sisi baik sang suami hanya karena satu kesalahan yang pria itu lakukakan? Pikirnya.


Aretha menghela napas. Nampaknya hati wanita itu sudah mulai luluh dengan sikap lembut sang suami.


"Kamu sengaja mau mengajariku untuk jadi istri pembangkang?" celetuk Aretha yang sontak membuat David mendongak dengan cepat.


David menyunggingkan senyuman senangnya, ketika mendengar suara sang istri dan menyadari pandangan wanita itu yang tertuju padanya.


"Sayang, masih marah?" tanyanya seraya memasang ekspresi wajah memelas.


"Tentu saja aku masih marah!" ketus Aretha.


"Ya sudah, silakan pukul aku kalau kamu masih marah, asalkan jangan diam lagi seperti barusan," pinta David.


"Noway! Aku tidak mau jadi istri pembangkang, jadi kupikir lebih baik diam," jawab Aretha seraya melipat kedua tangannya di atas dada, lalu memalingkan pandangannya dengan sinis ke sembarang arah.


"Ya sudah kalau begitu, sini cium aku!" titah David seraya tersenyum jahil sembari menepuk sebelah pipinya pelan, lalu mencondongkannya kepada Aretha.


Lagi-lagi Aretha mendelik kesal. "Hei! Yang marah itu aku, bukan kamu!" kesalnya yang langsung mendapat senyuman dari sang suami.


Tanpa berpikir panjang, David langsung bangkit, lalu memeluk sang istri. Ia mendaratkan kecupan di puncak kepalanya dengan sangat tulus.


"Kamu jangan buat aku setres, aku 'kan lagi hamil," rengek Aretha seraya mencari alasan. David langsung mengulum senyumnya mendapati istrinya yang sangat manja.


***


Melihat kondisi sang papi yang belum terlalu membaik membuat Aretha dan David memutuskan untuk menginap di rumah orangtuanya.


Malam itu, Aretha tengah duduk berselonjoran di atas tempat tidur, sembari membaca buku novel yang memang sengaja ia tinggalkan di rumah itu.


Seketika fokusnya teralihkan, ketika pintu kamar itu terbuka, dan memunculkan sang suami dari luar sana. Pria itu tampak menghampirinya hingga ia duduk di bibir tempat tidur, tepat sebelah Aretha.


"Sayang, kamu belum ngantuk?" tanya David.


Aretha menerbitkan senyumannnya. "Belum, Mas," jawabnya, lalu memfokuskan kembali pandangannya ke buku novel yang masih berada di tangannya.


David menghela napas, seolah merasa kesal. "Sayang, ayo tidur sudah malam! Kamu harus jaga kesehatan, tidak boleh begadang seperti ini, tidak baik!" cerocos David menasihati.


"Sebentar lagi, Mas," balas Aretha tanpa menoleh.


Susah sekali membujukmu, Sayang.


David menghela napas kembali, lalu ia teringat sesuatu. Ia segera beranjak dari kamar itu, sehingga membuat fokus Aretha kembali terganggu.


"Mas, mau kemana?" tanya Aretha seraya mendongak menatap sang suami yang kala itu telah berdiri dan memunggunginya.


David terhenti, lalu menoleh ke arahnya. "Aku tinggal sebentar, Sayang," jawabnya yang entah mau kemana.


Pria itu kembali melangkahkan kakinya keluar kamar. Ia tampak menuruni anak tangga satu persatu, lalu berjalan menghampiri mobilnya yang berada di garasi rumah itu. Ia tampak membuka pintu bagasi mobil, lalu mengambil sekantong tas berwaran merah yang berisi belanjaan.


David membawa kantong belanjaan itu ke dapur, lalu mengeluarkan satu kaleng susu khusus ibu hamil.


"Hampir saja lupa kalau dia belum minum susu, untung tadi sempat membelinya sebelum kemari," ucapnya sembari membuka kemasan susu itu.


David tampak membaca petunjuk pembuatan yang tertera pada kemasan produk tersebut, lalu mulai membuatkannya untuk sang istri.


David mengaduk susu itu menggunakan sendok dengan sangat teliti. Namun, baru saja ia akan membawanya ke kamar, tiba-tiba Aretha telah lebih dulu muncul di belakangnya.


"Kamu lagi apa, Mas?" tanya Aretha.


David segera memutar tubuhnya, menghadap kepada sang istri. "Duduk, Sayang," titahnya.


Aretha langsung patuh. Ia duduk di kursi mini bar yang sengaja di desain khusus di ruangan itu.


"Ini, kamu minum susunya, sebelum tidur," ucap David seraya menyuguhkan segelas susu rasa cokelat di hadapan Aretha.


"Aku 'kan tidak biasa minum susu sebelum tidur, Mas," balas Aretha seraya menatap datar wajah sang suami.


"Mulai sekarang harus minum, demi kesehatan janin yang ada di dalam kandungan kamu," jelas David.


"Aku hampir lupa kalau aku lagi hamil," lirih Aretha.


"Huh!" David hanya mengembuskan napasnya sedikit kasar.


Belum apa-apa sudah lupa. Bagaimana sih, Sayang.


"Maaf, Mas," lirih Aretha.


David tersenyum. "Ayo minum!" titahnya sekali lagi.


Aretha segera meminum susu itu, dan menghabiskan satu gelas susu itu dalam beberapa kali tegukkan.


"Sudah?" tanya David seraya menatap sepasang iris berwarna cokelat itu.


"Sudah, Mas," jawab Aretha.


"Ayo, kita tidur!" ajak David kepada sang istri.


Mereka pun kembali ke kamar. Mereka berjalan berdampingan. Aretha merangkulkan tangannya ke lengan David hingga tiba di depan kamarn mereka.